Tampilkan postingan dengan label Psikologi Lansia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Lansia. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2010

Membalas Kebencian dengan Kasih Sayang

Meskipun aku sudah sering membacanya berulang-ulang kali, nilai kebijaksanaan dari kisah yang ditulis oleh guruku ini selalu bermanfaat bagiku. Jika hati kita merasa tersakiti oleh seseorang atau sekelompok orang, artikel ini mungkin bisa memberikan alternatif berpikir untuk bereaksi terhadap orang yang membenci kita. Kisah dalam tulisan ini barangkali tidak bisa dibuktikan secara empiris dan bisa dikatakan ‘tidak masuk akal’ (nonsense) dalam tingkatan interpretasi tertentu. Tapi, dalam prakteknya, jika kita dapat mengambil inti dari kisahnya, cara yang diajarkan dalam kisah ini sudah sering dapat membantu mereka yang meyakininya untuk menciptakan perubahan yang baik dalam kehidupan sosial mereka. Kebencian dibalas dengan kebencian, sudah tidak mempunyai tempat dalam kehidupan sosial sekarang. Pola dendam hanya akan mengakibatkan kerusakan, baik bagi orang tersebut maupun bagi lingkungan sosialnya. Selamat Membaca!

MEMBALAS KEBENCIAN DENGAN KASIH SAYANG
KH.  Jalaluddin Rakhmat

Salah seorang di antara tokoh besar dalam dunia kesucian adalah orang Mesir yang bernama Dzunnun. Karena ia berasal dari Mesir, maka ia dikenal dengan sebutan Dzunnun Al-Mishri, Dzunnun Si Orang Mesir.

Ketika ia masih hidup, orang-orang tidak mengenalnya sebagai orang yang dekat dengan Allah. Ia malah lebih banyak dicela dan dicemooh orang karena dianggap kafir, ahli bid’ah, dan orang murtad. Ia tidak pernah membalas semua tuduhan itu dengan kemarah-an atau serangan balik. Ia bahkan menunjuk-kan dirinya seakan-akan ia mengakui seluruh celaan itu. Selama ia hidup, orang-orang tidak mengetahui bahwa Dzunnun adalah salah seorang di antara waliyullah, kekasih Allah. Orang mengetahui kedekatannya dengan Tuhan setelah Dzunnun meninggal dunia.

Menurut Al-Hujwiri, pada malam kematian Dzunnun, tujuh puluh orang bermimpi melihat Rasulullah saw. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda, “Aku datang menemui Dzunnun, sang wali Allah.” Sesudah kematian-nya, konon di atas keningnya tertulis: Inilah kekasih Tuhan, yang mati karena mencintai Tuhan, dan dibunuh oleh Tuhan.

Masih menurut Al-Hujwiri, pada saat penguburan Dzunnun, burung-burung di angkasa berkumpul di atas kerandanya sambil mengembangkan sayap mereka seakan-akan ingin melindungi jenazahnya. Pada saat itulah orang-orang Mesir menyadari kekeliruan mereka dalam memperlakukan Dzunnun selama ini.

Ada banyak kisah tentang Dzunnun dan hampir semua kisah hidupnya itu menjadi pelajaran yang amat berharga. Kisah-kisah itu menjadi petunjuk bagi kita dalam mendekati Allah swt. Di antara kisah-kisah yang dituturkan tentang Dzunnun adalah satu kisah ketika ia berlayar bersama para santrinya dengan sebuah perahu di atas sungai Nil.

Alkisah, pada suatu hari, berlayarlah mereka di sungai Nil. Yang sedang berekreasi di sungai itu bukan hanya orang-orang saleh seperti Dzunnun dan para santrinya, tetapi juga orang-orang yang menggunakan rekreasi sebagai alat untuk melakukan kemaksiatan. Di tengah jalan, bertemulah dua kelompok perahu yang mempunyai “ideologi” yang berbeda itu. Pada perahu yang satu, terdapat Dzunnun, sang kiai, bersama para santrinya. Mereka melantunkan zikir kepada Allah swt. Pada perahu yang lain, ada sekelompok anak muda yang memetik gitar, berhura-hura, berteriak-teriak, dan berperilaku yang menjengkelkan santri-santri Dzunnun.

Karena para santri percaya bahwa doa-doa Dzunnun pasti diijabah, mereka meminta Dzunnun untuk berdoa kepada Allah supaya perahu anak-anak muda itu ditenggelamkan Tuhan jauh ke dasar sungai Nil. Dzunnun lalu mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan orang-orang itu kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka satu kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti.

Santri-santrinya tercengang. Semula mereka berharap Dzunnun akan mendoakan anak-anak muda yang ugal-ugalan itu agar ditenggelamkan Tuhan karena anak-anak muda itu memandang kehidupan hanya semata-mata kesenangan saja. Tapi aneh bin ajaib, Dzunnun hanya berdoa seperti di atas. Para santri terkejut mendengar doa Dzunnun.

Ketika perahu anak-anak muda itu mendekat, mereka melihat Dzunnun ada di perahu itu. mereka menyesal dan meminta maaf. Entah bagaimana, memandang wajah Dzunnun membawa mereka kepada kesucian. Mereka meremukkan alat-alat musik mereka dan bertaubat kepada Tuhan.

Waktu itulah Dzunnun memberi pelajaran kepada para santrinya, “Kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti adalah bertaubat di dunia ini. Dengan cara begini, kalian dan mereka puas tanpa merugikan siapa pun.”

Kita tertarik dengan cerita Dzunnun ini. Kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada orang-orang di sekitar kita. Seringkali setelah kita menjalani kehidupan yang baik, kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa membalas kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi. Untuk itu kita sering menutup-nutupinya dengan berkata, “Supaya ini jadi pelajaran bagi mereka.”

Dzunnun melanjutkan tradisi para rasul Tuhan yang mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang dilakukan orang lain dengan kebaikan. Bayangkanlah ketika Anda berdoa supaya saingan Anda hancur, agar musuh Anda binasa, Anda akan memperoleh satu manfaat saja: Kepuasan hati karena hancurnya saingan Anda. Tapi ketika Anda berdoa: Ya Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang, Anda akan mendatangkan manfaat kepada semua orang. Sama seperti doa Dzunnun Al-Mishri.

Dahulu, Nabi Isa as beserta murid-muridnya lewat di depan rombongan pemuda yang ugal-ugalan juga. Mereka bukan saja melakukan tindakan-tindakan maksiat ketika kelompok Nabi Isa datang, mereka juga malah melemparkan batu ke arah Nabi Isa. Nabi Isa berhenti dan memandang mereka untuk kemudian mendoakan kebaikan bagi mereka.

Murid-muridnya bertanya, “Mereka melempari batu ke arahmu tapi mengapa engkau malah membalas dengan doa yang baik?” Nabi Isa menjawab, “Itulah bedanya kita dengan mereka. Mereka kirimkan kepada kita keburukan dan kita kirimkan kepada mereka kebaikan.”

Rasulullah saw dilempari orang di Thaif ketika beliau mengajak mereka kepada Islam sampai kakinya berlumuran darah. Ketika malaikat datang kepadanya menawarkan untuk menimpakan gunung di atas orang-orang yang menyerangnya, Nabi hanya berkata: Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.

Dzunnun Al-Mishri mengajari kita tradisi para nabi dan orang-orang saleh; membalas kejelekan dengan kebaikan. Jadilah kita seperti pohon Mangga di tepi jalan, yang dilempari orang dengan batu tetapi ia mengirimkan kepada si pelempar itu, buah yang telah ranum. Ahsin kamâ ahsanallâhu ilaik, berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.

Di antara perbuatan baik yang sangat tinggi nilainya adalah membalas keburukan orang kepada kita dengan kebaikan. Ini bukanlah suatu hal yang mustahil, melainkan ini adalah ajaran kesucian yang akan membawa kita lebih dekat kepada Allah swt.

Mencari Kebahagiaan


Semua orang mencari kebahagiaan. Ada yang mengartikan bahwa mencari kebahagaiaan itu mencari kesenangan. Berkumpul bersama keluarga, nongkrong dan berjalan-jalan bersama teman-teman, ngerumpi ngerokok dan ngopi bareng, bermain musik atau menonton konser band terkenal, minum alkohol atau menghabiskan waktu dengan orang yang kita cintai. Menurut Deepak Chopra, yang baru saya sebutkan tadi itu bukanlah kebahagiaan, tapi kesenangan yang semu. Dalam artian kesenangan yang datang dan pergi (ephemeral satisfaction). Menurutnya, mencari kebahagiaan itu tidak dengan mencari aktivitas-aktivitas yang adiktif dan bersifat sementara. Melainkan ,ialah kita mencari akar dari kebahagiaan tersebut. Pandangannya sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh para psikolog modern maupun para Sufi abad pertengahan. Mencari akar kebahagiaan dapat diraih dengan mengenal siapa diri kita.

The questions such "Who am I?" dan "Where do I come from?", merupakan dasar dari pertanyaan mencari kebahagiaan. Dengan demikian, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa kita dapatkan dari luar sana; apakah itu sesuatu atau seseorang. Melainkan, sesuatu yang sudah kita miliki sejak lahir. Kita  belum menyadari bahwa kita memiliki akar kebahagiaan itu, karena kita belum menyadari siapa diri kita sebenarnya. Niscaya, kita tidak akan pernah bisa raih bahagia jika  kita tidak pernah berusaha mengenal siapa diri kita sesungguhnya. Jalaludin Rumi selalu berkata, "Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya". Dalam kalimat itu, "Tuhan" tidak saja diartikan sebagai Zat Yang Maha Kuasa yang tidak bisa diraihi oleh akal manusia, tapi juga "Sumber" dari segala ide tentang kehidupan.

The quest for happiness will never end until we reach the state of being ourselves. Jalan menuju kesana harus dilalui dengan segala kepedihan dan penderitaan. Tidak berarti kita harus melupakan kesenangan dalam hidup. Rumi menganalogikan Kesenangan (Joy) dan Penderitaan (Sorrow) dengan "Dua Sayap Malaikat". Untuk mencapai hakikat manusia yang berbahagia, both Joy and Sorrow harus dialami olehmanusia. Malaikat tidak bisa terbang hanya dengan satu sayap. Ia juga tidak bisa terbang jika salah satu sayapnya tidak seimbang atau rusak. Manusia berbeda dengan Malaikat dalam hal bersih dari dosa dan dalam kemampuan untuk berpikir bebas, tapi manusia dan malaikat sama-sama mempunyai sayap. Hanya saja, sayap manusia tidak dapat dilihat secara fisik (intangible). Sayap-sayap itulah yang menentukan kualitas manusia dalam menjalani hidup. Untuk bisa ‘terbang’ menuju langit kebahagiaan, kita harus memakan asam dan manisnya kehidupan di dunia ini. Berpikiran picik dan negatif dalam hidup hanya membuat kita terus hidup dalam daratan. Dengan demikian, jiwa kita akan mati seiring dengan matinya bumi. Jika kita bisa terbang, jiwa kita akan terus abadi terbang dan melayang.

Aku sendiri belum yakin betul dengan interpretasiku itu. Hidupku sekarang sedang sangat sulit, terkadang malah buntu. Tapi, aku yakin bahwa apa yang pengalaman sulit yang sedang aku alami sekarang adalah modal untuk menemukan kebahagiaan abadi di masa yang akan datang. Dengan kata lain, jika kita sudah menemukan jati diri kita  sesungguhnya, maka kebahagiaan bisa didapatkan pada setiap pojok kehidupan. Semua kesenangan yang bersifat sementara akan menjadi abadi sepanjang hidupnya jiwa kita di alam semesta ini.

Dedicated to Rahma, my little angel. Soon you will find the happiness in any form of life from anything and from anyone, moreover it is lies within yourself

PSikologi daN psikologi hidup

Filosofi hidup hampir berkaitan dengan prinsip hidup. Semua
orang yang masih eksis mempunyai pegangan hidup, tujuan hidup,
prinsip hidup maupun filosofi hidup. Tentunya hal ini cukup berbeda
di antara satu dengan lainnya dalam menyikapinya. Karena, setiap
orang itu tidak sama, setiap orang itu unik, setiap orang merupakan
mahluk individualisme yang membedakan satu dengan lainnya.

Ada yang mempunyai tujuan hidup yang begitu kuat, namun
prinsip hidupnya lemah, atau sebaliknya ada orang yang mempunyai
tujuan hidup yang lemah, namun memiliki prinsip hidup yang kuat. Ini
tidaklah menjadi suatu permasalahan, yang penting seberapa baiknya
seseorang menyambung hidupnya dengan berbagai persoalan dunia yang
ada, atau dengan kata laiinya bagaimana kondisi psikologis/jiwa
seseorang dalam menjalani hidupnya.

Prinsip hidup masih jauh kaitannya dengan psikologi, namun
psikologi mau tau mau berhubungan langsung dengan prinsip hidup.
Karena, dengan menijau prinsip hidup seseorang dapat diketahui
kondisi jiwa seseorang. Prinsip hidup dan filosofi hidup sangat luas
cakupannya, tidak hanya ditinjau dari segi psikologi, tapi seluruh
cabang ilmu pengetahuan yang ada. Prinsip hidup seseorang dapat
diambil dari perspektif psikologi, agama, seni, literatural,
metafisika, filsafat dsb.

Bagi sebagian orang, filosofi hidup dapat dijadikan sebagai
panutan hidup, agar seseorang dapat hidup dengan baik dan benar.
Adapula sebagaian orang yang tidak menghiraukan apa itu tujuan hidup
dan filosofi hidup, ia hanya hidup mengikuti arus yang mengalir dan
sebagian orang lagi, terlalu kuat memegang tujuan hidup dan filosofi
hidupnya sehingga membuat ia menjadi keras dan keras, Jadi,
kesimpulannya ada 3 sifat manusia yang bisa ditinjau dari filosofi
hidupnya, yaitu orang yang lemah, orang yang netral dan orang yang
keras.

Orang yang lemah adalah orang yang tidak mempunyai tujuan hidup atau
prinsip hidup. Ia tidak tahu untuk apa ia hidup, ia tidak berusaha
mengetahui kebenaran di balik fenomena alam ini, sehingga terkadang
baik dan buruk dapat dijalaninya. Orang yang netral adalah orang
yang mempunyai tujuan dan prinsip hidup, tetapi tidak mengukuhinya
dengan terlalu kuat. Ia berusaha mencari kebenaran hidup dan hidup
dalam kebijakan dan kebenaran, ia bebas dan netral, tidak kurang dan
tidak melampaui, ia berada di tengah-tengah. Orang yang kuat adalah
orang yang memegang kuat tujuan dan prinsip hidupnya. Sehingga ia
mampu melakukan apa saja demi tercapai tujuannya. Ia terikat oleh
filosofinya, ia kuat dan kaku berada di atas pandangannya, ia merasa
lebih unggul dari orang lain dan melebihi semua orang.
Jika ditinjau dari sisi psikologi. Orang-orang yang di atas juga
dapat dikategorikan, seperti orang yang mempunyai jiwa yang lemah,
jiwa yang sedang dan jiwa yang kuat. Namun, untuk yang berjiwa
sehat, seseorang tidak hanya dilihat dari jiwa lemah, sedang ataupun
kuatnya. Penerapan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari
itulah yang penting.

Pada dasarnya, tujuan dan prinsip hidup seseorang itu baik dan
bersih. Pada saat seseorang dalam keadaan tenang, ia membuat
berbagai tujuan dan prinsip dalam hidupnya, namun ketika diterapkan
timbul beberapa hambatan dari luar dirinya atau adanya pengaruh dari
lingkungan eksternalnya. Salah satu pengaruh terbesar dari luar
dirinya adalah panca indera. Panca indera yang tidak terjaga dengan
baik akan membuat seseorang terpeleset dari tujuan dan prinsip
hidupnya. Telinga bisa mendengar, mata bisa melihat, mulut bisa
berbicara. Semua itu harus dikendalikan dengan baik.
Sebagai contoh konkret, saya mempunyai tujuan hidup menjadi
seseorang yang berguna untuk menolong semua mahluk hidup sampai ajal
menemui dan filosofi hidupnya adalah bila ada orang baik kepada
saya, maka saya akan baik kepadanya, dan bila ada orang jahat kepada
saya, maka saya akan baik juga kepadanya. Dari filosofi hidup ini,
jika dilihat dari sisi psikologinya, orang tersebut mempunyai jiwa
yang sehat, tidak mendendam dan bahagia menerima hidup. Namun, itu
hanyalah sebuah filosofi hidup, yang terpenting adalah bagaimana ia
menerapkan dalam perilakunya, apakah bisa sesempurna dengan filosofi
hidupnya atau hanya sekedar membuat filosofi hidup tetapi tidak
dijalankannya ataupun ia membuat suatu filosofi hidup, namun ia
susah menjalannya karena tidak bisa menahan godaan atau hambatan
dari luar dirinya.

Sebuah filosofi hidup bisa didapatkan dari seorang pemikir-pemikir
jenius yang bijaksana, bebas dan terpelajar. Biasanya orang tersebut
dianggap sebagai seorang filsuf, pelopor kebijakan. Masing-masing
negara memiliki tokoh filosofinya. Orang pertama yang memperkenalkan
filsafat hidup ke dalam ilmu pengetahuan adalah orang Yunani yang
kebetulan pada saat itu negaranya merupakan negara yang bebas dalam
berkarya. Terbukti begitu banyak para filsuf terkenal kebanyakan
dari bangsa Yunani, seperti Aristoteles, Plato dan Socrates.
Socrateslah yang paling banyak memberi pengaruh kepada dunia ilmu
pengetahuan, maka dia disebut Bapak Filsafat. Sedangkan, dari ilmu
psikologi, Bapak Sigmud Frued disebut-sebut sebagai Bapak Psikologi
yang paling banyak memberikan sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan.
Kedua tokoh dunia ini sama-sama memiliki pemikiran yang luar biasa
untuk menciptakan pengetahuan-pengetahuan mengenai asal usul dari
segala sesuatu, meskipun cakupannya berbeda, namun, psikologi dan
filsafat tidak bisa dipisahkan dan sebaliknya. Banyak tokoh
psikologi yang semula mempelajari filsafat kemudian melanjutkan
pengetahuannya ke bidang psikologi.
Beberapa kata kutipan yang diambil da
ri kedua tokoh ini, yakni :

" Makanan enak, baju indah, dan segala kemewahan, itulah yang kau
sebut kebahagiaan, namun aku percaya bahwa suatu keadaan di mana
orang tidak mengharapkan apa pun adalah kebahagiaan yang tertinggi
(Socrates)".
Dan,

" Mereka yang percaya, tidak berpikir. Mereka yang berfikir, tidak
percaya (Sigmud Frued)".

Disini dapat dilihat, bahwa terjadi suatu studi banding antara kedua
ilmu tersebut, Masing-masing membicarakan asal asul segala sesuatu
menurut perspektif ilmunya. Namun, dari kedua ilmu tersebut
mempunyai suatu kesamaan, bahkan banyak kesamaan yang membahas
mengenai asal mulanya sesuatu yang pasti ada hubungannya dengan
manusia dan alam sekitarnya.

Seorang Socrates membicarakan kebahagiaan dan seorang Sigmund Frued
membicarakan pikiran, tentunya kedua hal ini mempunyai kaitan yang
cukup besar. Filosofi hidup yang diberikan oleh Socrates mengenai
kebahagiaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan Ilmu
psikologi yang diberikan oleh Sigmund Frued mengenai pikiran (alam
sadar atau alam bawah sadar) dapat dijadikan landasan seseorang
untuk mencapai kebahagiaan.

Oleh sebab itu, seseorang yang mempelajari psikologi maupun
tidak, harus memiliki satu tujuan hidup atau filosofi hidup agar
bisa berkembang, dan seseorang yang mempelajari filsafat maupun
tidak, harus memperhatikan apakah dan bagaimanakah agar filosofinya
dapat diterapkan dengan baik dan benar sehingga mempunyai
psikologis/jiwa yang sehat untuk maju dan berhasil.

"Jika seseorang tahu kebenaran yang mendasar tentang segala sesuatu,
maka itulah inti pengetahuan'.

Rabu, 10 Maret 2010

Memahami Mitos & Realita Tentang Lansia


Dalam masyarakat kita, sering dijumpai pengertian dan mitos yang salah kaprah mengenai lansia, sehingga banyak merugikan para lansia. Salah kaprah tersebut adalah anggapan dan pandangan yang keliru namun tetap diucapkan dan dipraktekkan secara keliru pula, sehingga sangat merugikan. Dalam hal ini yang dirugikan adalah para lanjut usia, karena dapat merupakan stigma (cap buruk) dari masyarakat dan dapat mempengaruhi orang-orang yang sesungguhnya memiliki kepedulian untuk membantu para lansia. Salah kaprah yang seringkali kita jumpai dalam masyarakat mencakup beberapa hal sebagai berikut:
  • Lansia berbeda dengan orang lain
  • Lansia tidak dapat belajar keterampilan baru serta tidak perlu pendidikan dan latihan
  • Lansia sukar memahami informasi baru
  • Lansia tidak produktif dan menjadi beban masyarakat
  • Lansia tidak berdaya
  • Lansia tidak dapat mengambil keputusan
  • Lansia tidak butuh cinta dan tidak perlu relasi seksual
  • Lansia tidak menikmati kehidupan sehingga tidak dapat bergembira<>
  • Lansia itu lemah, jompo, ringkih, sakit-sakitan atau cacat
  • Lansia menghabiskan uang untuk berobat
  • Lansia sama dengan pikun
Dalam masyarakat kita selaku orang timur dengan budaya kekeluargaan yang sangat kental; anak, cucu dan sanak saudara dari para lansia pada umumnya sangat tidak keberatan untuk menerima kehadiran dan keberadaan lansia di dalam keluarganya. Namun demikian adanya pandangan yang keliru seperti tersebut diatas tak urung bisa mempengaruhi anggota keluarga dalam memperlakukan para lansia. Hal inilah yang perlu diperjelas supaya salah kaprah tersebut tidak terjadi berkepanjangan dan perlu dicari cara untuk mensosialisasikan pengertian dan pemahaman yang benar sehingga lansia memiliki hak dan kewajiban yang sama sesuai dengan kondisi, usia, jenis kelamin dan status sosial mereka dalam masyarakat. Salah satu cara mengurangi salah kaprah dan tindakan yang keliru sehingga dapat memahami lansia secara benar adalah dengan melihat realita yang ada.
Lansia Berbeda Dengan Orang Lain
Orang yang mencapai tahap perjalanan hidup sampai mencapai lanjut usia dapat dikatakan sebagai orang yang beruntung. Mereka telah mengenyam kehidupan dalam masa yang panjang. Di Indonesia pemerintah dan lembaga-lembaga pengelola lansia, memberi patokan bahwa mereka yang disebut lansia adalah yang telah mencapai usia 60 tahun yang dinyatakan dengan pemberian KTP seumur hidup. Namun di negara maju diberi patokan yang lebih spesifik: 65 - 75 tahun disebut old, 76 - 90 tahun disebut old -- old dan 90 tahun ke atas disebut very old (W.M.Roan, 1990). Pengelompokan tersebut bersifat teoritik artinya untuk kepentingan ilmiah namun dalam kenyataan untuk pelayanan kesehatan, sosial dan sebagainya tidak dibedakan. Meskipun lansia seringkali mendapat prioritas dan fasilitas; misalnya kalau naik pesawat dapat potongan khusus, beberapa tempat wisata memberi karcis gratis bagi pengunjung lansia, di bandara atau stasiun Kereta Api disediakan loket/jalan khusus bagi lansia, hal itu bukan dimaksudkan untuk membedakan lansia dengan orang lain tetapi lebih bertujuan untuk membantu kelancaran pelayanan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka.
Bahwa para lansia tersebut harus dihormati tentu kita semua setuju. Sebagai orang timur orang yang lebih tua (baca: berusia lanjut) memang mendapat kehormatan yang lebih dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Dalam adat Jawa lansia sebagai pinisepuh atau sesepuh yaitu orang yang memiliki kehormatan yang tinggi dan bila ada hajatan ditempatkan di tempat yang istimewa.
Lansia Tidak Dapat Mempelajari Ketrampilan Baru dan Tidak Memerlukan Pendidikan dan Latihan
Kenyataan di masyarakat terutama di Perguruan Tinggi banyak lansia yang dapat menyelesaikan studinya sampai jenjang S-2 atau S-3, berkompetisi dengan orang-orang muda secara jujur dan objektif. Bahkan dalam proses belajar bersama para lansia tersebut justru sering menjadi teladan yang memberikan motivasi yang tinggi bagi kawan-kawannya yang lebih muda. Hal itu menunjukkan bahwa lansia dapat mempelajari ketrampilan baru sama baiknya dengan orang lain, hanya mungkin karena lama tidak berlatih dan kadang-kadang kurang memiliki keyakinan akan kemampuannya sehingga butuh dorongan dari orang lain. Bagi lansia dorongan dan keinginan mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru merupakan suatu hal yang biasa, baik dengan motivasi untuk meningkatkan mutu kehidupannya maupun mengisi waktu luangnya agar lebih produktif dan berguna. Semakin banyak pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki lansia makin banyak pula hal-hal yang dapat disumbangkan kepada masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa lansia merupakan sumber ilmu pengetahuan dan keterampilan serta referensi yang sangat baik dan berharga, sehingga perlu dipelihara. Cara memeliharanya adalah dengan mengajak mereka untuk berdiskusi, berkonsultasi, bertanya serta menempatkan lansia sebagai nara sumber dalam berbagai bidang yang disenangi dan dimiliki.
Berdasarkan kenyataan di atas adalah keliru bila lansia itu dianggap tidak dapat mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru. Sebaliknya, mereka justru memiliki sumber enerji yang tetap kuat untuk belajar, meski perlu motivator untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya mampu. Pandangan yang keliru pula yang mengatakan bahwa lansia itu jompo, rapuh, tidak perlu belajar dan berlatih, dan tidak perlu bekerja, sehingga dianjurkan untuk istirahat, enak-enak, ongkang-ongkang kaki saja di rumah. Jika pandangan tersebut dipraktekkan maka justru mungkin hal semacam itulah yang akan menimbulkan stress dan distress serta dispair (putus harapan) pada lansia. Merupakan suatu tindakan yang bijaksana jika para anggota keluarga tetap memberikan kesempatan pada lansia untuk melakukan kegiatan apa saja yang disukainya sehingga tetap menjaga harga diri, martabatnya serta merasa dirinya berguna untuk yang lain. Agar lansia tetap eksis dalam keluarga dan masyarakat maka perlu pendidikan dan latihan dalam arti menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pribadinya serta tuntutan lingkungan.
Lansia Sukar Menerima Informasi Baru
Pada lansia kesempatan untuk memperoleh informasi baru justru terbuka lebar, karena waktu senggangnya relatif banyak. Umumnya pada masa ini tidak dituntut untuk bekerja keras seperti masa-masa sebelumnya. Dalam kehidupan lansia umumnya haus akan berita-berita baru dan informasi-informasi baru, karena mereka tidak mau ketinggalan informasi dibandingkan orang-orang yang lebih muda. Dalam kenyataan kita menjumpai bahwa mereka banyak nonton televisi, mendengarkan radio, membaca koran, majalah ataupun bertanya kepada sesama lansia atau orang yang lebih muda tentang tentang hal-hal baru yang berkembang dalam masyarakat. Dalam kenyataan lansia lebih tahu berita baru dari orang-orang lain dan sangat senang menyampaikan berita baru tersebut kepada kawan-kawannya, maupun kepada yang lebih muda. Bagi lansia adanya informasi baru berarti menstimulasi fungsi kognitifnya, fungsi afektifnya dan fungsi psikomotoriknya yang membuat syaraf-syaraf otaknya tetap berfungsi secara normal.
Lansia Tidak Produktif dan Menjadi Beban Masyarakat
Umumnya lansia di negara-negara berkembang dan negara-negara yang belum memiliki tunjangan sosial untuk hari tua, akan tetap bekerja untuk memenuhi tuntutan hidup maupun mencukupi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya. Jadi tidaklah sepenuhnya benar jika dikatakan lansia tidak produktif. Dalam kenyataan di dunia ini jutaan orang bekerja mendapat bayaran, namun ada juga jutaan orang bekerja tanpa mendapat bayaran misalnya pemuka masyarakat, ulama, guru-guru ngaji, mereka yang merawat anak-anak, orang sakit, orang cacat, lansia yang sudah sangat tua, guru sukarelawan dan banyak lagi. Baik yang dibayar maupun yang tidak semuanya memiliki andil dan sumbangan yang besar dalam perkembangan masyarakat. Biasanya para lansia memainkan perannya sebagai orang-orang yang bekerja tanpa mendapat bayaran namun memiliki arti yang sangat penting dalam masyarakat karena sumbangan ide-ide dan nasehatnya. Dalam proses penuaan sendiri mereka sering menemukan cara-cara yang tepat dan bijaksana dalam mengatasi tantangan yang dihadapi. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika dalam banyak kasus, lansia seringkali merupakan penasehat yang jitu untuk mengatasi masalah-masalah sosial dalam kehidupan masyarakat. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa lansia amat memerlukan dukungan atau support dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Lansia bukan merupakan beban bagi yang muda, sebaliknya mereka sering menjadi teladan bagi orang muda, misalnya dalam sopan santun, disiplin, keteguhan iman, kejujuran, semangat juang, maupun kewibawaan.
Lansia Tidak Berdaya
Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa lansia itu tidak berdaya, sebab dalam kenyataan para lansia tetap eksis dan terus berjuang mencari kehidupan yang lebih baik. Kalau seorang lansia memerlukan bantuan biasanya ia tahu persis apa yang diperlukan secara wajar. Mereka memiliki banyak pengalaman dalam kehidupannya, sehingga dalam keseharian kita sering menjumpai bahwa lansia tidak mau tinggal diam, ada saja yang ingin dikerjakannya. Terkadang memang ada yang menjadi loyo atau pasrah, mereka ini umumnya lansia yang pada masa mudanya sudah terkuras oleh tugas-tugas berat dan tingkat pendidikan yang relatif rendah, sehingga dalam masa lansia tidak berdaya. Untuk menghadapi lansia model demikian, lingkungan hendaknya selalu memberikan support dan rasa peduli, agar mereka tidak merasa tersisih dan tetap memiliki harga diri. Adalah keliru jika anggota keluarga selalu mendampingi lansia, melarang mereka untuk berkomunikasi dengan sesama lansia, melarang mereka bepergian ke suatu tempat karena takut kecapaian, dan menganjurkan lansia untuk istirahat saja di rumah. Cara demikian justru akan memperburuk kondisi lansia yang berakibat bahwa mereka akhirnya merasa tak berdaya.
Lansia Tidak Dapat Mengambil Keputusan Untuk Kehidupan Dirinya
Setiap orang kadang-kadang sulit mengambil keputusan. Hal ini berlaku bagi siapa saja, baik bagi orang muda atau lansia. Namun demikian tidaklah berarti bahwa lansia tidak dapat mengambil keputusan untuk kehidupannya sendiri. Bahkan lansia sebagai orang yang dihormati, justru sering dijadikan referensi untuk dimintai nasehatnya oleh anak, cucu maupun sanak saudara, dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh seorang anak atau cucu bila masih memiliki kakek- nenek, bila akan mengadakan hajatan akan selalu minta doa restu dan nesehat dalam mengambil keputusan penting. Nasehat dari orang tua yang sudah lanjut usia ini akan dipegang teguh dan dilaksanakan oleh anak cucunya. Hal yang perlu diperhatikan agar lansia mampu mengambil keputusan untuk kepentingan kehidupan dirinya adalah dengan cara sering mengajaknya berdiskusi tentang hal-hal baru dan sering meminta petunjuk atau petuahnya sehingga ia merasa tetap eksis dan memiliki rasa percaya diri.
Lansia Tidak Butuh Cinta dan Relasi Seksual
Fungsi psikis setiap orang baik fungsi kognitif, afektif dan konatif (psikomotorik) serta kombinasi-kombinasinya, selama hayat masih dikandung badan masih tetap berfungsi. Proses pikir, perasaan dan kemauannya tetap berfungsi dengan baik, apalagi bila sering mendapat stimulasi secara teratur dalam kehidupannya. Bahkan relasi seksualpun tetap berjalan bila masih memiliki pasangan. Oleh karena itu, adalah tindakan yang keliru jika lansia dianjurkan untuk meng-isolasi diri agar tidak memiliki pikiran yang menyusahkan dirinya ataupun keinginan-keinginan yang menyusahkan orang lain. Agar gairah hidup tetap berkobar lansia perlu berinteraksi dengan orang-orang muda untuk berdiskusi, berkomunikasi atau bersuka ria. Sayangnya seringkali orang muda tidak tertarik untuk melakukan hal itu. Namun demikian bila orang-orang muda memiliki pemahaman yang benar tentang kebutuhan lansia dan mau membantu kesejahteraan batin mereka; hendaknya yang muda (terutama anggota keluarga) mau beramal untuk kepentingan lansia.
Lansia Tidak Menikmati Kehidupan Sehingga Tidak dapat Bergembira
Pada dasarnya tidak ada orang di dunia ini berencara untuk berhenti bersenang-senang, kecuali orang tersebut berada dalam kondisi depresi atau distress. Semua orang ingin hidup senang, bahagia dan sejahtera, termasuk para lansia. Lansia sekarang ini justru mendambakan kenikmatan hidup di hari tua. Itulah sebabnya sejak muda orang sudah bekerja keras, agar di hari tua nanti mendapat pensiun ataupun tabungan yang cukup untuk menikmati masa tuanya. Harapan itu merupakan idaman setiap orang, sehingga termotivasi untuk belajar dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi bahkan sekarang semua berlomba untuk belajar sampai S-3. Kiranya usaha keras untuk mencari ilmu pengetahuan bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan, sehingga nantinya memiliki hari tua yang sejahtera, dapat menikmati hidup hari tua dan bahagia atau menjadi lansia yang dapat bergembira.
Agar lansia dapat menikmati kehidupan di hari tua sehingga dapat bergembira atau merasa bahagia, diperlukan dukungan dari orang-orang yang dekat dengan mereka. Dukungan tersebut bertujuan agar lansia tetap dapat menjalankan kegiatan sehari-hari secara teratur dan tidak berlebihan. Dukungan dari keluarga terdekat dapat saja berupa anjuran yang bersifat mengingatkan si lansia untuk tidak bekerja secara berlebihan (jika lansia masih bekerja), memberikan kesempatan kepada lansia untuk melakukan aktivitas yang menjadi hobinya, memberi kesempatan kepada lansia untuk menjalankan ibadah dengan baik, dan memberikan waktu istirahat yang cukup kepadanya sehingga lansia tidak mudah stress dan cemas. Perlu dipahami bahwa setelah orang mencapai masa lansia, baik fisik maupun mental sosial secara perlahan mengalami perubahan, namun hal itu dapat ditahan agar perubahan tersebut tidak terlalu dirasakan sebagai penghambat dalam kehidupan. Perubahan-perubahan yang terjadi hendaknya jangan dijadikan sumber stress tetapi perlu diwaspadai dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara periodik. Kalau orang percaya bahwa dirinya sehat, maka ia akan memiliki gairah hidup yang baik dan tidak menunjukkan rasa khawatir yang berlebihan.
Lansia Lemah, Jompo, Ringkih, Sakit-sakitan atau Cacat
Tidaklah sepenuhnya benar pendapat yang mengatakan bahwa lansia lemah, jompo, ringkih, sakit-sakitan atau cacat, karena dalam kenyataan banyak lansia yang masih gagah, masih mampu bekerja keras bahkan banyak yang masih memiliki jabatan penting dalam suatu lembaga. Memang kadang-kadang ada lansia yang ringkih (gampang jatuh, gampang sakit) atau sakit ataupun cacat tetapi hal itu berlaku untuk semua orang, baik orang muda juga ada yang memiliki kondisi semacam itu. Kondisi kesehatan orang dalam masyarakat menurut paradigma kesehatan saat ini bergradasi dari : lebih sehat, sehat, sehat sakit (ill health), sakit dan cacat (impairment – disability – handicap). Kondisi kesehatan itu berlaku baik untuk anak, remaja, dewasa maupun lansia, jadi sebenarnya bukan lansia saja yang sakit-sakitan atau cacat, yang lain pun bisa demikian
Lansia Menghabiskan Uang untuk Berobat
Memang benar para lansia perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara periodik, namun bukan berarti bahwa mereka adalah orang yang sakit-sakitan. Untuk menjaga kesehatan tentu juga memerlukan obat, namun hal itu bukan berarti menghabis-habiskan uang untuk berobat. Perlu dipahami bahwa orang dalam perjalanan hidup sampai usia 70 ke atas pasti kadar gula, garam,dan lemak dalam tubuh sudah lebih banyak, sehingga mudah menjadi rentan terhadap penyakit kencing manis, stroke, jantung atau yang lainnya. Namun semuanya akan dapat dikontrol bila orang rajin memeriksa kesehatan. Lansia yang paham tentang kondisi dirinya tentu juga akan mengatur hidupnya secara lebih baik, misalnya makan tidak berlebihan, melakukan diet, tidak melakukan kegiatan-kegiatan secara berlebihan, sehingga memperkecil timbulnya penyakit. Lansia umumnya tahu diri dan faham dalam menjaga dan memelihara kesehatan dirinya yang ditunjukkan bentuk rajin olah raga ringan, rajin beribadah dan peduli terhadap kesehatannya.
Lansia Sama Dengan Pikun
Pandangan ini keliru karena tidak semua lansia mengalami pikun (senile). Pikun ini adalah penyakit (patologis) pada orang tua, yang ditandai dengan dengan menurunnya daya ingat jangka pendek. Dalam kehidupan manusia daya ingat akan berubah sesuai dengan usia, sehingga setelah orang menjadi lansia ia tidak cepat dapat mengingat sesuatu, terutama hal yang baru. Namun anggapan bahwa lansia sama dengan pikun merupakan suatu kekeliruan. Banyak cara menyesuaikan diri dengan perubahan daya ingat dan banyak hal yang mempengaruhi daya ingat manusia, pada usia berapa saja daya ingat tersebut akan berkurang ketajamannya jika orang trsebut dalam keadaan lelah, stress, cemas, khawatir, depresi, sakit atau jiwanya tidak tenang.
Demi menjaga agar daya ingat lansia tidak cepat berubah secara frontal, karena kondisi fisik dan usia, maka perlu dihindarkan atau paling tidak dikurangi dari hal-hal yang dapat menimbulkan kelelahan, kekawatiran, kecemasan, rangsangan emosi, depresi dan sakit. Disinilah kepedulian dari orang yang lebih muda sangat diperlukan sebagai kontrol agar lansia tidak melakukan hal-hal yang merugikan dirinya. (jp)

MDGs: Standard Penilaian Perkembangan Negara


Berdasarkan laporan "A Future Within Reach" maupun laporan MDGs (Millenium Development Goals) Asia Pasifik tahun 2006, Indonesia menempati kategori terbawah bersama Bangladesh, Laos, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Papua Nugini, dan Filipina (Kompas, 2007). Beberapa tahun yang lalu, Indonesia telah menempati kategori sebagai negara berkembang, Namun berdasarkan laporan di atas, nampaknya kini predikat tersebut tidak lagi melekat. Negara Indonesia kini mengalami kemunduran yang cukup signifikan pada berbagai aspek pembangunan.
Apakah yang menjadi dasar penilaian negara-negara di Asia Pasifik ini? Dasar penilaian yang digunakan adalah MDGs. MDGs adalah sebuah arahan untuk mencapai perkembangan milenium yang wajib diikuti oleh seluruh negara di dunia. MDGs berisi 8 buah tujuan pembangunan milenium, beserta target dan indikatornya masing-masing, dilengkapi dengan strategi dan variabel pendukung lainnya. Dalam MDGs, dibahas mengenai penanganan kemiskinan yang bersifat ekstrim, hingga rencana penghentian penyebaran HIV/AIDS, dan pengadaan pendidikan dasar yang bersifat universal. Target pencapaian MDGs untuk seluruh negara di dunia adalah pada tahun 2015 ( UNDP, 2007).
8 buah tujuan pembangunan milenium dalam MDGs berdasarkan UNDP / United Nations Development Programme (2007) adalah sebagai berikut:
1. Menghapuskan Kemiskinan dan Kelaparan yang bersifat ekstrim
Target:
1. Selama tahun 1990 sampai dengan tahun 2015 berhasil mengurangi setengah dari jumlah penduduk yang memiliki pendapatan kurang dari $1 per hari.
Indikator:
1. Jumlah populasi penduduk yang memiliki pendapatan kurang dari $1 per hari (World Bank).
2. Ratio perbedaan kemiskinan, $1 per hari (World Bank).
3. Peningkatan penghasilan pada kelompok populasi rakyat miskin (World Bank).
2. Selama tahun 1990 sampai dengan tahun 2015 berhasil mengurangi setengah dari jumlah populasi penduduk yang menderita kelaparan.
Indikator:
4. Fakta anak-anak di bawah 5 tahun yang berat badannya kurang dari berat badan proposional yang seharusnya dicapai (berdasarkan usianya) (UNICEF / United Nations International Children’s Fund).
5. Jumlah populasi yang termasuk dalam kategori meng-Konsumsi Energi Makanan/Dietary Energy Consumption dibawah batas minimum yang seharusnya (FAO / Food and Agriculture Organization).
2. Memperoleh pendidikan dasar yang bersifat universal
Target:
3. Memastikan pada tahun 2015, seluruh anak-anak dimanapun baik perempuan dan laki-laki mampu menyelesaikan seluruh pelajaran di sekolah dasar.
Indikator:
6. Perbandingan bersih pendaftaran di Pendidikan Dasar (UNESCO / United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization).
7. Jumlah murid dari tingkat 1 (kelas 1 SD) yang berhasil mencapai tingkat 5 (kelas 6 SD) (UNESCO).
8. Jumlah penduduk usia 15 – 24 tahun yang mampu membaca / tidak buta huruf (UNESCO).
3. Mendukung persamaan gender dan pemberdayaan wanita
Target:
4. Menghapuskan perbedaan gender pada tingkat pendidikan dasar dan menengah pertama yang diharapkan tercapai pada tahun 2005, dan pada seluruh tingkatan pendidikan selambat-lambatnya pada tahun 2015.
Indikator:
9. Perbandingan antara jumlah perempuan dan laki-laki di pendidikan / sekolah dasar, lanjutan pertama, dan menengah atas (UNESCO).
10. Perbandingan jumlah wanita dan laki-laki usia 15-24 tahun yang mampu membaca (tidak buta huruf) (UNESCO).
11. Pemberian gaji karyawan wanita pada sektor non Agrikultur
12. Proporsi wanita yang duduk bangku di parlemen nasional (IPU / Inter-Parliamentary Union).
4. Mengurangi angka kematian anak
Target:
5. Mengurangi 2/3 angka kematian anak-anak dibawah usia 5 tahun antara tahun 1990 dan 2015.
Indikator:
13. Angka kematian dibawah usia 5 tahun (UNICEF)
14. Angka kematian bayi (UNICEF)
15. Proporsi anak umur 1 tahun yang di-imunisasi campak / cacar air.
5. Memajukan kesehatan kaum ibu hamil
Target:
6. Mengurangi ¾ ratio angka kematian ibu hamil antara tahun 1990 dan 2015.
Indikator:
16. Ratio angka kematian ibu hamil (WHO / World Health Organization).
17. Proporsi angka kelahiran bayi yang ditangani oleh para ahli di bidang kesehatan / tenaga medis (UNICEF).
6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya
Target:
7. Menghentikan munculnya kasus baru terjangkit HIV/AIDS dan mulai mengurangi penyebaran HIV/AIDS pada tahun 2015.
Indikator:
18. Penyebaran HIV pada wanita hamil berusia 15-24 tahun (UNAIDS / United Nations Programme on HIV/AIDS).
19. Angka penggunaan kondom sebagai bagian dari penggunaan alat kontrasepsi dan jumlah populasi berusia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan mengenai HIV/AIDS secara benar dan mendalam (UNAIDS, UNICEF, UN / United Nations Population Division, WHO).
19a. Penggunaan kondom sebagai langkah terakhir ketika melakukan seks beresiko tinggi.
19b. Prosentase dari populasi usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan mengenai HIV/AIDS secara benar dan mendalam (UNICEF/WHO)
19c. Angka penggunaan alat kontraseptif (UN Population Division)
20. Perbandingan antara anak-anak sekolah berusia 10-14 tahun yang yatim piatu dan yang bukan yatim piatu.
8. Mulai mengurangi terjadinya penyakit malaria dan penyakit-penyakit serius ainnya dan berhasil menghentikan penyebaran pada tahun 2015
Indikator:
21. Angka kejadian dan kematian sehubungan dengan malaria (WHO).
22. Proporsi populasi di daerah yang ber-resiko terjangkit malaria dengan menggunakan cara pencegahan dan alat-alat pengobatan malaria yang efektif.
23. Angka kejadian dan kematian sehubungan dengan TBC / Tuberculosis (WHO).
24. Proporsi kasus TBC yang terdeteksi dan sembuh di bawah observasi langsung pada kelas treatment pengobatan jangka pendek (WHO).
7. Menjamin pelestarian / kelangsungan lingkungan hidup
Target:
9. Menyatukan prinsip perkembangan pelestarian lingkungan hidup ke dalam kebijakan dan program-program negara; upaya mengembalikan sumber alam yang hampir punah .
Indikator:
25. Prosentase tanah yang mengalami penghijauan dari lahan tanah yang ada (FAO).
26. Perbandingan luas daerah /lahan yang dilindungi untuk memelihara perkembangan biologi dari luas daratan (UNEP / United Nations Environment Programme).
27. Pasokan energi (banyaknya enegi yang digunakan diukur dalam suatu persamaan Kg minyak ) per $1,000 (PPP / Purchasing Power Parity) GDP / Gross Domestic Product (World Bank).
28. Penghasilan karbondiosida (per kapita) dan konsumsi penghabisan ozone CFCs (ODP / Ozone Depleting Potential tons).
29. Proporsi populasi yang menggunakan bahan bakar solid (WHO).
10. Pada tahun 2015 Mengurangi setengah dari proporsi populasi yang tidak memiliki akses air minum yang bersih dan keperluan sanitasi dasar secara konsisten.
Indikator:
30. Proporsi dari populasi yang memiliki akses sumber air yang konsisten dan lebih baik (WHO/UNICEF).
31. Proporsi dari populasi yang memiliki akses untuk sanitasi yang lebih baik.
11. Pada tahun 2020, berhasil mencapai peningkatan hidup yang signifikan sekurang-kurangnya 100 juta penduduk yang hidup di perkampungan miskin dan kotor.
Indikator:
32. Populasi penduduk yang hidup di perkampungan miskin dan kumuh sebagai bagian dari penduduk kota (secure tenure index) (UN Habitat).
8. Mengembangkan kerjasama global untuk perkembangan
Target:
12. Mengembangkan lebih jauh perdagangan dan sistem keuangan yang terbuka, berdasarkan aturan, terprediksi dan tidak bersifat diskriminatif. Termasuk komitment untuk tata kelola yang baik, perkembangan dan penurunan kemiskinan baik nasional maupun internasional
13. Menangani kebutuhan-kebutuhan khusus dari negara-negara kurang berkembang. Termasuk : Akses pembebasan tarif dan quota untuk export negara-negara yang kurang/belum berkembang; meningkatkan program keringanan pinjaman untuk HIPCs / Heavily Indebted Poor Countries dan pembatalan pinjaman bilateral; dan pemberian bantuan yang lebih dari ODA / Official Development Assistance pada negara-negara yang berkomitmen untuk memgurangi kemiskinan.
14. Menangani kebutuhan-kebutuhan khusus dari landlocked country dan negara kepulauan kecil yang berkembang.
15. Menangani masalah pinjaman negara-negara berkembang secara mendalam melalui ukuran nasional dan internasional dalam rangka mengelola uang pinjaman dalam jangka panjang.
16. Dalam kerjasama dengan negara-negara berkembang, mengembangkan dan menerapkan strategi-strategi untuk pekerjaan yang layak dan produktif bagi pemuda dan pemudi.
17. Dalam kerjasama dengan perusahaan-perusahaan farmasi, menyediakan akses untuk mendapatkan obat-obatan penting dengan harga terjangkau bagi negara-negara berkembang.
18. Dalam kerjasama dengan sektor swasta, menyediakan keunggulan–keunggulan teknologi-teknologi baru khususnya di bidang informasi dan komunikasi.
Indikator:
Official Development Assistance (ODA)
33. Hasil bersih ODA sebagai prosentase bagian dari penghasilan kotor produk nasional negara pendonor OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) / DAC ( Development Co-operation Directorate) (target dari 0.7% dalam total dan 0.15% untuk LDCs / Least Developed Countries).
34. Proporsi ODA untuk layanan sosial mendasar ( pendidikan dasar, layanan kesehatan yang utama, nutrisi, menjaga air bersih, dan sanitasi).
35. Proporsi ODA yang tidak terikat.
36a. Proporsi ODA untuk lingkungan hidup di negara kepulauan kecil yang berkembang.
36b. Proporsi ODA untuk sektor transport di negara yang tertutup.
Market Access
37. Proporsi ekspor-ekspor (berdasarkan nilai dan tidak termasuk senjata-senjata) bebas pajak dan kuota.
38. Tarif dan kuota rata-rata untuk produk agrikultur, tekstil, dan pakaian.
39. Subsidi agrikultur domestik dan ekspor di negara-negara OECD.
40. Proporsi dari ODA yang disediakan untuk membantu membangun kapasitas perdagangan.
Debt Sustainability
41. Proporsi atas pembatalan pinjaman official billateral HIPC / Heavily Indebted Poor Countries.
42. Jumlah total negara-negara yang mencapai poin-poin decision HIPC dan jumlah yang mencapai poin-poin completion (kumulatif) (HIPC) (World Bank-IMF / International Monetary Fund).
43. Layanan pinjaman dalam prosentase ekspor barang-barang dan jasa (World Bank)
44. Pemberian pinjaman di bawah inisiatif HIPC (HIPC) (World Bank-IMF)
45. Pengangguran berusia 15-24 tahun: per jenis kelamin dan total (ILO / International Labour Organization).
46. Proporsi populasi dengan akses untuk memperoleh obat-obatan penting dengan harga terjangkau secara konsisten (WHO).
47. Langganan jaringan telepon dan selular per 100 populasi (ITU / International Telecommunication Union).
48. Pengguna Personal Computer (PC) dan internet per 100 populasi (ITU).
Kedelapan buah tujuan beserta target dan indikator inilah yang dijadikan standard ukuran keberhasilan bagi negara-negara di dunia dalam membangun negaranya, tentunya termasuk juga di dalamnya adalah negara Indonesia. Berhasil atau tidaknya negara Indonesia mencapai target MDGs di tahun 2015, tergantung pada sejauh mana kesadaran masyarakat dan pemerintah Indonesia untuk bekerjasama membangun negara yang lebih kondusif dan lebih baik. Oleh karena itu, masing-masing individu sebagai warga negara Indonesia, sesungguhnya wajib untuk memikirkan dan melakukan sesuatu yang dapat membangun negara ini menjadi lebih baik dilihat dari berbagai aspek pembangunan.
Catatan Singkatan-Singkatan Kata:
CFCs : Chlorofluorocarbons
DAC: Development Co-operation Directorate
FAO : Food and Agriculture Organization
HIPCs : Heavily Indebted Poor Countries
ILO: International Labour Organization
IPU: Inter-Parliamentary Union
ITU: International Telecommunication Union
LDCs: Least Developed Countries
ODA : Official Development Assistance
ODP : Ozone Depleting Potential
OECD : Organization for Economic Co-operation and Development
TBC : Tuberculosis
UN : United Nations
UNAIDS : United Nations Programme on HIV/AIDS
UNDP: United Nations Development Programme
UNEP: United Nations Environment Programme
UNESCO : United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization
UNICEF : United Nations International Children’s Fund
WHO: World Health Organization
PPP: Purchasing Power Parity
GDP: Gross Domestic Product
IMF: International Monetary Fund