Tampilkan postingan dengan label PSikoloGI Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSikoloGI Dewasa. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2010

FRIENDS WITH BENEFITS


Di saat sekarang ini "Friends With Benefits" sedang membudaya di kalangan muda di kampus-kampus atau di perguruan tinggi. Orang-orang sudah banyak yang muak dan bosan dengan sebuah relationship yang "konvensional". Pacaran sudah dianggap kurang memfasilitasi lagi institusi hubungan sebuah pasangan. Banyak yang kecewa dengan pola pacaran yang selalu ‘mengikat’ atau ‘membelenggu’ orang yang menjalin kasih tapi begitu-begitu aja.

Masalahnya, pacaran membuat kebebasan individu menjadi terkekang sehingga sulit bagi mereka yang sedang menjalani hubungan tersebut untuk menjadi dirinya sendiri. Padahal secara mendasar kita jatuh cinta pada seorang lelaki atau pada seorang perempuan karena jati diri orang tersebut yang berbeda dengan kita. Tapi lantas mengapa kita tiba-tiba ingin membuat orang tersebut jadi seperti yang kita inginkan dan bukan menjadi dirinya sendiri?

Kini banyak orang yang beralih pada sebuah hubungan "Friends With Benefits" atau biasa disingkat "F.W.B". Bagi sebagian orang, FWB lebih ideal dibandingkan suatu hubungan selingkuh (affair) atau "one-night-stand". Kadar stress dalam hubungan FWB lebih rendah dan lebih membebaskan. Maka dari itu, biasanya hubungan seperti ini bisa berumur lebih panjang dibandingkan sebuah relationship yang konvensional.

Friends With Benefits adalah sebuah hubungan "teman" yang sangat dekat tanpa melibatkan harapan (expectation) satu sama lainnya. Dalam hubungan ini perjalinan yang dibangun meliputi berbagi suka duka, diskusi intelektual, atau sekedar main bersama. Pada akhirnya, sebagaian FWB ini membawa pada sebuah hubungan yang lebih intim diantara dan dapat berakhir pada suatu hubungan seksual. This is why the relationship then sometimes called as "Friend With Benefits". Ratu menyebutnya "Teman Tapi Mesra".

Fwb
Dalam hubungan FWB, sentilan "romantisme" lebih cenderung sedikit tapi mempunyai karakteristik utama yang sangat dominan; bahwa satu orang merasa mempunyai perasaan yang lebih dibandingkan yang lainnya. Prinsip dasar FWB adalah "keterbukaan" (openness); dimana pasangan teman tersebut berbagi  tentang segala macam tanpa rasa malu atau canggung. Dan dalam setiap perbincangan selalu ada "sesuatu". "In every conversation, there’s always innuendo".

Penelitian dari Michigan State University melaporkan bahwa hampir setiap dari mahasiswa yang ada di kampus tersebut pernah merasakan pengalaman ber-FWB. Professor Paul Mongeau menyebutkan bahwa FWB merupakan suatu jenis hubungan sosial intim yang jarang dibahas oleh kebanyakan orang. Kebanyakan orang menganggap bahwa FWB ini merupakan "affair" atau kadang2 disebut "HTI" atau Hubungan Tanpa Ikatan.

Melissa Bisson dan Professor Timothy Levine dari Michigan State University melakukan survey dan mengumpulkan 125 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dari semuanya, sekitar 60 persen pernah melakukan FWB. Satu banding sepuluh merubah hubungan tersebut menjadi sebuah hubungan yang lebih romantis, sepertiganya berhenti melakukan "seks" tapi meneruskan pertemanan. Satu dari empat orang mengentikan semuanya; seks dan pertemanan. Sisanya, terus meneruskan hubungan FWB.

Sex
Pada dasarnya, orang-orang yang melakukan FWB ini tidak menyukai "komitmen" dan menghindari jauh-jauh komitmen ini. Satu-satunya yang dikhawatirkan dalam FWB ini adalah jika salah satu pasangan tersebut kemudian menjadi jatuh hati karena hubungan yang intim ini.Untuk terus bertahan, fondasi dasarnya adalah "pertemanan" dan bukan "romance".

FWB bersifat "hidden" atau tersembunyi. Ia jarang dilaporkan dan jarang dibahas. Pasangan yang ditanya biasanya hanya menjawab…"Ia hanya seorang teman" atau "We’re just friends..no more". Makanya pertemanan FWB sebenernya adalah sebuah payung (umbrella) suatu aktivitas seksual. Dalam hal ini, maka status suatu hubungan tidaklah penting, yang penting adalah "benefit" dari hubungan tersebut.

Pasangan dari FWB bisa jadi dari suatu teman biasa, sahabat, atau mantan pacar (x-boy/girl friends) yang biasa ketemuan atau nongkrong bareng. Bahkan dalam situasi tertentu, ia bisa jadi seorang yang tidak dikenal dan intimacy tersebut akhirnya bisa terjalin dari kualitas perbicangan tersebut.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan FWB selain dari hubungan pacar yang konvensional atau membosankan, adalah karena sifat bawaan individu tersebut yang secara naluriah mempunyai instinct seksual dan persahabatan. Selain itu juga, komitmen, baik itu pernikahan atau sekedar pacar biasa, sering terbukti tidak mampu lagi menjawab kebutuhan-kebutuhan pribadi manusia yang hidup di jaman sekarang. Makanya, kita sekarang sangat wajib mempertanyakan dulu arti "komitmen" sebelum kita menawarkannya kepada orang yang kita inginkan. Sebelum akhirnya hubungan itu menjadi basi (expired) dan merusak diri kita sendiri.

Dua minggu yang lalu, saya bertemu sepasang suami isteri yang sudah menikah selaa 34 tahun dan tetap masih hidup bahagia. Mereka tinggal di rumah yang mewah, uang banyak, dua anaknya disekolahkan di Australia, dan mereka aktif dalam kegiatan sosial dan spiritual. Ketika saya tanya rahasia keawetan hubungan mereka bukanlah sekedar hubungan sosial mereka dengan orang lain dan bukan juga karena faktor agama atyau spiritualitas yang menyemangati jiwa mereka…tapi keyakinan mereka tentang suatu komitmen yang ekstrim.

Komitmen yang mereka yakini bukanlah kewajiban pasangan-pasangan yang terkait untuk menjadi "loyal" atau setia satu sama lain dan tidak melirik laki-laki atau perempuan lain. Dan bukan juga aturan-aturan main yang sering diterapkan oleh kebanyakan pasangan konvensional atau mereka yang sudah menikah secara konvensional dan tradisional.

Komitmen yang mereka yakini bersama adalah komitmen untuk "membebaskan dirinya masing-masing". Si pasangan tidak diperkenankan untuk dilarang melakukan ini atau itu, atau menghakimi pasangan dengan mengatakan "saya kurang suka kalau kamu melakukan anu atau melakukan anu…". Dengan membebaskan jiwa pasangan, berarti memberikan tanggung jawab pribadi dengan apa yang hendak ia bangun untuk dirinya sendiri dan untuk pasangannya ke depan. Dalam hal ini, konsep membebaskan pasangan berkaitan dengan prinsip konstruktivisme sosial; yaitu prinsip yang meyakini bahwa setiap individu mempunyai kesadaran sosial dan tanggung jawab sendiri untuk mebuat dirinya menjadi lebih baik bagi dirinya sendiri dan bagi orang yang dia cintai.

Kebanyakan kesalahan kita dalam mencintai ialah kita seringkali menginginkan orang yang kita cintai menjadi orang yang kita inginkan dan melupakan orang yang kita cintai tersebut untuk menjadi dirinya sendiri.

Saya terkagum mendengar kisah pasangan yang saya temui tersebut, karena dengan prinsip yang mereka pegang tersebut pada akhirnya mereka telah membebaskan satu sama lain untuk menjadi manusia apa adanya. Dengan kebebasan yang diberikan itulah akhirnya cinta dapat tumbuh dan terus bersatu tanpa harus adanya paksaan atau keharusan.

"Kita jatuh cinta pada orang yang kita cintai pertama kali kan karena jati diri orang tersebut yang memberikan impresi luar biasa pada diri kita….. Lantas kenapa kita harus merubahnya menjadi orang yang kita buat-buat sendiri?" Sang suami yang berprofesi sebagai desainer interior tersebut. Bagi dia, pernikahan bukanlah yang paling utama, tapi "hubungan" (relationship) lah yang paling utama. Untuk terus bertahan, kita harus menitik beratkan pada pola dan kualitas hubungan dengan pasangan kita. Memperkaya dikusi intelektual, saling menolong tanpa berharap kembali, melakukan suatu aktivitas bersama-sama, dan pada akhirnya menikmati hasil dari keintiman tersebut.



Baik FWB maupun hubungan dengan "komitmen bebas" (mungkin ini bahasa yang bisa saya pakai untuk menjelaskan jenis hubungan yang terakhir) adalah dua indikasi bahwa hubungan asmara konvensional sudah perlu didaur ulang atau diperbaiki kembali. Untuk yang pertama (FWB), saya masih ngerasa "gak masuk" tapi yang kedua….boleh dicoba! Nah, kalo kamu lebih memilih yang gaya hubungan yang seperti apa? Alasannya? terus Berhasil gak?

Membalas Kebencian dengan Kasih Sayang

Meskipun aku sudah sering membacanya berulang-ulang kali, nilai kebijaksanaan dari kisah yang ditulis oleh guruku ini selalu bermanfaat bagiku. Jika hati kita merasa tersakiti oleh seseorang atau sekelompok orang, artikel ini mungkin bisa memberikan alternatif berpikir untuk bereaksi terhadap orang yang membenci kita. Kisah dalam tulisan ini barangkali tidak bisa dibuktikan secara empiris dan bisa dikatakan ‘tidak masuk akal’ (nonsense) dalam tingkatan interpretasi tertentu. Tapi, dalam prakteknya, jika kita dapat mengambil inti dari kisahnya, cara yang diajarkan dalam kisah ini sudah sering dapat membantu mereka yang meyakininya untuk menciptakan perubahan yang baik dalam kehidupan sosial mereka. Kebencian dibalas dengan kebencian, sudah tidak mempunyai tempat dalam kehidupan sosial sekarang. Pola dendam hanya akan mengakibatkan kerusakan, baik bagi orang tersebut maupun bagi lingkungan sosialnya. Selamat Membaca!

MEMBALAS KEBENCIAN DENGAN KASIH SAYANG
KH.  Jalaluddin Rakhmat

Salah seorang di antara tokoh besar dalam dunia kesucian adalah orang Mesir yang bernama Dzunnun. Karena ia berasal dari Mesir, maka ia dikenal dengan sebutan Dzunnun Al-Mishri, Dzunnun Si Orang Mesir.

Ketika ia masih hidup, orang-orang tidak mengenalnya sebagai orang yang dekat dengan Allah. Ia malah lebih banyak dicela dan dicemooh orang karena dianggap kafir, ahli bid’ah, dan orang murtad. Ia tidak pernah membalas semua tuduhan itu dengan kemarah-an atau serangan balik. Ia bahkan menunjuk-kan dirinya seakan-akan ia mengakui seluruh celaan itu. Selama ia hidup, orang-orang tidak mengetahui bahwa Dzunnun adalah salah seorang di antara waliyullah, kekasih Allah. Orang mengetahui kedekatannya dengan Tuhan setelah Dzunnun meninggal dunia.

Menurut Al-Hujwiri, pada malam kematian Dzunnun, tujuh puluh orang bermimpi melihat Rasulullah saw. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda, “Aku datang menemui Dzunnun, sang wali Allah.” Sesudah kematian-nya, konon di atas keningnya tertulis: Inilah kekasih Tuhan, yang mati karena mencintai Tuhan, dan dibunuh oleh Tuhan.

Masih menurut Al-Hujwiri, pada saat penguburan Dzunnun, burung-burung di angkasa berkumpul di atas kerandanya sambil mengembangkan sayap mereka seakan-akan ingin melindungi jenazahnya. Pada saat itulah orang-orang Mesir menyadari kekeliruan mereka dalam memperlakukan Dzunnun selama ini.

Ada banyak kisah tentang Dzunnun dan hampir semua kisah hidupnya itu menjadi pelajaran yang amat berharga. Kisah-kisah itu menjadi petunjuk bagi kita dalam mendekati Allah swt. Di antara kisah-kisah yang dituturkan tentang Dzunnun adalah satu kisah ketika ia berlayar bersama para santrinya dengan sebuah perahu di atas sungai Nil.

Alkisah, pada suatu hari, berlayarlah mereka di sungai Nil. Yang sedang berekreasi di sungai itu bukan hanya orang-orang saleh seperti Dzunnun dan para santrinya, tetapi juga orang-orang yang menggunakan rekreasi sebagai alat untuk melakukan kemaksiatan. Di tengah jalan, bertemulah dua kelompok perahu yang mempunyai “ideologi” yang berbeda itu. Pada perahu yang satu, terdapat Dzunnun, sang kiai, bersama para santrinya. Mereka melantunkan zikir kepada Allah swt. Pada perahu yang lain, ada sekelompok anak muda yang memetik gitar, berhura-hura, berteriak-teriak, dan berperilaku yang menjengkelkan santri-santri Dzunnun.

Karena para santri percaya bahwa doa-doa Dzunnun pasti diijabah, mereka meminta Dzunnun untuk berdoa kepada Allah supaya perahu anak-anak muda itu ditenggelamkan Tuhan jauh ke dasar sungai Nil. Dzunnun lalu mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan orang-orang itu kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka satu kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti.

Santri-santrinya tercengang. Semula mereka berharap Dzunnun akan mendoakan anak-anak muda yang ugal-ugalan itu agar ditenggelamkan Tuhan karena anak-anak muda itu memandang kehidupan hanya semata-mata kesenangan saja. Tapi aneh bin ajaib, Dzunnun hanya berdoa seperti di atas. Para santri terkejut mendengar doa Dzunnun.

Ketika perahu anak-anak muda itu mendekat, mereka melihat Dzunnun ada di perahu itu. mereka menyesal dan meminta maaf. Entah bagaimana, memandang wajah Dzunnun membawa mereka kepada kesucian. Mereka meremukkan alat-alat musik mereka dan bertaubat kepada Tuhan.

Waktu itulah Dzunnun memberi pelajaran kepada para santrinya, “Kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti adalah bertaubat di dunia ini. Dengan cara begini, kalian dan mereka puas tanpa merugikan siapa pun.”

Kita tertarik dengan cerita Dzunnun ini. Kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada orang-orang di sekitar kita. Seringkali setelah kita menjalani kehidupan yang baik, kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa membalas kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi. Untuk itu kita sering menutup-nutupinya dengan berkata, “Supaya ini jadi pelajaran bagi mereka.”

Dzunnun melanjutkan tradisi para rasul Tuhan yang mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang dilakukan orang lain dengan kebaikan. Bayangkanlah ketika Anda berdoa supaya saingan Anda hancur, agar musuh Anda binasa, Anda akan memperoleh satu manfaat saja: Kepuasan hati karena hancurnya saingan Anda. Tapi ketika Anda berdoa: Ya Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang, Anda akan mendatangkan manfaat kepada semua orang. Sama seperti doa Dzunnun Al-Mishri.

Dahulu, Nabi Isa as beserta murid-muridnya lewat di depan rombongan pemuda yang ugal-ugalan juga. Mereka bukan saja melakukan tindakan-tindakan maksiat ketika kelompok Nabi Isa datang, mereka juga malah melemparkan batu ke arah Nabi Isa. Nabi Isa berhenti dan memandang mereka untuk kemudian mendoakan kebaikan bagi mereka.

Murid-muridnya bertanya, “Mereka melempari batu ke arahmu tapi mengapa engkau malah membalas dengan doa yang baik?” Nabi Isa menjawab, “Itulah bedanya kita dengan mereka. Mereka kirimkan kepada kita keburukan dan kita kirimkan kepada mereka kebaikan.”

Rasulullah saw dilempari orang di Thaif ketika beliau mengajak mereka kepada Islam sampai kakinya berlumuran darah. Ketika malaikat datang kepadanya menawarkan untuk menimpakan gunung di atas orang-orang yang menyerangnya, Nabi hanya berkata: Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.

Dzunnun Al-Mishri mengajari kita tradisi para nabi dan orang-orang saleh; membalas kejelekan dengan kebaikan. Jadilah kita seperti pohon Mangga di tepi jalan, yang dilempari orang dengan batu tetapi ia mengirimkan kepada si pelempar itu, buah yang telah ranum. Ahsin kamâ ahsanallâhu ilaik, berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.

Di antara perbuatan baik yang sangat tinggi nilainya adalah membalas keburukan orang kepada kita dengan kebaikan. Ini bukanlah suatu hal yang mustahil, melainkan ini adalah ajaran kesucian yang akan membawa kita lebih dekat kepada Allah swt.

Mencari Kebahagiaan


Semua orang mencari kebahagiaan. Ada yang mengartikan bahwa mencari kebahagaiaan itu mencari kesenangan. Berkumpul bersama keluarga, nongkrong dan berjalan-jalan bersama teman-teman, ngerumpi ngerokok dan ngopi bareng, bermain musik atau menonton konser band terkenal, minum alkohol atau menghabiskan waktu dengan orang yang kita cintai. Menurut Deepak Chopra, yang baru saya sebutkan tadi itu bukanlah kebahagiaan, tapi kesenangan yang semu. Dalam artian kesenangan yang datang dan pergi (ephemeral satisfaction). Menurutnya, mencari kebahagiaan itu tidak dengan mencari aktivitas-aktivitas yang adiktif dan bersifat sementara. Melainkan ,ialah kita mencari akar dari kebahagiaan tersebut. Pandangannya sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh para psikolog modern maupun para Sufi abad pertengahan. Mencari akar kebahagiaan dapat diraih dengan mengenal siapa diri kita.

The questions such "Who am I?" dan "Where do I come from?", merupakan dasar dari pertanyaan mencari kebahagiaan. Dengan demikian, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa kita dapatkan dari luar sana; apakah itu sesuatu atau seseorang. Melainkan, sesuatu yang sudah kita miliki sejak lahir. Kita  belum menyadari bahwa kita memiliki akar kebahagiaan itu, karena kita belum menyadari siapa diri kita sebenarnya. Niscaya, kita tidak akan pernah bisa raih bahagia jika  kita tidak pernah berusaha mengenal siapa diri kita sesungguhnya. Jalaludin Rumi selalu berkata, "Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya". Dalam kalimat itu, "Tuhan" tidak saja diartikan sebagai Zat Yang Maha Kuasa yang tidak bisa diraihi oleh akal manusia, tapi juga "Sumber" dari segala ide tentang kehidupan.

The quest for happiness will never end until we reach the state of being ourselves. Jalan menuju kesana harus dilalui dengan segala kepedihan dan penderitaan. Tidak berarti kita harus melupakan kesenangan dalam hidup. Rumi menganalogikan Kesenangan (Joy) dan Penderitaan (Sorrow) dengan "Dua Sayap Malaikat". Untuk mencapai hakikat manusia yang berbahagia, both Joy and Sorrow harus dialami olehmanusia. Malaikat tidak bisa terbang hanya dengan satu sayap. Ia juga tidak bisa terbang jika salah satu sayapnya tidak seimbang atau rusak. Manusia berbeda dengan Malaikat dalam hal bersih dari dosa dan dalam kemampuan untuk berpikir bebas, tapi manusia dan malaikat sama-sama mempunyai sayap. Hanya saja, sayap manusia tidak dapat dilihat secara fisik (intangible). Sayap-sayap itulah yang menentukan kualitas manusia dalam menjalani hidup. Untuk bisa ‘terbang’ menuju langit kebahagiaan, kita harus memakan asam dan manisnya kehidupan di dunia ini. Berpikiran picik dan negatif dalam hidup hanya membuat kita terus hidup dalam daratan. Dengan demikian, jiwa kita akan mati seiring dengan matinya bumi. Jika kita bisa terbang, jiwa kita akan terus abadi terbang dan melayang.

Aku sendiri belum yakin betul dengan interpretasiku itu. Hidupku sekarang sedang sangat sulit, terkadang malah buntu. Tapi, aku yakin bahwa apa yang pengalaman sulit yang sedang aku alami sekarang adalah modal untuk menemukan kebahagiaan abadi di masa yang akan datang. Dengan kata lain, jika kita sudah menemukan jati diri kita  sesungguhnya, maka kebahagiaan bisa didapatkan pada setiap pojok kehidupan. Semua kesenangan yang bersifat sementara akan menjadi abadi sepanjang hidupnya jiwa kita di alam semesta ini.

Dedicated to Rahma, my little angel. Soon you will find the happiness in any form of life from anything and from anyone, moreover it is lies within yourself

Mencari Tuhan, Mencari Pacar, Mencari Isteri

Salah satu temanku yang mengaku dirinya seorang Ateis bertanya, “Apa alasan kamu meyakini bahwa Tuhan itu ada?”. Aku tanya dia balik “kenapa bertanya begitu?”. “Aku harap kamu tidak keberatan untuk menjawab pertanyaan sederhanaku, aku hanya aneh saja melihat orang-orang seperti kamu yang meyakini sesuatu yang diada-adakan”, tekasnya.“Maksudmu?” aku bertanya lagi.“Bagiku Tuhan, sebagaimana Agama, hanya dianggap penting karena kalian menganggapnya seolah-olah penting. Dengan kata lain, kalianlah yang meciptakan Tuhan kalian sendiri!”, tegasnya.“Ohh..itu maksudmu. Bagaimana dengan Cinta, Benci, Kagum, dan perasaan-perasaan luar biasa manusia lainnya?” Apakah kamu meyakini semuanya ada?” Aku tanya balik padanya.“Have you ever been in Love?” Aku tanya lagi. “Yes!” Dia menjawab. “So where is the Love?” aku tanya dia lagi. “I can’t tell you where it is…I think it is in here (menunjukkan ke arah dadanya)”, dia menjawab.“Begitu juga dengan Tuhan…kamu tak akan mungkin bisa menemukan Tuhan di atas kertas, atau di atas batu, atau di depanmu berbicara seperti aku! It is beyond the physical being. You have to find God by yourself and not by asking me where He is!”, aku berusaha untuk menjelaskan.

“Ahh..stop the bullshit!” dia ketus menjawabnya. “Apa pertanda Tuhan itu ada? atau Dia sangat agung seperti yang biasa kalian sebut dengan The One?” Dia tanya lagi tak mau kalah.

“Ok, the sign is everywhere”…one simple thing is you can see it from the people around you: There’s always someone better and cooler than you!”, aku bilang.

“What?” dia masih bingung.

“Yes, contohnya kamu selama ini selalu mencari orang yang lebih baik dan yang lebih cool in every way untuk dijadikan kekasihmu. You’re seeking perfection, but you never found any of it in him/her. Then you will always meet another person who is better than him/her. That’s why you always fail to find the “right” person. Because to achieve the perfection is impossible… Aku sok gaya menjelaskan.

“Kamu akan menemukan seorang kekasih yang ganteng, cantik, pintar, seksi, menarik, kaya, populer,..tapi kamu akan selalu menemukan orang lain yang baru yang lebih baik darinya. Andaikan kamu meninggalkan kekasihmu yang lama demi yang “lebih baik” ini, niscaya ini bukan perjalanan akhir…dari “loving and dumping” game. It’s gonna be FOREVER! for there’s always someone cooler and better than your lover.”

“Make it simple please?”, dia memintaku utk mempersingkat pembicaraan.

“You will never be satisfied with what you have because you’re seeking the perfection, for yourself, for your love, and for your future…while we’re impossible to achieve it (perfectness). In a way we’re not perfect at all…we’re human! There’s always someone higher than us. Thats the SIGN! aku tegaskan.

“So where can I find God?” dia tanya. “In your self! Start to figure out why you’re asking God? while God might never ask about you?” Jawabku

Selama ini kita mengharapkan kebenaran dan segala keutamaan hidup dari orang lain yang berada di luar diri kita, sebagaimana kita mengharapkan kebahagiaan. Mencari pasangan hidup, kurang lebih mirip dengan mencari Tuhan. Kita mengharapkan keberadaannya tanpa menyadari bahwa jawabannya ada dalam diri kita sendiri.

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya” Jalaludin Rumi bilang.

“So have you found your God?” dia tanya. “Sama seperti kamu, akujuga sedang mencarinya dalam diriku, seperti aku sedang mencari pacar” Jawabku. “Maksudnya?” tanya dia lagi. “Maksudku, maukah kamu menjadi pacarku? Kita cari Tuhan bersama-sama”.

PSikologi daN psikologi hidup

Filosofi hidup hampir berkaitan dengan prinsip hidup. Semua
orang yang masih eksis mempunyai pegangan hidup, tujuan hidup,
prinsip hidup maupun filosofi hidup. Tentunya hal ini cukup berbeda
di antara satu dengan lainnya dalam menyikapinya. Karena, setiap
orang itu tidak sama, setiap orang itu unik, setiap orang merupakan
mahluk individualisme yang membedakan satu dengan lainnya.

Ada yang mempunyai tujuan hidup yang begitu kuat, namun
prinsip hidupnya lemah, atau sebaliknya ada orang yang mempunyai
tujuan hidup yang lemah, namun memiliki prinsip hidup yang kuat. Ini
tidaklah menjadi suatu permasalahan, yang penting seberapa baiknya
seseorang menyambung hidupnya dengan berbagai persoalan dunia yang
ada, atau dengan kata laiinya bagaimana kondisi psikologis/jiwa
seseorang dalam menjalani hidupnya.

Prinsip hidup masih jauh kaitannya dengan psikologi, namun
psikologi mau tau mau berhubungan langsung dengan prinsip hidup.
Karena, dengan menijau prinsip hidup seseorang dapat diketahui
kondisi jiwa seseorang. Prinsip hidup dan filosofi hidup sangat luas
cakupannya, tidak hanya ditinjau dari segi psikologi, tapi seluruh
cabang ilmu pengetahuan yang ada. Prinsip hidup seseorang dapat
diambil dari perspektif psikologi, agama, seni, literatural,
metafisika, filsafat dsb.

Bagi sebagian orang, filosofi hidup dapat dijadikan sebagai
panutan hidup, agar seseorang dapat hidup dengan baik dan benar.
Adapula sebagaian orang yang tidak menghiraukan apa itu tujuan hidup
dan filosofi hidup, ia hanya hidup mengikuti arus yang mengalir dan
sebagian orang lagi, terlalu kuat memegang tujuan hidup dan filosofi
hidupnya sehingga membuat ia menjadi keras dan keras, Jadi,
kesimpulannya ada 3 sifat manusia yang bisa ditinjau dari filosofi
hidupnya, yaitu orang yang lemah, orang yang netral dan orang yang
keras.

Orang yang lemah adalah orang yang tidak mempunyai tujuan hidup atau
prinsip hidup. Ia tidak tahu untuk apa ia hidup, ia tidak berusaha
mengetahui kebenaran di balik fenomena alam ini, sehingga terkadang
baik dan buruk dapat dijalaninya. Orang yang netral adalah orang
yang mempunyai tujuan dan prinsip hidup, tetapi tidak mengukuhinya
dengan terlalu kuat. Ia berusaha mencari kebenaran hidup dan hidup
dalam kebijakan dan kebenaran, ia bebas dan netral, tidak kurang dan
tidak melampaui, ia berada di tengah-tengah. Orang yang kuat adalah
orang yang memegang kuat tujuan dan prinsip hidupnya. Sehingga ia
mampu melakukan apa saja demi tercapai tujuannya. Ia terikat oleh
filosofinya, ia kuat dan kaku berada di atas pandangannya, ia merasa
lebih unggul dari orang lain dan melebihi semua orang.
Jika ditinjau dari sisi psikologi. Orang-orang yang di atas juga
dapat dikategorikan, seperti orang yang mempunyai jiwa yang lemah,
jiwa yang sedang dan jiwa yang kuat. Namun, untuk yang berjiwa
sehat, seseorang tidak hanya dilihat dari jiwa lemah, sedang ataupun
kuatnya. Penerapan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari
itulah yang penting.

Pada dasarnya, tujuan dan prinsip hidup seseorang itu baik dan
bersih. Pada saat seseorang dalam keadaan tenang, ia membuat
berbagai tujuan dan prinsip dalam hidupnya, namun ketika diterapkan
timbul beberapa hambatan dari luar dirinya atau adanya pengaruh dari
lingkungan eksternalnya. Salah satu pengaruh terbesar dari luar
dirinya adalah panca indera. Panca indera yang tidak terjaga dengan
baik akan membuat seseorang terpeleset dari tujuan dan prinsip
hidupnya. Telinga bisa mendengar, mata bisa melihat, mulut bisa
berbicara. Semua itu harus dikendalikan dengan baik.
Sebagai contoh konkret, saya mempunyai tujuan hidup menjadi
seseorang yang berguna untuk menolong semua mahluk hidup sampai ajal
menemui dan filosofi hidupnya adalah bila ada orang baik kepada
saya, maka saya akan baik kepadanya, dan bila ada orang jahat kepada
saya, maka saya akan baik juga kepadanya. Dari filosofi hidup ini,
jika dilihat dari sisi psikologinya, orang tersebut mempunyai jiwa
yang sehat, tidak mendendam dan bahagia menerima hidup. Namun, itu
hanyalah sebuah filosofi hidup, yang terpenting adalah bagaimana ia
menerapkan dalam perilakunya, apakah bisa sesempurna dengan filosofi
hidupnya atau hanya sekedar membuat filosofi hidup tetapi tidak
dijalankannya ataupun ia membuat suatu filosofi hidup, namun ia
susah menjalannya karena tidak bisa menahan godaan atau hambatan
dari luar dirinya.

Sebuah filosofi hidup bisa didapatkan dari seorang pemikir-pemikir
jenius yang bijaksana, bebas dan terpelajar. Biasanya orang tersebut
dianggap sebagai seorang filsuf, pelopor kebijakan. Masing-masing
negara memiliki tokoh filosofinya. Orang pertama yang memperkenalkan
filsafat hidup ke dalam ilmu pengetahuan adalah orang Yunani yang
kebetulan pada saat itu negaranya merupakan negara yang bebas dalam
berkarya. Terbukti begitu banyak para filsuf terkenal kebanyakan
dari bangsa Yunani, seperti Aristoteles, Plato dan Socrates.
Socrateslah yang paling banyak memberi pengaruh kepada dunia ilmu
pengetahuan, maka dia disebut Bapak Filsafat. Sedangkan, dari ilmu
psikologi, Bapak Sigmud Frued disebut-sebut sebagai Bapak Psikologi
yang paling banyak memberikan sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan.
Kedua tokoh dunia ini sama-sama memiliki pemikiran yang luar biasa
untuk menciptakan pengetahuan-pengetahuan mengenai asal usul dari
segala sesuatu, meskipun cakupannya berbeda, namun, psikologi dan
filsafat tidak bisa dipisahkan dan sebaliknya. Banyak tokoh
psikologi yang semula mempelajari filsafat kemudian melanjutkan
pengetahuannya ke bidang psikologi.
Beberapa kata kutipan yang diambil da
ri kedua tokoh ini, yakni :

" Makanan enak, baju indah, dan segala kemewahan, itulah yang kau
sebut kebahagiaan, namun aku percaya bahwa suatu keadaan di mana
orang tidak mengharapkan apa pun adalah kebahagiaan yang tertinggi
(Socrates)".
Dan,

" Mereka yang percaya, tidak berpikir. Mereka yang berfikir, tidak
percaya (Sigmud Frued)".

Disini dapat dilihat, bahwa terjadi suatu studi banding antara kedua
ilmu tersebut, Masing-masing membicarakan asal asul segala sesuatu
menurut perspektif ilmunya. Namun, dari kedua ilmu tersebut
mempunyai suatu kesamaan, bahkan banyak kesamaan yang membahas
mengenai asal mulanya sesuatu yang pasti ada hubungannya dengan
manusia dan alam sekitarnya.

Seorang Socrates membicarakan kebahagiaan dan seorang Sigmund Frued
membicarakan pikiran, tentunya kedua hal ini mempunyai kaitan yang
cukup besar. Filosofi hidup yang diberikan oleh Socrates mengenai
kebahagiaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan Ilmu
psikologi yang diberikan oleh Sigmund Frued mengenai pikiran (alam
sadar atau alam bawah sadar) dapat dijadikan landasan seseorang
untuk mencapai kebahagiaan.

Oleh sebab itu, seseorang yang mempelajari psikologi maupun
tidak, harus memiliki satu tujuan hidup atau filosofi hidup agar
bisa berkembang, dan seseorang yang mempelajari filsafat maupun
tidak, harus memperhatikan apakah dan bagaimanakah agar filosofinya
dapat diterapkan dengan baik dan benar sehingga mempunyai
psikologis/jiwa yang sehat untuk maju dan berhasil.

"Jika seseorang tahu kebenaran yang mendasar tentang segala sesuatu,
maka itulah inti pengetahuan'.

Rabu, 10 Maret 2010

Pensiun dan Pengaruhnya

Pensiun seringkali dianggap sebagai kenyataan yang tidak menyenangkan sehingga menjelang masanya tiba sebagian orang sudah merasa cemas karena tidak tahu kehidupan macam apa yang akan dihadapi kelak. Dalam era modern seperti sekarang ini, pekerjaan merupakan salah satu faktor terpenting yang bisa mendatangkan kepuasan (karena uang, jabatan dan memperkuat harga diri). Oleh karenanya, sering terjadi orang yang pensiun bukannya bisa menikmati masa tua dengan hidup santai, sebaliknya, ada yang malahan mengalami problem serius (kejiwaan atau pun fisik).
Fakta Sekitar Pensiun
• Penurunan kesehatan tidak disebabkan secara langsung oleh pensiun, melainkan oleh problem kesehatan yang sebelumnya (sudah) dialami
• Pensiun sebaliknya dapat meningkatkan kesehatan dengan berkurangnya beban tekanan yang harus dihadapi.
• Masyarakat mulai memandang bahwa masa pensiun sebenarnya masa yang penuh kesempatan menarik
• Kemungkinan untuk bersantai berkurang karena waktu cenderung tersita untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga
• Kepuasan perkawinan tidak secara signifikan dipengaruhi oleh kondisi pensiun yang dialami
• Akan lebih banyak waktu dan kesempatan kebersamaan bagi keluarga/pasangan
• Pengalokasian ke rumah jompo, meninggalnya pasangan, penyakit serius serta adanya cacat tertentu biasanya menyebabkan perubahan gaya hidup yang drastis
Pensiun dan Depresi
Dua orang psikolog, yaitu Jungmeen E. Kim, PhD dan Phyllis Moen PhD dari Cornell University meneliti hubungan antara pensiun dengan depresi. Keduanya menemukan:
• Wanita yang baru pensiun cenderung mengalami depresi lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang sudah lama pensiun atau bahkan yang masih bekerja, terutama jika sang suami masih bekerja
• Pria yang baru pensiun cenderung lebih banyak mengalami konflik perkawinan dibandingkan dengan yang belum pensiun
• Pria yang baru pensiun namun istrinya masih bekerja cenderung mengalami konflik perkawinan lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang sama-sama baru pensiun namun istrinya tidak bekerja
• Pria yang pensiun dan kembali bekerja dan mempunyai istri yang tidak bekerja, maka keduanya memiliki semangat lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan yang keduanya sama-sama tidak bekerja
Kesimpulan penelitian yang diambil dari para sample mereka menunjukkan bahwa para pria yang sudah berusia setengah abad cenderung memiliki kepuasan hidup lebih tinggi jika istrinya menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga.
Prediktor Penentu Terjadinya Masalah Pada Masa Pensiun
Kepuasan kerja dan pekerjaan
Pekerjaan membawa kepuasan tersendiri karena disamping mendatangkan uang dan fasilitas, dapat juga memberikan nilai dan kebanggaan pada diri sendiri (karena berprestasi atau pun kebebasan menuangkan kreativitas). Namun ada catatan, orang yang mengalami problem saat pensiun biasanya justru mereka yang pada dasarnya sudah memiliki kondisi mental yang tidak stabil, konsep diri yang negatif dan rasa kurang percaya diri terutama berkaitan dengan kompetensi diri dan keuangan/penghasilan. Selain itu, masalah harga diri memang sering menjadi akar depresi semasa pensiun karena orang-orang dengan harga diri yang rendah semasa produktifnya cenderung akan jadi overachiever semata-mata untuk membuktikan dirinya sehingga mereka habis-habisan dalam bekerja sehingga mengabaikan sosialisasi dengan sesamanya pula. Pada saat pensiun, mereka merasa kehilangan harga diri dan ditambah kesepian karena tidak punya teman-teman.
Pada orang dengan kondisi kejiwaan yang stabil, konsep diri positif, rasa percaya diri kuat serta didukung oleh keuangan yang cukup, maka orang tersebut akan lebih dapat menyesuaikan diri dengan kondisi pensiun tersebut karena selama tahun-tahun ia bekerja, ia "menabung" pengalaman, keahlian serta keuangan untuk menghadapi masa pensiun.
Usia
Banyak orang yang takut menghadapi masa tua karena asumsinya jika sudah tua, maka fisik akan makin lemah, makin banyak penyakit, cepat lupa, penampilan makin tidak menarik dan makin banyak hambatan lain yang membuat hidup makin terbatas. Pensiun sering diidentikkan dengan tanda seseorang memasuki masa tua. Banyak orang mempersepsi secara negatif dengan menganggap bahwa pensiun itu merupakan pertanda dirinya sudah tidak berguna dan dibutuhkan lagi karena usia tua dan produktivitas makin menurun sehingga tidak menguntungkan lagi bagi perusahaan/organisasi tempat mereka bekerja. Seringkali pemahaman itu tanpa sadar mempengaruhi persepsi seseorang sehingga ia menjadi over sensitif dan subyektif terhadap stimulus yang ditangkap. Kondisi ini lah yang membuat orang jadi sakit-sakitan saat pensiun tiba. Memang, masa tua harus dihadapi secara realistis karena tidak mau menghadapi kenyataan bahwa dirinya getting older dan harus pensiun juga membawa masalah serius seperti halnya post power-syndrome dan depresi. Salah satu cara mengatasi persepsi negatif terhadap masa tua adalah dengan mengatakan pada diri sendiri : "Act your age, but I don't want to act old"
Kesehatan
Beberapa orang peneliti melakukan penelitian dan menemukan bahwa kesehatan mental dan fisik merupakan prekondisi yang mendukung keberhasilan seseorang beradaptasi terhadap perubahan hidup yang disebabkan oleh pensiun. Hal ini masih ditambah dengan persepsi orang tersebut terhadap penyakit atau kondisi fisiknya. Jika ia menganggap bahwa kondisi fisik atau penyakit yang dideritanya itu sebagai hambatan besar dan bersikap pesimistik terhadap hidup, maka ia akan mengalami masa pensiun dengan penuh kesukaran. Menurut hasil penelitian, pensiun tidak menyebabkan orang jadi cepat tua dan sakit-sakitan, karena justru berpotensi meningkatkan kesehatan karena mereka semakin bisa mengatur waktu untuk berolah tubuh (lihat fakta seputar pensiun).
Persepsi seseorang tentang bagaimana ia akan menyesuaikan diri dengan masa pensiunnya
Hal ini erat berkaitan dengan rencana persiapan yang dibuat jauh sebelum masa pensiun tiba. Menurut para ilmuwan, perencanaan yang dibuat sebelum pensiun (termasuk pola/gaya hidup yang dilakukan) akan memberikan kepuasan dan rasa percaya diri pada individu yang bersangkutan. Bagaimana pun juga, perencanaan untuk masa pensiun bukanlah sesuatu yang berlebihan karena banyak aspek kehidupan yang harus disiapkan, dan dipertahankan seperti keuangan (apa yang akan dilakukan untuk tetap bisa berpenghasilan ? apakah saya mau mencari kerja part time ?), kesehatan (bagaimana cara supaya bisa menjaga kesehatan), spiritualitas (bagaimana supaya saya mempunyai kehidupan rohani yang sehat dan tetap memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan) dan kehidupan sosial (apa kegiatan kebersamaan dengan teman-teman kelak, saya ingin aktif dalam kegiatan seperti apa, dsb). Namun, hal ini juga tidak terlepas dari persepsinya tentang hidup dan tentang dirinya sendiri. Orang yang kurang percaya pada potensi diri sendiri dan kurang mempunyai kompetensi sosial yang baik akan cenderung pesimistik dalam menghadapi masa pensiunnya karena merasa cemas dan ragu, akankah ia mampu menghadapi dan mengatasi perubahan hidup dan membangun kehidupan yang baru.
Status sosial sebelum pensiun
Status sosial berpengaruh terhadap kemampuan seseorang menghadapi masa pensiunnya. Jika semasa kerja ia mempunyai status sosial tertentu sebagai hasil dari prestasi dan kerja keras (sehingga mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari masyarakat atau organisasi), maka ia cenderung lebih memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik (karena konsep diri yang positif dan social network yang baik). Namun jika status sosial itu didapat bukan murni dari hasil jerih payah prestasinya (misalnya lebih karena politis dan uang/harta) maka orang itu justru cenderung mengalami kesulitan saat menghadapi pensiun karena begitu pensiun, maka kebanggaan dirinya lenyap sejalan dengan hilangnya atribut dan fasilitas yang menempel pada dirinya selama ia masih bekerja.
Kiat Memasuki Masa Pensiun
• Yang paling utama adalah bahwa Anda harus menghadapinya secara rileks. Ketegangan dan kecemasan tidak akan menjadikan segalanya lebih baik. Anda bisa bercermin dan belajar dari pengalaman keberhasilan dan kegagalan di masa lalu, untuk jadi bahan rencana masa depan.
• Banyak tersenyum dan tertawa akan membuat Anda punya banyak teman yang memberikan keceriaan dalam hidup
• Jangan terburu-buru dalam menjalani hidup...sebaliknya, nikmatilah setiap moment yang berlalu dalam hidup Anda agar Anda bisa mensyukuri dan merasakan kenikmatan hidup yang sesungguhnya.
• Buatlah rencana kegiatan setiap hari
• Lakukanlah kegiatan sosial yang menarik dan mulailah meniti karir di kehidupan pasca-pensiun disertai optimisme bahwa hidup Anda akan menjadi jauh lebih baik lagi dari sebelumnya
• Pensiun bukan berarti saat-saat di mana Anda harus mencari akal guna membunuh waktu, sebaliknya Anda harus berpikir bagaimana supaya Anda memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mendatangkan hal-hal terbaik dalam kehidupan Anda selanjutnya.
• Jangan suka berdiam diri atau membiarkan diri menganggur dan melamun karena hanya akan membangkitkan emosi dan pikiran negatif saja
• Hilangkan kesepian dan libatkan diri pada orang-orang di dekat Anda
• Jagalah kondisi dan kesehatan tubuh Anda dengan cara rajin berolah raga dan diet yang baik agar Anda tidak jatuh sakit
• Kurangi dan hilangkan kebiasaan buruk seperti merokok, mengkonsumsi makanan berlemak tinggi, mengkonsumsi minuman beralkohol atau junk food
• Pergilah mengunjungi tempat-tempat menarik bersama pasangan atau pun teman-teman/sahabat Anda
• Hubungi teman-teman Anda baik melalui surat, email atau pun telepon. Siapa tahu ada sesuatu yang baru dan menarik yang bisa didapatkan
• Pertahankan dan kembangkan hobi yang selama ini tidak sempat terlaksana atau ditekuni karena keterbatasan waktu
• Bacalah buku-buku yang membangkitkan motivasi Anda
• Lakukan olah raga atau kegiatan kebersamaan dengan teman-teman yang sifatnya santai
• Jika memungkinkan, ambil kursus singkat yang menarik dan menunjang hobi atau malah dapat membantu meningkatkan ketrampilan yang diperlukan untuk menekuni usaha baru
• Jangan lepaskan kebiasaan doa Anda dan luangkan waktu setiap hari beberapa kali untuk berbincang-bincang dan berdiskusi dengan Tuhan
• Jangan biarkan pesimisme menguasai pikiran dan perasaan Anda
• Coba perhatikan sekitar Anda dan lihatlah, siapa yang sedang membutuhkan perhatian Anda namun selama ini terluput karena kesibukkan Anda? Carilah pula, bagian mana dari hidup Anda yang perlu dibereskan? Meski keluarga Anda tidak pernah meminta bantuan Anda secara langsung bukan berarti Anda tidak dibutuhkan. Jadi, jadilah orang pertama yang berinisiatif untuk terlibat dalam kegiatan rumah tangga.
• Cobalah untuk memikirkan bisnis atau usaha baru, atau mulai memikirkan untuk menekuni pekerjaan baru yang lebih cocok dengan usia dan hobi Anda. Jika perlu, ajaklah anggota keluarga atau teman-teman terdekat Anda untuk terlibat di dalamnya.(jr)

Mobil Saya Lebih Bagus Dari Kamu!


Dewasa ini seringkali orang menganggap mempunyai atau membeli sebuah kendaraan sebagai investasi, simbol status, atau bahkan sebuah tujuan hidup. Banyak orang tidak sadar bahwa memiliki sebuah kendaraan merupakan komitmen panjang, terutama dari segi perawatan.
Perawatan kendaraan bukan saja sekedar mengganti oli, ban, busi, atau wiper secara rutin, tapi juga secara mendasar, dari tipe bensin yang dipakai, cara penggunaan fitur mobil, bahkan cara mengendara. Karena ini adalah topik yang mendalam, untuk sekarang ini kita tidak membahas tata cara mengendara kendaraan, tetapi kita akan membahas perawatan mobil dengan arti sesungguhnya.

Salah Kaprah
Banyak orang membeli kendaraan dewasa ini hanya sekedar melihat atau mendengar informasi dari teman ataupun sanak keluarga mengenai kendaraan yang orang tersebut pakai atau pernah pakai. Banyak contoh kasus seperti ini:
Seseorang ingin membeli kendaraan dengan merek tertentu yang ia belum pernah pakai sebelumnya, lalu ia mencari tahu informasi hanya dengan nasehat dari keluarga atau teman yang pernah memakainya. Dalam kasus ini bisa saja ia dinasehati untuk tidak mengambil kendaraan dengan merek tersebut karena mempunyai masalah A, B, dan C. Lalu, dibekali dengan nasehat pengalaman orang yang ia konsultasikan tersebut, orang itu tidak jadi membeli kendaraan merek itu. Namun orang yang ia tanya tersebut sudah lama sekali tidak memakai kendaraan dengan merek tersebut. Jika dilihat dari hal logika atau proses analisis tentu saja ini tidak masuk akal, sebab seiring waktu sebuah pembuat kendaraan pasti akan memperbaiki kesalahan model kendaraannya (kecuali jika pembuat kendaraan tersebut adalah perusahaan di negara komunis yang hanya bisa menjiplak model pabrikan lain), selain itu faktor yang perlu dilihat dan yang paling memberatkan adalah bagaimana cara orang tersebut merawat kendaraannya.
Dapat kita lihat sekarang-sekarang ini di pom bensin misalnya, sebuah kendaraan model terbaru yang sudah jelas memiliki mesin teknologi baru mengisi bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi.
Contoh: sebuah mobil mewah tahun 2009 dengan mesin V6 diisi dengan bensin premium!! Atau mobil tahun 2005 yang biasanya memakai oli tertentu di bengkel resmi, diganti dengan menggunakan standar yang lebih rendah di bengkel spesialis hanya karena masa garansi sudah habis dan menghemat uang!


Brand Versus Mind

Maka tidak heran jika di Indonesia tercinta ini banyak sekali orang yang terbawa suasana-arus brand minded.

Mungkin sekarang anda bertanya, apa hubungannya brand minded dengan bensin, oli, atau perawatan mobil?

Jawabannya: Banyak sekali orang di Indonesia menghubungkan Brand dengan Ease of Maintenance. Jadi di benak orang-orang suka terdapat pikiran “Saya akan membeli mobil merek A, karena sudah jelas gampang untuk di rawat”. Sebenarnya tidak seperti itu, sebelum anda kaget, saya akan kasih tahu yang sebenarnya terjadi: It’s not WHAT you own, it’s HOW you own it! artinya, tidak penting apa yang anda miliki, tetapi bagaimana anda merawat yang anda miliki. Kadang bagi beberapa orang yang saya kenal, fanatik terhadap suatu brand itu menjadi sesuatu yang bahaya secara sosial, karena orang tersebut dengan semangat membara ’45 membela merek yang mereka senangi sampai batas akhir dan jika diberi suatu kejelekan tentang merek tersebut akan mudah berapi-api alias marah.

Untuk itu, mari kita simak kalimat pembuka saya di artikel ini:
“Banyak orang tidak sadar bahwa memiliki sebuah kendaraan merupakan komitmen panjang, terutama dari segi perawatan.”

Dengan kalimat tersebut, bisa diterapkan masalah perawatan kendaraan yang saya maksud, dengan kondisi masyarakat yang Brand Minded. Disini seperti saya bilang perawatan itu bukanlah sekedar hal rutin yang kita dapat serahkan ke bengkel selagi kendaraan kita masih dalam masa garansi, tetapi juga cara memakai mobil tersebut, terutama memahami kompleksitas dan fitur yang terdapat di mobil itu sendiri. Dewasa ini makin banyak mobil dijual dengan menggunakan teknologi multimedia dan juga komputer informasi, dalam dunia mobil mewah sebut saja Mercedes-Benz dengan sistem COMAND, BMW dengan iDrive, Audi dengan MMI, Lexus dengan RemoteTouch, dan sebagainya. Bahkan mobil-mobil sekarang ini hampir semuanya (bukan saja mobil mewah) mempunyai sistem limp-home, yaitu jika terdapat kerusakan pada mesin, sistem ini akan bekerja dan membatasi putaran mesin pada RPM tertentu dan kecepatan tertentu guna membawaya dengan keadaan utuh ke bengkel (jadi tidak mogok atau kebakaran dan sebagainya).
Sayangnya banyak pemilik mobil yang kurang memahami kendaraannya dan nekat mempercayai apa yang orang lain katakan daripada mempelajarinya sendiri atau dari sumber lain, seperti komunitas mobil, internet, pakar otomotif, dan sebagainya. Tidak sedikit orang yang saya jumpai mengatakan “ah nggak apa2 kok mobil ini diisi premium” padahal tertera secara jelas di buku panduan “MINIMAL RON 91” alias Pertamax. Lalu orang itu mengatakan bahwa dirinya diberi tahu oleh sales showroom dimana ia membeli kendaraannya bahwa cukup dengan menggunakan premium saja mobil tersebut bisa jalan. Memang betul dan tidak salah, sungguh benar sekali bahwa mobil tersebut bisa jalan dengan bensin tersebut, walaupun seiring dengan waktu penimbunan kotoran yang terjadi akibat penggunaan BBM yang tidak sesuai dapat merusak mesin hingga fatal, lantas yang disalahkan kalau sudah begini kemungkinan besar adalah merek mobilnya. Intinya: umur mesin akan menjadi pendek secara cepat jika dibanding penggunaan BBM yang sesuai. Sungguhlah, sebuah kendaraan itu sudah di desain sedemikian rupa oleh para insinyur untuk menggunakan BBM, Oli, dan suku cadang yang seharusnya dipakai, dan pada mobil-mobil modern sekarang ini, batas toleransi semakin mengecil untuk kesalahan karena sistem-sistem canggih yang digunakan.
Jadi sungguh bahaya sekali sebuah pemikiran “saya akan membeli mobil merek A karena merek tersebut terkenal gampang untuk di rawat”. Seharusnya para pemilik mobil harus sudah bisa berpikir bahwa dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih, sebuah kendaraan memiliki failure rate yang tinggi pula JIKA tidak di rawat dengan semestinya seperti menurut buku petunjuk penggunaan mobil. Jadi tidak ada salahnya sebelum membeli sebuah mobil untuk konsultasi dengan orang bengkel, orang yang pernah mempunyai mobil dengan merek, model, dan tahun yang sama baik itu melalui komunitas mobil di internet atau di dunia nyata. Brand tidak membuat sebuah mobil lebih gampang atau susah di rawat, hanya mindset manusia sendirilah yang membuatnya lebih susah atau gampang.

Sekali lagi seperti dalam kalimat pembukaan saya:
“Banyak orang tidak sadar bahwa memiliki sebuah kendaraan merupakan komitmen panjang, terutama dari segi perawatan.”
Teknologi sekarang ini dibuat untuk memudahkan pengguna merawat barang-barangnya, begitu juga dengan mobil. Mobil-mobil modern sekarang ini, apalagi mobil mewah berharga miliaran rupiah yang sudah dilengkapi dengan komputer informasi dapat memberi tahu kepada pengendara bagian mana yang rusak atau salah operasi, sehingga bisa dibenarkan di bengkel dan tanpa ditipu pula. Walaupun begitu sayangnya tidak sedikit pula orang yang suka mengakali atau mengganti spare-part dengan yang tidak semestinya, biasanya barang yang sama tetapi dengan kualitas rendah. Atau benar-benar diakali dengan kreatif sehingga mengira dirinya seorang insinyur otomotif, seperti mengelas sesuatu yang seharusnya tidak di las, atau memasang sesuatu yang tidak disarankan (biasanya demi gaya), contoh: memasang lampu HID pada mobil yang batok lampunya tidak layak dipasang lampu jenis tersebut. Sehingga hasilnya dapat membahayakan pengendara lain, namun sayangnya showroom-showroom sekarang ini juga mengambil inisiatif tersebut demi mendongkrak penjualan karena kompetisi penjualan mobil yang ketat.
Maka tidak heran jika ada suatu merek mobil yang di label “tidak gampang di rawat” atau “rewel”. Bukan karena mobil tersebut memang rewel, atau mereknya yang membuat rewel, tetapi dari ketidakbecusan pemilik yang mengambil jalan pintas dalam merawat mobil tersebut atau terlalu kreatif dengan kendaraannya, sehingga masa bakti mobil tersebut dapat terganggu dengan sering rusak. Harap diingat: Bahwa merawat sebuah mobil tidak sama dengan merawat sepeda! Dan cara merawat mobil itu selalu berbeda-beda dari satu merek, model, dan generasi.

Contoh: Merawat Toyota corolla tahun 1979 TIDAK sama dengan merawat merk dan model yang sama tapi yang tahun terbaru, terutama karena perbedaan desain sistem, teknologi, dan juga persyaratan minimal (bensin yang digunakan berbeda, juga dengan oli, air radiator, dsb).

Belajar, Belajar, Praktekan!
Para pemilik kendaraan dewasa ini sangat disarankan untuk mencari tahu tentang mobilnya sebelum dan sesudah mereka beli, karena walaupun mobil adalah sebuah alat transportasi bukan berarti tugasnya hanya itu saja. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang dapat membantu pengendara dan penumpang untuk sampai ke tujuan dengan selamat, dan juga pada saat yang bersamaan menopang dan membuat kerjaan pemiliknya lebih efisien (beberapa mobil jaman sekarang sudah mempunyai koneksi internet dan juga TV yang dapat membantu kerja seperti layaknya dalam pesawat).
Kenalilah keterbatasan kendaraan anda agar anda dapat dengan benar-benar menikmatinya dan tidak merusaknya karena sesuatu hal yang tidak dimengerti, baik karena tidak paham dengan teknologinya, ataupun cara penggunaannya. Mengenal keterbatasan juga akan membantu pengemudi untuk mengemudikan mobilnya dengan aman, supaya tidak terjadi hal yang tidak mengenakkan seperti mengira bahwa mobilnya dapat dijadikan mobil balap atau dengan aman melibas jalanan dengan genangan air di kecepatan tinggi.

MDGs: Standard Penilaian Perkembangan Negara


Berdasarkan laporan "A Future Within Reach" maupun laporan MDGs (Millenium Development Goals) Asia Pasifik tahun 2006, Indonesia menempati kategori terbawah bersama Bangladesh, Laos, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Papua Nugini, dan Filipina (Kompas, 2007). Beberapa tahun yang lalu, Indonesia telah menempati kategori sebagai negara berkembang, Namun berdasarkan laporan di atas, nampaknya kini predikat tersebut tidak lagi melekat. Negara Indonesia kini mengalami kemunduran yang cukup signifikan pada berbagai aspek pembangunan.
Apakah yang menjadi dasar penilaian negara-negara di Asia Pasifik ini? Dasar penilaian yang digunakan adalah MDGs. MDGs adalah sebuah arahan untuk mencapai perkembangan milenium yang wajib diikuti oleh seluruh negara di dunia. MDGs berisi 8 buah tujuan pembangunan milenium, beserta target dan indikatornya masing-masing, dilengkapi dengan strategi dan variabel pendukung lainnya. Dalam MDGs, dibahas mengenai penanganan kemiskinan yang bersifat ekstrim, hingga rencana penghentian penyebaran HIV/AIDS, dan pengadaan pendidikan dasar yang bersifat universal. Target pencapaian MDGs untuk seluruh negara di dunia adalah pada tahun 2015 ( UNDP, 2007).
8 buah tujuan pembangunan milenium dalam MDGs berdasarkan UNDP / United Nations Development Programme (2007) adalah sebagai berikut:
1. Menghapuskan Kemiskinan dan Kelaparan yang bersifat ekstrim
Target:
1. Selama tahun 1990 sampai dengan tahun 2015 berhasil mengurangi setengah dari jumlah penduduk yang memiliki pendapatan kurang dari $1 per hari.
Indikator:
1. Jumlah populasi penduduk yang memiliki pendapatan kurang dari $1 per hari (World Bank).
2. Ratio perbedaan kemiskinan, $1 per hari (World Bank).
3. Peningkatan penghasilan pada kelompok populasi rakyat miskin (World Bank).
2. Selama tahun 1990 sampai dengan tahun 2015 berhasil mengurangi setengah dari jumlah populasi penduduk yang menderita kelaparan.
Indikator:
4. Fakta anak-anak di bawah 5 tahun yang berat badannya kurang dari berat badan proposional yang seharusnya dicapai (berdasarkan usianya) (UNICEF / United Nations International Children’s Fund).
5. Jumlah populasi yang termasuk dalam kategori meng-Konsumsi Energi Makanan/Dietary Energy Consumption dibawah batas minimum yang seharusnya (FAO / Food and Agriculture Organization).
2. Memperoleh pendidikan dasar yang bersifat universal
Target:
3. Memastikan pada tahun 2015, seluruh anak-anak dimanapun baik perempuan dan laki-laki mampu menyelesaikan seluruh pelajaran di sekolah dasar.
Indikator:
6. Perbandingan bersih pendaftaran di Pendidikan Dasar (UNESCO / United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization).
7. Jumlah murid dari tingkat 1 (kelas 1 SD) yang berhasil mencapai tingkat 5 (kelas 6 SD) (UNESCO).
8. Jumlah penduduk usia 15 – 24 tahun yang mampu membaca / tidak buta huruf (UNESCO).
3. Mendukung persamaan gender dan pemberdayaan wanita
Target:
4. Menghapuskan perbedaan gender pada tingkat pendidikan dasar dan menengah pertama yang diharapkan tercapai pada tahun 2005, dan pada seluruh tingkatan pendidikan selambat-lambatnya pada tahun 2015.
Indikator:
9. Perbandingan antara jumlah perempuan dan laki-laki di pendidikan / sekolah dasar, lanjutan pertama, dan menengah atas (UNESCO).
10. Perbandingan jumlah wanita dan laki-laki usia 15-24 tahun yang mampu membaca (tidak buta huruf) (UNESCO).
11. Pemberian gaji karyawan wanita pada sektor non Agrikultur
12. Proporsi wanita yang duduk bangku di parlemen nasional (IPU / Inter-Parliamentary Union).
4. Mengurangi angka kematian anak
Target:
5. Mengurangi 2/3 angka kematian anak-anak dibawah usia 5 tahun antara tahun 1990 dan 2015.
Indikator:
13. Angka kematian dibawah usia 5 tahun (UNICEF)
14. Angka kematian bayi (UNICEF)
15. Proporsi anak umur 1 tahun yang di-imunisasi campak / cacar air.
5. Memajukan kesehatan kaum ibu hamil
Target:
6. Mengurangi ¾ ratio angka kematian ibu hamil antara tahun 1990 dan 2015.
Indikator:
16. Ratio angka kematian ibu hamil (WHO / World Health Organization).
17. Proporsi angka kelahiran bayi yang ditangani oleh para ahli di bidang kesehatan / tenaga medis (UNICEF).
6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya
Target:
7. Menghentikan munculnya kasus baru terjangkit HIV/AIDS dan mulai mengurangi penyebaran HIV/AIDS pada tahun 2015.
Indikator:
18. Penyebaran HIV pada wanita hamil berusia 15-24 tahun (UNAIDS / United Nations Programme on HIV/AIDS).
19. Angka penggunaan kondom sebagai bagian dari penggunaan alat kontrasepsi dan jumlah populasi berusia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan mengenai HIV/AIDS secara benar dan mendalam (UNAIDS, UNICEF, UN / United Nations Population Division, WHO).
19a. Penggunaan kondom sebagai langkah terakhir ketika melakukan seks beresiko tinggi.
19b. Prosentase dari populasi usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan mengenai HIV/AIDS secara benar dan mendalam (UNICEF/WHO)
19c. Angka penggunaan alat kontraseptif (UN Population Division)
20. Perbandingan antara anak-anak sekolah berusia 10-14 tahun yang yatim piatu dan yang bukan yatim piatu.
8. Mulai mengurangi terjadinya penyakit malaria dan penyakit-penyakit serius ainnya dan berhasil menghentikan penyebaran pada tahun 2015
Indikator:
21. Angka kejadian dan kematian sehubungan dengan malaria (WHO).
22. Proporsi populasi di daerah yang ber-resiko terjangkit malaria dengan menggunakan cara pencegahan dan alat-alat pengobatan malaria yang efektif.
23. Angka kejadian dan kematian sehubungan dengan TBC / Tuberculosis (WHO).
24. Proporsi kasus TBC yang terdeteksi dan sembuh di bawah observasi langsung pada kelas treatment pengobatan jangka pendek (WHO).
7. Menjamin pelestarian / kelangsungan lingkungan hidup
Target:
9. Menyatukan prinsip perkembangan pelestarian lingkungan hidup ke dalam kebijakan dan program-program negara; upaya mengembalikan sumber alam yang hampir punah .
Indikator:
25. Prosentase tanah yang mengalami penghijauan dari lahan tanah yang ada (FAO).
26. Perbandingan luas daerah /lahan yang dilindungi untuk memelihara perkembangan biologi dari luas daratan (UNEP / United Nations Environment Programme).
27. Pasokan energi (banyaknya enegi yang digunakan diukur dalam suatu persamaan Kg minyak ) per $1,000 (PPP / Purchasing Power Parity) GDP / Gross Domestic Product (World Bank).
28. Penghasilan karbondiosida (per kapita) dan konsumsi penghabisan ozone CFCs (ODP / Ozone Depleting Potential tons).
29. Proporsi populasi yang menggunakan bahan bakar solid (WHO).
10. Pada tahun 2015 Mengurangi setengah dari proporsi populasi yang tidak memiliki akses air minum yang bersih dan keperluan sanitasi dasar secara konsisten.
Indikator:
30. Proporsi dari populasi yang memiliki akses sumber air yang konsisten dan lebih baik (WHO/UNICEF).
31. Proporsi dari populasi yang memiliki akses untuk sanitasi yang lebih baik.
11. Pada tahun 2020, berhasil mencapai peningkatan hidup yang signifikan sekurang-kurangnya 100 juta penduduk yang hidup di perkampungan miskin dan kotor.
Indikator:
32. Populasi penduduk yang hidup di perkampungan miskin dan kumuh sebagai bagian dari penduduk kota (secure tenure index) (UN Habitat).
8. Mengembangkan kerjasama global untuk perkembangan
Target:
12. Mengembangkan lebih jauh perdagangan dan sistem keuangan yang terbuka, berdasarkan aturan, terprediksi dan tidak bersifat diskriminatif. Termasuk komitment untuk tata kelola yang baik, perkembangan dan penurunan kemiskinan baik nasional maupun internasional
13. Menangani kebutuhan-kebutuhan khusus dari negara-negara kurang berkembang. Termasuk : Akses pembebasan tarif dan quota untuk export negara-negara yang kurang/belum berkembang; meningkatkan program keringanan pinjaman untuk HIPCs / Heavily Indebted Poor Countries dan pembatalan pinjaman bilateral; dan pemberian bantuan yang lebih dari ODA / Official Development Assistance pada negara-negara yang berkomitmen untuk memgurangi kemiskinan.
14. Menangani kebutuhan-kebutuhan khusus dari landlocked country dan negara kepulauan kecil yang berkembang.
15. Menangani masalah pinjaman negara-negara berkembang secara mendalam melalui ukuran nasional dan internasional dalam rangka mengelola uang pinjaman dalam jangka panjang.
16. Dalam kerjasama dengan negara-negara berkembang, mengembangkan dan menerapkan strategi-strategi untuk pekerjaan yang layak dan produktif bagi pemuda dan pemudi.
17. Dalam kerjasama dengan perusahaan-perusahaan farmasi, menyediakan akses untuk mendapatkan obat-obatan penting dengan harga terjangkau bagi negara-negara berkembang.
18. Dalam kerjasama dengan sektor swasta, menyediakan keunggulan–keunggulan teknologi-teknologi baru khususnya di bidang informasi dan komunikasi.
Indikator:
Official Development Assistance (ODA)
33. Hasil bersih ODA sebagai prosentase bagian dari penghasilan kotor produk nasional negara pendonor OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) / DAC ( Development Co-operation Directorate) (target dari 0.7% dalam total dan 0.15% untuk LDCs / Least Developed Countries).
34. Proporsi ODA untuk layanan sosial mendasar ( pendidikan dasar, layanan kesehatan yang utama, nutrisi, menjaga air bersih, dan sanitasi).
35. Proporsi ODA yang tidak terikat.
36a. Proporsi ODA untuk lingkungan hidup di negara kepulauan kecil yang berkembang.
36b. Proporsi ODA untuk sektor transport di negara yang tertutup.
Market Access
37. Proporsi ekspor-ekspor (berdasarkan nilai dan tidak termasuk senjata-senjata) bebas pajak dan kuota.
38. Tarif dan kuota rata-rata untuk produk agrikultur, tekstil, dan pakaian.
39. Subsidi agrikultur domestik dan ekspor di negara-negara OECD.
40. Proporsi dari ODA yang disediakan untuk membantu membangun kapasitas perdagangan.
Debt Sustainability
41. Proporsi atas pembatalan pinjaman official billateral HIPC / Heavily Indebted Poor Countries.
42. Jumlah total negara-negara yang mencapai poin-poin decision HIPC dan jumlah yang mencapai poin-poin completion (kumulatif) (HIPC) (World Bank-IMF / International Monetary Fund).
43. Layanan pinjaman dalam prosentase ekspor barang-barang dan jasa (World Bank)
44. Pemberian pinjaman di bawah inisiatif HIPC (HIPC) (World Bank-IMF)
45. Pengangguran berusia 15-24 tahun: per jenis kelamin dan total (ILO / International Labour Organization).
46. Proporsi populasi dengan akses untuk memperoleh obat-obatan penting dengan harga terjangkau secara konsisten (WHO).
47. Langganan jaringan telepon dan selular per 100 populasi (ITU / International Telecommunication Union).
48. Pengguna Personal Computer (PC) dan internet per 100 populasi (ITU).
Kedelapan buah tujuan beserta target dan indikator inilah yang dijadikan standard ukuran keberhasilan bagi negara-negara di dunia dalam membangun negaranya, tentunya termasuk juga di dalamnya adalah negara Indonesia. Berhasil atau tidaknya negara Indonesia mencapai target MDGs di tahun 2015, tergantung pada sejauh mana kesadaran masyarakat dan pemerintah Indonesia untuk bekerjasama membangun negara yang lebih kondusif dan lebih baik. Oleh karena itu, masing-masing individu sebagai warga negara Indonesia, sesungguhnya wajib untuk memikirkan dan melakukan sesuatu yang dapat membangun negara ini menjadi lebih baik dilihat dari berbagai aspek pembangunan.
Catatan Singkatan-Singkatan Kata:
CFCs : Chlorofluorocarbons
DAC: Development Co-operation Directorate
FAO : Food and Agriculture Organization
HIPCs : Heavily Indebted Poor Countries
ILO: International Labour Organization
IPU: Inter-Parliamentary Union
ITU: International Telecommunication Union
LDCs: Least Developed Countries
ODA : Official Development Assistance
ODP : Ozone Depleting Potential
OECD : Organization for Economic Co-operation and Development
TBC : Tuberculosis
UN : United Nations
UNAIDS : United Nations Programme on HIV/AIDS
UNDP: United Nations Development Programme
UNEP: United Nations Environment Programme
UNESCO : United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization
UNICEF : United Nations International Children’s Fund
WHO: World Health Organization
PPP: Purchasing Power Parity
GDP: Gross Domestic Product
IMF: International Monetary Fund