Tampilkan postingan dengan label PsikolOGI anAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PsikolOGI anAK. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2010

4 Trik Jitu agar Si Kecil Tak Sering Bertengkar

Karen (32 tahun) hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat kedua buah hatinya ‘asyik’ bertengkar.. Riza (5tahun) dan Inggrid (4 tahun) sepertinya tidak pernah capai untuk saling berebut sesuatu. Mulai dari remote tv, playstation, buku cerita sampai memandikan Choco, anjing peliharaan mereka. Kalau sudah begitu Karen hanya tinggal tunggu waktu saja sampai salah seorang mereka menangis dan mengadu kepadanya.
Banyak orang menyarankan sebaiknya punya anak dengan rentang waktu kelahiran sekitar 1-2 tahun. ”Supaya capeknya sekalian”, itu alasannya. Membesarkan 1 orang anak saja sudah cukup melelahkan apalagi 2 orang anak sekaligus! Kan sampai dengan umur 5 tahun adalah saat-saat paling penting bagi pertumbuhan anak. Sebagai seorang ibu tentu kita tidak mau mereka ’salah asuhan’.

Salah satu kesulitan yang mesti dihadapi para orang tua adalah saat anak-anak mereka bertengkar. Dr Fredrick Toke, terapis khusus anak mengatakan: ”Sebagai orang tua kita harus mengajarkan mereka untuk bertoleransi, mempunyai empati dan tahu cara menyelesaikan masalah tanpa mendatangkan masalah”.

Berikut 4 trik jitu cara menyiasati agar si kecil bisa berhenti bertengkar:

1. Habiskan Waktu yang Sama untuk Setiap Anak

Situasi: Luna tidak mau keluar kamar sejak pulang sekolah. Dia ngambek begitu tau ayahnya menemani Luigi kursus sepak bola sore ini. Pikir Luna ayahnya tidak adil, karena ia tidak pernah ditemani ayahnya les piano.

Trik: Habiskan waktu yang sama untuk setiap anak. Temani mereka dalam melakukan hobi atau kursus yang mereka kerjakan.

Ahli mengatakan: Rasa marah si kecil karena cemburu akhirnya membuat mereka mencari alasan untuk bertengkar dengan saudaranya. ”Mereka akan berpikir Anda tidak adil karena Anda hanya mencintai yang lain”, ujar Dr Liz Norris. Nah, menghabiskan waktu bersama, selain menghapus kecemburuan itu juga membuat ikatan kekeluargaan semakin erat.

2. Beri Jam Weker

Situasi: Aldi dan Alda ribut memperebutkan remote TV. Aldi ingin menonton Takashi Castle sementara Alda ingin menonton telenovela Dolce Maria di saluran lain.

Trik: Pasang jam weker! setiap anak diberi waktu 15 menit untuk menonton acara favoritnya. Bila alarm jam sudah berbunyi berarti 15 menit berikutnya untuk anak yang lain.

Ahli mengatakan: ”Adanya jam weker membuat mereka merasa mendapatkan pembagian waktu yang persis sama”, ujar Dr. Mark W Roberts, profesor di The Idaho state University. Namun sebaiknya Anda mengajak mereka bicara dahulu, ajarkan untuk menyelesaikan masalah bersama dengan sikap toleransi . Bila tidak ada titik temu barulah dipakai trik ini. Jika tidak ada yang mau mengalah, bertindaklah tegas tidak memperbolehkan keduanya menonton televisi, agar mereka tahu bahwa sikapnya bisa merugikan dirinya juga.

3. Beri Kode untuk Barang Setiap Anak

Masalah: Iko dan Erick selalu rebutan botol minum saat mau les berenang. Teriakan ”Ini punya aku!” jadi sering terdengar di kuping.

Trik: Beri kode tertentu untuk setiap anak. Misalnya warna biru untuk Iko dan warna hijau untuk Erick. Bisa juga menggunakan angka.

Ahli mengatakan: ”Anak-anak sering ribut hanya untuk sesuatu yang tidak jelas. Pemberian kode bisa mengajarkan mereka berempati terhadap sesama, mereka akan mengerti bagaimana perasaan orang lain bila barangnya dipakai atau direbut”, ujar Dr. Janet Brown penulis What Colour is Your Personality.

4. Periksa Program Televisi

Masalah: Akhir-akhir ini Uli suka memukuli Ila adiknya. Tidak keras sih tapi cukup membuat Ila berteriak mengaduh dan membalas memukul. Ketika ditanya Uli bilang kalau dia sedang berperan menjadi jagoan seperti di film yang ditontonnya.

Trik: Periksa program televisi yang hendak ditonton. Jangan sampai si kecil menonton film yang penuh adegan kekerasan.

Ahli mengatakan: ”Di masa pertumbuhan, anak mudah sekali dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan didengar”, ujar Joanna Sulli, seorang psikolog anak. Bila sang buah hati ingin menonton suatu program acara pastikan Anda sudah menontonnya terlebih dahulu sebagai pencegahan bila ternyata program tersebut tidak cocok untuk anak-anak.

Kiat Mengatasi Anak Susah Makan


Balita Anda susah makan? Jangan emosi. Berpikirlah dengan tenang dan aturlah strategi. Berikut dr Soeroyo Machfudz SpA(K) MPH dari Yogyakarta memberikan beberapa kiat yang bisa dimanfaatkan:

1. Bagi ibu yang bekerja, luangkan waktu sebentar saja tetapi berkualitas untuk menyuapi anaknya. Sebab, sebenarnya anak-anak sangat mengerti bila ibunya bekerja.
2. Berikanlah kepuasan psikis kepada anak yang sesuai dengan usianya, dan buatlah agar suasana hatinya senang, misalnya anak makan sambil jalan-jalan, melihat kereta api, dan lain-lain. Problem utama anak susah makan itu 6 bulan sampai 2 tahun. ”Asal usia itu terlewati dengan bagus, Insya Allah ke depannya tidak ada masalah.”, tutur Soeroyo.

3. Pada saat orang tua baik ibu maupun ayahnya pulang kerja, pertama kali yang harus dipegang atau disapa adalah anaknya. Jangan yang lain.

4. Jangan memaksa anak makan sampai mencekoki, mencubit atau bahkan memelototi. Bagaimana bila anak tidak mau sayur, tahu-tempe, dan makanan bergizi lainnya? Soeroyo menyarankan sebaiknya anak ‘dilaparkan’ dulu. ”Tetapi, kita siapkan makanan yang sudah kita programkan, nanti berangsur-angsur dia akan mau, tetapi memang perlu telaten, disiplin.”,
jelas dia.

5. Sebaiknya sedini mungkin kita menerapkan penghargaan dan hukuman yang edukatif. Misalnya, pada waktu anak mau makan dipuji, diajak jalan-jalan, ciuman, pelukan. Bila tidak mau makan, katakan, misalnya, ibu atau ayah tidak mau lihat televisi bersama-sama, tidak mau jalan-jalan lagi.

6. Pada anak berusia setelah empat bulan-enam bulan, baik diberi bubur instan asalkan anak tak alergi susu. Setelah anak berusia enam bulan, lebih bagus membuat bubur sendiri, karena ada macam-macam pilihan sayuran dan lauk-pauk yang bisa mengurangi kejenuhan rasa. Misalnya, hati dengan bayam, kemudian wortel dengan tempe, kangkung dengan tahu, dan sebagainya. Namun, bila dengan makanan tersebut anak mengalami diare atau muntah maka menu harus dievaluasi.

7. Pada saat bayi mengalami perubahan makanan seperti enam bulan, sembilan bulan satu tahun, dia akan merasa-rasakan karena rasanya aneh sehingga kadang dimain-mainkan seperti dimuntahkan, ini harus dimasukkan lagi. Prinsipnya bila makanan tersebut dimuntahkan, harus sedikit-sedikit dan makanannya harus lebih cair lagi.

8. Pada kasus anak yang mengalami gangguan psikis yang manifestasinya pada lambung dengan muntah bisa teratasi kira-kira setelah tiga tahun. Tetapi, kasus seperti itu jarang dan tidak menjadi masalah asal kebutuhan gizi, kalori, lemak, proteinnya tercukupi

Mengatasi Ledakan Emosi Anak Anda


Apakah anda pernah mengalami kejadian berikut ?

Anda dan si kecil anda berjalan-jalan ke mall atau makan di restaurant. Karena suatu hal yang sepele si kecil anda ngambek, marah dan berteriak-teriak minta pulang. Ketika anda anda berusaha membujuknya, si kecil anda justru semakin meledak emosinya, memukul atau melempar apa saja yang ada di sekitarnya.

Mungkin anda tidak pernah mengalami kejadian seperti di atas, tapi kemungkinan besar anda mengalami hal yang hampir sama. Mengapa hal ini terjadi ?

Menurut banyak ahli perkembangan dan psikolog anak, hal ini sering terjadi karena anak mengalami frustasi dengan keadaannya sedangkan dia tidak mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata atau ekspresi yang diinginkannya. Hal ini sering dialami oleh anak usia 2-3 tahun.

Mengapa ? Anak usia tersebut biasanya sudah mulai mengerti banyak hal dari yang didengar, dilihat maupun dialaminya, tetapi kemampuan bahasa atau berbicaranya masih sangat terbatas.

Apa yang bisa anda lakukan ?

1. JANGAN ikutan marah !

Saat anak anda sedang mengalami ledakan emosi, baik dengan teriakan maupun tindakan fisik lainnya, dia tidak akan bisa menerima alasan atau bujukan, tetapi justru terhadap apapun yang anda lakukan anak akan merespons secara negatif. Kemudian, jika anda tidak bisa menahan emosi, anda akan ikutan marah, dan mungkin anda akan meninggalkan anak anda sendirian.

Jangan lakukan itu ! Anak anda akan merasa bahwa anda telah mengabaikannya, dan semakin membuat anak merasa ketakutan dengan apa yag terjadi.

Anak akan merasa lebih tenang jika anda tetap berada di dekatnya. Jika memungkinkan, gendong atau peluk anak anda sehingga dia akan lebih cepat menenangkan diri.

2. Anda yang tetap memegang kendali

Jangan mengikuti permintaan anak yang tidak realistik atau tidak bisa anda terima hanya untuk menghindari ledakan emosi anak. Hal ini sering terjadi di tempat-tempat umum seperti mall, yang mana pada saat anak minta sesuatu anda tidak mengijinkannya, tetapi begitu anak mulai meledak emosinya anda akan mengabulkannya karena malu dengan lingkungan.

Jadi, jika memang anak meminta sesuatu yang diluar toleransi, kita harus tegas mengatakan ”TIDAK”. Jika anak menjadi marah besar dan mulai memukul ataupun tindakan lain yang membahayakan, bawalah dia ke tempat yang lebih aman hingga anak menjadi tenang. Katakan bahwa dia dibawa ke tempat tersebut karena tindakannya yang membahayakan. Selama anak belum tenang, jangan memberikan nasehat atas tindakannya, tetapi fokuskan hanya untuk menenangkan dirinya. Tentunya anda mengatakannya tanpa emosi ataupun bernada memarahinya.

Memang, pada saat membaca tulisan ini kita bisa mengerti, tapi begitu mengalaminya langsung kemungkinan besar kita lupa dengan apa yang seharusnya kita lakukan.

Jadi bagaimana ?

Ketika anak anda mulai meledak emosinya, katakan pada diri anda sendiri, ”Ini kejadian yang wajar. Saya tahu cara menghadapinya !”. Kemudian ingatlah tulisan ini.. :)

Selain hal di atas, masih ada beberapa hal PENTING lagi yang HARUS anda lakukan supaya anak anda mengerti dan memahami apa yang sudah terjadi. Juga, tindakan anda untuk mencegah terjadinya ledakan kemarahan yang terlalu sering.

Pengalaman Menghentikan Dot Tanpa Penolakan

Bagi kita yang sudah mengalami, menghentikan anak menggunakan dot (seperti halnya juga menghentikan ASI) menjadi saat-saat yang penuh ‘perjuangan’. Perasaan antara ‘harus tega’ dan ‘kasihan’ menjadi satu begitu melihat anak menangis tersedu-sedu hanya karena tidak boleh lagi minum pakai dot.
Jika anda sudah membaca ebook saya “3 Tahun Pertama yg Menentukan” (http://ebook.balitacerdas.com), tindakan yg akan sangat memudahkan kita dalam mengajarkan disiplin kepada anak, atau meminta anak menuruti apa yg kita inginkan, adalah dengan menerapkan SIGNAL AWAL.

Sekitar 2 minggu yang lalu, ketika anak ke-3 saya (Fuka) tepat menginjak usia 2 tahun 8 bulan, kami memutuskan untuk menghentikan Fuka minum pakai dot, dan BERHASIL dengan sangat memuaskan, tanpa ada penolakan dari Fuka, tanpa ada tangisan tersedu-sedu di malam hari.

Kali ini, penerapan signal awal kami terapkan kepada Fuka dalam waktu beberapa minggu sebelum Hari-H penghentian dot.

Caranya ?

Beberapa minggu sebelumnya, di setiap kesempatan yg memungkinkan saya dan istri sering mengatakan bahwa Fuka sudah besar, sambil pura-pura membandingkan tinggi badan Fuka yang sudah menjadi lebih tinggi.

Misalnya, “Kemarin Adek Bayi (note: Fuka memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Adek Bayi) tingginya segini (sambil menunjuk leher), sekarang sudah nambah tinggi jadi segini (sambil menunjuk kepalanya). Adek Bayi sudah besar ya…”

Kebetulan ada keponakan yg umurnya baru 1 tahun, namanya Naufal, kami ‘manfaatkan’ untuk membandingkan lebih lanjut. Kami sering mengatakan kepada Fuka, “Adek Naufal masih kecil banget ya.., makanya sukanya minum pakai dot”. Biasanya Fuka akan mengatakan, “Dot Adek Bayi dikasihkan ke Adek Naufal aja ya.. ‘kan Adek Bayi sudah besar”. Kemudian kami merespons, “Iya ya.. nanti kapan-kapan kita kasih ke Adek Naufal aja ya..”.

Dengan melakukan hal diatas beberapa waktu, Fuka mulai ‘terkondisikan’ bahwa dia sudah besar, dan sudah tidak perlu lagi minum memakai dot.

Pada saat Hari-H tiba, sebelum saya berangkat ke kantor suasana pagi kami buat cukup menyenangkan, kemudian istri saya mengatakan kepada Fuka,”Mulai hari ini Adek Bayi tidak minum pakai dot lagi. Botol dotnya enaknya digimanain ya?”.

Pertanyaan diatas sengaja dilakukan supaya apa yang akan dilakukan menjadi keputusan dari Fuka sendiri dan bukan paksaan dari orang lain.

Karena sudah terkondisikan, Fuka menjawab,”Botol yang kecil dibuang aja, yang besar dikasihkan ke Adek Naufal”.

Kemudian istri saya mengambil plastik sampah,”Yang kecil dibuang disini, yang besar dimasukkan ke tas Ayah, nanti sama Ayah dikasihkan ke Adek Naufal”.

Kemudian Fuka diminta membuang sendiri tas plastik sampahnya, dan memasukkan sendiri botol dot besarnya ke dalam tas saya.

Sampai disini proses berjalan sangat lancar. Saya berangkat ke kantor, dan Fuka sudah sadar bahwa dia tidak punya botol dot lagi.

Beberapa jam setelah tiba di kantor, istri saya telephone menyampaikan kalau Fuka agak rewel tidak mau minum susu karena tidak pakai dot. Di telephone saya tegaskan kepada Fuka, “Tadi pagi ‘kan dot kecilnya sudah dibuang sama Adek Bayi sendiri. Yang besar sudah Ayah kasihkan ke Adek Naufal. Jadinya Adek Bayi harus minum susu pakai gelas dong ya…”

Awalnya Fuka tetap tidak mau minum susu, tetapi menjelang siang akhirnya mau minum dengan gelas untuk anak balita (yang pegangannya ada dua itu loh..).

Biasanya, masalah terbesar timbul di malam hari pada saat anak terbangun minta minum susu, seperti yang dulu kami alami dengan anak pertama kami, Rihan (kebetulan anak kedua kami, Afi, tidak pernah minum pakai dot). Kamipun telah siap untuk ‘perang’ melawan rasa kasihan yang akan terjadi.

Tetapi untuk kasus Fuka kali ini, apa yang kami khawatirkan tidak terjadi. Kami tidak mengalami masalah di malam hari. Malam itu Fuka terbangun, melihat sekeliling sebentar, kemudian tidur lagi. Kami sendiri sempat kaget, kok Fuka tidak rewel mencari dotnya lagi.

Kami yakin ini bisa dilalui sebagai hasil yang telah kami lakukan beberapa waktu sebelumnya itu.

Setelah itu semuanya berjalan lancar, Fuka tidak lagi minum susu memakai dot.

Hal positif yang terjadi setelah itu adalah:

1. Fuka mau makan dengan baik, jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Biasanya, jika anak terlalu tergantung dengan susu, anak menjadi susah makan. Maunya minum susu terus. Jika kita orangtua mengikuti terus kemauan anak yang seperti ini, akan sulit menghentikannya nanti.

2. Fuka tidak mengompol lagi.

Hal ini sangat memberi manfaat. Dengan memuji anak bahwa dia tidak mengompol, rasa percaya diri anak kelihatan meningkat. Setiap kali dia bangga bahwa dirinya bukan anak kecil lagi, sehingga anak menjadi lebih mandiri.

Selain itu, kita tidak perlu mengeluarkan lagi biaya pembelian diapers yang cukup mahal itu (lumayan ‘kan..).

3. Kami bisa istirahat lebih baik karena tidak perlu harus bangun membuatkan susu lagi.

Yang perlu DIINGAT dalam hal menghentikan dot ini, jika anak menjadi rewel, itu adalah hal yang SANGAT WAJAR.

Seperti halnya kita orangtua juga, anak awalnya pasti akan menjadi tidak nyaman dengan perubahan ‘negatif’ yang dialaminya. Tugas kita untuk mencari alternatif kegiatan sehingga rasa tidak nyaman itu bisa dikurangi dan akhirnya bisa ditinggalkan.

Begitu kita memutuskan untuk melakukan penghentian dot, lakukan dengan tegas (BUKAN berarti sambil marah loh!). Jangan sampai kita menyerah begitu melihat anak menangis meminta dotnya. Jika hal ini dilakukan berulang kali, kita akan menjadi sangat kesulitan melakukannya lagi, karena anak merasa bahwa dia bisa merubah apa yang telah menjadi keputusan orangtuanya.

Jadi, untuk menghentikan suatu kebiasaan anak, faktor PENTING dan EFEKTIF yang bisa dilakukan adalah:

1. Pemberian SIGNAL AWAL kepada anak tentang perubahan yang akan terjadi pda dirinya.

2. Tindakan TEGAS tapi tetap dengan menunjukkan KASIH SAYANG sehingga anak memahami bahwa apa yang kita lakukan memang akan terjadi.

3. KERJASAMA orangtua dan pihak lain sehingga tidak terjadi perbedaan dalam memperlakukan anak.

Selamat Mencoba.. dan ditunggu cerita pengalaman anda.

TIPS: Bagaimana Membuat Anak Suka Belajar


Beberapa tips di bawah ini SANGAT MENENTUKAN dan EFEKTIF diterapkan supaya anak SUKA BELAJAR:

1. SUASANA YANG MENYENANGKAN adalah SYARAT MUTLAK yang diperlukan supaya anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan.
2. Membuat ANAK SENANG BELAJAR adalah JAUH LEBIH PENTING daripada menuntut anak mau belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu. Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama. Anak yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.

3. Kenali TIPE DOMINAN CARA BELAJAR ANAK, apakah tipe AUDITORY (anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan), VISUAL (melihat) ataukah KINESTHETIC (fisik). Meminta anak secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar anak nantinya akan membuat anak tidak mampu secara maksimal menyerap isi pelajaran, sehingga anak tidak berkembang dengan maksimal.

4. Belajar dengan JEDA WAKTU ISTIRAHAT setiap 20 menit akan JAUH LEBIH EFEKTIF daripada belajar langsung 1 jam tanpa istirahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.

5. Anak pada dasarnya mempunyai naluri ingin mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Anak akan menjadi SANGAT ANTUSIAS dan SEMANGAT untuk belajar jika isi/materi yang dipelajari anak SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN ANAK. Anak akan menjadi mudah bosan jika yang dipelajari terlalu mudah baginya, dan sebaliknya anak akan menjadi stress dan patah semangat jika yang dipelajari terlalu sulit.

Oleh: Taufan Surana

Mengapa anak-anak saya selalu bertengkar?

Pada suatu sore, dua orang saudara kandung, Ana (6 tahun) dan Ani (4,5 tahun) sedang bertengkar memperebutkan sebuah boneka.

Ani (sambil menangis) : ”Mama..!! aku mau boneka yang lagi dipegang kakak…, aku ingin sekali main dengan boneka itu…!! (sambil menangis dengan keras)”

Ana : ”Mama..!!! adek ingin ambil bonekaku… aku ngga’ mau nanti malah rusak ma..

Mama (lagi menghitung uang belanja) : ”Adek.. mainan mu kan banyak, main dengan boneka yang lain saja ya.., jangan nangis.. mama lagi pusing mikirin uang belanja yang pas-pasan ini..!!! (dengan suara keras).”

Ani : ”Adek cuma ingin boneka yang sekarang dipegang kakak, adek ngga mau main boneka adek, karena semua sudah jelek-jelek.. dan rusak..!! (sambil tetap menangis)”

Mama (dengan nada yang kesal) : ”Aduh..!! kalian kok bertengkar terus.. diam! diam!!! mama lagi pusing.., kakak..!! berikan boneka mu sama adek, masa dipinjam sebentar aja sama adek tidak boleh, sebagai kakak itu harus mengalah.. ayo berikan sekarang..!! (dengan suara yang keras dan mata yang melotot)”

Ilustrasi diatas, paling tidak cukup membawa kita mengingat kebelakang, adakah peristiwa diatas juga terjadi terhadap kita. Sebagai orang tua, kita merasa bahagia bila memiliki anak lebih dari 1 sebagaimana kata pepatah ‘banyak anak banyak rezeki’, namun kebahagiaan itu sering kali terusik oleh pertengkaran anak-anak yang tentu saja dapat menimbulkan stres tersendiri.

Kenapa sih mereka selalu bertengkar..?

Apakah semua kakak adik itu selalu bertengkar..?

Sibling Rivalry adalah permusuhan dan kecemburuan antara saudara kandung yang menimbulkan ketegangan diantara mereka. Hal ini tak dapat disangkal bahwa perselisihan antar mereka akan selalu ada. Biasanya ini terjadi apabila masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain. Kemungkinan sibling rivalry akan semakin besar apabila mereka berjenis kelamin sama dan jarak usia keduanya cukup dekat.

Apa penyebab terjadinya Sibling rivalry ?

1. Anak-anak sangat bergantung akan cinta dan kasih sayang orang tuanya.

Mereka merasa terancam apabila orang tua membaginya kepada orang lain. Hal ini sering terlihat saat ibu hamil, anak mulai menunjukan protesnya melalui perilaku yang ’sulit’.

2. Kecenderungan terhadap satu anak.

Hal ini dapat menimbulkan perasaan kesal dan cemburu bagi anak yang lain dan anak yang lain akan merasa tersisihkan.

3. Bila seorang anak menyadari kekurangannya dari saudaranya yang lain.

Terlebih apabila si anak berjenis kelamin sama dan jarak usia yang berdekatan, maka diam-diam anak akan mengembangkan rasa benci terhadap saudaranya tersebut. Biasanya ketika orang tua sering memuji kemampuan anak yang lain dihadapan anak yang memiliki kekurangan, tentu saja akan membuat anak yang ‘kekurangan’ menjadi minder dan merasa kurang diterima ditengah-tengah keluarga.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya sibling rivalry?

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi maupun intensitasnya.

1. Libatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adik.

Pada saat hamil, libatkan anak untuk mempersiapkan kelahiran seperti ajak anak memilih pakaian ataupun perlengkapan bayi lainnya dan juga beritahukan bahwa adik barunya tidak akan merebut perhatian ibunya.

2. Beri setiap anak perhatian dan cinta yang khusus dan istimewa.

Berikanlah perhatian yang khusus pada setiap anak, terutama bila anak tidak sepandai atau semenarik saudaranya, sehingga ia juga merasa dirinya istimewa.

3. Jangan membanding-bandingkan anak.

Hindarkan perkataan ”kamu kok bandel banget, lihat adikmu, sudah pintar, penurut lagi, tidak seperti kamu.. mama kehabisan akal menghadapi kamu..!” Ucapan ini tidak akan memotivasi anak namun justru perlahan-lahan menumbuhkan rasa cemburu dan kebencian terhadap saudaranya tersebut.

4. Jangan menjadikan anak sebagai pengasuh adiknya.

Jangan paksa anak yang lebih tua sebagai pengasuh adiknya. Karena anak akan merasa terbebani dan mempengaruhi anak menjadi lebih dewasa dari waktunya.

5. Buatlah pembagian tugas rumah masing-masing anak.

6. Kembangkan dan ajarkan anak bersikap empati dan memperhatikan saudaranya yang lain.

Bagaimanapun juga, persaingan antar saudara kandung (sibling rivalry) dalam keluarga tidak dapat dihindari. Namun, naluri keibuan, kasih sayang dan kepekaan anda sebagai orang tua akan sangat membantu meminimalkan perasaan cemburu dan permusuhan diantara mereka, sehingga akan timbul perasaan empati dan kesediaan sikap untuk berbagi dengan saudaranya yang lain.

Tidak ada yang dapat membahagiakan kecuali senantiasa melewatkan waktu-waktu anda bersama senyuman lucu buah hati anda.

Gemar Membaca


Buku adalah jendela pengetahuan. Dengan membaca buku, kita dapat menyerap banyak informasi, dapat berkelana ke berbagai negara, bahkan ke dunia dongeng sekalipun. Pendeknya, dengan membaca, wawasan pengetahuan kita akan semakin luas. Namun, sayangnya tidak semua anak gemar membaca. Nah, bagaimana caranya membuat anak kita gemar membaca?
Kenalkan buku sejak dini

Buku cerita yang cocok untuk balita adalah yang memiliki banyak gambar dengan tulisan yang sedikit. Gambar yang berwarna akan lebih menarik daripada gambar yang hitam putih. Biarkan anak memilih sendiri buku yang ingin dibacanya, sehingga ia lebih antusias dalam membaca.

Bacakan buku cerita dengan menarik
Dalam membaca cerita, usahakan sehidup mungkin sehingga anak dapat merasa seolah-olah berada di dalam cerita tersebut. Atur nada suara dan bumbui dengan gerakan-gerakan tubuh yang berekspresi untuk membangun suasana yang hidup. Bahkan bayi pun dapat menikmati buku yang dibacakan, yaitu dari irama suara dan kehangatan tubuh pembaca yang memangkunya.

Model orang tua
Orang tua harus menjadi contoh yang baik. Bila orang tua gemar membaca, menyediakan bacaan yang memadai dan mengatur suasana rumah yang mendukung untuk membaca, maka niscaya anak akan ikut gemar membaca.

(sumber: kak-seto.com)

Pengaruh Permainan pada Perkembangan Anak

Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak:

1. Kesehatan
Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.

2. Intelegensi
Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.

3. Jenis kelamin
Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.

4. Lingkungan
Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.

5. Status sosial ekonomi
Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.

Pengaruh bermain bagi perkembangan anak
Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak
Bermain dapat digunakan sebagai terapi
Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak
Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak
Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak
Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak

Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak

A. Permainan Aktif

1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.

2. Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.

3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.

4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.

5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Permainan Pasif

1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.

2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya.

(sumber: iqeq.web.id)

Flash Card: Permainan yang Sangat Menakjubkan!


Flash Card (FC) adalah kartu permainan yang SANGAT EFEKTIF untuk membantu anak anda belajar membaca sejak usia sedini mungkin. FC juga sangat efektif untuk melatih daya imajinasi anak!FC sudah sangat populer di negara-negara maju, tapi masih sangat sedikit sekali dikenal di Indonesia. FC BalitaCerdas memperoleh tanggapan yang SANGAT LUAR BIASA di Indonesia karena merupakan FC dalam Bahasa Indonesia yang PERTAMA.

FC ini bisa diterapkan untuk anak usia 4 BULAN KEATAS.

Manfaat:

    * Belajar membaca sejak usia sedini mungkin — Metode Glenn Doman
    * Mengembangkan daya ingat otak kanan — Metode Shichida
    * Melatih kemampuan konsentrasi
    * Meningkatkan perbendaharaan kata dengan cepat

Klik Disini untuk informasi lebih lanjut !

Sudah Benarkah Permainan Kreatif Anak Anda ?


Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah acara di TV Jepang yang sangat memprihatinkan, dimana dari hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah terbesar yang dihadapi oleh anak adalah keterlambatan dalam kemampuan bahasa/komunikasi pada saat anak tersebut menginjak usia 3-4 tahun. Ingat, hal ini sangat mungkin terjadi juga pada anak anda, tanpa anda menyadarinya !
Mengapa hal ini terjadi ?

Ternyata, karena menginginkan anaknya tumbuh dengan cerdas, banyak sekali orangtua yang memberikan permainan kreatif kepada anaknya. Tetapi sayangnya para orangtua tersebut kurang memahami bahwa kecerdasan yang diharapkan dari anak tidak akan dapat tercapai hanya dengan melakukan permainan kreatif melulu.

Kemampuan berbicara dan berkomunikasi anak merupakan faktor TERPENTING dalam mendorong kemampuan anak untuk berpikir cerdas.

Alasan lain yang mendorong orangtua untuk selalu memberikan mainan kreatif adalah karena dengan permainan tersebut anak menjadi asyik dengan dunianya sehingga orangtua merasa menjadi lebih ‘ringan’ dalam mengasuhnya.

Jangan salah tangkap. Permainan kreatif memang sangat diperlukan oleh anak, tetapi berbicara dengan anak juga merupakan hal yang sangat penting. Keduanya, dan tentunya termasuk juga stimulasi untuk perkembangan fisik, harus diberikan dengan seimbang.

Selain itu, banyak orangtua yg memberikan mainan kepada anaknya tanpa tahu fungsi dari mainan tsb. Dan ini adalah masalah yg paling sering ditemukan. Orgtua membelikan mainan yg cukup mahal harganya, tanpa mengetahui tujuan dan fungsi otak bagian mana yg distimulasi oleh permainan tsb.

Dengan mengetahui perilaku dan psikologi anak, anda akan lebih memahami tentang jenis mainan yg perlu diberikan pada usia tertentu yang akan merangsang pertumbuhan anak. Jangan sampai mainan tsb membuat bosan atau sebaliknya justru membuat stress anak anda karena stimulasi yg diterima oleh anak anda tidak sesuai dg usianya.
Mengapa keterlambatan kemampuan bahasa/komunikasi baru kelihatan setelah anak tersebut menginjak usia 3-4 tahun ?

Disinilah pentingnya anda mengetahui betapa pentingnya arti 3 TAHUN PERTAMA pada kehidupan anak anda. Keterlambatan perkembangan anak sering terjadi karena kurangnya stimulasi yang seharusnya diperoleh oleh anak pada 3 tahun pertamanya.

Jika anak anda mempunyai kesempatan untuk melakukan seluruh kegiatan yang memberinya stimulasi-stimulasi yang benar, yakinlah bahwa anak anda pasti akan tumbuh dengan cerdas baik dalam segi fisik, mental maupun sosial.
Stimulasi dan tindakan apa saja yang diperlukan oleh anak anda ?

Pada dasarnya, stimulasi yang diperlukan oleh anak adalah:

   1. Stimulasi perkembangan emosi.
   2. Stimulasi perkembangan fisik melalui kebiasaan dan rutinitas.
   3. Stimulasi perkembangan fisik melalui koordinasi gerakan kasar dan halus.
   4. Stimulasi perkembangan indera.
   5. Stimulasi perkembangan bahasa/komunikasi.

Apa saja yang perlu anda lakukan untuk melakukan stimulasi di atas ?

Informasi detilnya bisa anda peroleh dengan cara klik disini .

Semoga informasi ini berguna bagi kita semua sbg orangtua yg peduli dg perkembangan anak.
The First Years Last Forever…

Mainan Yang Mencerdaskan


Memilih mainan anak gampang-gampang susah. Salah pilih, akibatnya bisa runyam. Bila permainan terlalu rumit anak bisa stres. Ini lambat laun akan berdampak buruk bagi perkembangan emosinya. Sebaliknya, permainan yang terlalu mudah pun tak membawa manfaat bagi mereka. Karena interestnya berkurang dan tak merasa tertantang. Menurut Taufan Surana, pengelola dan pemilik situs BalitaCerdas.com, yang paling penting dalam memilih mainan untuk anak adalah yang dapat merangsang semua panca inderanya. Semakin banyak panca indera digunakan, sel-sel otak anak akan lebih banyak berkembang dari segi kualitas dan jumlahnya.

Jangan remehkan sepeda roda tiga. Kata Taufan, dari penelitian yang dia himpun, sepeda roda tiga mampu merangsang seluruh panca indera. Komposisi gerak dan visualnya akan semakin terasah. ”Anak berlatih mengkoordinasikan gerakan, pandangan dan situasi sekitarnya”, jelas Taufan.

Permainan lain yang bisa dijadikan alternatif adalah
Flash Card. Permainan kartu bergambar ini terdiri dari 150 kartu dengan bermacam-macam gambar seperti gambar buah, binatang, kendaraan, warna ataupun angka, dll. Cara memainkannya, cukup dengan menunjukkan gambar secara
cepat (satu gambar per detik) di hadapan anak. Meski mungkin belum lancar, biasanya anak usia sampai dengan tiga tahun sudah bisa mengenali gambar berikut namanya. ”Permainan ini bisa dimainkan sejak anak berusia empat bulan”, ujar Taufan yang juga memproduksi Flash Card.

(catatan: Flash Card BalitaCerdas.com bisa diperoleh di www.balitacerdas.com/fc)

Permainan Flash Card ini menurut Taufan bisa membantu memaksimalkan kemampuan photographic memory, serta membangkitkan respon otak kanan pada anak balita. Yaitu dengan cara mengendalikan pikiran bawah sadar, emosi, kreatif dan intuitif pada balita sejak dini.

Berikut adalah beberapa tips dalam memilih mainan untuk anak:

   1. Orangtua perlu tahu tahap-tahap perkembangan anak, baik usia, emosi dan fisiknya.
   2. Peduli terhadap mainan yang digunakan. Jangan asal beli yang mahal, sesuaikan dengan kemampuan anak.
   3. Keamanan alat bermain perlu diperhatikan, baik dari bahan (materil dan catnya) dan kinerja alat tersebut (yang menghindari cedera ketika digunakan).
   4. Pilih mainan yang berwarna kontras dan cerah, untuk merangsang indera penglihatan anak.
   5. Pastikan semua mainan dalam jangkauan anak, agar terhindar dari cedera ketika anak berusaha mencapainya.
   6. Anak di usia enam bulan keatas suka mainan yang mengeluarkan bunyi dan benda berwarna seperti genta, bel, lonceng mini, gambar penuh warna maupun benda berteksturlembut.
   7. Beri mainan seperti lego dan sejenisnya yang mempunyai variasi bentuk pada anak usia 9 bulan keatas, atau mainan serupa yang dapat dimainkan sewaktu mandi.
   8. Tak perlu mainan mahal untuk anak Anda. Si kecil butuh stimulus untuk merangsang kreatifitasnya, dan ini bisa anda lakukan dengan membuatnya sendiri. Tentu, kreatifitas Anda yang diperlukan.

Selamat bermain dengan buah hati anda.
NAD

Psikologi Anak


Menonton acara Apa Kabar Indonesia pagi ini, hari Minggu tanggal 24 Mei 2009 di tv one cukup bagus masalah yang dibahas yaitu tentang Psikologi Anak. Diskusi ini menghadirkan nara sumber seorang psikolog yaitu Ibu Winarni. Meskipun aku belum punya anak, hehe, tapi semoga kelak berguna dan bisa aku terapkan ketika sudah menjadi orang tua dan memiliki anak.

Intinya yang bisa aku ambil dari acara tersebut adalah orang tua harus sering berkomunikasi dengan anak, terbuka dengan segala permasalahan yang ada. Mau mendengarkan atau menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak. Biasanya orang tua lebih mau mendengarkan kalau yang ngomong adalah guru dari anaknya, guru konseling atau mau mendengar dari seorang psikolog daripada mendengar dari anaknya sendiri. Sebaiknya sedari dini, membuka pintu komunikasi dengan anak selebar-lebarnya akan lebih berarti bagi psikologi anak, mencoba memahami bagaimana permasalahan anak, apa yang dia inginkan dari kita sebagai orangtua, apa yang dia mau untuk dia lakukan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan sekitar.

Jangan sampai kita sebagai orangtua jarang berkomunikasi dengan anak, tidak mau tahu menahu dan perhatian tentang masalah yang dia hadapi, apa yang terjadi di sekolahnya, apa yang terjadi dengan teman-temannya, tidak mengikuti perkembangan anak sendiri, baik perkembangan mental dan perkembangan intelektual. Jangan sampai kita baru mengetahui ketika guru konseling di sekolahnya memanggil kita gara-gara anak kita ada masalah di sekolahnya. Mungkin kita sebagai orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaan ( atau sibuk ngeblog dan facebook ?? wkwk ) sehngga jarang berkomunikasi dengan anak, berangkat kerja pagi-pagi anak masih tidur, pulang kerja malam, anak juga sudah tidur, apalagi kalau hari sabtu dan minggu harus lembur. Tentunya dengan teknologi yang semakin canggih sekarang, dunia dengan komunikasi tanpa batas, kita harus memanfaatkannya, sering sms dan telepon anak untuk mengecek bagaimana keadaannya, apa yang sedang dilakukan, meluangkan waktu beberapa saat untuk sharing dengannya, menjadi pendengar yang baik, biarkan anak bercerita tentang apa yang dia alami, apa yang menarik baginya, apa yang membuatnya kesal, apa yang membuatnya sedih, dan sebagainya. Menghabiskan waktu sehari penuh bersama anak dan keluarga ketika hari libur untuk berekreasi ke tempat wisata, jalan-jalan atau sekedar bermain di taman bermain juga cukup berarti bagi anak.

Kehangatan kasih sayang di dalam keluarga diharapkan dapat mewujudkan suasana nyaman bagi anak. Menjadi seorang sahabat bagi anak kita tanpa menghilangkan wibawa sebagai orangtua, memberi teladan yang baik, sehingga anak pun tidak canggung dan sungkan untuk mencurahkan isi hatinya kepada kita, namun tetap menghormati kita sebagai orang tua.

Psikologi Anak


Menonton acara Apa Kabar Indonesia pagi ini, hari Minggu tanggal 24 Mei 2009 di tv one cukup bagus masalah yang dibahas yaitu tentang Psikologi Anak. Diskusi ini menghadirkan nara sumber seorang psikolog yaitu Ibu Winarni. Meskipun aku belum punya anak, hehe, tapi semoga kelak berguna dan bisa aku terapkan ketika sudah menjadi orang tua dan memiliki anak.

Intinya yang bisa aku ambil dari acara tersebut adalah orang tua harus sering berkomunikasi dengan anak, terbuka dengan segala permasalahan yang ada. Mau mendengarkan atau menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak. Biasanya orang tua lebih mau mendengarkan kalau yang ngomong adalah guru dari anaknya, guru konseling atau mau mendengar dari seorang psikolog daripada mendengar dari anaknya sendiri. Sebaiknya sedari dini, membuka pintu komunikasi dengan anak selebar-lebarnya akan lebih berarti bagi psikologi anak, mencoba memahami bagaimana permasalahan anak, apa yang dia inginkan dari kita sebagai orangtua, apa yang dia mau untuk dia lakukan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan sekitar.

Jangan sampai kita sebagai orangtua jarang berkomunikasi dengan anak, tidak mau tahu menahu dan perhatian tentang masalah yang dia hadapi, apa yang terjadi di sekolahnya, apa yang terjadi dengan teman-temannya, tidak mengikuti perkembangan anak sendiri, baik perkembangan mental dan perkembangan intelektual. Jangan sampai kita baru mengetahui ketika guru konseling di sekolahnya memanggil kita gara-gara anak kita ada masalah di sekolahnya. Mungkin kita sebagai orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaan ( atau sibuk ngeblog dan facebook ?? wkwk ) sehngga jarang berkomunikasi dengan anak, berangkat kerja pagi-pagi anak masih tidur, pulang kerja malam, anak juga sudah tidur, apalagi kalau hari sabtu dan minggu harus lembur. Tentunya dengan teknologi yang semakin canggih sekarang, dunia dengan komunikasi tanpa batas, kita harus memanfaatkannya, sering sms dan telepon anak untuk mengecek bagaimana keadaannya, apa yang sedang dilakukan, meluangkan waktu beberapa saat untuk sharing dengannya, menjadi pendengar yang baik, biarkan anak bercerita tentang apa yang dia alami, apa yang menarik baginya, apa yang membuatnya kesal, apa yang membuatnya sedih, dan sebagainya. Menghabiskan waktu sehari penuh bersama anak dan keluarga ketika hari libur untuk berekreasi ke tempat wisata, jalan-jalan atau sekedar bermain di taman bermain juga cukup berarti bagi anak.

Kehangatan kasih sayang di dalam keluarga diharapkan dapat mewujudkan suasana nyaman bagi anak. Menjadi seorang sahabat bagi anak kita tanpa menghilangkan wibawa sebagai orangtua, memberi teladan yang baik, sehingga anak pun tidak canggung dan sungkan untuk mencurahkan isi hatinya kepada kita, namun tetap menghormati kita sebagai orang tua.

Membalas Kebencian dengan Kasih Sayang

Meskipun aku sudah sering membacanya berulang-ulang kali, nilai kebijaksanaan dari kisah yang ditulis oleh guruku ini selalu bermanfaat bagiku. Jika hati kita merasa tersakiti oleh seseorang atau sekelompok orang, artikel ini mungkin bisa memberikan alternatif berpikir untuk bereaksi terhadap orang yang membenci kita. Kisah dalam tulisan ini barangkali tidak bisa dibuktikan secara empiris dan bisa dikatakan ‘tidak masuk akal’ (nonsense) dalam tingkatan interpretasi tertentu. Tapi, dalam prakteknya, jika kita dapat mengambil inti dari kisahnya, cara yang diajarkan dalam kisah ini sudah sering dapat membantu mereka yang meyakininya untuk menciptakan perubahan yang baik dalam kehidupan sosial mereka. Kebencian dibalas dengan kebencian, sudah tidak mempunyai tempat dalam kehidupan sosial sekarang. Pola dendam hanya akan mengakibatkan kerusakan, baik bagi orang tersebut maupun bagi lingkungan sosialnya. Selamat Membaca!

MEMBALAS KEBENCIAN DENGAN KASIH SAYANG
KH.  Jalaluddin Rakhmat

Salah seorang di antara tokoh besar dalam dunia kesucian adalah orang Mesir yang bernama Dzunnun. Karena ia berasal dari Mesir, maka ia dikenal dengan sebutan Dzunnun Al-Mishri, Dzunnun Si Orang Mesir.

Ketika ia masih hidup, orang-orang tidak mengenalnya sebagai orang yang dekat dengan Allah. Ia malah lebih banyak dicela dan dicemooh orang karena dianggap kafir, ahli bid’ah, dan orang murtad. Ia tidak pernah membalas semua tuduhan itu dengan kemarah-an atau serangan balik. Ia bahkan menunjuk-kan dirinya seakan-akan ia mengakui seluruh celaan itu. Selama ia hidup, orang-orang tidak mengetahui bahwa Dzunnun adalah salah seorang di antara waliyullah, kekasih Allah. Orang mengetahui kedekatannya dengan Tuhan setelah Dzunnun meninggal dunia.

Menurut Al-Hujwiri, pada malam kematian Dzunnun, tujuh puluh orang bermimpi melihat Rasulullah saw. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda, “Aku datang menemui Dzunnun, sang wali Allah.” Sesudah kematian-nya, konon di atas keningnya tertulis: Inilah kekasih Tuhan, yang mati karena mencintai Tuhan, dan dibunuh oleh Tuhan.

Masih menurut Al-Hujwiri, pada saat penguburan Dzunnun, burung-burung di angkasa berkumpul di atas kerandanya sambil mengembangkan sayap mereka seakan-akan ingin melindungi jenazahnya. Pada saat itulah orang-orang Mesir menyadari kekeliruan mereka dalam memperlakukan Dzunnun selama ini.

Ada banyak kisah tentang Dzunnun dan hampir semua kisah hidupnya itu menjadi pelajaran yang amat berharga. Kisah-kisah itu menjadi petunjuk bagi kita dalam mendekati Allah swt. Di antara kisah-kisah yang dituturkan tentang Dzunnun adalah satu kisah ketika ia berlayar bersama para santrinya dengan sebuah perahu di atas sungai Nil.

Alkisah, pada suatu hari, berlayarlah mereka di sungai Nil. Yang sedang berekreasi di sungai itu bukan hanya orang-orang saleh seperti Dzunnun dan para santrinya, tetapi juga orang-orang yang menggunakan rekreasi sebagai alat untuk melakukan kemaksiatan. Di tengah jalan, bertemulah dua kelompok perahu yang mempunyai “ideologi” yang berbeda itu. Pada perahu yang satu, terdapat Dzunnun, sang kiai, bersama para santrinya. Mereka melantunkan zikir kepada Allah swt. Pada perahu yang lain, ada sekelompok anak muda yang memetik gitar, berhura-hura, berteriak-teriak, dan berperilaku yang menjengkelkan santri-santri Dzunnun.

Karena para santri percaya bahwa doa-doa Dzunnun pasti diijabah, mereka meminta Dzunnun untuk berdoa kepada Allah supaya perahu anak-anak muda itu ditenggelamkan Tuhan jauh ke dasar sungai Nil. Dzunnun lalu mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan orang-orang itu kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka satu kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti.

Santri-santrinya tercengang. Semula mereka berharap Dzunnun akan mendoakan anak-anak muda yang ugal-ugalan itu agar ditenggelamkan Tuhan karena anak-anak muda itu memandang kehidupan hanya semata-mata kesenangan saja. Tapi aneh bin ajaib, Dzunnun hanya berdoa seperti di atas. Para santri terkejut mendengar doa Dzunnun.

Ketika perahu anak-anak muda itu mendekat, mereka melihat Dzunnun ada di perahu itu. mereka menyesal dan meminta maaf. Entah bagaimana, memandang wajah Dzunnun membawa mereka kepada kesucian. Mereka meremukkan alat-alat musik mereka dan bertaubat kepada Tuhan.

Waktu itulah Dzunnun memberi pelajaran kepada para santrinya, “Kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti adalah bertaubat di dunia ini. Dengan cara begini, kalian dan mereka puas tanpa merugikan siapa pun.”

Kita tertarik dengan cerita Dzunnun ini. Kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada orang-orang di sekitar kita. Seringkali setelah kita menjalani kehidupan yang baik, kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa membalas kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi. Untuk itu kita sering menutup-nutupinya dengan berkata, “Supaya ini jadi pelajaran bagi mereka.”

Dzunnun melanjutkan tradisi para rasul Tuhan yang mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang dilakukan orang lain dengan kebaikan. Bayangkanlah ketika Anda berdoa supaya saingan Anda hancur, agar musuh Anda binasa, Anda akan memperoleh satu manfaat saja: Kepuasan hati karena hancurnya saingan Anda. Tapi ketika Anda berdoa: Ya Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang, Anda akan mendatangkan manfaat kepada semua orang. Sama seperti doa Dzunnun Al-Mishri.

Dahulu, Nabi Isa as beserta murid-muridnya lewat di depan rombongan pemuda yang ugal-ugalan juga. Mereka bukan saja melakukan tindakan-tindakan maksiat ketika kelompok Nabi Isa datang, mereka juga malah melemparkan batu ke arah Nabi Isa. Nabi Isa berhenti dan memandang mereka untuk kemudian mendoakan kebaikan bagi mereka.

Murid-muridnya bertanya, “Mereka melempari batu ke arahmu tapi mengapa engkau malah membalas dengan doa yang baik?” Nabi Isa menjawab, “Itulah bedanya kita dengan mereka. Mereka kirimkan kepada kita keburukan dan kita kirimkan kepada mereka kebaikan.”

Rasulullah saw dilempari orang di Thaif ketika beliau mengajak mereka kepada Islam sampai kakinya berlumuran darah. Ketika malaikat datang kepadanya menawarkan untuk menimpakan gunung di atas orang-orang yang menyerangnya, Nabi hanya berkata: Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.

Dzunnun Al-Mishri mengajari kita tradisi para nabi dan orang-orang saleh; membalas kejelekan dengan kebaikan. Jadilah kita seperti pohon Mangga di tepi jalan, yang dilempari orang dengan batu tetapi ia mengirimkan kepada si pelempar itu, buah yang telah ranum. Ahsin kamâ ahsanallâhu ilaik, berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.

Di antara perbuatan baik yang sangat tinggi nilainya adalah membalas keburukan orang kepada kita dengan kebaikan. Ini bukanlah suatu hal yang mustahil, melainkan ini adalah ajaran kesucian yang akan membawa kita lebih dekat kepada Allah swt.

PSikologi daN psikologi hidup

Filosofi hidup hampir berkaitan dengan prinsip hidup. Semua
orang yang masih eksis mempunyai pegangan hidup, tujuan hidup,
prinsip hidup maupun filosofi hidup. Tentunya hal ini cukup berbeda
di antara satu dengan lainnya dalam menyikapinya. Karena, setiap
orang itu tidak sama, setiap orang itu unik, setiap orang merupakan
mahluk individualisme yang membedakan satu dengan lainnya.

Ada yang mempunyai tujuan hidup yang begitu kuat, namun
prinsip hidupnya lemah, atau sebaliknya ada orang yang mempunyai
tujuan hidup yang lemah, namun memiliki prinsip hidup yang kuat. Ini
tidaklah menjadi suatu permasalahan, yang penting seberapa baiknya
seseorang menyambung hidupnya dengan berbagai persoalan dunia yang
ada, atau dengan kata laiinya bagaimana kondisi psikologis/jiwa
seseorang dalam menjalani hidupnya.

Prinsip hidup masih jauh kaitannya dengan psikologi, namun
psikologi mau tau mau berhubungan langsung dengan prinsip hidup.
Karena, dengan menijau prinsip hidup seseorang dapat diketahui
kondisi jiwa seseorang. Prinsip hidup dan filosofi hidup sangat luas
cakupannya, tidak hanya ditinjau dari segi psikologi, tapi seluruh
cabang ilmu pengetahuan yang ada. Prinsip hidup seseorang dapat
diambil dari perspektif psikologi, agama, seni, literatural,
metafisika, filsafat dsb.

Bagi sebagian orang, filosofi hidup dapat dijadikan sebagai
panutan hidup, agar seseorang dapat hidup dengan baik dan benar.
Adapula sebagaian orang yang tidak menghiraukan apa itu tujuan hidup
dan filosofi hidup, ia hanya hidup mengikuti arus yang mengalir dan
sebagian orang lagi, terlalu kuat memegang tujuan hidup dan filosofi
hidupnya sehingga membuat ia menjadi keras dan keras, Jadi,
kesimpulannya ada 3 sifat manusia yang bisa ditinjau dari filosofi
hidupnya, yaitu orang yang lemah, orang yang netral dan orang yang
keras.

Orang yang lemah adalah orang yang tidak mempunyai tujuan hidup atau
prinsip hidup. Ia tidak tahu untuk apa ia hidup, ia tidak berusaha
mengetahui kebenaran di balik fenomena alam ini, sehingga terkadang
baik dan buruk dapat dijalaninya. Orang yang netral adalah orang
yang mempunyai tujuan dan prinsip hidup, tetapi tidak mengukuhinya
dengan terlalu kuat. Ia berusaha mencari kebenaran hidup dan hidup
dalam kebijakan dan kebenaran, ia bebas dan netral, tidak kurang dan
tidak melampaui, ia berada di tengah-tengah. Orang yang kuat adalah
orang yang memegang kuat tujuan dan prinsip hidupnya. Sehingga ia
mampu melakukan apa saja demi tercapai tujuannya. Ia terikat oleh
filosofinya, ia kuat dan kaku berada di atas pandangannya, ia merasa
lebih unggul dari orang lain dan melebihi semua orang.
Jika ditinjau dari sisi psikologi. Orang-orang yang di atas juga
dapat dikategorikan, seperti orang yang mempunyai jiwa yang lemah,
jiwa yang sedang dan jiwa yang kuat. Namun, untuk yang berjiwa
sehat, seseorang tidak hanya dilihat dari jiwa lemah, sedang ataupun
kuatnya. Penerapan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari
itulah yang penting.

Pada dasarnya, tujuan dan prinsip hidup seseorang itu baik dan
bersih. Pada saat seseorang dalam keadaan tenang, ia membuat
berbagai tujuan dan prinsip dalam hidupnya, namun ketika diterapkan
timbul beberapa hambatan dari luar dirinya atau adanya pengaruh dari
lingkungan eksternalnya. Salah satu pengaruh terbesar dari luar
dirinya adalah panca indera. Panca indera yang tidak terjaga dengan
baik akan membuat seseorang terpeleset dari tujuan dan prinsip
hidupnya. Telinga bisa mendengar, mata bisa melihat, mulut bisa
berbicara. Semua itu harus dikendalikan dengan baik.
Sebagai contoh konkret, saya mempunyai tujuan hidup menjadi
seseorang yang berguna untuk menolong semua mahluk hidup sampai ajal
menemui dan filosofi hidupnya adalah bila ada orang baik kepada
saya, maka saya akan baik kepadanya, dan bila ada orang jahat kepada
saya, maka saya akan baik juga kepadanya. Dari filosofi hidup ini,
jika dilihat dari sisi psikologinya, orang tersebut mempunyai jiwa
yang sehat, tidak mendendam dan bahagia menerima hidup. Namun, itu
hanyalah sebuah filosofi hidup, yang terpenting adalah bagaimana ia
menerapkan dalam perilakunya, apakah bisa sesempurna dengan filosofi
hidupnya atau hanya sekedar membuat filosofi hidup tetapi tidak
dijalankannya ataupun ia membuat suatu filosofi hidup, namun ia
susah menjalannya karena tidak bisa menahan godaan atau hambatan
dari luar dirinya.

Sebuah filosofi hidup bisa didapatkan dari seorang pemikir-pemikir
jenius yang bijaksana, bebas dan terpelajar. Biasanya orang tersebut
dianggap sebagai seorang filsuf, pelopor kebijakan. Masing-masing
negara memiliki tokoh filosofinya. Orang pertama yang memperkenalkan
filsafat hidup ke dalam ilmu pengetahuan adalah orang Yunani yang
kebetulan pada saat itu negaranya merupakan negara yang bebas dalam
berkarya. Terbukti begitu banyak para filsuf terkenal kebanyakan
dari bangsa Yunani, seperti Aristoteles, Plato dan Socrates.
Socrateslah yang paling banyak memberi pengaruh kepada dunia ilmu
pengetahuan, maka dia disebut Bapak Filsafat. Sedangkan, dari ilmu
psikologi, Bapak Sigmud Frued disebut-sebut sebagai Bapak Psikologi
yang paling banyak memberikan sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan.
Kedua tokoh dunia ini sama-sama memiliki pemikiran yang luar biasa
untuk menciptakan pengetahuan-pengetahuan mengenai asal usul dari
segala sesuatu, meskipun cakupannya berbeda, namun, psikologi dan
filsafat tidak bisa dipisahkan dan sebaliknya. Banyak tokoh
psikologi yang semula mempelajari filsafat kemudian melanjutkan
pengetahuannya ke bidang psikologi.
Beberapa kata kutipan yang diambil da
ri kedua tokoh ini, yakni :

" Makanan enak, baju indah, dan segala kemewahan, itulah yang kau
sebut kebahagiaan, namun aku percaya bahwa suatu keadaan di mana
orang tidak mengharapkan apa pun adalah kebahagiaan yang tertinggi
(Socrates)".
Dan,

" Mereka yang percaya, tidak berpikir. Mereka yang berfikir, tidak
percaya (Sigmud Frued)".

Disini dapat dilihat, bahwa terjadi suatu studi banding antara kedua
ilmu tersebut, Masing-masing membicarakan asal asul segala sesuatu
menurut perspektif ilmunya. Namun, dari kedua ilmu tersebut
mempunyai suatu kesamaan, bahkan banyak kesamaan yang membahas
mengenai asal mulanya sesuatu yang pasti ada hubungannya dengan
manusia dan alam sekitarnya.

Seorang Socrates membicarakan kebahagiaan dan seorang Sigmund Frued
membicarakan pikiran, tentunya kedua hal ini mempunyai kaitan yang
cukup besar. Filosofi hidup yang diberikan oleh Socrates mengenai
kebahagiaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan Ilmu
psikologi yang diberikan oleh Sigmund Frued mengenai pikiran (alam
sadar atau alam bawah sadar) dapat dijadikan landasan seseorang
untuk mencapai kebahagiaan.

Oleh sebab itu, seseorang yang mempelajari psikologi maupun
tidak, harus memiliki satu tujuan hidup atau filosofi hidup agar
bisa berkembang, dan seseorang yang mempelajari filsafat maupun
tidak, harus memperhatikan apakah dan bagaimanakah agar filosofinya
dapat diterapkan dengan baik dan benar sehingga mempunyai
psikologis/jiwa yang sehat untuk maju dan berhasil.

"Jika seseorang tahu kebenaran yang mendasar tentang segala sesuatu,
maka itulah inti pengetahuan'.

Rabu, 03 Maret 2010

Menapaki Kebutuhan


Ada yang mengatakan bahwa kebutuhan adalah sumber penemuan (discovery) yang oleh sebagian teori kreativitas dikatakan bahwa dengan memiliki kebutuhan akan membuat kita selalu terdorong untuk mencari jalan keluar. Oleh Trevor Bentley dalam Sharpen your team’s creativity (1997) pernah ditulis bahwa langkah yang bisa ditempuh agar kita bisa menjalani hidup secara kreatif adalah mendata sejelas mungkin apa saja yang kita butuhkan. Namun perlu diingat, kebutuhan, dapat berperan seperti pisau bermata dua: bisa mendongkrak kemampuan kita, namun bisa juga membuat kemampuan itu mandek, tergantung bagaimana kita me-manage kebutuhan, bukan bagaimana kebutuhan itu me-manage kita.

Kalau sudah bicara "bagaimana" tentu ini tak bisa dipisahkan dari pilihan strategi: apakah kita akan diam saja dan membiarkan diri dikuasai oleh kebutuhan, atau secara aktif menentukan dan mengatasi kebutuhan.


Menapaki Tangga



Abraham Maslow mengemukakan cara bagaimana, menentukan dan mengatasi kebutuhan:



Pertama: memahami tingkatan kebutuhan

Hierarki adalah suatu tatanan bertingkat dari mulai yang paling bawah sampai ke yang paling atas. Menurut Abraham Maslow, hierarki kebutuhan itu terdiri dari:

*
Kebutuhan fisik dan psikologis atau kebutuhan dasar: pangan, sandang, papan.
*
Kebutuhan keselamatan dan keamanan (sefety needs)
*
Kebutuhan keharmonisan / sosial (belongingness and love)
*
Kebutuhan kehormatan (esteem, the feeling of being valued and respected)
*
Kebutuhan akan aktualisasi diri

Kedua: Merumuskan ukuran vs kemampuan

Setiap tangga kebutuhan, memiliki lebar - tinggi - luas yang sangat mungkin berbeda antara anak tangga satu dengan anak tangga lainnya. Kita perlu memahami perbedaan tersebut untuk dapat memahami tingkat kesulitannya dan dibandingkan dengan “ukuran� kemampuan kita sendiri serta merencanakan strategi yang jauh lebih efektif untuk dapat menaiki setiap anak tangga dengan selamat. Dengan demikian, menurut Brian Tracy, kita lebih tahu, kapan saat yang tepat untuk menaiki anak tangga yang lebih tinggi.

Ketiga: Ukuran Dinamis

Meskipun hanya lima tetapi kalau lima-limanya bisa kita mainkan dengan dinamis dapat dikatakan sudah bisa menjadi representasi manusia sempurna. Prof. Nurcholis Madjid mendifiniskan bahwa manusia yang sempurna (Insan kamil) itu riilnya tidak ada kalau ukuran kita adalah statis, angka mati atau mutlak. "Manusia sempurna adalah yang selalu berusaha lebih sempurna".

Definisi di atas rasa-rasanya sudah klop kalau kita coba telaah dari hasil temuan Maslow tentang karakteristik orang yag sudah mencapai kemampuan memenuhi kebutuhan di anak tangga kelima (aktualisasi-diri) yang jumlahnya lima belas, yaitu:

1.
Punya persepsi yang sederhana tentang dunia (orang & keadaan),
2.
Menerima diri & orang lain, hubungan intrapersonal-interpersonal yang harmonis
3.
Tidak konformistis (ikutan-ikutan) tetapi memiliki nilai-nilai yang dianut
4.
Mementingkan keinginan ketimbang kekesalan (problem centered)
5.
Punya privasi tetapi tidak merasa kesepian
6.
Self-otonom, bisa memerintah dan melarang dirinya untuk berkembang
7.
Punya kapasitas menghargai kehidupan dan alam
8.
Berpengalaman ketuhanan/ spiritual, bukan hanya beragama
9.
Bisa menempatkan orang lain menurut tata krama kesopanan
10.
Punya hubungan personal yang unik - tak banyak teman tetapi berkualitas
11.
Punya karakter yang demokratis
12.
Bisa membedakan antara jalan dan tujuan (means & ends)
13.
Punya humor tinggi tetapi filosofis - bukan hiburan yang asal-asalan
14.
Punya gaya hidup Kreatif
15.
Mengakui budaya tetapi tidak keracunan budaya (warisan / tradisi)

Masalah yang berpotensi membuat kita mendiami kebutuhan itu bisa disebabkan karena beberapa hal, sedikitnya antara lain:

*
Kita tidak memiliki tangga sendiri yang spesifik seperti yang disarankan para ahli agar kita merumuskan tujuan hidup menurut kebutuhan dan kapasitas kita. Kalau tangganya tidak spesifik, bukan tidak mungkin pembawaan-naluriyah-manusiawi yang anti-kepuasan ini akan membawa kita larut untuk mendiami kebutuhan berbau fisik. Mengapa? Karena kebutuhan inilah yang paling keras suaranya dan anti kata nanti.
*
Kita tidak memilih strategi untuk menapaki tetapi memilih mendiami alias memposisikan diri secara mental sebagai akibat dari kebutuhan. Kita baru akan melangkah menaiki tangga kedua atau kelima setelah kita menerima kemujuran dari nasib yang akan membuat kita sudah tidak memikirkan lagi anak tangga yang lain.

Kalau kita rujukkan pada praktek hidup harian, kebutuhan akan pangan (perut), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal) atau tangga pertama memang syarat mutlak untuk menaiki tangga yang lain tetapi bukan jaminan karena ukurannya jelas berbeda untuk orang yang berbeda. Pendek kata, semua orang berprestasi (aktualisasi diri) memang sudah kenyang perutnya tetapi tidak semua orang yang kenyang perutnya bisa berprestasi. Contoh dalam sejarah pernah dibuktikan oleh Edison kecil. Mungkin untuk menambah uang saku yang masih kurang, Edison pernah bekerja sebagai penjual asongan di kereta tetapi yang berbeda adalah, Edison memiliki tangga yang ingin dinaikinya. Meskipun berjualan, dia tetap melakukan eksperimentasi kimia dan karena tumpah, konon pernah membuat kondektur marah sehingga menempleng telinganya sampai rusak. Selain Edison kita pasti bisa memastikan sudah tak terhitung jumlah anak manusia yang demikian.

Dari petunjuk ajaran ketuhanan juga bisa kita peroleh kesimpulan bahwa yang pada akhirnya akan menentukan di mana langkah kaki ini akan berada adalah bagaimana atau kemana kita mengarahkan penggunaan potensi. Dikatakan bahwa kalau potensi ini hanya kita gunakan untuk mengurusi standar hidup rendah (dunia saja), maka itulah yang akan kita dapatkan. Sebaliknya kalau kita mengarahkan penggunaan potensi (mata pikiranan, telinga kesadaran, atau hati keyakinan) untuk mengurusi standar hidup tinggi (dunia – akhirat) maka itu pulalah yang akan kita dapatkan. Karena persoalan sebenarnya lebih pada penggunaan sehingga dikatakan bahwa kalau kita gelap di kehidupan sekarang akan menjadi lebih gelap lagi di kehidupan nanti.


Proses Belajar



Bagaimana menapaki kebutuhan atau jurus apa saja yang masih mungkin kita lakukan agar kita tidak mendiami kebutuhan secara statis? Sekedar ingin berbagi pengalaman dan hasil pengamatan dari praktek hidup sehari-hari, jurus itu bisa kita pilih dari sekian cara, antara lain:

Pertama: Menumbuhkan kesadaran

Tahapan yang bisa dikatakan syarat multak adalah mengubah muatan mentalitas lama diganti dengan sebuah kesimpulan yang tegas bahwa tidak ada pihak lain siapa pun dan dari manapun yang sanggup menyuruh / melarang kita untuk mendiami atau menapaki tangga kebutuhan selain diri kita. Perut kita hanya sanggup mengelurakan tuntutan dan setelah kita penuhi, pilihan selanjutnya diberikan kepada kita apakah kita hanya akan mengurusinya sepanjang hidup atau kita akan mengurusi secukupnya sebagai modal dasar untuk menaiki anak tangga berikutnya.

Dengan muatan ini kita bisa berharap adanya kesadaran memilih yang muncul dari dalam bahwa kalau semuanya bergantung pada diri kita maka kitalah yang akan menguasai; kita yang akan mendefinisikan seperti apa tangga itu punya ukuran dan bentuk dan kitalah yang akan membuat keputusan kapan langkah ini diam dan bergerak dengan kesadaran. Kesadaran menguasai kebutuhan berarti meletakkan kebutuhan di bawah kaki kita agar kita punya pijakan untuk bergerak maju dan naik.

Kedua: Mendefinisikan Sasaran

Setiap hari kita melakukan sekian ragam aktivitas dan salah satu jurus yang bisa kita gunakan agar aktivitas itu bisa membuat kita menapaki kebutuhan adalah mendifinisikan sasaran (target, atau tujuan). Jurus ini bisa dilakukan dengan gerakan:

*
Menentukan aktivitas apa saja yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan faktual, pasti, dan sudah terukur secara harian, mingguan atau bulanan (sasaran)
*
Menentukan aktivitas apa saja yang bisa digunakan untuk meraih keinginan jangka panjang yang belum / baru terwujud sebagiannya hari ini. Kalau kita tidak bisa menciptakan solusi seluruhnya maka yang wajib kita ambil sebagiannya atau minimalnya tidak menambah masalah dengan cara membiarkan keinginan
*
Menentukan aktivitas apa saja yang bisa digunakan untuk menyelesaikan tantangan, problem atau berbagai bentuk penyimpangan yang muncul setiap hari.

Dengan membagi sasaran sedemikian rupa, kita akan memiliki kemungkinan untuk mendinamiskan langkah setiap hari. Kita tidak hanya terpaku pada kebutuhan, tidak juga terpaku pada penyeselesain masalah atau tidak terpaku pada mencari-cari jalan mewujudkan keinginan sementara kebutuhan dan kelancaran kita terancam. Cara lain bisa kita pilih dari apa yang diajarkan St Francis: "Mulailah dengan menyelesaikan pekerjaan yang anda butuhkan lalu yang anda inginkan dan barulah yang anda cita-citakan".

Ketiga: Membuat Keputusan Dinamis

Setiap hari kita sudah membuat keputusan tentang hidup kita dari pilihan-pilihan yang kita buat. Oleh Jim Rohn dikatakan bahwa nasib seseorang tidak ditentukan oleh change (kemujuran) tetapi ditentukan oleh choice (pilihan) atau keputusan. Meskipun demikian kalau kita telusuri lebih jauh, tidak semua keputusan yang kita buat membuat hidup ini dinamis seperti yang dicontohkan oleh tradisi kenabian yang akrab kita sebut peristiwa "Isro & Mi’roj". Dilihat dari kamus, Isro artinya menggerakkan kaki di malam hari sedangkan Mi’roj adalah menaiki tangga yang bertingkat - bukan asal jalan atau jalan-jalan tetapi jalan maju dan naik (menaiki hierarki).

Ibarat orang mengendarai mobil, wajarlah bahkan memang sudah seharusnya kalau kita harus terkadang pelan, ngebut, lurus, belok, mundur, atau terkadang zig-zag karena memang ada kebutuhan untuk itu. Tetapi yang membedakan apakah itu keputusan dinamis atau statis adalah apakah kita mundur untuk maju atau mundur untuk mundur; pelan supaya selamat atau pelan karena malas; lurus karena benar atau lurus karena kebenaran sendiri; belok-belok supaya fleksibel atau belak-belok karena tak punya pendirian.

Belajar dari pengalaman Christopher Reeve tentang bagaimana rasanya menaiki anak tangga itu dari bawah sampai ke atas dikatakan: "Awalnya cita-cita besar itu dipandang tidak mungkin terjadi (Impossible), lalu mungkin (probable), kemudian dan seringkali terjadi". Selamat mencoba.


Self Esteem & Persepsi Anak Thd Pola Komunikasi

Level dan kestabilan Self-Esteem (SE) pada anak berusia 11 - 12 tahun ternyata memiliki korelasi yang kuat dengan hsil persepsi mereka terhadap berbagai aspek yang terkait dalam hubungan komunikasi orangtua - anak. Demikian hasil penelitian yang dilakukan Anita Brown, dkk dari University of Georgia. Dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki Self-esteem yang stabil, anak-anak dengan SE yang tidak stabil melaporkan bahwa orangtua mereka ternyata suka mengkritik, mengontrol secara berlebihan, dan kurang menghargai perilaku-perilaku positif yang dilakukan oleh anaknya. Sementara itu, anak-anak dengan Self-Esteem rendah melaporkan bahwa orangtua mereka lebih banyak mengkritik, mengawasi dengan ketat dan kurang menghargai perilaku-perilaku positif yang dilakukan anaknya dalam rentang waktu yang cukup lama dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki Self-Esteem tinggi. Sementara itu, ayah (orangtua) dari anak-anak yang memiliki Self Esteem tinggi dianggap memiliki kemampuan khusus dalam memecahkan masalah atau persoalan hidup.

Mengelola Liburan Anak

Setiap musim liburan tiba, kita sering melihat respon yang berbeda antara anak dengan orang tua. Anak-anak dengan gembira dan semangatnya menyambut liburan mereka, sedangkan orang tua malah pusing dan bingung karena mereka harus memikirkan aktivitas apa saja yang dapat mengisi liburan, sehingga kegiatan anak tetap terarah dan berkualitas. Kepusingan orang tua sering dialami oleh para orang tua yang bekerja, karena mereka tidak bisa sewaktu-waktu mengambil cuti dari kantor. Tuntutan pekerjaan membuat mereka tidak mudah meninggalkan tanggung jawab setengah jalan untuk urusan "liburan". Idealnya, antara orang tua dan anak, ada perencanaan yang baik dalam menentukan waktu "liburan bersama keluarga" sehingga tidak perlu ada yang mengorbankan kepentingan atau tanggung jawab. Namun, sudah tentu waktu libur anak yang relatif panjang sekali jika dibandingkan dengan libur orang kerja, tidak akan pernah "match" dengan orang tuanya. Bagaimana mengelola kegiatan terutama pada waktu orang tua tidak bisa extending waktu libur mereka bersama anak?
Liburan Murah Meriah

Bisa dimengerti, bahwa dalam kesibukan para orang tua, dari pagi hingga malam, bekerja penuh waktu, segenap energi, pikiran dan ide-ide kita sering buntu - tidak lagi bisa memikirkan hal-hal lain selain dari pekerjaan hari ini dan pekerjaan esok hari yang sudah in-advance dipikirkan malam sebelumnya. Dalam keadaan seperti itu, kita para orang tua sering lupa, bahwa kita pun dulu pernah kecil, pernah melewati masa kanak-kanak yang amat sangat jauh berbeda dengan masa kanak-kanak anak-anak kita sekarang ini. Dulu, kita tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang amat sangat jauh lebih sederhana, tanpa kekurangan "media" bermain dan fasilitas permainan. Ada saja ruang dan bahan-bahan yang bisa kita jadikan permainan tanpa harus membayar mahal-mahal dan tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi yang mahal. Halaman belakang rumah, halaman tetangga, kebun nenek kakek atau pun, parit kecil di depan rumah - sering dipakai bermain, terutama di kala hujan.

Tidak bisa dipungkiri, jaman sudah berubah, tuntutan kian mengejar dan usia semakin menua, membuat kita para orang tua lupa bagaimana kita dulu mengelola liburan kita, tanpa harus selalu mengikutsertakan orang tua. Artikel kali ini, bertujuan untuk sekedar mengingatkan dan memberi alternatif - bagaimana cara mengisi liburan anak, tanpa harus bepergian jauh, apalagi dengan mengeluarkan biaya yang besar. Sebab, tidak semua keluarga mampu memiliki biaya atau budget yang memungkinkan untuk "liburan"... Kita bisa membuat liburan tetap menjadi moment istimewa, meskipun dengan biaya ringan atau pun bahkan tanpa biaya. Bagaimana menyiasatinya?

1. Liburan Ilmiah
Liburan ilmiah yang dimaksud di sini, adalah liburan sambil menimba ilmu. Bagaimana caranya supaya tidak bosan dan "menyebalkan"? Kita bisa membawa anak-anak berjalan-jalan ke musium yang ada di dekat tempat tinggal kita, entah musium zoologi yang ada di kota Bogor, Kebun Raya Bogor, musium geologi di Bandung, BOSCHA (tempat teropong bintang) di Lembang atau pun yang ada di seputar Taman Ismail Marzuki. Di Jakarta ada musium ABRI (Satria Mandala), di Yogyakarta ada musium sekaligus monumen perjuangan Yogya Kembali. Dan, masih banyak musium yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan membawa mereka ke musium, mereka belajar banyak tentang sejarah masa lalu, entah sejarah kehidupan manusia, kehidupan tumbuhan dan hewan, serta alam semesta. Biaya masuk ke musium relatif sangat murah ketimbang "shopping" di Mall.

Mengisi liburan ilmiah, tidak hanya dengan pergi ke musium; pergi ke pasar pun bisa menjadi ajang liburan ilmiah. Kalau kita tidak di"ganggu" oleh kekhawatiran kita yang sering kelewat batas kalau membawa anak ke pasar (takut becek, takut kotor, takut lelah, takut sakit, dsb) yang sesungguhnya sering ditunggangi oleh ke-egoisan kita (tidak mau repot bawa anak ke pasar). Di pasar, banyak sekali komoditas yang dijual dan ditampilkan dalam "etalase" terbuka. Ada bawang merah, cabe, sayur mayur, bumbu dapur, alat memasak, dsb. Pasar adalah pusat informasi yang menyimpan "database" amat besar. Ribuan variable yang dapat kita temukan di pasar dan masing-masing "variabel" dapat kita jelaskan pada anak. Misalnya, kita tunjukkan pada anak, yang manakah bawang merah dan manakah bawang putih, bagaimana mereka tumbuh, mengapa kita perlu bawang merah, mengapa kita perlu bawang putih, apa kegunaan dan manfaatnya, dsb. Atau, mana kah yang namanya ikan mujair dengan ikan tongkol, cumi-cumi dan kepiting (dalam wujud yang utuh, bukan lagi dalam bentuk transformasi yang sudah tersaji di meja makan). Kalau informasi itu dikumpulkan, maka tidak cukup 12 ensiklopedi untuk menjelaskan semuanya. Kita bisa menjelaskan segala sesuatu secara panjang lebar di rumah, setelah kita menunjukkan pada anak benda-bendanya. Dan, pasti lebih menyenangkan jika anak melihat secara langsung "tumpukan" komiditas di pasar. Bagi anak-anak yang perkembangan intelektualnya masih membutuhkan benda-benda kongkrit untuk menunjang pengertian mereka, "study tour" adalah moment yang penting.

2. Liburan Kreatif & Innovatif
Kita bisa mengarahkan dan membangkitkan kreativitas anak dengan menstimulasi imajinasi mereka. Pada dasarnya, anak-anak itu sangat kreatif dan heavy-loaded by energy. Kita (atau pengasuh, atau siapapun yang bisa kita percaya) bisa bawa mereka ke tempat art & craft center atau pun science club untuk anak-anak, dengan biaya relatif murah. Di sana, mereka akan disajikan banyak sekali hal-hal yang belum mereka ketahui, percobaan-percobaan ilmiah atau pun teknik-teknik seni yang akan menghasilkan karya yang membuat mereka bangga akan diri sendiri. Memang, ktia tidak selamanya bisa membawa mereka ke tempat-tempat tersebut. Kita pun bisa menciptakan liburan kreatif dan innovatif di rumah. Kalau kita tidak punya ide sama sekali tentang apa dan bagaiamana, kita bisa membeli buku yang menjabarkan tentang berbagai percobaan menarik yang dapat dilakukan sendiri di rumah. Mulai dari percobaan unsur (yang sederhana saja, misalnya minyak dengan air), percobaan warna (memadukan warna) sampai dengan mencoba membuat sesuatu / constructing things - dari benda-benda yang ada di rumah, misalnya: kardus, karton tebal, tripleks bekas, koran bekas, akuarium bekas, stoples beling kosong, dsb yang bisa digunakan menjadi media atau pun alat eksperimentasi atau konstruksi. Nah, di sinilah peran ayah sangat penting untuk menemani dan men-supervisi anak laki-laki. Dan, peran ibu untuk mau "menyulap" benda-benda yang ada di rumah, menjadi bahan baku yang potensial untuk menciptakan sesuatu.

Di masa liburan ini pula, anak-anak bisa kita perkenalkan dengan kegiatan "baru", misalnya: belajar memasak (membuat kue, dsb), belajar menjahit, menyulam, menari (kalau yang ini, mungkin harus kursus/ jadi anggota sanggar), menukang, atau bertanam (tidak mesti harus punya halaman luas, karena bisa dengan menggunakan polybag (kantong khusus untuk menanam bibit) atau pot kecil. Jangan cemaskan hal-hal yang insignifikan, misalnya "bagaimana kalau anakku capek, bagaimana kalau rumah kotor, bagaimana kalau kaki kena tanah, bagaimana kalau bajunya basah, bagaimana kalau halaman jadi becek" dsb... Kalau kita mau jujur, bukankah semua kekhawatiran itu disebabkan karena kita tidak mau repot-repot atau capek-capek membereskan "perabotan" atau pun membersihkan kotoran?

Nah, sebenarnya kita bisa sekalian mengajarkan pada anak kita, bagaimana mengerjakan segala sesuatu dengan rapi. Kita pun bisa sekalian mengajarkan pada anak kita "tanggung jawab", artinya, kalau sudah selesai mengerjakan, kita pun harus membereskannya kembali. Hati-hati, kekuatiran kita para orang tua, bisa menghalangi anak "mengenyam, mempelajari dan menginternalisasi" nilai-nilai luhur budi pekerti, seperti: tanggung jawab, kreativitas, konsekuensi (sebab akibat), kebanggaan yang positif pada diri sendiri (atas dasar kemampuan diri yang riil - bukan numpang kekuatan dan kejayaan orang tua), ketekunan, persistensi, konsentrasi, koordinasi (baik koordinasi tangan, pikiran dan perasaan - dengan koordinasi dengan pihak lain) serta satu hal yang nilainya tidak kalah tinggi, yakni: membentuk tangga identitas diri. Setiap aktivitas, merupakan sebuah ekspresi diri sekaligus konfirmasi akan kemampuan dirinya. Kalau anak merasa "mampu" dan berhasil mengatasi tantangan yang satu, maka dalam dirinya tertanam rasa percaya diri untuk melakukan eksplorasi demi eksplorasi ke bidang-bidang lainnya.

3. Liburan Empatik & Sosial
Ada lagi jenis kegiatan yang relatif murah untuk mengisi liburan anak dengan nilai yang tinggi. Kita bisa membawa anak-anak, pergi ke panti asuhan untuk melihat teman-teman mereka yang hidup di panti asuhan. Dengan begitu, anak-anak akan melihat bahwa di dalam hidup ini, ada banyak hal yang belum mereka ketahui, bahwa ada banyak anak-anak yang menjalani hidup sangat berbeda dari anak-anak kita - dan ternyata, banyak juga yang meskipun hidup susah, tapi tetap bahagia, tahu bersyukur, tidak cerewet, tidak mengeluh dan bahkan punya semangat belajar dan semangat juang yang tinggi.

Selain ke panti asuhan, kita juga bisa ajak anak-anak ke panti jompo. Di sana, kita bisa membuka pengertian anak dan menanamkan nilai moral, bahwa setiap orang akan menjadi tua, dan meskipun tua, mereka tetap membutuhkan perhatian dan kasih sayang, terutama setelah apa yang mereka berikan pada anak-anak selama ini. Kesempatan ini, dapat bermanfaat untuk menanamkan kebijaksanaan pada anak, akan pentingnya "orangtua" untuk anak-anaknya. Sebenarnya, dengan mengajak anak kita ke dua tempat: panti asuhan dan panti jompo, kita sekaligus menyampaikan sebuah fakta: bahwa setiap orang di dalam hidup ini saling membutuhkan dan saling memberikan. Tiadanya perhatian dan cinta, dapat membuat hidup menjadi sulit dan tidak bahagia; tapi, perhatian hanya dalam bentuk hadiah, barang, dan bentuk-bentuk materi lainnya - ternyata tidak dapat membuat orang benar-benar bahagia.

4. Liburan Petualangan
Liburan petualangan, biasanya diasosiasikan dengan biaya yang mahal dan perjalanan yang jauh. Sebenarnya tidak harus demikian, karena di setiap tempat, disetiap kota, pasti punya sisi terpencil yang amat menarik untuk dijadikan ajang petualangan. Coba jika Anda ingat ketika masih kecil dahulu, bukankah mengejar layangan putus sambil menelusuri sungai kecil - sudah menjadi pengalaman yang luar biasa? Mungkin, saat ini sungai kecil itu sudah tidak ada lagi - tidaklah masalah. Kita bisa mengajak anak-anak, pergi berjalan-jalan ke perkebunan teh, ke kebun raya, ke kebun binatang, ke gua, ke sawah, ke pemancingan (di daerah cibinong, ada sebuah pemancingan besar untuk umum, sekaligus tempat camping dan planting), ke gunung, ke mata air panas, ke air terjun atau ke peternakan (di daerah lingkar jakarta selatan, ada semacam istal kuda yang terbuka untuk umum).

Sebenarnya, semua tempat itu accessible dan possible, selama kita para orang tua, willing to go out of the box, get out from the bed and comfort zone, dan doing extra effort to have advanture. Kendalanya, sesungguhnya lebih terletak pada diri kita sebagai orang tua. Kita memang sering terbentur waktu, dan kesempatan - tapi, kalau kita ingin jujur, sesungguhnya yang menghambat seringkali, adalah diri kita yang sepertinya "sudah terlalu lelah untuk melakukan apapun kecuali tidur atau sekedar jalan-jalan ke mall". Padahal, kalau kita mau mencoba keluar dari lingkaran kehidupan dan kegiatan yang membuat energi kita terperangkap di dalam lingkaran itu, maka kita para orang tua yang sudah pada kelelahan, kita bisa men-charge kembali battery energy yang sudah low. Asalkan, selama bepergian, kita tidak membawa serta semua idealisme dan konsep-konsep "berlibur yang ideal, anak yang baik, orang tua yang sempurna, dsb." yang hanya akan membebani mental kita sendiri. Biarkan semua orang bisa mengekspresikan minat, emosi dan ide-idenya - justru karena ada media yang tepat untuk menyalurkannya.

O ya, suasana petualangan, tidak harus artinya kita pergi jauh dari rumah. Jika kita, atau salah satu famili memiliki rumah dengan halaman yang cukup luas, maka kita bisa mendirikan tenda di halaman itu, dan membiarkan anak-anak "camping" di tenda. Tentu moment ini menjadi moment yang mengasikkan, apalagi jika anak-anak kita bergabung dengan para sepupunya.

5. Liburan Super-Aktif
Mengingat anak-anak adalah pribadi yang paling aktif, maka kita pun bisa mengarahkan dan menyalurkan energinya, pada kegiatan yang mengasikan. Jikalau pergi ke pantai untuk berenang dan main pasir atau mengumpulkan kerang - terlalu sulit untuk dilakukan, atau terlalu jauh untuk dijalani, maka kita bisa mengajak anak-anak pergi ke lapangan bola terdekat, untuk "bertanding sepak bola", atau pergi ke kolam renang terdekat, untuk adu renang; atau, membantu ayah men-cat tembok rumah, mencuci mobil, menjadi "asisten" ketika ayah membetulkan mobil atau motor, bersepeda di dalam kompleks, atau, bermain layangan! Coba kita ingat-ingat, betapa menyenangkannya "hanya" dengan main layang-layang atau main sepeda. Problemnya bagi kita para orang tua: maukah kita meluangkan waktu untuk anak kita? Maukah kita mengatasi dan mengalahkan ke-engganan diri (mungkin kita lebih senang nonton TV dan sinetron di rumah ketimbang panas-panasan di bawah terik matahari, atau berkutat pada komputer di ruang kerja karena pikiran tidak bisa lepas dari pekerjaan) ?

Nah, dari semua alternatif di atas, tampaknya tidak terlalu sulit untuk direalisasikan. Namun, apapun kegiatan yang akan dihadapi dan dijalani, kendalanya biasanya ada di kita, para orang tua: maukah kita keluar dari comfort zone - mengusahakan dan melakukan sesuatu "diluar kebiasaan". Selain itu, ada pula tantangan untuk kita para orang tua, yang datangnya justru dari anak-anak kita sendiri. Seringkali, pola hidup dan kebiasaan "keluarga" selama ini, yang di dominasi oleh kegiatan shopping ke mall, nonton TV, main computer game, atau chatting on line, membuat anak-anak enggan untuk pergi ke tempat-tempat di luar shopping mall atau pun untuk melakukan kegiatan yang sifatnya produktif. Mereka cenderung lebih senang nonton TV, main computer game, atau kalau mau liburan - ya benar-benar harus pergi ke suatu tempat yang jauh, misalnya ke Bali atau ke tempat lain yang mewah. Sebab, tidak selalu finansial keluarga, men-support keinginan anak - bahkan keinginan kita sendiri untuk menikmati "liburan" yang menyenangkan. Tanpa harus mengeluarkan dana yang besar, kita selayaknya dapat mencari dan menemukan kebahagiaan dari kegiatan yang sederhana, namun tidak kalah nilainya. Bagaimana pun juga, kebahagiaan itu tidak diukur dari besar kecilnya uang yang kita miliki, bukan ?

Masalah Kejiwaan Ortu & Cara Memperlakukan Anak

Beberapa hasil penelitian tentang masalah-masalah kejiwaan yang dialami orangtua dan berpengaruh terhadap tindakan penyiksaan dan atau penganiayaan terhadap anak dapat di bedakan sebagai berikut:

*
Gangguan Jiwa atau Gangguan Kepribadian
*
Depresi
*
Pecandu Obat Terlarang / Alkoholik
*
Masalah Perkawinan


Gangguan Jiwa atau Gangguan Kepribadian

Seorang peneliti bernama Rose Cooper Thomas yang melakukan penelitian terhadap hubungan antara ibu dan anak, menemukan bahwa ibu yang mengalami gangguan jiwa Schizophrenia (dengan kecenderungan perilaku yang acuh tak acuh), maka cenderung menghasilkan anak yang perilakunya suka memberontak, jahat, menyimpang atau bahkan anti sosial. Namun sebaliknya ada pula yang anaknya jadi suka menarik diri, pasif, tergantung dan terlalu penurut. Peneliti lain juga menemukan, gangguan jiwa sang ibu berakibat pada terganggunya perkembangan identitas sang anak.

Penemuan yang sama juga mengungkapkan bahwa gangguan Obsesif Kompulsif yang dialami orang tua sangat berkaitan erat dengan sikap pengabaian mereka terhadap anaknya. Sebab, gangguan Obsesif Kompulsif ini menjadikan individu nya lebih banyak memikirkan dan melakukan ritual-ritualnya dari pada tanggung jawab mengasuh anaknya.

Munchausen's Syndrome by Proxy

Munchausen Syndrome by Proxy (MSbP) adalah gangguan mental yang biasanya dialami oleh wanita, dalam hal ini seorang ibu terhadap anaknya (biasanya pada bayi atau anak-anak di bawah usia 6 tahun) dan biasanya berakibat sang anak harus mendapatkan perawatan serius di rumah sakit. Dalam penyakit yang digambarkan pertama kali oleh Meadow pada tahun 1977 ini dideteksi adanya unsur kebohongan yang bersifat patologis dalam kehidupan sehari-hari sang ibu sejak dahulu hingga sekarang.

Pada kasus yang parah, sang anak secara terus menerus dihadapkan pada situasi yang mengancam keselamatan jiwanya; dan sang ibu yang melakukannya dari luar justru kelihatan lemah lembut dan tulus. Gangguan jiwa yang berbahaya ini bisa berakibat pada kematian anaknya karena pada banyak kasus ditemukan bahwa sang ibu sampai hati menyekap (atau mencekik) dan meracuni anaknya sebagai bukti pada dokter bahwa anaknya benar-benar sakit.

Memang, pada kasus-kasus ini sering ditemukan adanya sejarah gangguan perilaku antisosial pada sang ibu, yang disebabkan dirinya sendiri mengalami pola asuh yang salah dari orang tuanya dahulu. Pada kasus lain ditemukan bukti bahwa ternyata sang ibu mengalami gangguan somatis seperti contohnya (menurut istilah medis) gangguan neurotik, hypochondria, atau gangguan yang bersifat semu lainnya). Ditemukan pula, bahwa ibu-ibu yang tega melakukan hal ini terhadap anaknya ternyata mengalami gangguan kepribadian yang cukup parah.
Depresi

Penelitian lain dilakukan oleh Chaffin, Kelleher dan Hollenberg (1996) terhadap anak-anak yang orang tuanya mengalami depresi atau pun psikopatologi. Menurut mereka, orang tua yang depresif ditemukan sering melakukan penyiksaan secara fisik terhadap anak-anak mereka. Anak-anak mereka juga dilaporkan mengalami masalah seperti depresi, masalah interpersonal, perilaku yang aneh-aneh dan mengalami masalah di sekolah atau dalam belajar.
Pecandu Obat Terlarang / Alkoholik

Keluarga yang alkoholis cenderung lebih tidak stabil dan tidak dapat diramalkan perilakunya. Segala aturan main dapat saja berubah setiap waktu, dan seringkali mudah mengingkari janji-janji yang pernah dibuat. Demikian pula dengan pola asuh orang tua terhadap anak. Pola asuh yang diterapkan seringkali berubah-ubah secara tidak konsisten; dan tidak ada ruang bagi anggota keluarganya untuk mengekspresikan perasaannya secara apa adanya karena banyaknya batasan dan larangan untuk membahas “keburukan� keluarga.

Oleh karena itu para anggota yang lain dituntut untuk mampu menjaga rahasia supaya tidak ada keterlibatan pihak-pihak luar dan supaya tidak ada yang mengetahui problem keluarga mereka. Situasi ini tentu saja membuat perasaan tertekan, frustrasi, marah, tidak nyaman dan kegelisahan di hati anak-anaknya. Sering anak berpikir bahwa mereka telah melakukan sesuatu kekeliruan yang menyebabkan orang tua punya kebiasaan buruk. Akibatnya, rasa tidak percaya, kesulitan mengekspresikan emosi secara tepat, serta kesulitan menjalin hubungan sosial yang erat dan sejati, menjadi masalah yang terbawa hingga dewasa. Menurut penelitian beberapa ahli, anak-anak dari keluarga ini lebih beresiko mengembangkan kebiasaan alkoholismenya di masa dewasa dari pada anak-anak yang bukan berasal dari keluarga alkoholis.

Menurut penelitian Chaffin, Kelleher dan Hollenberg (1996), pecandu obat terlarang dilaporkan menjadi faktor yang paling umum dianggap menjadi penyebab penyiksaan dan pengabaian terhadap anak-anak serta melakukan pengasuhan dengan cara yang tidak benar atau keliru.
Masalah Perkawinan

Salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah merasakan hubungan yang hangat dan penuh dengan kasih sayang yang diperoleh dari orang-orang yang dicintai. Namun tidak selamanya setiap orang dapat merasakan hal ini, terutama jika mereka berada dalam keluarga yang mengalami masalah pelik yang tidak hanya mempengaruhi keharmonisan keluarga, namun pengaruhnya sampai pada kehidupan emosional para anggotanya.

Akibatnya, setiap anggota keluarga merasakan bertambahnya beban mental atau tekanan emosional yang terus menerus bertambah dari hari ke hari. Beban mental ini akan semakin berat kalau suasana dalam keluarga serasa mencekam, seperti di kuburan, tidak ada satu orang pun yang berani mengemukakan emosi dan pikirannya, dan tidak ada keleluasaan untuk bertindak. Tidak ada suasana keterbukaan ini hanya akan meningkatkan ketegangan dari setiap anggota keluarga.

Pada umumnya, anak-anaklah yang menjadi korban pelampiasan ketegangan, kecemasan, kekesalan, kemarahan dan segala emosi negatif yang tidak bisa dikeluarkan. Sebabnya, anak-anak lebih berada posisi yang lemah, tergantung pada orang tua dan tidak berdaya sehingga mudah sekali menjadi sasaran agresivitas orang tua tanpa memberikan perlawanan. Akibatnya, pada beberapa kasus terjadi tindakan kekerasan fisik orang tua terhadap anak hanya karena orang tua tidak dapat mengendalikan dorongan emosinya.

Para ahli yang menganut faham teori sistem berpandangan, bahwa yang sebenarnya, jika orang melihat seorang anak yang kelihatannya bermasalah, entah itu masalah penyesuaian diri, masalah belajar atau masalah lainnya, sebenarnya yang harus dicari tahu sumber penyebabnya bukanlah pada diri si anak, tapi lebih pada orang tua dan interaksi yang terjadi di dalam keluarga itu. Karena, anak bermasalah sebenarnya merupakan pertanda adanya ketidakberesan dalam hubungan keluarga itu sendiri. Jadi, masalah yang ditampilkan oleh anak merepresentasikan disfungsi yang terjadi di dalam kehidupan keluarganya.

Membantu Anak Mengelola Stres

Persamaan & Perbedaan
Didasarkan pada standar akal sehat, bahwa stres yang sama, menginginkannya untuk orang dewasa atau anak-anak. Sudah pasti tidak jelek, seperti sulit tidur, lebih agresif, lebih sensitif, munculnya ketegangan, pusing, atau turun semangat hidup. Hal yang sama kita akan mendapatkan bagaimana stres itu diaktifkan. Menurut hukum kehidupan, stres adalah fungsi netral, tergantung pada bagaimana stres itu akan berfungsi, seperti yang ke positif atau negatif, terserah kepadanya. Perbedaannya adalah, orang dewasa mungkin telah mengantongi semua mekanisme bagaimana stres ini diaktifkan, pengetahuan, pengalaman, atau keahlian. Sementara itu, anak-anak mungkin hanya mekanisme kontrol yang masih sangat terbatas. Terkait dengan mekanisme yang berfungsi maka istilah positif stres dan negatif stres, seperti yang sering dibahas di sini.

Positif stres adalah tekanan yang membuat kita lebih positif, akhirnya. Sebagai contoh lebih didorong untuk mengejar target, ketuntasan, lebih kreatif, lebih disiplin, atau lebih dewasa, dan seterusnya. Sebaliknya, stres negatif adalah tekanan yang membuat kita lebih tertekan, semakin buruk, baik secara fisik, intelektual, emosional, atau spiritual, lebih kacau, dan lebih ke belakang.

Ada hal lain yang agak berbeda antara anak-anak dan orang dewasa dalam memahami stresssor. Beberapa peristiwa khusus untuk orang dewasa mungkin cukup stresssor, tapi untuk anak-anak biasa-biasa saja. Sebaliknya, juga, mungkin ada acara untuk orang dewasa tidak stresssor, tapi untuk anak-anak tidak begitu.

Perbedaan muncul karena adanya perbedaan kepentingan, berbagai pengetahuan, pemahaman, dan ilusi kehidupan. Banyak relawan yang tidak menemukan tanda-tanda stres sangat serius pada anak-anak yang menjadi korban dari daerah bencana. Tepatnya orang-orang yang melihat stressnya dewasa.

Jadi adalah kasus perceraian orangtua. Sering kali seperti "kasihan" bahwa orang dewasa di sekitar mereka atau melihat mereka di televisi. Mungkin anak-anak ini bukan kepada ilusi serumit kehidupan dewasa. Hanya, meskipun aura stres tidak begitu terlihat, tetapi perkembangan jiwanya lebih sedikit mengalami hambatan. Hal ini karena perkembangan anak akan lebih atau kurang terkait dengan pengembangan orangtua. Logika sederhana, jika orangtua sulit, anak terlalu keras. Orangtua yang menekankan sulit diharapkan untuk memiliki hubungan yang baik dengan anak-anak, tetapi hubungan itu peran yang sangat penting.

Stresssor Untuk Anak
Dalam beberapa hal yang sangat spesifik, anak-anak memiliki stresssor sumber yang berbeda dengan orang dewasa. Sebagaimana telah kita lihat di atas, ini mungkin lebih berkaitan dengan sifat, kebutuhan, atau jangkauan. Stresssor sumber tertentu bagi anak termasuk pelajaran sekolah. Pelajaran sekolah berpotensi menjadi stresssor ketika pelajaran diberikan dalam jumlah yang signifikan, dalam waktu yang sangat singkat, atau dengan cara yang mengandung ancaman dengan memahami anak.

Meskipun ia benar-benar mampu melakukannya atau memiliki kapasitas untuk memecahkan mereka, tetapi tentang jumlah, waktu, dan bagaimana bisa menimbulkan masalah. Banyak anak-anak yang penurunan nilai ketika ia benar-benar bisa. Hal ini mungkin serupa dengan stres kerja pada orang dewasa, di mana ada beban / tekanan ketidakseimbangan dengan kapasitas dan sumber daya.

Sistem pengajaran di sekolah-sekolah hari ini berbeda dari hari kita, tes hanya dua kali setahun. Mereka dapat hingga 4 kali lebih. Jika guru untuk jadwal tes hari berikutnya, dan guru B memberikan banyak PR, dapat menyebabkan stres pada anak-anak.

Hal lain yang juga sering menjadi sumber asosiasi stresssor. Dalam setiap sekolah yang baik, masih ada ruang sosial di luar kendali guru. Perbedaannya hanya dalam jumlah ruang. Semakin baik sekolah, kontrol yang lebih baik juga, kira-kira.

Namanya juga anak-anak, mungkin sebagian dari mereka adalah aktor yang telah kongenital bullying (penindas), mungkin juga harus mengambil karakteristik korban bullying (kelemahan, kekalahan, dll). Asosiasi yang berisi ancaman, ketakutan, tidak seimbang, dan lain-lain, sangat mungkin menimbulkan stres.

Hal lain adalah pengasuhan atau keadaan keluarga. Model perawatan yang telah didekte oleh ambisi yang berlebihan, kemarahan yang berlebihan, atau kecemburuan anak-anak lain, sehingga dapat stresssor.

Sikap acuh tak acuh orang tua untuk menciptakan hubungan yang dirasakan oleh anak-anak serta ketidakpedulian stresssor potensial. Hubungan antara suami dan istri konflik tidak sehat, semakin kronis, juga berpotensi menjadi sumber stresssor ketika tersebar di malang hubungan orangtua-anak.

Bagi anak-anak yang "tidak jelas nasib Anda", tidak menutup kemungkinan akan menjadi depresi atau stres adalah mount dan tahan lama. Sebagai contoh, orang tua sudah terus berjuang tidak sehat, tegas-tegas guru juga. Begitu, ia adalah masalah dengan tema dan pekerjaan rumah menumpuk. Ini sangat perlu kita antisipasi.

Di sisi lain, kita juga masih perlu untuk berpikir bahwa tidak semua stres itu buruk bagi anak-anak kita. Mungkin itu adalah kehidupan yang ia harus lulus atau "pendidikan Allah". Mengarahkan bagaimana kita hidup pada Tuhan berurusan dengan pendidikan dengan cara yang positif untuk mendapatkan manfaat positif.

Terlalu cepat untuk mengambil tanggung jawab anak dalam menghadapi stres (pelindung), tidak berarti bahwa akan menjamin hasil yang baik. Bahkan mungkin seorang anak miskin pengalaman hidup yang pada dasarnya buruk bagi anak-anak.

Beberapa Gejala Stres di Anak
Pemaparan dari sejumlah ahli, ada beberapa gejala umum yang dapat kita gunakan sebagai pengingat / perhatian jika kita berurusan dengan seorang anak stresssor atau tidak. Atau, paling tidak, kita perlu mengintensifkan dialog untuk memverifikasi atau mengkonfirmasi perasaannya.

Bagi anak-anak yang sekolah dasar, beberapa gejala termasuk:

1. Enggan untuk pergi ke sekolah
2. Berbohong tanpa alasan yang dapat diterima akal sehat
3. Mencuri adalah indikasi adanya rebound kengawuran (kehilangan kendali)
4. Tidak ada semangat belajar atau kurang konsentrasi belajar
5. Hilangnya nyawa, jadi rewel, ngambekan, atau tidak damai dengan situasi
6. Sikap cenderung menentang
7. Hiperaktif
8. Mengompol
9. Soal makan
10. Mudah mengeluh rasa sakit, seperti pusing, sakit perut, atau sakit lain


Bagi anak-anak yang mulai remaja, mungkin akhir kelas 6 atau awal di SMP (7th grade), gejala apa yang kita butuhkan untuk mengamati, antara lain: yang sakit atau mengalami banyak keluhan fisik, ada masalah perilaku, seperti terkemuka nakal, rasa malu berlebihan, rasa takut atau cemas, lekas marah atau cepat hilangnya kontrol diri, atau malas untuk belajar.

Jika dia telah aktivitas di luar rumah di luar kendali orang tua, atau terlalu bebas, mungkin akan berpotensi sangat berbahaya bagi mereka. Banyak bahaya yang ditelan oleh remaja sejak awal pengaruh sosial.

Beberapa Bagaimana Mereka Bantuan
Di luar apa yang perlu kita lakukan untuk membantu anak-anak, kita perlu bertanya pertama adalah apa yang mereka pikir untuk mengatasi masalah. Tujuan pertanyaan ini tidak untuk menemukan jawaban terbaik yang kita pikirkan, tetapi untuk melatih mereka menuju kemerdekaan, minimal di berpikir.

Sehingga suasana dan proses eksplorasi dan kreatif, kita harus menghindari ini adalah untuk menilai jawaban atau memperlihatkan penghinaan, seolah-olah jawabannya tidak berbobot, atau langsung dipotong. Tepat apa yang kita butuhkan untuk menunjukkan adalah pendengar yang baik dan mendorong mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong mereka untuk berpikir bagaimana mencari solusi untuk masalah.

Khusus untuk masalah-masalah sosial, seperti itu dengan teman-teman atau guru, kita perlu menghindari adalah habis-habisan pertahanan atau menyalahkan semua keluar. Advokasi tanpa alasan yang dapat melemahkan mental.

Sebaliknya, menyalahkan anak-anak yang terkena masalah dapat membawa perasaan tidak ada yang membantu mereka. Kita perlu lakukan adalah fokus pada masalah-masalah dan bagaimana masalah itu diselesaikan dengan cara yang membuat dia lebih pintar atau lebih matang. Untuk hal-hal yang perlu kita lakukan sebagai bantuan, kita dapat merumuskan strategi atau langkah-langkah yang didasarkan pada kebutuhan mereka. Hanya sebagai referensi / option, kita dapat merujuk pada poin di bawah ini:

1. Mengantisipasi: membantu mereka dengan pekerjaan rumah atau mengajarkan cara untuk belajar lebih mudah, membangun hubungan yang lebih kooperatif dengan guru kelas, sering dalam dialog dalam rangka untuk cepat mendeteksi masalah, menunjukkan perhatian dan dukungan tulus. Ini bisa mengantisipasi stresssor.
2. Diarahkan, misalnya, menjelaskan makna atau arah sikap positif. Ini cocok digunakan untuk menggambarkan stresssor yang harus diterima, seperti kematian, bencana, atau keberangkatan teman.
3. Meningkatkan mekanisme mental atau strategi. Hal ini cocok untuk melatih seorang anak yang merupakan masalah sosial yang kita masih punya waktu untuk mendiskusikan dengan sekolah
4. Memotivasi atau mendorong dia untuk mengikuti dengan program nyata. Misalnya nilai jatuh atau dihukum karena kelalaian sekolah. Yang perlu kita lakukan adalah mengundang dia untuk meningkatkan kuantitas atau kualitas pembelajaran. Tanpa program yang nyata, bisa-bisa kita menipu mereka.
5. Dilaporkan kepada sekolah / guru. Jika kelas telah terjadi praktek-praktek yang mengabaikan bullying atau di luar kontrol guru. Jika ada anak-anak lain yang juga menjadi korban, kita perlu untuk mendorong orang tua untuk mendiskusikan solusi dengan sekolah. Tapi, karena anak-anak, sehingga fokus kita adalah masalah dan solusi, bukan kepada putranya.


Ada sebuah konsep yang singkat kita dapat menerjemahkan sevariatif mungkin untuk membantu mereka dalam mengatasi stres. Fakta ini juga cocok untuk orang dewasa seperti kita. Konsep pendek adalah:

1. Memungkinkan, untuk hal-hal yang sudah tidak dapat diubah.
2. Lakukan sesuatu, untuk hal-hal yang harus diubah atau masih bisa diubah
3. Mengantisipasi suatu peristiwa atau hasil yang dapat stresssor.


Saja, semua proses diperlukan. Kita tidak bisa mengatakan anak-anak untuk melupakan atau meninggalkan sesuatu yang dia pikir itu memukulnya. Kebutuhan untuk membiarkan proses. Dalam banyak hal, peran waktu menjadi penting.

Beda Generasi Beda penekan
Tampaknya cocok jika kita selalu berpikir anak-anak kita telah pergi dari stres karena hidupnya jauh lebih baik daripada kita dulu. Dalam beberapa kasus, mereka lebih baik daripada kami, tetapi untuk hal-hal tertentu, dia tidak lebih baik daripada kami.

Sebelumnya, masalah kita mungkin kekurangan fasilitas, seperti sekolah harus berjalan mil. Tapi sekarang masalah ini adalah kemacetan lalu lintas dan tuntutan kompetensi dan kompetisi. Banyak anak yang harus bekerja keras untuk sekolah. Pada intinya, setiap generasi ada masalah itu sendiri dan ada kemungkinan mereka sendiri. Allah memanggil dirinya sebagai Pendidik Seperti halnya dengan alam semesta. Sebagai pendidik, akan untuk membedakan masalah dan peluang. Semoga bermanfaat.