Tampilkan postingan dengan label Psycholoonycal Journey II. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psycholoonycal Journey II. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Maret 2011

Empat Puluh Tiga

"St. Anger"

Kuchiwaaa saya.. kuchiwaaaaaa!!
(kuchiwa is another version of kecewa which means dissapoint)

Setelah hanya merengguk empat jam tidur indah dirumah ditemani angin semilir cihuy nan beku ala musim hujan khas Jakarta. Alarm berlagu tema Like A G6 (kurang absurd apalagi coba, alarm kok lagu dugem begetoh?) benar-benar membuat mata saya terbelalak dan melirik dengan lirikan ekstra kesal ke layar ponsel.

04:35 AM

TIDUR TIGA PULUH MENIT LAGI BISA KALI!!
SAYA BELUM BERNYAWAAAA!!

Masih beler klewer-klewer (hoi.. malam ini saya tidur pakai celana dalam lho.. biasanya kan nggak. Maklum, kasihan si nit-nit kalo kaga diselimutin bisa mati kedinginan :D), tiga puluh menit kemudian saya bangun dengan ngos-ngosan karena bengek menghirup udara segar dan dingin di Jakarta.

Hari Rabu.. masuk pagi jam tujuh. Memang hari ini mata kuliahnya menyenangkan yaitu Psikologi Sosial dan Psikologi Pendidikan. Psikologi Sosial bisa jadi mood booster karena dosennya suka ngasih topik nyeleneh-nyeleneh seperti : Boys, how important is a virginity to you? Sayapun menjawab : PENTING MBAK! Karena.. kalau gak rapet pas eksperimen pertama gak mantep..! Errr.. itu antara polos, frontal dan rada tolol sih tepatnya.

Huahahaha..! Itulah Tyo, calon psikolog militer yang kaga kenal sensor kalau ngemeng sesuatu.

Setelah satu porsi bubur didekat Trans TV kemudian (enak lho buburnya.. cobain deh! Tapi cuma ada pagi-pagi ye.). Saya masuk ke kelas. Sampai sekitar lima belas menit kemudian muncul pengumuman : DOSENNYA TIDAK MASUK!! 

OH!?? -Pasang muka shock-

Ya aaaampyuuuuuuunn... so tired deh -___-"
Mantep bener hari ini bawa buku.. total-total lebih dari lima kilogram nih. Sang Dosen tidak masup karena anaknya sakit. #cepatsembuhya!

Ah ya sudahlah.. mending saya siapin diri untuk presentasi Teori Life Span Development dari Pakde Erikson yang berlangsung pada mata kuliah Psikologi Pendidikan kemudian tidak lupa menyiapkan review Psikologi Umum II bab Motivasi untuk nanti siang setelah Psi. Pendidikan.

Masuk mata kuliah Psikologi Umum II. TERNYATA NDAK JADI REVIEW! 

sedihee.. -____-"

Dengan penuh rasa sedih yang mendalam karena udah mati-matian nyari aplikasi konsep teori motivasi. Kertasnya pun saya robek. Beh.. bisa dibayangkan kecewanya saya hari itu.

Karena sudah diliputi kekecewaan, seusai kuliah, saya langsung pulang. Pokoke.. galaaauu.. 
Kekecewaan saya ini terakumulasi dan berpotensi menimbulkan motivasi agresi* karena internet tiba-tiba mokal. Astapiruloh! Perasaan belon sebulan ane pake masak udah mokal. Payah niiiiih..!! Ya sudah, kebetulan saya sedang bergalau ria memikirkan wejangan dosen Psikologi Umum II dan memikirkan bagaimana menerapkan teknik scaffolding**  dan apperenticeship***  dari mata kuliah psikologi pendidikan untuk merubah habit beberapa teman di kelas.

Kadang gua baru sadar,
beberapa perilaku gua masih bekas-bekas SMA.
Belum siap kuliah, tapi,
namanya time is running out.
Human's life span development speeds needs no translation.

*motivasi agresi adalah salah satu teori motivasi psikologi. Secara instingtif, manusia sama seperti hewan yaitu memiliki motivasi agresi, yang membedakanya adalh tujuan dari agresi tersebut. Manusia bisa menyerang, melukai, bahkan saling membunuh dan menghancurkan. Bentuk agresi bisa saja fisik, psikologis, material. 

**scaffolding adalah orang dewasa yang kompeten memberikan bimbingan arah terstruktur secara bertahap. Aplikasi scaffolding bisa dibilang sejenis pembagian tahap-tahap kesulitan yang dihadapi  seseorang dalam proses belajar. 

***apperenticeship adalah belajar bekerja secara intensif dengan ahlinya untuk menyelesaikan tugas yang tidak bisa diselesaikan secara mandiri. 

Contoh scaffolding dan apperenticeships adalah coaching, refleksi dan eksplorasi. 



Selasa, 01 Maret 2011

Empat Puluh Dua

"Dua Puluh"

Ketauan deh gua tanggal lima besok tambah umur (instead dibilang tambah tua)
Anak-anak pada heboh banget dikelas, setiap ada unsur tua, umur, tobat, mesum langsung pada nengok ke gua.

Bagi gua pribadi, ya.. gak masalah sih besok umur udah kepala dua. Walaupun kerasa udah bangkot bener jadi anak-anak. Tapi ada perasaan yang begitu abstrak untuk dijelaskan. Sekalipun dijelaskan hanya bisa dijelaskan dengan enam bentuk emosi primer manusia dalam psikologi :

takut
bahagia
sedih
marah
jijik
terkejut

jijik dan marah gua hapus dari daftar. Sisanya adalah perasaan yang paling relevan dengan perasaan saat ini menjelang hari-hari berakhirnya kata belas dan membuka lembaran puluh. Hal ini saya sharing juga ke sepupu.

"Sini umurnya jigo.. situ umurnya berapa?"
"Kurangin lima aja mbak.."
"Huahahaha.. ternyata saya udah tua yaa!"

Apakah itu tua? Silakan dibuat definisi operasionalnya sendiri. 
Menurut teori Life Span Development milik Erik Erikson yang esok hari hendak saya presentasikan. Sebenarnya sejak umur 18 saya sudah terklasifikasi sebagai manusia dewasa awal. Di mana pada tahap ini umumnya manusia mulai membentuk figur positif diri mereka berkaitan dengan lingkungan. Namun terdapat sisi bahaya di tahap ini, apabila gagal dalam menjalin hubungan dengan lingkungan.. individu tersebut akan terisolasi secara sosial.

Oh My God!
I'm closer to 20 years old.

My #marchwish is God I choose my future job as military psychology officer.

Empat Puluh Satu

"Kepada Teman-Teman Psikologi 2010 yang Bertindak Sebagai Koordinator Kelas"

Bagi kamu yang merasa mahasiswa/i Psikologi Paramadina angkatan 2010
Bagi kamu yang rela berkorban,
Melayani teman-teman yang cenderung praktis dan tidak mau repot..
Bagi kamu yang mulai merasa lelah untuk melayani dan lekas putus asa melihat setumpuk rintangan menyapa.

Saya salut..!

Karena jumlah angkatan 2010 yang peduli kepada teman-teman sambil berjuang menjadi sarjana psikologi dan psikolog masa depan sudah mulai bertambah.
Berbaku hantam dengan berbagai rintangan setiap harinya hingga udara sulit keluar-masuk tubuh.

Let's have a nice teamwork.
Memang tanggung jawab saya dan kalian dilipatgandakan.
Apabila perilaku kita tepat dan berkenan dipuji.
Apabila perilaku kita tidak tepat.. pastikan anda tidak langsung rapuh.

Tidak perlu ragu untuk meminta tolong meng-assist urusan kelas.
Selama saya sanggup, saya bantu kalian.

Sedikit catatan, korkel adalah pemimpin.
Pemimpin bukan penguasa.
Pemimpin biasa berjibaku.

Untuk para koordinator kelas di Semester II
Dwi Retno Sari | Kor.kel Psikologi Pendidikan
Husein Salim Alaydrus | Kor.kel Psikologi Sosial
Kharima Shaddiq Assegaf | Kor.kel Psikologi Umum II
Fara Prastika | Kor.kel Statistik I

dan para kor.kel di Psikologi 2010 B

Being class coordinator is not your last fight. 

Bramantyo Adi | Kor.kel Psikologi Belajar
..dia yang biasa kalian andalkan untuk mengkoordinir kalian.

Empat Puluh

"Orgasm as One of Primary Emotion's Form"

Jadi mahasiswa psikologi  dan apabila sungguh-sungguh bersumpah menjadi psikolog sehidup-semati harus akrab dengan namanya seks. (Langsung pasang tampang mesum) Hal ini gua ketahui ketika mempelajari Psikologi Umum I. Saat teman mahasiswi masih merespon eeeewww pada hal-hal berkaitan dengan namanya seks. Dosen mengingatkan : apabila kalian memang konsisten mempelajari ilmu psikologi, maka kalian salah satunya juga harus akrab dengan dunia seks. Hieeeeeeyyy!! Tidak salah masuk jurusan.. Tidak salah masuk jurusan..! (joget-joget pake lagunya Lady GaGa-Born This Way) Setidaknya bakat mesum gua terakomodasi oleh ilmu perilaku manusia, toh perilaku mesum.. adalah perilaku manusia.. kerjaan gw besok salah satunya menerima curhatan dan memberi konseling terhadap perilaku mesum, seks dan kadang-kadang mengamati perilaku mesum manusia (baca : nonton bokep :D).

Kisah berbau BB18+ ini diawali dengan keribetan saya harus menyiapkan bahan review mata kuliah Psikologi Umum II yang berlangsung tadi siang (1/3). Apa sih review? Review adalah pembahasan ulang apa yang sudah dipahami mahasiswa psikologi terkait materi yang dipaparkan dosen pada perkuliahan sebelumnya. Review kali ini adalah materi tentang emosi. 

Sintingnya, gua baru bikin materi review pagi ini. Karena tadi malam wrapped up paper dari mata kuliah yang sama mengenai studi kasus sebuah insiden berdimensi psikologi. Cuma mencatat poin dari slide PU II.. terus cabut ke kampus dan menunggu 'waktu eksekusi' tiba.

Masuk kuliah PU II. Beginilah mekanisme review dalam PU II.

1. Dosen meminta mahasiswa maju ke depan kelas dan membuat lingkaran kecil. Dosen ada ditengah lingkaran tsb.
2. Dosen menunjuk satu mahasiswa sebagai awal, mahasiswa bertugas untuk,
3. Memberi pemaparan ulang mengenai materi yang dipelajari pada perkuliahan lalu. Apabila konsep dari mahasiswa diterima, mahasiswa yang bersangkutan disuruh nunjuk mahasiswa lain untuk melanjutkan proses review. Kalau konsepnya agak sulit dipahami dosen, maka dosen akan memberi pertanyaan atau meminta mahasiswa lain untuk memaparkan ulang.
4. Give the lecture something new.. berbasis teori yang udah dimiliki oleh mahasiswa.

Giliran gua suruh ngasih review. Inilah hasilnya :

Dosen : Ya Tyo.. mau ngasih review apa lu?
Tyo : Oke pak, tentang bentuk emosi.. emosi primer. Salah satu contohnya adalah kebahagiaan yang didapat setelah pasutri berhubungan seksual yaitu orgasme. Orgasme mengandung emosi primer yaitu rasa bahagia. Tidak mungkin mengandung emosi primer yang negatif, kecuali bagi orang yang diperkosa.
Dosen : -cengo- Hoh!? Baru tahu saya..!
Tyo : He he he.. silakan dipraktikkan sendiri pak. Begitu kan faktanya. (langsung ngacir duduk setelah sebelumnya nunjuk temen lain).

Anak-anak pada nanya saat si Tyo kembali duduk di singgasananya : lu ngasih review apa yo ke dosen? 
Gua hanya menjawab : bahwa orgasme mengandung unsur emosi primer yaitu kebahagiaan, kepuasan setelah berhubungan seksual. 
Hasilnya pada bilang : lu kapan tobat sih yo?? 

He he he he... kapan-kapan kalau apa yang disebut neraka jaraknya 30cm dari mata ogut! 

Setidaknya saya menawarkan aplikasi konsep teori emosi.. dengan bumbu mesum :D.

Minggu, 27 Februari 2011

Tiga Puluh Sembilan

"Nothing Last Forever"

Sering nggak sih kalian kepikiran tentang frasa ini? Biasanya digunakan untuk sekedar menghujat orang sombong kebetulan posisinya lagi bagus atau memotivasi orang dalam status sedih.

Tidak sengaja gua berpikir. Kalau begitu, nothing last forever bisa dong diasosiasikan dengan sukses.
Katakan kepada diri kalian nothing last forever. 

Tidak selamanya saya memiliki tinggi badan segini, pasti akan tambah tinggi.
Tidak selamanya IP saya hanya 3,36, pasti esok bisa menyentuh 3,91.
Tidak selamanya perut ini maju, pasti rata dan ada cap kotak-kotaknya.
Tidak selamanya mata ini cacat, pasti bisa melihat terang. 

Iseng ya.. jangan lupa tambahkan #amin pada akhir bagian.

He he he

Jumat, 25 Februari 2011

Tiga Puluh Delapan

AAARRGHHHH!! Penat rasanya.. itulah yang kukatakan pada diriku siang tadi saat akhirnya merelakan tugas paper Psikologi Umum II yaitu Studi Kasus berbasis Teori Emosi. Sudah penat menghinggapi diri, ditambah gusar karena buku yang kubutuhkan untuk membuat paper presentasi Psikologi Belajar tentang Purposive Behaviorism dari Edward Chace Tolman sedang dipakai fotokopi sejak hari Kamis, kebetulan bukunya Bahasa Inggris dan alhamdulillah menyenangkan dibaca. Sementara buku Psikologi Belajar aku pinjamkan ke teman sekelas yang hari Senin esok harus presentasi tentang hukum One Shot Learning-Edwin Guthrie. Tampaknya mereka agak kelimpungan menggunakan buku itu karena salah satu anggota kelompoknya bertanya ke saya siapa penemu teori.. yang ternyata bukan teori melainkan hukum. Hukum.. errr.. seperti pelajaran Fisika SMP-SMA saja sih?

Kemudian siang hari aku melangkahkan badanku yang kaku seperti robocop ke Jl. Waru untuk mengambil fotokopian buku Theories of Learning Guy LeFrancois dan melanjutkannya ke TIKI untuk mengambil pesanan buku Statistik untuk Psikologi-Pendidikan dan Theories of Learning yang kupesan Kamis lalu. Mengejutkan ya, kalau kita memesannya dan membayar sebelum pukul 14.30, barang akan tiba satu
hari kemudian.

Seusai ambil buku, rasa lapar yang timbul karena dari pagi sudah sibuk mengerjakan paper Psikologi Umum II berhasil aku distraksi sebelum akhirnya rileksasi urat otak yang diselimuti hujan.

Grusak-grusuk
Tidur tahap 1
Tidur tahap 2
Tidur tahap 3
Tidur tahap 4
Rapid Eye Movement Sleep Stage

Langsung naik ke tahap 2
Sebelum akhirnya ke tahap 1 dan kemudian tersadar..oleh keheningan rumah.
Rumahku begitu hening! Begitu senyap, begitu tenang, tidak ada keriuhan apapun.
Tiba-tiba adrenalinku meningkat saat bangun tidur. Langsung kunyalakan laptop, terhubung ke internet ditemani buku Theories Of Learning Guy LeFrancois dan lagu Born This Way-Lady GaGa.

Tiga Puluh Tujuh

Aku layaknya seorang yang skor kecerdasan mengolah kata-katanya sangat rendah belakangan ini. Sulit sekali menuliskan apa yang sudah ada di dalam otak. Aneh, padahal enam setengah bulan lalu aku terbiasa membuat tulisan-tulisan ilmiah. Bebas dari huruf nAiK tUuRrOeeN atau penuh dengan @nGk4-aN9k4 tidak jelas dan hanya membuat pusing mata.

Saat mataku terbelalak pagi ini satu hal yang ingin aku selesaikan sebelum siang menjelang : Tugas Paper Psikologi Umum II : Bentuk Emosi dalam insiden kerusuhan yang terjadi di Indonesia.

Sial.. satu jam berlalu aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengeluh.
Tidak bisa kutemukan perspektif dan kata-kata yang tepat serta mudah dicerna oleh awam selain para psikolog, ilmuwan psikologi dan mahasiswa psikologi.

Aku layaknya seorang lumpuh yang perlahan mencoba kembali berjalan. Begitu kaku dan nyeri.

Tiga Puluh Enam

Mengawali hari Jumat di minggu-minggu terakhir sebelum saya memasuki umur kepala..naga..

Mendung dan semilir angin mengajak saya beraktifitas sebagai mahasiswa psikologi. Dengan memanggul tas berisi laptop dan kawan-kawan ditambah dengan titipan fotokopi buku referensi kuliah psikologi. Hmmmpfff... malas juga kalau naik turun bis. Lebih baik saya menggunakan jasa ojek. Biarlah uang jajan tertebas sekian belas ribu.

Sampai di kampus, masuk ke mata kuliah yang menyebalkan bagi saya : Falsafah/Filsafat Manusia. Di mana dua minggu kemarin saya mblenger dengerin pemaparan dosennya. Pusing rasanya kepala harus konstruksi logika. Mana tadi malam dan bahkan tadi pagi hanya membaca GBPP dan tidak sama sekali membaca satupun buku referensi perkuliahan. Hanya bermodal catatan sisa perkuliahan minggu lalu saya sedikit berdiskusi dengan dosen sebelum di akhir perkuliahan ditutup dengan kuis. 

Ada satu fenomena menarik saat berlangsung kelas Filsafat Manusia (makanan wajib mahasiswa Psikologi : teori, filsafat, statistik). Sesadarnya saya menjelang akhir perkuliahan, sepertinya perlahan tapi pasti kami sudah dicuci otak sebagai calon psikolog. Hal ini tampak dengan per-mahasiswa setiap mengajukan pertanyaan pasti selalu berbau positivis alias harus ada bukti nyata dan bisa diobservasi. Karena saat mempelajari psikologi, harus ada definisi operasional, bukti nyata dan bisa diobservasi.  Tidak bisa diobservasi, silakan pilih hal lain tentang perilaku dan proses mental yang bisa diobservasi.


Merujuk jadwal KRS, hari Jumat hanya satu mata kuliah. Setelahnya biasanya langsung pulang. Mengingat akhir pekan adalah waktu tepat untuk bersenang-senang dan berpelukan dengan apa yang sudah dipelajari selama minggu ini. Duh, namanya belajar psikologi. Semua teori wajib dikuasai. Sampai hari ini sekian puluh teori dasar psikologi di semester satu belum sempat saya kuasai kembali. Ada lebih dari sepuluh teori mungkin. Oh ya, kembali ke jadwal kuliah, semestinya saya bisa langsung pulang. Tapi karena sudah mengatur jadwal untuk kelas pengganti Psikologi Belajar. Jadilah jam 12:45 saya masuk kelas psikologi belajar lengkap dengan iming-iming kuis. Oh la la!!

Sial.. ternyata kuis diundur hari Senin. Sudah begitu ditambah pula materinya dari dosen. Awalnya jatah kuis hanyalah dasar Psikologi Belajar dan Teori Classical Conditioning Ivan Pavlov. Tidak terlalu sulit, karena sudah dipelajari pada semester I. Mahasiswa/i hanya perlu mempelajari spesifikasinya saja seperti teknik pemasangan Unconditioned Stimulus dan Conditioned Stimulus. Karena kuis diundur hari Senin, jadi bahan tempur-nya ditambah dengan teori cap John B. Watson.

Seusai kelas Psikologi Belajar...saya langsung membuat draft paper Psikologi Umum-Studi Kasus teori Emosi. Saat ini sebelum saya mengakhiri post, masih ada paper presentasi Psikologi Belajar dan rancangan hand-out Psikologi Pendidikan tentang Teori Life Span Development Erikson yang harus rampung malam ini.

Oh.. sepertinya besok saya malas keluar rumah.

Rabu, 23 Februari 2011

Tiga Puluh Lima

Ide ini gua dapat saat dua hari yang lalu. Selesai mandi, mau ganti cel-dal alias segitiga pengaman penyangga bagian vital yang menentukan masa depan.

Udeh, tanpa cel-dal tapi tetep pake celana boxer (ya kali gw tidur gak pake apa-apa.. nanti penunggu kamar horny, barang gua raib tiba-tiba kan konyol!) saya langsung tidur..!

Sungguh sensasi yang begitu menggugah selera!! Tidur nyenyak, bagian tengah-bawah gak grusak-grusuk karena kepanasan dan lembap. Walaupun hanya tiga jam, saya mendapat tidur yang sangat berkualitas!

Well.. inilah keuntungan tidur tanpa cel-dal bagi pria :

1. Sirkulasi udara daerah selangkangan jadi teratur, gak ada yang ketahan dan bikin lembap
2. Rasanya enteng lho..

..dan inilah kerugiannya

1. Kalau kegep sama orang rumah, tengsin.
2. Bangun pagi, sebelum keluar kamar harus pake cel-dal lagi -____-"
  

Tiga Puluh Empat

Kemarin tidak sengaja aku mengunggah salah satu materi perkuliahan psikologi umum.

Muncul komentar dari seorang adik kelas saat SMA.

Saya hanya memberi jawaban sesuai koridor sebagai ilmuwan psikologi. Tidak lebih, menahan menjustifikasi seseorang atau memberi legitimasi atas perilakunya itu benar adanya ala teori correspondence bias pada mata kuliah Psikologi Sosial.

Tiba-tiba ada yang menyeruak, ia teman seangkatan di Psikologi. Wow, ia menjelaskannya begitu detail. Membuat saya : bangsat lu, main nyelonong aja smartass!

Kemudian justifikasi itu membuat saya teringat akan teori Actor-Observer dalam atribusi perilaku (penghargaan, hasil pengamatan terhadap sebuah perilaku). Saat saya menjadi actor, saya melakukan hal yang sama dengan dia. Namun saat sekarang posisi saya sebagai observer saat ada orang melakukan hal persis sama apa yang saya biasa lakukan, rasanya saya ingin berkata : diem aja deh lo nyet.. ini daerah gua, gak usah ikut campur.

Lalu saya tertawa.. mentertawai kebodohan sesaat ini. Tidak lama kemudian saya observasi komentar itu, saya kagum! Wow, sinapsis di otaknya begitu berkembang ya, bahkan ia masih ingat bagaimana laju teori Classical Conditioning, Operant Conditioning, hukuman dan penguatan dalam kaitannya memunculkan sebuah perilaku yang diharapkan.

Kembali saya tertawa.. hmm.. dia memang sangat PINTAR. Kalau saya..hmm.. walaupun IP sementara sudah lewat batas aman (aman banget), tapi masih suka tidur di saat diberi ceramah tentang Sensasi dan Persepsi, kadang kalau dijelasin dosen malah ngelamun seandainya yang mengajar Psikologi Faal tentang reproduksi adalah Julia Perez. Jadi.. belum bisa disebut pintar-lah saya ini. Saya hanya mencintai apa yang saya lakukan sebagai mahasiswa psikologi dan calon psikolog militer.

Saking pintarnya, sulit memahami apa yang ia paparkan. Karena sejurus berikutnya komentarnya ini saya observasi dengan perspektif awam. Lantas saya tidak mengerti.. ini ngomongin apa sih nyet?

Terakhir.. saya bersyukur. Memang beginilah seorang Bramantyo Adi.
Saya hanya mampu membahasakan dengan kacamata awam apa yang sudah saya pelajari di psikologi. Kadang saya terlihat bodoh dan in-capable untuk menjelaskan sebuah teori karena belum sempat mengkonversinya dalam kacamata awam berbasis metode ilmiah.

Tiga Puluh Tiga

Pertama aku ingin melampaui kakak. Sebagai Sarjana Psikologi dengan predikat cum laude.
Kedua aku ingin melampaui ibu. Sebagai Magister Profesi Psikologi Klinis dan praktisi psikologi Klinie Kemiliteran.
Ketiga aku ingin melampaui bapak. Sebagai Doktor Psikologi Klinis Kemiliteran.

Tanpa maksud mengalahkan mereka, atau sekedar menang-menangan gelar.
Logika-nya, mereka meraih itu semua gelar tersebut dengan fasilitas apa adanya.
Mereka mengambil kejuruan mereka dipengaruhi
Seyogyanya, saya hari ini yang mendapat fasilitas lebih layak atau kasarnya 'tinggal belajar-makan-tidur-napas' masak tidak bisa memberi hasil yang signifikan. Udah gitu bidangnya saya pilih sesuai bakat minat lagi.

Bakal jadi aneh kalau saya tidak bisa berbuat banyak.
Wish me luck guys.

Senin, 21 Februari 2011

Tiga Puluh Dua

Jakarta, 08:54
Deeeeeeuuuuuuuhhhh ch..ch..ch..chuaapeeeee dweeeeeeeeeeehhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!

Mari mengeluh.

Mengeluh dimulai.

Gila hari Senen pasti diawali dengan yang berat-berat.
Bangun pagi, kuliah pagi, bikin sarapan sendiri yaitu roti tiga slice dipadupadankan dengan tiga daging burger (dimana satunya udah gua gadoin..) dan telur dadar adalah paket sarapan saya hari Senin.

Sampe kampus kepala gw agak-agak tengleng karena anak-anak pada ngorder buku ke gw semua. Mana daftarnya belum diberesin.

Sepulang kerumah, mager depan laptop. Bacain e-mail satu-satu dari alumni PL.
Diskusi tentang keadaan SMA PL yang bikin miris hati.

Belakangan ini sepertinya gw terserang virus tolol mendadak.
Bisa gitu perangai gw kayak Patrick-partner in crime-nya Spongebob Squarepants.

Sangatlah menyiksa.

Baiklah.. itulah keluhan saya.

Mengeluh selesai.
Bubar..jalan!

Tiga Puluh Satu

Gile.. gw lagi tidak kreatif!

Kesel banget..

Bikin postingan di blog ala kadarnya..
Bertanya/jawab pertanyaan dosen.. juga.. ala kadarnya..

This isn't definetely me.

Jumat, 18 Februari 2011

Tiga Puluh

Kisah singkat ini saya dapat saat disuruh ibu mengisikan pulsa ponsel (sekalian juga isi pulsa ponsel saya :D). Ditengah mengerjakan verbatim (saya sendiri deg-degan lho hari ini.. bagaimana nasib verbatim saya?? Semoga berguna untuk kakak senior hehehe).

Saat pulsa sudah terisi. Kebetulan konter pulsa langganan yang punya fitur seperti Snapy untuk taraf menengah dan kebawah lagi utak-atik foto seseorang dengan Corel DRAW. Saya melirik-lirik sebentar sebelum akhirnya fokus tercuri pada aktifitas tersebut.

Astaga, itu kan Kiki-temen main Mas Andri (kakak saya yang sekarang udah kerja jadi jurnalis). 

Kiki di foto itu mengenakan seragam Security.  Sekali lagi saya melihat foto itu..

Ya, betul, itu Kiki.. 

Menghela nafas sebentar..

Alhamdulillah nasib saya hari ini bagus banget. Masih bisa kuliah di jurusan yang saya inginkan. Sebelumnya masuk sekolah dengan kualitas sangat baik.

Karena ada teman-teman yang tidak bisa meneruskan sekolah, dan harus bekerja terlebih dulu.
Atau.. sudah lulus kuliah, tapi nasibnya tidak beruntung sehingga terpaksa bekerja di tempat yang tidak diinginkan.

Beruntungnya saya hari ini. Selain bisa berkuliah, memiliki network yang alhamdulillah baik. Sehingga memiliki optimisme membangun masa depan yang lebih baik dari hari ini.

Bagi kalian yang hari ini masih menyia-nyiakan pendidikan.
Semoga post ini bisa menyadarkan kalian.
Kalau masih banyak teman-teman yang ingin mewujudkan cita-citanya tapi terbentur sana-sini.

Dua Puluh Sembilan

Sejak masuk sebagai psychology soldier (err...ini istilah baru saya.. keren kan?) di Paramadina. Selain dikenal sebagai manusia yang aktif di kelas dan selalu punya pertanyaan-pertanyaan cenderung out of the box, khayalan tingkat tinggi. Saya juga dikenal dengan tingkah laku yang out of the box alias ada-ada saja.

Berikut adalah contoh konyol-konyolan saya di Psikologi Paramadina.


Ada gitu daftar panitia pake ngasih nomor togel??



Ha ha ha.. kebiasaan banget.. Kalau menginformasikan sesuatu pasti ada unsur lawak for the sake's of increasing fascination through all those future psychologist..


Bwaahahahaakkk!! Kebiasaan saya juga nih.. Ntar jadi Kapolsek Dukuh Psikologi.. Ntar jadi Kepala Dinas Intelijen Psikologi dan terakhir adalah Kabid. Intelijen Psikologi 2010. Well.. There's often a  reason behind why myself often use those nickname. Berhubung saya ini yang paling gampang dikenali (karena satu-satunya pasien rawat jalan dengan skor Intelligence Quotient melebihi rata-rata normal [baca : paranormal/di atas normal :D]) oleh senior, walhasil saya selalu jadi sumber informasi. Makanya tercetus lah.. nama-nama narsis seperti itu.

heu heu heu.. susah jadi manajer satu angkatan.. Nih sekarang gua lagi ribet ngurusin buku referensi.

Kamis, 17 Februari 2011

Dua Puluh Delapan


Buset! Ini verbatim?? #shock
Sepertinya di post terdahulu sudah saya ceritakan tentang pengalaman dipercaya oleh senior membuat verbatim.

Pinguin yang satu ini tampaknya mulai meyakini bahwasanya kecerdasan kinestetik yang ia miliki benar adanya. Salah satunya dengan kelihaiannya mengkoordinasikan anggota tubuh dan mengoperasikan tangannya menari-nari diatas tuts keyboard. Hal itu membawanya kepada tawaran : bantuin aku bikin verbatim ya. 

Saat itu saya sih iya-iya he-eh he-eh. Malah bingung : eh.. si kakak senior ini kok pede banget ya minta bantuan gua? Apa dasarnya? 


Sebagai mahasiswa psikologi, gua menikmati bantu-bantuin senior. Mulai jadi subjek tes sampai kayak begini nih.. bikin verbatim. Semoga aja yang saya bantuin gak bilang-bilang sama yang lain tentang verbatim yang saya buat.

Tiga jam pertama mengerjakan.. saya hanya dapat
6 halaman.
Tiga jam pertama.. gondok.. istirahat grak!

Akhirnya saya memutuskan untuk istirahat.
Ngelawak di Twitter.com dan hal-hal lainnya.

Sampai bertemu keesokan paginya..

Keesokan pagi.. ditemani satu liter susu ultra dan satu pak Oreo double delight (menyogok diri sendiri.. saya lemah sama susu hehehe.). Saya mulai bekerja.. memotivasi diri. Mulai jam tujuh pagi.. Sampai si ibu bolak-balik masuk kamar prihatin karena anak bungsunya berpredikat psychology soldier bener-bener militan betah banget ngerjain verbatim..

Setelah beberapa teguk susu dan beberapa butir Oreo..
Setelah beberapa jam kemudian..
Setelah pariwara berikut..

VERBATIM SELESAI!!!!
YEEAAAAAAAAAYYYYYYY!!!!

Estimasi waktu  awal : 

18 jam pengerjaan untuk total 30 halaman...

Rekor baru :

9 jam pengerjaan untuk 30 halaman (plus edit!)

WAAAAAAWWW!!!! Gile ye.. Pinguin Psikolog ini kalau sogokan bagus, ditemani peliharaan dan maksimalisasi multiple intelligence bisa jadi begitu ya?? Ck ck ck ck..

Oh ya.. ini hasil verbatimnya..

Hasil Karya Verbatim Otodidak.. hehehee

Saya hanya diminta mengerjakan sejauh ini saja. Kalau mau dibikin betul-betul mungkin bisa sampai 18 jam per satu Verbatim. Karena ada tiga tabel yang masih kosong. Nanti kalau sudah semester-semester lanjut di prodi psikologi akan saya post lagi apa saja elemen-elemen Verbatim. Berhubung akika masih semester dua yang baru awal kena 'dikdaspsi' alias Pendidikan Dasar Psikologi di mana kalau masuk kelas setiap hari langsung disikat sama dosen. Jadi mending akika cerita-cerita yang akika pelajari aja setiap haree! He he he...

Oh ya.. Teriring doa untuk 

Dinar Saputra Psikologi 2007 
Ima Mumpuni Psikologi 2007

Sahabat sekaligus senior saya yang baik dan selalu memotivasi saya untuk menjadi yang terbaik di psikologi.
Doakan mereka ya semoga skripsinya lancaaar!! 

*Kak Dinar.. kite makan-makannya kalau skripsi udah cihuy aja dan IP-aku udah fix gelarnya Magna Cum Laude ya.. Biar double celebration gitu.. hahahha!!!

Dua Puluh Tujuh

Just another penguin's crazy thought.

One day I'll post a photo here at my blog..

Ondel-Ondel yang bergerak statis nan stabil. Sekarang nancep di negerinya Saddam Husein
For the sake's of everything! He's hillarious Indonesian Marine Officer ever!!
A Penguin who dream to serve as Military Psychologist and UN MILOBS

 with my peacekeeper friend when I serving as MILOBS with my psychologycal skill

Indonesian Peacekeepers
 Place? Wherever.. At my future home..

When three of us taking picture together, we realize that we're almost hairless trio.

Mr. Luigi and Mr. Irdy, I'll join you guys as Indonesian Peacekeepers immediately. As soon as possible.

Amen.

Rabu, 16 Februari 2011

Dua Puluh Enam

Parah nih saya, pulang kampus. Mestinya langsung bikin verbatim buat bantuin senior yang lagi skripsi, malah main-main internet dulu. Baru deh jam lima sore mulai bikin verbatim.

Eh.. main nyerocos aja saya. So.. what's verbatim?
Bagi anda yang tidak tahu, pasti mikir : lo ngapain yo bikin CD Verbatim? Bisa kali tinggal beli segepok. 
EITS!!
Let me explain ya! 

Dalam ilmu psikologi yang saya tekuni hari ini, dikenal istilah VERBATIM. Verbatim adalah salah satu merk dagang atau khas-nya metode penelitian kualitatif psikologi. Saya akan mendapat mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif masih semester-semester besok..aslinya.. Tapi karena kenal beberapa senior dan tidak sengaja mereka melihat kelihaian hasil kecerdasan kinestetik saya, tidak sengaja mereka iseng ngajakin saya coba bikin-bikin verbatim (lumayan juga sih dapet outline skripsi.. jadi mulai deh saya ancang-ancang bikin outline kasar.. padahal masih lama coy, dan masih banyak teori psikologi lain yang menarik!) sekalian bantuin mereka bikin skripsi.

Verbatim (kalau saya artikan sendiri) adalah rekaman antara peneliti (mahasiswa yang lagi skripsi ya dalam konteks kali ini) dan subjek (individu yang dijadikan subjek penelitian sesuai tema skripsi) wawancara yang kemudian dikonversi dalam bentuk teks. Tiga jam bikin verbatim baru dapet lima halaman. Salah seorang senior pernah share sama saya kalau dia bikin verbatim 10 jam baru dapet lima halaman. Lima halaman verbatim juragan dari rekaman selama 8 menit. Padahal rekaman wawancaranya 48 menit!

Baiklah.. ini estimasinya kapan selesai verbatim..

8 menit rekaman = 5 halaman verbatim
48 menit rekaman = 30 halaman verbatim (#geleng-gelengkepala)

8 menit rekaman = 3 jam pengerjaan
48 menit = 18 jam pengerjaan

Sementara baru selesai seperenam bagian dari keseluruhan. Belum lagi edit-editan identifikasi antara peneliti dan subjek.
Huahahaha.. oh ya ini nih hasilnya.. kan belum selesai, jadi masih absurd. Nanti gua kasih yang versi udah selesai ya!





Naaah.. ini masih mentaah cuuuy!!

Hmm.. melihat skripsi format kualitatif, rasa-rasanya saya lebih baik besok skripsi kuantitatif dengan metode penelitian berupa Focus Group Discussion.

Selasa, 15 Februari 2011

Dua Puluh Lima


Discovering myself with Multiple Intelligence test (gambarnya keliatan jelas gak sih?)
Oh ya, ini sih hasil iseng-iseng berhadiah. Salah satu teman SMA di twitter gak sengaja ngepost link untuk tes multiple intelligence. Gua juga cuma iseng, ah siapa tahu bisa berguna dan merepresentasikan diri gua sekarang. 

Setelah hasil tes keluar.. 

Inilah urutan multiple intelligence

Pertama, dua kecerdasan melaju cepat yaitu kinestetik dan intrapersonal. Lihat aja di diagram,
Kedua, dua kecerdasan kompak melaju yaitu spasial dan linguistic.
Ketiga, adalah interpersonal
Keempat adalah logic dan terakhir adalah musik.

Gua cuma cengar-cengir ngeliatnya. Sebatang rokok kemudian membuat gua cengo..
Euh? Ini apa maksudnya kinestetik dan intrapersonal? Dua skor kecerdasan ini mengalahkan kecerdasan yang selama ini selalu memimpin yaitu linguistic/bahasa. Untung gua update.
Gua sendiri bingung, sejak kapan gua mengasah kinestetik dan intrapersonal?

Dari kemarin siang sampai siang hari ini (dengan disela berbagai aktifitas seperti nyedot debu dirumah, nonton bokep [eits..tetep aja..], dengerin lagu galau dan ngelawak di twitter) saya mencoba mengeksplorasi apa itu kecerdasan kinestetik dan intrapersonal.

Setelah grusak-grusuk memperkosa dan menyiksa google.co.id bisa ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Kecerdasan kinestetik
Setelah memperhatikan perilaku saya yang cenderung tidak bisa diam. Ternyata saya memiliki kecerdasan kinestetik. Gua kan lapisan luarnya doang diem, padahal aslinya susah diem. Ada aja yang gerak-gerak. Itulah kecerdasan kinestetik, orang yang memiliki kecerdasan kinestetik yang tinggi (seperti saya) sensitif dengan gerakan. Kecerdasan ini lantas mempengaruhi perilaku belajar, Tyo disuruh belajar anteng.. susah. Disuruh belajar sambil menggerakkan badan (jalan, ngetik dll dsb) baru bisa masuk. Kecerdasan kinestetik bisa diasah dengan sering olahraga dan melatih seluruh bagian tubuh.

2. Kecerdasan intrapersonal
Sepertinya kecerdasan ini tidak sengaja gua asah lewat blogging. Ya, orang yang memiliki kecerdasan intrapersonal yang tinggi (seperti.. gua.. lagi..) salah satunya doyan curhat sendiri, kesadaran akan keberadaan dirinya tinggi sekalee, kemudian doyan menyendiri-alah gua banget tuh.

Nah.. kecerdasan ini cocok sama karir-karir seperti ini :

kinestetik : terapis, prajurit militer (oow..oww..ow..), atlet, pokoknya yang urusannya utak-atik-gerak sana-gerak sini deh
intrapersonal : psikolog (jalur gua udah tepat -girang-), penulis, filsuf (kecanggihan, itu udah ranahnya bokap yang gua gak doyan sama sekalee), polisi (ini yang bikin gua ngakak.. apa hubungannya coba!), 


Okay, bagi kalian yang ingin iseng-iseng berhadiah mau tahu tentang multiple intelligence ini silakan cek TKP naik bajaj BBG ke Birmingham Grid for Learning.

Dua Puluh Empat

Menghela nafas sejenak,
Memejamkan mata
Minggu lalu lagi-lagi sebuah titik balik.
Ketika apa yang aku cita-citakan semakin mendekati kenyataan.
Terdapat satu komponen yang harus terganti : teman.

Saya pribadi tidak paham birokrasi menuju kesuksesan.
Saya paham betul sebuah kemenangan membutuhkan persiapan seperti pribahasa di film 'The Mechanic' yaitu Para Cum Victoria-Kemenangan Membutuhkan Persiapan.
Kesuksesan, didalamnya terdapat pengorbanan.
Saya terbiasa mengorbankan hal-hal duniawi.

Sementara menahan nafsu untuk jalan-jalan bareng teman-teman.
Fokus kuliah, membuktikan kepada orang tua bahwa kapasitas intelijensia saya memang disini.

Psikologi.

Memang, hasilnya begitu menakjubkan.
Tertera di informasi akademik dan peluang baru terbuka.
Sayang saya tertampar oleh there's a beginning, there's an end.
Ditengah kebahagiaan ini, saya akan bertemu seseorang yang berkaitan dengan cita-cita sekaligus akan kehilangan seorang teman yang di mana kami menetapkan mengambil spesialisasi psikologi klinis.
Entah mengapa saya kesal bukan kepalang.
Seolah nilai dan peluang itu tidak bermakna.

Sesegera teman menyadarkan saya :
Memang jalannya gitu 'yo, sabar ya.

I can't do anything more.
A conclusion before I wrapped up this post.

Firstly, my dream being a Military Psychologist Officer is closer to the real. I've been establish and focused it so hard since 2009. I think, working as military psychologist make me feel alive.
Second, should I ignoring how bad is losing a friend? At 2008, I lost not only one friend. Now they're rest peacefully. I think I need a new perspective to understand it.

Buang nafas..
Buka mata..
Inilah dunia.