Tampilkan postingan dengan label BaliTa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BaliTa. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2010

4 Trik Jitu agar Si Kecil Tak Sering Bertengkar

Karen (32 tahun) hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat kedua buah hatinya ‘asyik’ bertengkar.. Riza (5tahun) dan Inggrid (4 tahun) sepertinya tidak pernah capai untuk saling berebut sesuatu. Mulai dari remote tv, playstation, buku cerita sampai memandikan Choco, anjing peliharaan mereka. Kalau sudah begitu Karen hanya tinggal tunggu waktu saja sampai salah seorang mereka menangis dan mengadu kepadanya.
Banyak orang menyarankan sebaiknya punya anak dengan rentang waktu kelahiran sekitar 1-2 tahun. ”Supaya capeknya sekalian”, itu alasannya. Membesarkan 1 orang anak saja sudah cukup melelahkan apalagi 2 orang anak sekaligus! Kan sampai dengan umur 5 tahun adalah saat-saat paling penting bagi pertumbuhan anak. Sebagai seorang ibu tentu kita tidak mau mereka ’salah asuhan’.

Salah satu kesulitan yang mesti dihadapi para orang tua adalah saat anak-anak mereka bertengkar. Dr Fredrick Toke, terapis khusus anak mengatakan: ”Sebagai orang tua kita harus mengajarkan mereka untuk bertoleransi, mempunyai empati dan tahu cara menyelesaikan masalah tanpa mendatangkan masalah”.

Berikut 4 trik jitu cara menyiasati agar si kecil bisa berhenti bertengkar:

1. Habiskan Waktu yang Sama untuk Setiap Anak

Situasi: Luna tidak mau keluar kamar sejak pulang sekolah. Dia ngambek begitu tau ayahnya menemani Luigi kursus sepak bola sore ini. Pikir Luna ayahnya tidak adil, karena ia tidak pernah ditemani ayahnya les piano.

Trik: Habiskan waktu yang sama untuk setiap anak. Temani mereka dalam melakukan hobi atau kursus yang mereka kerjakan.

Ahli mengatakan: Rasa marah si kecil karena cemburu akhirnya membuat mereka mencari alasan untuk bertengkar dengan saudaranya. ”Mereka akan berpikir Anda tidak adil karena Anda hanya mencintai yang lain”, ujar Dr Liz Norris. Nah, menghabiskan waktu bersama, selain menghapus kecemburuan itu juga membuat ikatan kekeluargaan semakin erat.

2. Beri Jam Weker

Situasi: Aldi dan Alda ribut memperebutkan remote TV. Aldi ingin menonton Takashi Castle sementara Alda ingin menonton telenovela Dolce Maria di saluran lain.

Trik: Pasang jam weker! setiap anak diberi waktu 15 menit untuk menonton acara favoritnya. Bila alarm jam sudah berbunyi berarti 15 menit berikutnya untuk anak yang lain.

Ahli mengatakan: ”Adanya jam weker membuat mereka merasa mendapatkan pembagian waktu yang persis sama”, ujar Dr. Mark W Roberts, profesor di The Idaho state University. Namun sebaiknya Anda mengajak mereka bicara dahulu, ajarkan untuk menyelesaikan masalah bersama dengan sikap toleransi . Bila tidak ada titik temu barulah dipakai trik ini. Jika tidak ada yang mau mengalah, bertindaklah tegas tidak memperbolehkan keduanya menonton televisi, agar mereka tahu bahwa sikapnya bisa merugikan dirinya juga.

3. Beri Kode untuk Barang Setiap Anak

Masalah: Iko dan Erick selalu rebutan botol minum saat mau les berenang. Teriakan ”Ini punya aku!” jadi sering terdengar di kuping.

Trik: Beri kode tertentu untuk setiap anak. Misalnya warna biru untuk Iko dan warna hijau untuk Erick. Bisa juga menggunakan angka.

Ahli mengatakan: ”Anak-anak sering ribut hanya untuk sesuatu yang tidak jelas. Pemberian kode bisa mengajarkan mereka berempati terhadap sesama, mereka akan mengerti bagaimana perasaan orang lain bila barangnya dipakai atau direbut”, ujar Dr. Janet Brown penulis What Colour is Your Personality.

4. Periksa Program Televisi

Masalah: Akhir-akhir ini Uli suka memukuli Ila adiknya. Tidak keras sih tapi cukup membuat Ila berteriak mengaduh dan membalas memukul. Ketika ditanya Uli bilang kalau dia sedang berperan menjadi jagoan seperti di film yang ditontonnya.

Trik: Periksa program televisi yang hendak ditonton. Jangan sampai si kecil menonton film yang penuh adegan kekerasan.

Ahli mengatakan: ”Di masa pertumbuhan, anak mudah sekali dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan didengar”, ujar Joanna Sulli, seorang psikolog anak. Bila sang buah hati ingin menonton suatu program acara pastikan Anda sudah menontonnya terlebih dahulu sebagai pencegahan bila ternyata program tersebut tidak cocok untuk anak-anak.

Kiat Mengatasi Anak Susah Makan


Balita Anda susah makan? Jangan emosi. Berpikirlah dengan tenang dan aturlah strategi. Berikut dr Soeroyo Machfudz SpA(K) MPH dari Yogyakarta memberikan beberapa kiat yang bisa dimanfaatkan:

1. Bagi ibu yang bekerja, luangkan waktu sebentar saja tetapi berkualitas untuk menyuapi anaknya. Sebab, sebenarnya anak-anak sangat mengerti bila ibunya bekerja.
2. Berikanlah kepuasan psikis kepada anak yang sesuai dengan usianya, dan buatlah agar suasana hatinya senang, misalnya anak makan sambil jalan-jalan, melihat kereta api, dan lain-lain. Problem utama anak susah makan itu 6 bulan sampai 2 tahun. ”Asal usia itu terlewati dengan bagus, Insya Allah ke depannya tidak ada masalah.”, tutur Soeroyo.

3. Pada saat orang tua baik ibu maupun ayahnya pulang kerja, pertama kali yang harus dipegang atau disapa adalah anaknya. Jangan yang lain.

4. Jangan memaksa anak makan sampai mencekoki, mencubit atau bahkan memelototi. Bagaimana bila anak tidak mau sayur, tahu-tempe, dan makanan bergizi lainnya? Soeroyo menyarankan sebaiknya anak ‘dilaparkan’ dulu. ”Tetapi, kita siapkan makanan yang sudah kita programkan, nanti berangsur-angsur dia akan mau, tetapi memang perlu telaten, disiplin.”,
jelas dia.

5. Sebaiknya sedini mungkin kita menerapkan penghargaan dan hukuman yang edukatif. Misalnya, pada waktu anak mau makan dipuji, diajak jalan-jalan, ciuman, pelukan. Bila tidak mau makan, katakan, misalnya, ibu atau ayah tidak mau lihat televisi bersama-sama, tidak mau jalan-jalan lagi.

6. Pada anak berusia setelah empat bulan-enam bulan, baik diberi bubur instan asalkan anak tak alergi susu. Setelah anak berusia enam bulan, lebih bagus membuat bubur sendiri, karena ada macam-macam pilihan sayuran dan lauk-pauk yang bisa mengurangi kejenuhan rasa. Misalnya, hati dengan bayam, kemudian wortel dengan tempe, kangkung dengan tahu, dan sebagainya. Namun, bila dengan makanan tersebut anak mengalami diare atau muntah maka menu harus dievaluasi.

7. Pada saat bayi mengalami perubahan makanan seperti enam bulan, sembilan bulan satu tahun, dia akan merasa-rasakan karena rasanya aneh sehingga kadang dimain-mainkan seperti dimuntahkan, ini harus dimasukkan lagi. Prinsipnya bila makanan tersebut dimuntahkan, harus sedikit-sedikit dan makanannya harus lebih cair lagi.

8. Pada kasus anak yang mengalami gangguan psikis yang manifestasinya pada lambung dengan muntah bisa teratasi kira-kira setelah tiga tahun. Tetapi, kasus seperti itu jarang dan tidak menjadi masalah asal kebutuhan gizi, kalori, lemak, proteinnya tercukupi

Mengatasi Ledakan Emosi Anak Anda


Apakah anda pernah mengalami kejadian berikut ?

Anda dan si kecil anda berjalan-jalan ke mall atau makan di restaurant. Karena suatu hal yang sepele si kecil anda ngambek, marah dan berteriak-teriak minta pulang. Ketika anda anda berusaha membujuknya, si kecil anda justru semakin meledak emosinya, memukul atau melempar apa saja yang ada di sekitarnya.

Mungkin anda tidak pernah mengalami kejadian seperti di atas, tapi kemungkinan besar anda mengalami hal yang hampir sama. Mengapa hal ini terjadi ?

Menurut banyak ahli perkembangan dan psikolog anak, hal ini sering terjadi karena anak mengalami frustasi dengan keadaannya sedangkan dia tidak mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata atau ekspresi yang diinginkannya. Hal ini sering dialami oleh anak usia 2-3 tahun.

Mengapa ? Anak usia tersebut biasanya sudah mulai mengerti banyak hal dari yang didengar, dilihat maupun dialaminya, tetapi kemampuan bahasa atau berbicaranya masih sangat terbatas.

Apa yang bisa anda lakukan ?

1. JANGAN ikutan marah !

Saat anak anda sedang mengalami ledakan emosi, baik dengan teriakan maupun tindakan fisik lainnya, dia tidak akan bisa menerima alasan atau bujukan, tetapi justru terhadap apapun yang anda lakukan anak akan merespons secara negatif. Kemudian, jika anda tidak bisa menahan emosi, anda akan ikutan marah, dan mungkin anda akan meninggalkan anak anda sendirian.

Jangan lakukan itu ! Anak anda akan merasa bahwa anda telah mengabaikannya, dan semakin membuat anak merasa ketakutan dengan apa yag terjadi.

Anak akan merasa lebih tenang jika anda tetap berada di dekatnya. Jika memungkinkan, gendong atau peluk anak anda sehingga dia akan lebih cepat menenangkan diri.

2. Anda yang tetap memegang kendali

Jangan mengikuti permintaan anak yang tidak realistik atau tidak bisa anda terima hanya untuk menghindari ledakan emosi anak. Hal ini sering terjadi di tempat-tempat umum seperti mall, yang mana pada saat anak minta sesuatu anda tidak mengijinkannya, tetapi begitu anak mulai meledak emosinya anda akan mengabulkannya karena malu dengan lingkungan.

Jadi, jika memang anak meminta sesuatu yang diluar toleransi, kita harus tegas mengatakan ”TIDAK”. Jika anak menjadi marah besar dan mulai memukul ataupun tindakan lain yang membahayakan, bawalah dia ke tempat yang lebih aman hingga anak menjadi tenang. Katakan bahwa dia dibawa ke tempat tersebut karena tindakannya yang membahayakan. Selama anak belum tenang, jangan memberikan nasehat atas tindakannya, tetapi fokuskan hanya untuk menenangkan dirinya. Tentunya anda mengatakannya tanpa emosi ataupun bernada memarahinya.

Memang, pada saat membaca tulisan ini kita bisa mengerti, tapi begitu mengalaminya langsung kemungkinan besar kita lupa dengan apa yang seharusnya kita lakukan.

Jadi bagaimana ?

Ketika anak anda mulai meledak emosinya, katakan pada diri anda sendiri, ”Ini kejadian yang wajar. Saya tahu cara menghadapinya !”. Kemudian ingatlah tulisan ini.. :)

Selain hal di atas, masih ada beberapa hal PENTING lagi yang HARUS anda lakukan supaya anak anda mengerti dan memahami apa yang sudah terjadi. Juga, tindakan anda untuk mencegah terjadinya ledakan kemarahan yang terlalu sering.

Pengalaman Menghentikan Dot Tanpa Penolakan

Bagi kita yang sudah mengalami, menghentikan anak menggunakan dot (seperti halnya juga menghentikan ASI) menjadi saat-saat yang penuh ‘perjuangan’. Perasaan antara ‘harus tega’ dan ‘kasihan’ menjadi satu begitu melihat anak menangis tersedu-sedu hanya karena tidak boleh lagi minum pakai dot.
Jika anda sudah membaca ebook saya “3 Tahun Pertama yg Menentukan” (http://ebook.balitacerdas.com), tindakan yg akan sangat memudahkan kita dalam mengajarkan disiplin kepada anak, atau meminta anak menuruti apa yg kita inginkan, adalah dengan menerapkan SIGNAL AWAL.

Sekitar 2 minggu yang lalu, ketika anak ke-3 saya (Fuka) tepat menginjak usia 2 tahun 8 bulan, kami memutuskan untuk menghentikan Fuka minum pakai dot, dan BERHASIL dengan sangat memuaskan, tanpa ada penolakan dari Fuka, tanpa ada tangisan tersedu-sedu di malam hari.

Kali ini, penerapan signal awal kami terapkan kepada Fuka dalam waktu beberapa minggu sebelum Hari-H penghentian dot.

Caranya ?

Beberapa minggu sebelumnya, di setiap kesempatan yg memungkinkan saya dan istri sering mengatakan bahwa Fuka sudah besar, sambil pura-pura membandingkan tinggi badan Fuka yang sudah menjadi lebih tinggi.

Misalnya, “Kemarin Adek Bayi (note: Fuka memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Adek Bayi) tingginya segini (sambil menunjuk leher), sekarang sudah nambah tinggi jadi segini (sambil menunjuk kepalanya). Adek Bayi sudah besar ya…”

Kebetulan ada keponakan yg umurnya baru 1 tahun, namanya Naufal, kami ‘manfaatkan’ untuk membandingkan lebih lanjut. Kami sering mengatakan kepada Fuka, “Adek Naufal masih kecil banget ya.., makanya sukanya minum pakai dot”. Biasanya Fuka akan mengatakan, “Dot Adek Bayi dikasihkan ke Adek Naufal aja ya.. ‘kan Adek Bayi sudah besar”. Kemudian kami merespons, “Iya ya.. nanti kapan-kapan kita kasih ke Adek Naufal aja ya..”.

Dengan melakukan hal diatas beberapa waktu, Fuka mulai ‘terkondisikan’ bahwa dia sudah besar, dan sudah tidak perlu lagi minum memakai dot.

Pada saat Hari-H tiba, sebelum saya berangkat ke kantor suasana pagi kami buat cukup menyenangkan, kemudian istri saya mengatakan kepada Fuka,”Mulai hari ini Adek Bayi tidak minum pakai dot lagi. Botol dotnya enaknya digimanain ya?”.

Pertanyaan diatas sengaja dilakukan supaya apa yang akan dilakukan menjadi keputusan dari Fuka sendiri dan bukan paksaan dari orang lain.

Karena sudah terkondisikan, Fuka menjawab,”Botol yang kecil dibuang aja, yang besar dikasihkan ke Adek Naufal”.

Kemudian istri saya mengambil plastik sampah,”Yang kecil dibuang disini, yang besar dimasukkan ke tas Ayah, nanti sama Ayah dikasihkan ke Adek Naufal”.

Kemudian Fuka diminta membuang sendiri tas plastik sampahnya, dan memasukkan sendiri botol dot besarnya ke dalam tas saya.

Sampai disini proses berjalan sangat lancar. Saya berangkat ke kantor, dan Fuka sudah sadar bahwa dia tidak punya botol dot lagi.

Beberapa jam setelah tiba di kantor, istri saya telephone menyampaikan kalau Fuka agak rewel tidak mau minum susu karena tidak pakai dot. Di telephone saya tegaskan kepada Fuka, “Tadi pagi ‘kan dot kecilnya sudah dibuang sama Adek Bayi sendiri. Yang besar sudah Ayah kasihkan ke Adek Naufal. Jadinya Adek Bayi harus minum susu pakai gelas dong ya…”

Awalnya Fuka tetap tidak mau minum susu, tetapi menjelang siang akhirnya mau minum dengan gelas untuk anak balita (yang pegangannya ada dua itu loh..).

Biasanya, masalah terbesar timbul di malam hari pada saat anak terbangun minta minum susu, seperti yang dulu kami alami dengan anak pertama kami, Rihan (kebetulan anak kedua kami, Afi, tidak pernah minum pakai dot). Kamipun telah siap untuk ‘perang’ melawan rasa kasihan yang akan terjadi.

Tetapi untuk kasus Fuka kali ini, apa yang kami khawatirkan tidak terjadi. Kami tidak mengalami masalah di malam hari. Malam itu Fuka terbangun, melihat sekeliling sebentar, kemudian tidur lagi. Kami sendiri sempat kaget, kok Fuka tidak rewel mencari dotnya lagi.

Kami yakin ini bisa dilalui sebagai hasil yang telah kami lakukan beberapa waktu sebelumnya itu.

Setelah itu semuanya berjalan lancar, Fuka tidak lagi minum susu memakai dot.

Hal positif yang terjadi setelah itu adalah:

1. Fuka mau makan dengan baik, jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Biasanya, jika anak terlalu tergantung dengan susu, anak menjadi susah makan. Maunya minum susu terus. Jika kita orangtua mengikuti terus kemauan anak yang seperti ini, akan sulit menghentikannya nanti.

2. Fuka tidak mengompol lagi.

Hal ini sangat memberi manfaat. Dengan memuji anak bahwa dia tidak mengompol, rasa percaya diri anak kelihatan meningkat. Setiap kali dia bangga bahwa dirinya bukan anak kecil lagi, sehingga anak menjadi lebih mandiri.

Selain itu, kita tidak perlu mengeluarkan lagi biaya pembelian diapers yang cukup mahal itu (lumayan ‘kan..).

3. Kami bisa istirahat lebih baik karena tidak perlu harus bangun membuatkan susu lagi.

Yang perlu DIINGAT dalam hal menghentikan dot ini, jika anak menjadi rewel, itu adalah hal yang SANGAT WAJAR.

Seperti halnya kita orangtua juga, anak awalnya pasti akan menjadi tidak nyaman dengan perubahan ‘negatif’ yang dialaminya. Tugas kita untuk mencari alternatif kegiatan sehingga rasa tidak nyaman itu bisa dikurangi dan akhirnya bisa ditinggalkan.

Begitu kita memutuskan untuk melakukan penghentian dot, lakukan dengan tegas (BUKAN berarti sambil marah loh!). Jangan sampai kita menyerah begitu melihat anak menangis meminta dotnya. Jika hal ini dilakukan berulang kali, kita akan menjadi sangat kesulitan melakukannya lagi, karena anak merasa bahwa dia bisa merubah apa yang telah menjadi keputusan orangtuanya.

Jadi, untuk menghentikan suatu kebiasaan anak, faktor PENTING dan EFEKTIF yang bisa dilakukan adalah:

1. Pemberian SIGNAL AWAL kepada anak tentang perubahan yang akan terjadi pda dirinya.

2. Tindakan TEGAS tapi tetap dengan menunjukkan KASIH SAYANG sehingga anak memahami bahwa apa yang kita lakukan memang akan terjadi.

3. KERJASAMA orangtua dan pihak lain sehingga tidak terjadi perbedaan dalam memperlakukan anak.

Selamat Mencoba.. dan ditunggu cerita pengalaman anda.

TIPS: Bagaimana Membuat Anak Suka Belajar


Beberapa tips di bawah ini SANGAT MENENTUKAN dan EFEKTIF diterapkan supaya anak SUKA BELAJAR:

1. SUASANA YANG MENYENANGKAN adalah SYARAT MUTLAK yang diperlukan supaya anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan.
2. Membuat ANAK SENANG BELAJAR adalah JAUH LEBIH PENTING daripada menuntut anak mau belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu. Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama. Anak yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.

3. Kenali TIPE DOMINAN CARA BELAJAR ANAK, apakah tipe AUDITORY (anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan), VISUAL (melihat) ataukah KINESTHETIC (fisik). Meminta anak secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar anak nantinya akan membuat anak tidak mampu secara maksimal menyerap isi pelajaran, sehingga anak tidak berkembang dengan maksimal.

4. Belajar dengan JEDA WAKTU ISTIRAHAT setiap 20 menit akan JAUH LEBIH EFEKTIF daripada belajar langsung 1 jam tanpa istirahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.

5. Anak pada dasarnya mempunyai naluri ingin mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Anak akan menjadi SANGAT ANTUSIAS dan SEMANGAT untuk belajar jika isi/materi yang dipelajari anak SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN ANAK. Anak akan menjadi mudah bosan jika yang dipelajari terlalu mudah baginya, dan sebaliknya anak akan menjadi stress dan patah semangat jika yang dipelajari terlalu sulit.

Oleh: Taufan Surana

Mengapa anak-anak saya selalu bertengkar?

Pada suatu sore, dua orang saudara kandung, Ana (6 tahun) dan Ani (4,5 tahun) sedang bertengkar memperebutkan sebuah boneka.

Ani (sambil menangis) : ”Mama..!! aku mau boneka yang lagi dipegang kakak…, aku ingin sekali main dengan boneka itu…!! (sambil menangis dengan keras)”

Ana : ”Mama..!!! adek ingin ambil bonekaku… aku ngga’ mau nanti malah rusak ma..

Mama (lagi menghitung uang belanja) : ”Adek.. mainan mu kan banyak, main dengan boneka yang lain saja ya.., jangan nangis.. mama lagi pusing mikirin uang belanja yang pas-pasan ini..!!! (dengan suara keras).”

Ani : ”Adek cuma ingin boneka yang sekarang dipegang kakak, adek ngga mau main boneka adek, karena semua sudah jelek-jelek.. dan rusak..!! (sambil tetap menangis)”

Mama (dengan nada yang kesal) : ”Aduh..!! kalian kok bertengkar terus.. diam! diam!!! mama lagi pusing.., kakak..!! berikan boneka mu sama adek, masa dipinjam sebentar aja sama adek tidak boleh, sebagai kakak itu harus mengalah.. ayo berikan sekarang..!! (dengan suara yang keras dan mata yang melotot)”

Ilustrasi diatas, paling tidak cukup membawa kita mengingat kebelakang, adakah peristiwa diatas juga terjadi terhadap kita. Sebagai orang tua, kita merasa bahagia bila memiliki anak lebih dari 1 sebagaimana kata pepatah ‘banyak anak banyak rezeki’, namun kebahagiaan itu sering kali terusik oleh pertengkaran anak-anak yang tentu saja dapat menimbulkan stres tersendiri.

Kenapa sih mereka selalu bertengkar..?

Apakah semua kakak adik itu selalu bertengkar..?

Sibling Rivalry adalah permusuhan dan kecemburuan antara saudara kandung yang menimbulkan ketegangan diantara mereka. Hal ini tak dapat disangkal bahwa perselisihan antar mereka akan selalu ada. Biasanya ini terjadi apabila masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain. Kemungkinan sibling rivalry akan semakin besar apabila mereka berjenis kelamin sama dan jarak usia keduanya cukup dekat.

Apa penyebab terjadinya Sibling rivalry ?

1. Anak-anak sangat bergantung akan cinta dan kasih sayang orang tuanya.

Mereka merasa terancam apabila orang tua membaginya kepada orang lain. Hal ini sering terlihat saat ibu hamil, anak mulai menunjukan protesnya melalui perilaku yang ’sulit’.

2. Kecenderungan terhadap satu anak.

Hal ini dapat menimbulkan perasaan kesal dan cemburu bagi anak yang lain dan anak yang lain akan merasa tersisihkan.

3. Bila seorang anak menyadari kekurangannya dari saudaranya yang lain.

Terlebih apabila si anak berjenis kelamin sama dan jarak usia yang berdekatan, maka diam-diam anak akan mengembangkan rasa benci terhadap saudaranya tersebut. Biasanya ketika orang tua sering memuji kemampuan anak yang lain dihadapan anak yang memiliki kekurangan, tentu saja akan membuat anak yang ‘kekurangan’ menjadi minder dan merasa kurang diterima ditengah-tengah keluarga.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya sibling rivalry?

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi maupun intensitasnya.

1. Libatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adik.

Pada saat hamil, libatkan anak untuk mempersiapkan kelahiran seperti ajak anak memilih pakaian ataupun perlengkapan bayi lainnya dan juga beritahukan bahwa adik barunya tidak akan merebut perhatian ibunya.

2. Beri setiap anak perhatian dan cinta yang khusus dan istimewa.

Berikanlah perhatian yang khusus pada setiap anak, terutama bila anak tidak sepandai atau semenarik saudaranya, sehingga ia juga merasa dirinya istimewa.

3. Jangan membanding-bandingkan anak.

Hindarkan perkataan ”kamu kok bandel banget, lihat adikmu, sudah pintar, penurut lagi, tidak seperti kamu.. mama kehabisan akal menghadapi kamu..!” Ucapan ini tidak akan memotivasi anak namun justru perlahan-lahan menumbuhkan rasa cemburu dan kebencian terhadap saudaranya tersebut.

4. Jangan menjadikan anak sebagai pengasuh adiknya.

Jangan paksa anak yang lebih tua sebagai pengasuh adiknya. Karena anak akan merasa terbebani dan mempengaruhi anak menjadi lebih dewasa dari waktunya.

5. Buatlah pembagian tugas rumah masing-masing anak.

6. Kembangkan dan ajarkan anak bersikap empati dan memperhatikan saudaranya yang lain.

Bagaimanapun juga, persaingan antar saudara kandung (sibling rivalry) dalam keluarga tidak dapat dihindari. Namun, naluri keibuan, kasih sayang dan kepekaan anda sebagai orang tua akan sangat membantu meminimalkan perasaan cemburu dan permusuhan diantara mereka, sehingga akan timbul perasaan empati dan kesediaan sikap untuk berbagi dengan saudaranya yang lain.

Tidak ada yang dapat membahagiakan kecuali senantiasa melewatkan waktu-waktu anda bersama senyuman lucu buah hati anda.

Gemar Membaca


Buku adalah jendela pengetahuan. Dengan membaca buku, kita dapat menyerap banyak informasi, dapat berkelana ke berbagai negara, bahkan ke dunia dongeng sekalipun. Pendeknya, dengan membaca, wawasan pengetahuan kita akan semakin luas. Namun, sayangnya tidak semua anak gemar membaca. Nah, bagaimana caranya membuat anak kita gemar membaca?
Kenalkan buku sejak dini

Buku cerita yang cocok untuk balita adalah yang memiliki banyak gambar dengan tulisan yang sedikit. Gambar yang berwarna akan lebih menarik daripada gambar yang hitam putih. Biarkan anak memilih sendiri buku yang ingin dibacanya, sehingga ia lebih antusias dalam membaca.

Bacakan buku cerita dengan menarik
Dalam membaca cerita, usahakan sehidup mungkin sehingga anak dapat merasa seolah-olah berada di dalam cerita tersebut. Atur nada suara dan bumbui dengan gerakan-gerakan tubuh yang berekspresi untuk membangun suasana yang hidup. Bahkan bayi pun dapat menikmati buku yang dibacakan, yaitu dari irama suara dan kehangatan tubuh pembaca yang memangkunya.

Model orang tua
Orang tua harus menjadi contoh yang baik. Bila orang tua gemar membaca, menyediakan bacaan yang memadai dan mengatur suasana rumah yang mendukung untuk membaca, maka niscaya anak akan ikut gemar membaca.

(sumber: kak-seto.com)

Pengaruh Permainan pada Perkembangan Anak

Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak:

1. Kesehatan
Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.

2. Intelegensi
Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.

3. Jenis kelamin
Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.

4. Lingkungan
Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.

5. Status sosial ekonomi
Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.

Pengaruh bermain bagi perkembangan anak
Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak
Bermain dapat digunakan sebagai terapi
Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak
Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak
Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak
Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak

Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak

A. Permainan Aktif

1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.

2. Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.

3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.

4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.

5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Permainan Pasif

1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.

2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya.

(sumber: iqeq.web.id)

Flash Card: Permainan yang Sangat Menakjubkan!


Flash Card (FC) adalah kartu permainan yang SANGAT EFEKTIF untuk membantu anak anda belajar membaca sejak usia sedini mungkin. FC juga sangat efektif untuk melatih daya imajinasi anak!FC sudah sangat populer di negara-negara maju, tapi masih sangat sedikit sekali dikenal di Indonesia. FC BalitaCerdas memperoleh tanggapan yang SANGAT LUAR BIASA di Indonesia karena merupakan FC dalam Bahasa Indonesia yang PERTAMA.

FC ini bisa diterapkan untuk anak usia 4 BULAN KEATAS.

Manfaat:

    * Belajar membaca sejak usia sedini mungkin — Metode Glenn Doman
    * Mengembangkan daya ingat otak kanan — Metode Shichida
    * Melatih kemampuan konsentrasi
    * Meningkatkan perbendaharaan kata dengan cepat

Klik Disini untuk informasi lebih lanjut !

Sudah Benarkah Permainan Kreatif Anak Anda ?


Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah acara di TV Jepang yang sangat memprihatinkan, dimana dari hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah terbesar yang dihadapi oleh anak adalah keterlambatan dalam kemampuan bahasa/komunikasi pada saat anak tersebut menginjak usia 3-4 tahun. Ingat, hal ini sangat mungkin terjadi juga pada anak anda, tanpa anda menyadarinya !
Mengapa hal ini terjadi ?

Ternyata, karena menginginkan anaknya tumbuh dengan cerdas, banyak sekali orangtua yang memberikan permainan kreatif kepada anaknya. Tetapi sayangnya para orangtua tersebut kurang memahami bahwa kecerdasan yang diharapkan dari anak tidak akan dapat tercapai hanya dengan melakukan permainan kreatif melulu.

Kemampuan berbicara dan berkomunikasi anak merupakan faktor TERPENTING dalam mendorong kemampuan anak untuk berpikir cerdas.

Alasan lain yang mendorong orangtua untuk selalu memberikan mainan kreatif adalah karena dengan permainan tersebut anak menjadi asyik dengan dunianya sehingga orangtua merasa menjadi lebih ‘ringan’ dalam mengasuhnya.

Jangan salah tangkap. Permainan kreatif memang sangat diperlukan oleh anak, tetapi berbicara dengan anak juga merupakan hal yang sangat penting. Keduanya, dan tentunya termasuk juga stimulasi untuk perkembangan fisik, harus diberikan dengan seimbang.

Selain itu, banyak orangtua yg memberikan mainan kepada anaknya tanpa tahu fungsi dari mainan tsb. Dan ini adalah masalah yg paling sering ditemukan. Orgtua membelikan mainan yg cukup mahal harganya, tanpa mengetahui tujuan dan fungsi otak bagian mana yg distimulasi oleh permainan tsb.

Dengan mengetahui perilaku dan psikologi anak, anda akan lebih memahami tentang jenis mainan yg perlu diberikan pada usia tertentu yang akan merangsang pertumbuhan anak. Jangan sampai mainan tsb membuat bosan atau sebaliknya justru membuat stress anak anda karena stimulasi yg diterima oleh anak anda tidak sesuai dg usianya.
Mengapa keterlambatan kemampuan bahasa/komunikasi baru kelihatan setelah anak tersebut menginjak usia 3-4 tahun ?

Disinilah pentingnya anda mengetahui betapa pentingnya arti 3 TAHUN PERTAMA pada kehidupan anak anda. Keterlambatan perkembangan anak sering terjadi karena kurangnya stimulasi yang seharusnya diperoleh oleh anak pada 3 tahun pertamanya.

Jika anak anda mempunyai kesempatan untuk melakukan seluruh kegiatan yang memberinya stimulasi-stimulasi yang benar, yakinlah bahwa anak anda pasti akan tumbuh dengan cerdas baik dalam segi fisik, mental maupun sosial.
Stimulasi dan tindakan apa saja yang diperlukan oleh anak anda ?

Pada dasarnya, stimulasi yang diperlukan oleh anak adalah:

   1. Stimulasi perkembangan emosi.
   2. Stimulasi perkembangan fisik melalui kebiasaan dan rutinitas.
   3. Stimulasi perkembangan fisik melalui koordinasi gerakan kasar dan halus.
   4. Stimulasi perkembangan indera.
   5. Stimulasi perkembangan bahasa/komunikasi.

Apa saja yang perlu anda lakukan untuk melakukan stimulasi di atas ?

Informasi detilnya bisa anda peroleh dengan cara klik disini .

Semoga informasi ini berguna bagi kita semua sbg orangtua yg peduli dg perkembangan anak.
The First Years Last Forever…

Mainan Yang Mencerdaskan


Memilih mainan anak gampang-gampang susah. Salah pilih, akibatnya bisa runyam. Bila permainan terlalu rumit anak bisa stres. Ini lambat laun akan berdampak buruk bagi perkembangan emosinya. Sebaliknya, permainan yang terlalu mudah pun tak membawa manfaat bagi mereka. Karena interestnya berkurang dan tak merasa tertantang. Menurut Taufan Surana, pengelola dan pemilik situs BalitaCerdas.com, yang paling penting dalam memilih mainan untuk anak adalah yang dapat merangsang semua panca inderanya. Semakin banyak panca indera digunakan, sel-sel otak anak akan lebih banyak berkembang dari segi kualitas dan jumlahnya.

Jangan remehkan sepeda roda tiga. Kata Taufan, dari penelitian yang dia himpun, sepeda roda tiga mampu merangsang seluruh panca indera. Komposisi gerak dan visualnya akan semakin terasah. ”Anak berlatih mengkoordinasikan gerakan, pandangan dan situasi sekitarnya”, jelas Taufan.

Permainan lain yang bisa dijadikan alternatif adalah
Flash Card. Permainan kartu bergambar ini terdiri dari 150 kartu dengan bermacam-macam gambar seperti gambar buah, binatang, kendaraan, warna ataupun angka, dll. Cara memainkannya, cukup dengan menunjukkan gambar secara
cepat (satu gambar per detik) di hadapan anak. Meski mungkin belum lancar, biasanya anak usia sampai dengan tiga tahun sudah bisa mengenali gambar berikut namanya. ”Permainan ini bisa dimainkan sejak anak berusia empat bulan”, ujar Taufan yang juga memproduksi Flash Card.

(catatan: Flash Card BalitaCerdas.com bisa diperoleh di www.balitacerdas.com/fc)

Permainan Flash Card ini menurut Taufan bisa membantu memaksimalkan kemampuan photographic memory, serta membangkitkan respon otak kanan pada anak balita. Yaitu dengan cara mengendalikan pikiran bawah sadar, emosi, kreatif dan intuitif pada balita sejak dini.

Berikut adalah beberapa tips dalam memilih mainan untuk anak:

   1. Orangtua perlu tahu tahap-tahap perkembangan anak, baik usia, emosi dan fisiknya.
   2. Peduli terhadap mainan yang digunakan. Jangan asal beli yang mahal, sesuaikan dengan kemampuan anak.
   3. Keamanan alat bermain perlu diperhatikan, baik dari bahan (materil dan catnya) dan kinerja alat tersebut (yang menghindari cedera ketika digunakan).
   4. Pilih mainan yang berwarna kontras dan cerah, untuk merangsang indera penglihatan anak.
   5. Pastikan semua mainan dalam jangkauan anak, agar terhindar dari cedera ketika anak berusaha mencapainya.
   6. Anak di usia enam bulan keatas suka mainan yang mengeluarkan bunyi dan benda berwarna seperti genta, bel, lonceng mini, gambar penuh warna maupun benda berteksturlembut.
   7. Beri mainan seperti lego dan sejenisnya yang mempunyai variasi bentuk pada anak usia 9 bulan keatas, atau mainan serupa yang dapat dimainkan sewaktu mandi.
   8. Tak perlu mainan mahal untuk anak Anda. Si kecil butuh stimulus untuk merangsang kreatifitasnya, dan ini bisa anda lakukan dengan membuatnya sendiri. Tentu, kreatifitas Anda yang diperlukan.

Selamat bermain dengan buah hati anda.
NAD

Buku Kecil Seri Balita Cerdas

”BukuKecil Seri BalitaCerdas” ini dikembangkan dengan cermat dengan mempertimbangkan tahapan perkembangan kecerdasan anak. Produk ini didisain secara spesifik untuk anak usia 6 bulan s.d. 5 tahun, disesuaikan dengan ukuran tangan anak balita, dengan bentuk gambar dan warna yang dapat menstimulasi beberapa kecerdasan sekaligus…

BukuKecil Seri BalitaCerdas TERBARU ini terdiri dari 6 SERI:

   1. Bermain ABC
   2. Warna Warni
   3. Siapakah Aku
   4. Tebak Bentuk
   5. Ayo Berhitung
   6. Buah Apakah Ini

”BukuKecil Seri BalitaCerdas” ini dikembangkan dengan cermat dengan mempertimbangkan tahapan perkembangan kecerdasan anak.

Contoh gambarnya bisa dilihat di: http://www.balitacerdas.com/bukukecil

Sebelum diluncurkan sekarang, BukuKecil ini telah dites kepada 100 orang, dan mendapatkan response yang sangat positif.

Karena keunikannya tapi tetap dalam format sederhana yang mampu memberikan stimulasi yang baik bagi anak, BukuKecil ini telah dimuat di koran SINDO (Seputar Indonesia) beberapa waktu yang lalu.

Produk ini didisain secara spesifik untuk anak usia 6 bulan s.d. 5 tahun, disesuaikan dengan ukuran tangan anak balita, dengan bentuk gambar dan warna yang dapat menstimulasi beberapa kecerdasan sekaligus, serta memungkinkan anak merasa nyaman bisa melakukan permainan buku kecil ini sendirian tanpa harus tergantung dengan orangtua ataupun pengasuhnya.

Manfaat yang akan diperoleh oleh anak dengan bermain ”BukuKecil Seri BalitaCerdas” antara lain adalah :

   1. Melatih perkembangan motorik-halus anak
   2. Menstimulasi daya imajinasi anak
   3. Meningkatkan jumlah kosa kata anak
   4. Mengembangkan kemampuan bahasa dan berhitung anak
   5. Menstimulasi daya ingat visual anak
   6. Melatih pengenalan bentuk, warna dan nama benda
   7. Melatih konsentrasi anak
   8. Menguasai huruf dengan cepat

dalam suasana bermain yang menyenangkan.

Selain untuk buah hati anda sendiri, sangat PAS juga sebagai HADIAH keluarga, keponakan atau saudara.

Anda bisa mendapatkan BukuKecil ini di GRAMEDIA dengan harga Rp.15.000,- per buku.

BukuKecil ini HANYA dicetak 3.000 set saja untuk seluruh Indonesia. Jika anda kesulitan mendapatkannya, silahkan memesan melalui form pemesanan di:
http://www.balitacerdas.com/bukukecil

Aneka Permainan dan Manfaatnya bagi si Batita

Pilihlah sarana bermain yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak batita. Perhatikan pula aspek-aspek kebersihan dan keamanannya.

Dunia anak usia batita memang dunia bermain. Boleh dibilang sepanjang waktu mereka diisi hanya dengan bermain, kecuali saat tidur. Baik bermain menggunakan alat dengan berbagai bentuk dan ukuran, maupun tidak. Si anak menggunakan tubuhnya sendiri sebagai alat bermain untuk berlari, meloncat-loncat, merangkak, dan sebagainya. Bisa dibilang tak ada tempat yang tidak bisa dijadikan tempat bermain baginya. Entah yang outdoor maupun indoor. Tari Sandjojo, Psi., dari Cikal Jakarta memaparkan aneka jenis sarana bermain yang bisa sesuai bagi anak batita. Tentu saja lengkap dengan manfaatnya bagi berbagai aspek perkembangan anak.
Perosotan

Anak bisa menikmati sensasi ketinggian, terlebih saat ia berada di puncak perosotan dan siap meluncur. Belum lagi merasakan bagaimana tubuhnya terasa melayang kala meluncur ke bawah hingga akhirnya mendarat di ujung perosotan. Sebelum meluncur pun anak harus menjalani proses naik tangga. Motorik kasar anak benar-benar teruji, termasuk bagaimana menjaga keseimbangan tubuhnya saat menapaki anak tangga.

Selain itu, anak juga belajar mengenai peraturan. Di antaranya mesti tertib bergiliran naik satu per satu dan tidak boleh naik dari papan luncurnya agar tidak tertabrak anak lain di atasnya.
Ayunan

Anak akan merasakan kenikmatan tersendiri saat tubuhnya terayun secara kencang atau lambat maupun tinggi atau rendah dari tempat berpijak. Ia juga jadi belajar mengantisipasi bahaya. Jika ada yang mengayunnya dari depan atau belakang, misalnya, tentu harus diingatkan karena tindakan ini justru membahayakan si pengayun. Selain itu anak pun dilatih untuk mempertajam kemampuan kontrol dirinya agar tidak berayun terlalu cepat dan tidak pula kelewat lamban.
Permainan Pasir

Pilih butiran pasir yang lembut dan halus serta tidak menempel di kulit anak. Dengan dikenalkan pada permainan pasir, anak akan belajar mengenai tekstur kasar. Begitu juga tentang panas dan dinginnya pasir, maupun perubahan bentuk saat dicampur air. Bukankah ini berarti mengenalkan anak pada dunia ilmu pengetahuan, tepatnya belajar IPA secara sederhana.

Tentu saja dalam memilih pasir tersebut orang tua harus hati-hati mengingat material ini dapat pula menjadi tempat tinggal bagi binatang kecil. Bukan tidak mungkin ada binatang yang bisa membahayakan atau setidaknya membuatnya takut dan cedera.
Stepping dan Balok Keseimbangan

Imajinasi anak dirangsang melalui permainan ini. Arahkan anak seakan ia harus menyebrangi sungai yang deras dengan balok itu. Jika cuma berjalan dan berlalu begitu saja di atasnya, yang didapat anak hanyalah kesempatan melatih motorik dan keseimbangannya saja, tapi bukan imajinasinya.
Mandi Bola

Lewat permainan ini anak akan mengalami sensasi yang beragam. ”Oh seperti ini ya rasanya berenang dalam kolam bola. Beda dengan masuk kolam air yang bisa membuatku tenggelam, terjun ke kolam ini empuk dan tidak membuatku tenggelam. Kalaupun aku tenggelam karena banyak gerak, aku tetap bisa bernapas, kok.” Belajar mengenai konsep warna dan bentukpun bisa diperoleh anak di sini. Begitu juga dengan belajar menentukan arah jika anak ingin main lempar bola.
Main Air

Umumnya anak usia batita hobi main air. Ia masih dikuasai rasa ingin tahu atau keinginan bereksplorasi, termasuk terhadap air. Meski ada juga yang takut terhadap air karena pernah mengalami pengalaman tak menyenangkan dengan material ini. Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang justru membentengi rasa ingin tahu anak terhadap air dengan banyak melarang. Semisal jangan mandi lama-lama, enggak boleh main hujan-hujanan atau becek-becekan, dan sejenisnya.

Padahal menurut Tari, manfaat bermain air itu sendiri cukup banyak. Selain bisa merasakan adanya sensasi yang menyenangkan, mengapa tidak dioptimalkan dengan mengarahkan anak untuk mencintai dunia ilmu pengetahuan? Fasilitasi rasa ingin tahunya dan kegemarannya bermain air dengan menghadirkan wadah dalam berbagai bentuk dan ukuran. Mencampur air dengan cat air, pasir, atau tepung akan membantu anak menemukan banyak hal baru mengenai berat jenis, volume, perubahan bentuk, warna, dan sebagainya.
Gorong-gorong/Terowongan

Karena suasana yang dihadirkannya amat berbeda, gorong-gorong memberi sensasi tersendiri sebagai sarana bermain bagi anak. Saat berada didalamnya anak mendapati suasana yang agak gelap, sempit, lebih dingin dan membuat suaranya bergema. Anak pun belum bisa menerka-nerka apa yang bakal ditemuinya di depan sana, di setiap belokan ataupun di mulut gorong-gorong.

Latihan semacam ini akan meningkatkan kemampuan anak dalam hal antisipasi. Selain melatihnya mengatasi rasa takut saat menghadapi suasana berbeda. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi anak yang ujung-ujungnya akan mengasah kemampuan beradaptasi.
Jala/Jaring

Saat manapaki jala/jaring, sensasi ketinggian juga akan didapat anak sebagai salah satu manfaat. Manfaat lainnya adalah mengasah ketrampilan motorik, rasa percaya diri, keberanian, maupun keseimbangan dan koordinasi tubuh.
Tumpangan Bergoyang

Bentuknya bisa bermacam-macam, dari pesawat terbang, tokoh film kartun, mobil, motor, hewan, atau apa saja. Namun menurut Tari, keinginan batita mencoba permainan ini lebih karena ketertarikannya pada aneka bentuk yang ada. Sementara dari segi manfaatnya nyaris tidak ada, selain sensasi saat mainan bergoyang ke kiri dan kanan atau ke depan dan belakang secara teratur saat dimasukkan koin.



Guna membantu orang tua memilihkan arena bermain yang baik bagi anaknya, Tari memberikan beberapa saran berikut:
Tips Memilih Arena Bermain





Jangan pernah memilih arena bermain yang sarananya sudah dipenuhi debu dan ditumbuhi jamur, lumut, apalagi sampai menimbulkan bau tak sedap. ”Sebagai konsumen, kita berhak bertanya kepada pihak pengelola mengenai sistem perawatan arena bermain tersebut.”
Utamakan Kebersihan



Tari menyayangkan banyaknya pengelola/pemilik arena bermain, baik outdoor maupun indoor, yang mengabaikan sisi perawatan dan kebersihan. Padahal biasanya keteledoran semacam ini yang menjadikan tempat bermain umum tidak layak lagi dipergunakan bagi anak.

Idealnya, setelah sekian jam digunakan atau dimanfaatkan oleh sejumlah anak, setiap mainan harus dibersihkan. Bahkan untuk meminimalkan peluang penularan penyakit tertentu, mainan juga harus dibersihkan secara berkala menggunakan bahan pembersih yang bisa membunuh jamur, bakteri, dan kuman.



Pastikan keamanan setiap lekuk dan sudut sarana di tempat bermain yang akan digunakan dapat diandalkan. Jika kira-kira membahayakan, lebih baik urungkan saja niat mengajak main batita di tempat tersebut. Begitu juga materi yang mendominasi arena bermain itu. Amati aspek lunak-kerasnya, licin atau tidak dan tajam atau tidak semua benda yang ada. Termasuk aman tidaknya cat yang digunakan.
Perhatikan Keamanan



Mengapa hal-hal kecil tadi perlu diperhatikan baik-baik? Tak lain karena pengalaman tidak enak kala anak terbentur atau terluka akan jauh lebih ”dirasa” daripada manfaat permainan itu sendiri. Sayang sekali ‘kan, kalau karena pernah cedera anak jadi tak mau mencoba permainan ini-itu atau tidak lagi terangsang melakukan berbagai eksplorasi hingga potensi/kemampuan anak jadi tidak terasah.

Kolam mandi bola, contohnya, untuk anak batita idealnya harus dipisahkan dari kolam serupa untuk anak prasekolah. Mengapa? Sebagian batita, terutama batita awal usia 1-2 tahun, masih berada di fase oral. Inilah yang membuat mereka seringkali memasukkan bola-bola tersebut ke dalam mulutnya.

Pertimbangan lain, perkembangan motorik membuat anak prasekolah cenderung ”rusuh” dengan melompat dan meloncat atau terjun bebas tanpa memperhatikan ada atau tidak orang lain yang mungkin bakal celaka dengan ulahnya. Di sinilah pentingnya orang tua menyeleksi arena bermain seperti apa yang dianggapnya layak.



Pilihlah sarana bermain yang merangsang pergerakan otot batita, baik otot-otot kaki, tangan, maupun seluruh bagian tubuhnya. Jangan lupa perhatikan juga kesesuaian bentuk, ukuran, dan tingkat kesulitan masing-masing permainan tersebut. Balok keseimbangan, contohnya, pilihkan yang baloknya relatif lebar dan goyangannya tidak menghentak-hentak. Sedangkan untuk perosotan idealnya dilengkapi dengan matras atau ”bantalan” pasir yang bisa meredam benturan saat anak mendarat. Lalu untuk permainan gorong-gorong, pilihkan yang jalan keluarnya langsung bisa ditemukan anak dengan panjang yang terjangkau.
Cermati Aspek Kesesuaian





Tinggalkan arena bermain yang sudah penuh sesak. Dalam kondisi semacam itu jangan harap anak bisa memetik manfaat dari aktivitas bermainnya. Begitu juga jika melihat antrian yang amat panjang hingga harus menunggu cukup lama untuk mendapat giliran. Bisa-bisa si batita bete duluan sebelum bermain. Padahal salah satu unsur penting bagi anak batita adalah pengalaman yang menyenangkan. Nah, kalau dia sampai terlalu lama menunggu, kalah berebut kesempatan dengan anak yang lebih besar, tentu saja permainan tersebut akan menjadi pengalaman tidak menyenangkan buat si batita. Meski di usia ini anak juga harus mulai diperkenalkan pada konsep berbagi, tapi tentu bukan dengan cara-cara seperti ini.
Kuota/Kapasitas





Yang dimaksudkan di sini adalah kualitas petugas atau kakak-kakak pendamping yang ada di lokasi arena bermain. Ini sangat perlu mengingat mereka harus menjaga, membimbing, dan mengarahkan anak bagaimana harusnya bermain dengan baik dan benar. Jika semua aturan main bisa dipatuhi, bukan cuma keselamatan dan kenyamanan bermain yang didapat anak, tapi juga manfaat lain. Semisal, ”O…begini toh caranya menjaga keseimbangan di jalan yang licin.” Atau, ”Supaya bonekanya enggak gampang hancur, aku mesti mencampur tepung ini dengan air.”
Kualitas SDM



Tentu saja agar bisa memainkan perannya sebagai pendamping, jumlah SDM yang bertugas harus sesuai dengan kapasitas arena permainan itu sendiri. Jangan sampai satu penjaga harus mengawasi 10 anak yang sedang asyik bermain, contohnya.