Di saat sekarang ini "Friends With Benefits" sedang membudaya di kalangan muda di kampus-kampus atau di perguruan tinggi. Orang-orang sudah banyak yang muak dan bosan dengan sebuah relationship yang "konvensional". Pacaran sudah dianggap kurang memfasilitasi lagi institusi hubungan sebuah pasangan. Banyak yang kecewa dengan pola pacaran yang selalu ‘mengikat’ atau ‘membelenggu’ orang yang menjalin kasih tapi begitu-begitu aja.
Masalahnya, pacaran membuat kebebasan individu menjadi terkekang sehingga sulit bagi mereka yang sedang menjalani hubungan tersebut untuk menjadi dirinya sendiri. Padahal secara mendasar kita jatuh cinta pada seorang lelaki atau pada seorang perempuan karena jati diri orang tersebut yang berbeda dengan kita. Tapi lantas mengapa kita tiba-tiba ingin membuat orang tersebut jadi seperti yang kita inginkan dan bukan menjadi dirinya sendiri?
Kini banyak orang yang beralih pada sebuah hubungan "Friends With Benefits" atau biasa disingkat "F.W.B". Bagi sebagian orang, FWB lebih ideal dibandingkan suatu hubungan selingkuh (affair) atau "one-night-stand". Kadar stress dalam hubungan FWB lebih rendah dan lebih membebaskan. Maka dari itu, biasanya hubungan seperti ini bisa berumur lebih panjang dibandingkan sebuah relationship yang konvensional.
Friends With Benefits adalah sebuah hubungan "teman" yang sangat dekat tanpa melibatkan harapan (expectation) satu sama lainnya. Dalam hubungan ini perjalinan yang dibangun meliputi berbagi suka duka, diskusi intelektual, atau sekedar main bersama. Pada akhirnya, sebagaian FWB ini membawa pada sebuah hubungan yang lebih intim diantara dan dapat berakhir pada suatu hubungan seksual. This is why the relationship then sometimes called as "Friend With Benefits". Ratu menyebutnya "Teman Tapi Mesra".
Fwb
Dalam hubungan FWB, sentilan "romantisme" lebih cenderung sedikit tapi mempunyai karakteristik utama yang sangat dominan; bahwa satu orang merasa mempunyai perasaan yang lebih dibandingkan yang lainnya. Prinsip dasar FWB adalah "keterbukaan" (openness); dimana pasangan teman tersebut berbagi tentang segala macam tanpa rasa malu atau canggung. Dan dalam setiap perbincangan selalu ada "sesuatu". "In every conversation, there’s always innuendo".
Penelitian dari Michigan State University melaporkan bahwa hampir setiap dari mahasiswa yang ada di kampus tersebut pernah merasakan pengalaman ber-FWB. Professor Paul Mongeau menyebutkan bahwa FWB merupakan suatu jenis hubungan sosial intim yang jarang dibahas oleh kebanyakan orang. Kebanyakan orang menganggap bahwa FWB ini merupakan "affair" atau kadang2 disebut "HTI" atau Hubungan Tanpa Ikatan.
Melissa Bisson dan Professor Timothy Levine dari Michigan State University melakukan survey dan mengumpulkan 125 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dari semuanya, sekitar 60 persen pernah melakukan FWB. Satu banding sepuluh merubah hubungan tersebut menjadi sebuah hubungan yang lebih romantis, sepertiganya berhenti melakukan "seks" tapi meneruskan pertemanan. Satu dari empat orang mengentikan semuanya; seks dan pertemanan. Sisanya, terus meneruskan hubungan FWB.
Sex
Pada dasarnya, orang-orang yang melakukan FWB ini tidak menyukai "komitmen" dan menghindari jauh-jauh komitmen ini. Satu-satunya yang dikhawatirkan dalam FWB ini adalah jika salah satu pasangan tersebut kemudian menjadi jatuh hati karena hubungan yang intim ini.Untuk terus bertahan, fondasi dasarnya adalah "pertemanan" dan bukan "romance".
FWB bersifat "hidden" atau tersembunyi. Ia jarang dilaporkan dan jarang dibahas. Pasangan yang ditanya biasanya hanya menjawab…"Ia hanya seorang teman" atau "We’re just friends..no more". Makanya pertemanan FWB sebenernya adalah sebuah payung (umbrella) suatu aktivitas seksual. Dalam hal ini, maka status suatu hubungan tidaklah penting, yang penting adalah "benefit" dari hubungan tersebut.
Pasangan dari FWB bisa jadi dari suatu teman biasa, sahabat, atau mantan pacar (x-boy/girl friends) yang biasa ketemuan atau nongkrong bareng. Bahkan dalam situasi tertentu, ia bisa jadi seorang yang tidak dikenal dan intimacy tersebut akhirnya bisa terjalin dari kualitas perbicangan tersebut.
Faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan FWB selain dari hubungan pacar yang konvensional atau membosankan, adalah karena sifat bawaan individu tersebut yang secara naluriah mempunyai instinct seksual dan persahabatan. Selain itu juga, komitmen, baik itu pernikahan atau sekedar pacar biasa, sering terbukti tidak mampu lagi menjawab kebutuhan-kebutuhan pribadi manusia yang hidup di jaman sekarang. Makanya, kita sekarang sangat wajib mempertanyakan dulu arti "komitmen" sebelum kita menawarkannya kepada orang yang kita inginkan. Sebelum akhirnya hubungan itu menjadi basi (expired) dan merusak diri kita sendiri.
Dua minggu yang lalu, saya bertemu sepasang suami isteri yang sudah menikah selaa 34 tahun dan tetap masih hidup bahagia. Mereka tinggal di rumah yang mewah, uang banyak, dua anaknya disekolahkan di Australia, dan mereka aktif dalam kegiatan sosial dan spiritual. Ketika saya tanya rahasia keawetan hubungan mereka bukanlah sekedar hubungan sosial mereka dengan orang lain dan bukan juga karena faktor agama atyau spiritualitas yang menyemangati jiwa mereka…tapi keyakinan mereka tentang suatu komitmen yang ekstrim.
Komitmen yang mereka yakini bukanlah kewajiban pasangan-pasangan yang terkait untuk menjadi "loyal" atau setia satu sama lain dan tidak melirik laki-laki atau perempuan lain. Dan bukan juga aturan-aturan main yang sering diterapkan oleh kebanyakan pasangan konvensional atau mereka yang sudah menikah secara konvensional dan tradisional.
Komitmen yang mereka yakini bersama adalah komitmen untuk "membebaskan dirinya masing-masing". Si pasangan tidak diperkenankan untuk dilarang melakukan ini atau itu, atau menghakimi pasangan dengan mengatakan "saya kurang suka kalau kamu melakukan anu atau melakukan anu…". Dengan membebaskan jiwa pasangan, berarti memberikan tanggung jawab pribadi dengan apa yang hendak ia bangun untuk dirinya sendiri dan untuk pasangannya ke depan. Dalam hal ini, konsep membebaskan pasangan berkaitan dengan prinsip konstruktivisme sosial; yaitu prinsip yang meyakini bahwa setiap individu mempunyai kesadaran sosial dan tanggung jawab sendiri untuk mebuat dirinya menjadi lebih baik bagi dirinya sendiri dan bagi orang yang dia cintai.
Kebanyakan kesalahan kita dalam mencintai ialah kita seringkali menginginkan orang yang kita cintai menjadi orang yang kita inginkan dan melupakan orang yang kita cintai tersebut untuk menjadi dirinya sendiri.
Saya terkagum mendengar kisah pasangan yang saya temui tersebut, karena dengan prinsip yang mereka pegang tersebut pada akhirnya mereka telah membebaskan satu sama lain untuk menjadi manusia apa adanya. Dengan kebebasan yang diberikan itulah akhirnya cinta dapat tumbuh dan terus bersatu tanpa harus adanya paksaan atau keharusan.
"Kita jatuh cinta pada orang yang kita cintai pertama kali kan karena jati diri orang tersebut yang memberikan impresi luar biasa pada diri kita….. Lantas kenapa kita harus merubahnya menjadi orang yang kita buat-buat sendiri?" Sang suami yang berprofesi sebagai desainer interior tersebut. Bagi dia, pernikahan bukanlah yang paling utama, tapi "hubungan" (relationship) lah yang paling utama. Untuk terus bertahan, kita harus menitik beratkan pada pola dan kualitas hubungan dengan pasangan kita. Memperkaya dikusi intelektual, saling menolong tanpa berharap kembali, melakukan suatu aktivitas bersama-sama, dan pada akhirnya menikmati hasil dari keintiman tersebut.
Baik FWB maupun hubungan dengan "komitmen bebas" (mungkin ini bahasa yang bisa saya pakai untuk menjelaskan jenis hubungan yang terakhir) adalah dua indikasi bahwa hubungan asmara konvensional sudah perlu didaur ulang atau diperbaiki kembali. Untuk yang pertama (FWB), saya masih ngerasa "gak masuk" tapi yang kedua….boleh dicoba! Nah, kalo kamu lebih memilih yang gaya hubungan yang seperti apa? Alasannya? terus Berhasil gak?
