Tampilkan postingan dengan label PSikologI JIwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSikologI JIwa. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2010

Membalas Kebencian dengan Kasih Sayang

Meskipun aku sudah sering membacanya berulang-ulang kali, nilai kebijaksanaan dari kisah yang ditulis oleh guruku ini selalu bermanfaat bagiku. Jika hati kita merasa tersakiti oleh seseorang atau sekelompok orang, artikel ini mungkin bisa memberikan alternatif berpikir untuk bereaksi terhadap orang yang membenci kita. Kisah dalam tulisan ini barangkali tidak bisa dibuktikan secara empiris dan bisa dikatakan ‘tidak masuk akal’ (nonsense) dalam tingkatan interpretasi tertentu. Tapi, dalam prakteknya, jika kita dapat mengambil inti dari kisahnya, cara yang diajarkan dalam kisah ini sudah sering dapat membantu mereka yang meyakininya untuk menciptakan perubahan yang baik dalam kehidupan sosial mereka. Kebencian dibalas dengan kebencian, sudah tidak mempunyai tempat dalam kehidupan sosial sekarang. Pola dendam hanya akan mengakibatkan kerusakan, baik bagi orang tersebut maupun bagi lingkungan sosialnya. Selamat Membaca!

MEMBALAS KEBENCIAN DENGAN KASIH SAYANG
KH.  Jalaluddin Rakhmat

Salah seorang di antara tokoh besar dalam dunia kesucian adalah orang Mesir yang bernama Dzunnun. Karena ia berasal dari Mesir, maka ia dikenal dengan sebutan Dzunnun Al-Mishri, Dzunnun Si Orang Mesir.

Ketika ia masih hidup, orang-orang tidak mengenalnya sebagai orang yang dekat dengan Allah. Ia malah lebih banyak dicela dan dicemooh orang karena dianggap kafir, ahli bid’ah, dan orang murtad. Ia tidak pernah membalas semua tuduhan itu dengan kemarah-an atau serangan balik. Ia bahkan menunjuk-kan dirinya seakan-akan ia mengakui seluruh celaan itu. Selama ia hidup, orang-orang tidak mengetahui bahwa Dzunnun adalah salah seorang di antara waliyullah, kekasih Allah. Orang mengetahui kedekatannya dengan Tuhan setelah Dzunnun meninggal dunia.

Menurut Al-Hujwiri, pada malam kematian Dzunnun, tujuh puluh orang bermimpi melihat Rasulullah saw. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda, “Aku datang menemui Dzunnun, sang wali Allah.” Sesudah kematian-nya, konon di atas keningnya tertulis: Inilah kekasih Tuhan, yang mati karena mencintai Tuhan, dan dibunuh oleh Tuhan.

Masih menurut Al-Hujwiri, pada saat penguburan Dzunnun, burung-burung di angkasa berkumpul di atas kerandanya sambil mengembangkan sayap mereka seakan-akan ingin melindungi jenazahnya. Pada saat itulah orang-orang Mesir menyadari kekeliruan mereka dalam memperlakukan Dzunnun selama ini.

Ada banyak kisah tentang Dzunnun dan hampir semua kisah hidupnya itu menjadi pelajaran yang amat berharga. Kisah-kisah itu menjadi petunjuk bagi kita dalam mendekati Allah swt. Di antara kisah-kisah yang dituturkan tentang Dzunnun adalah satu kisah ketika ia berlayar bersama para santrinya dengan sebuah perahu di atas sungai Nil.

Alkisah, pada suatu hari, berlayarlah mereka di sungai Nil. Yang sedang berekreasi di sungai itu bukan hanya orang-orang saleh seperti Dzunnun dan para santrinya, tetapi juga orang-orang yang menggunakan rekreasi sebagai alat untuk melakukan kemaksiatan. Di tengah jalan, bertemulah dua kelompok perahu yang mempunyai “ideologi” yang berbeda itu. Pada perahu yang satu, terdapat Dzunnun, sang kiai, bersama para santrinya. Mereka melantunkan zikir kepada Allah swt. Pada perahu yang lain, ada sekelompok anak muda yang memetik gitar, berhura-hura, berteriak-teriak, dan berperilaku yang menjengkelkan santri-santri Dzunnun.

Karena para santri percaya bahwa doa-doa Dzunnun pasti diijabah, mereka meminta Dzunnun untuk berdoa kepada Allah supaya perahu anak-anak muda itu ditenggelamkan Tuhan jauh ke dasar sungai Nil. Dzunnun lalu mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan orang-orang itu kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka satu kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti.

Santri-santrinya tercengang. Semula mereka berharap Dzunnun akan mendoakan anak-anak muda yang ugal-ugalan itu agar ditenggelamkan Tuhan karena anak-anak muda itu memandang kehidupan hanya semata-mata kesenangan saja. Tapi aneh bin ajaib, Dzunnun hanya berdoa seperti di atas. Para santri terkejut mendengar doa Dzunnun.

Ketika perahu anak-anak muda itu mendekat, mereka melihat Dzunnun ada di perahu itu. mereka menyesal dan meminta maaf. Entah bagaimana, memandang wajah Dzunnun membawa mereka kepada kesucian. Mereka meremukkan alat-alat musik mereka dan bertaubat kepada Tuhan.

Waktu itulah Dzunnun memberi pelajaran kepada para santrinya, “Kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti adalah bertaubat di dunia ini. Dengan cara begini, kalian dan mereka puas tanpa merugikan siapa pun.”

Kita tertarik dengan cerita Dzunnun ini. Kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada orang-orang di sekitar kita. Seringkali setelah kita menjalani kehidupan yang baik, kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa membalas kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi. Untuk itu kita sering menutup-nutupinya dengan berkata, “Supaya ini jadi pelajaran bagi mereka.”

Dzunnun melanjutkan tradisi para rasul Tuhan yang mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang dilakukan orang lain dengan kebaikan. Bayangkanlah ketika Anda berdoa supaya saingan Anda hancur, agar musuh Anda binasa, Anda akan memperoleh satu manfaat saja: Kepuasan hati karena hancurnya saingan Anda. Tapi ketika Anda berdoa: Ya Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang, Anda akan mendatangkan manfaat kepada semua orang. Sama seperti doa Dzunnun Al-Mishri.

Dahulu, Nabi Isa as beserta murid-muridnya lewat di depan rombongan pemuda yang ugal-ugalan juga. Mereka bukan saja melakukan tindakan-tindakan maksiat ketika kelompok Nabi Isa datang, mereka juga malah melemparkan batu ke arah Nabi Isa. Nabi Isa berhenti dan memandang mereka untuk kemudian mendoakan kebaikan bagi mereka.

Murid-muridnya bertanya, “Mereka melempari batu ke arahmu tapi mengapa engkau malah membalas dengan doa yang baik?” Nabi Isa menjawab, “Itulah bedanya kita dengan mereka. Mereka kirimkan kepada kita keburukan dan kita kirimkan kepada mereka kebaikan.”

Rasulullah saw dilempari orang di Thaif ketika beliau mengajak mereka kepada Islam sampai kakinya berlumuran darah. Ketika malaikat datang kepadanya menawarkan untuk menimpakan gunung di atas orang-orang yang menyerangnya, Nabi hanya berkata: Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.

Dzunnun Al-Mishri mengajari kita tradisi para nabi dan orang-orang saleh; membalas kejelekan dengan kebaikan. Jadilah kita seperti pohon Mangga di tepi jalan, yang dilempari orang dengan batu tetapi ia mengirimkan kepada si pelempar itu, buah yang telah ranum. Ahsin kamâ ahsanallâhu ilaik, berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.

Di antara perbuatan baik yang sangat tinggi nilainya adalah membalas keburukan orang kepada kita dengan kebaikan. Ini bukanlah suatu hal yang mustahil, melainkan ini adalah ajaran kesucian yang akan membawa kita lebih dekat kepada Allah swt.

Mencari Kebahagiaan


Semua orang mencari kebahagiaan. Ada yang mengartikan bahwa mencari kebahagaiaan itu mencari kesenangan. Berkumpul bersama keluarga, nongkrong dan berjalan-jalan bersama teman-teman, ngerumpi ngerokok dan ngopi bareng, bermain musik atau menonton konser band terkenal, minum alkohol atau menghabiskan waktu dengan orang yang kita cintai. Menurut Deepak Chopra, yang baru saya sebutkan tadi itu bukanlah kebahagiaan, tapi kesenangan yang semu. Dalam artian kesenangan yang datang dan pergi (ephemeral satisfaction). Menurutnya, mencari kebahagiaan itu tidak dengan mencari aktivitas-aktivitas yang adiktif dan bersifat sementara. Melainkan ,ialah kita mencari akar dari kebahagiaan tersebut. Pandangannya sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh para psikolog modern maupun para Sufi abad pertengahan. Mencari akar kebahagiaan dapat diraih dengan mengenal siapa diri kita.

The questions such "Who am I?" dan "Where do I come from?", merupakan dasar dari pertanyaan mencari kebahagiaan. Dengan demikian, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa kita dapatkan dari luar sana; apakah itu sesuatu atau seseorang. Melainkan, sesuatu yang sudah kita miliki sejak lahir. Kita  belum menyadari bahwa kita memiliki akar kebahagiaan itu, karena kita belum menyadari siapa diri kita sebenarnya. Niscaya, kita tidak akan pernah bisa raih bahagia jika  kita tidak pernah berusaha mengenal siapa diri kita sesungguhnya. Jalaludin Rumi selalu berkata, "Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya". Dalam kalimat itu, "Tuhan" tidak saja diartikan sebagai Zat Yang Maha Kuasa yang tidak bisa diraihi oleh akal manusia, tapi juga "Sumber" dari segala ide tentang kehidupan.

The quest for happiness will never end until we reach the state of being ourselves. Jalan menuju kesana harus dilalui dengan segala kepedihan dan penderitaan. Tidak berarti kita harus melupakan kesenangan dalam hidup. Rumi menganalogikan Kesenangan (Joy) dan Penderitaan (Sorrow) dengan "Dua Sayap Malaikat". Untuk mencapai hakikat manusia yang berbahagia, both Joy and Sorrow harus dialami olehmanusia. Malaikat tidak bisa terbang hanya dengan satu sayap. Ia juga tidak bisa terbang jika salah satu sayapnya tidak seimbang atau rusak. Manusia berbeda dengan Malaikat dalam hal bersih dari dosa dan dalam kemampuan untuk berpikir bebas, tapi manusia dan malaikat sama-sama mempunyai sayap. Hanya saja, sayap manusia tidak dapat dilihat secara fisik (intangible). Sayap-sayap itulah yang menentukan kualitas manusia dalam menjalani hidup. Untuk bisa ‘terbang’ menuju langit kebahagiaan, kita harus memakan asam dan manisnya kehidupan di dunia ini. Berpikiran picik dan negatif dalam hidup hanya membuat kita terus hidup dalam daratan. Dengan demikian, jiwa kita akan mati seiring dengan matinya bumi. Jika kita bisa terbang, jiwa kita akan terus abadi terbang dan melayang.

Aku sendiri belum yakin betul dengan interpretasiku itu. Hidupku sekarang sedang sangat sulit, terkadang malah buntu. Tapi, aku yakin bahwa apa yang pengalaman sulit yang sedang aku alami sekarang adalah modal untuk menemukan kebahagiaan abadi di masa yang akan datang. Dengan kata lain, jika kita sudah menemukan jati diri kita  sesungguhnya, maka kebahagiaan bisa didapatkan pada setiap pojok kehidupan. Semua kesenangan yang bersifat sementara akan menjadi abadi sepanjang hidupnya jiwa kita di alam semesta ini.

Dedicated to Rahma, my little angel. Soon you will find the happiness in any form of life from anything and from anyone, moreover it is lies within yourself

Mencari Tuhan, Mencari Pacar, Mencari Isteri

Salah satu temanku yang mengaku dirinya seorang Ateis bertanya, “Apa alasan kamu meyakini bahwa Tuhan itu ada?”. Aku tanya dia balik “kenapa bertanya begitu?”. “Aku harap kamu tidak keberatan untuk menjawab pertanyaan sederhanaku, aku hanya aneh saja melihat orang-orang seperti kamu yang meyakini sesuatu yang diada-adakan”, tekasnya.“Maksudmu?” aku bertanya lagi.“Bagiku Tuhan, sebagaimana Agama, hanya dianggap penting karena kalian menganggapnya seolah-olah penting. Dengan kata lain, kalianlah yang meciptakan Tuhan kalian sendiri!”, tegasnya.“Ohh..itu maksudmu. Bagaimana dengan Cinta, Benci, Kagum, dan perasaan-perasaan luar biasa manusia lainnya?” Apakah kamu meyakini semuanya ada?” Aku tanya balik padanya.“Have you ever been in Love?” Aku tanya lagi. “Yes!” Dia menjawab. “So where is the Love?” aku tanya dia lagi. “I can’t tell you where it is…I think it is in here (menunjukkan ke arah dadanya)”, dia menjawab.“Begitu juga dengan Tuhan…kamu tak akan mungkin bisa menemukan Tuhan di atas kertas, atau di atas batu, atau di depanmu berbicara seperti aku! It is beyond the physical being. You have to find God by yourself and not by asking me where He is!”, aku berusaha untuk menjelaskan.

“Ahh..stop the bullshit!” dia ketus menjawabnya. “Apa pertanda Tuhan itu ada? atau Dia sangat agung seperti yang biasa kalian sebut dengan The One?” Dia tanya lagi tak mau kalah.

“Ok, the sign is everywhere”…one simple thing is you can see it from the people around you: There’s always someone better and cooler than you!”, aku bilang.

“What?” dia masih bingung.

“Yes, contohnya kamu selama ini selalu mencari orang yang lebih baik dan yang lebih cool in every way untuk dijadikan kekasihmu. You’re seeking perfection, but you never found any of it in him/her. Then you will always meet another person who is better than him/her. That’s why you always fail to find the “right” person. Because to achieve the perfection is impossible… Aku sok gaya menjelaskan.

“Kamu akan menemukan seorang kekasih yang ganteng, cantik, pintar, seksi, menarik, kaya, populer,..tapi kamu akan selalu menemukan orang lain yang baru yang lebih baik darinya. Andaikan kamu meninggalkan kekasihmu yang lama demi yang “lebih baik” ini, niscaya ini bukan perjalanan akhir…dari “loving and dumping” game. It’s gonna be FOREVER! for there’s always someone cooler and better than your lover.”

“Make it simple please?”, dia memintaku utk mempersingkat pembicaraan.

“You will never be satisfied with what you have because you’re seeking the perfection, for yourself, for your love, and for your future…while we’re impossible to achieve it (perfectness). In a way we’re not perfect at all…we’re human! There’s always someone higher than us. Thats the SIGN! aku tegaskan.

“So where can I find God?” dia tanya. “In your self! Start to figure out why you’re asking God? while God might never ask about you?” Jawabku

Selama ini kita mengharapkan kebenaran dan segala keutamaan hidup dari orang lain yang berada di luar diri kita, sebagaimana kita mengharapkan kebahagiaan. Mencari pasangan hidup, kurang lebih mirip dengan mencari Tuhan. Kita mengharapkan keberadaannya tanpa menyadari bahwa jawabannya ada dalam diri kita sendiri.

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya” Jalaludin Rumi bilang.

“So have you found your God?” dia tanya. “Sama seperti kamu, akujuga sedang mencarinya dalam diriku, seperti aku sedang mencari pacar” Jawabku. “Maksudnya?” tanya dia lagi. “Maksudku, maukah kamu menjadi pacarku? Kita cari Tuhan bersama-sama”.

PSikologi daN psikologi hidup

Filosofi hidup hampir berkaitan dengan prinsip hidup. Semua
orang yang masih eksis mempunyai pegangan hidup, tujuan hidup,
prinsip hidup maupun filosofi hidup. Tentunya hal ini cukup berbeda
di antara satu dengan lainnya dalam menyikapinya. Karena, setiap
orang itu tidak sama, setiap orang itu unik, setiap orang merupakan
mahluk individualisme yang membedakan satu dengan lainnya.

Ada yang mempunyai tujuan hidup yang begitu kuat, namun
prinsip hidupnya lemah, atau sebaliknya ada orang yang mempunyai
tujuan hidup yang lemah, namun memiliki prinsip hidup yang kuat. Ini
tidaklah menjadi suatu permasalahan, yang penting seberapa baiknya
seseorang menyambung hidupnya dengan berbagai persoalan dunia yang
ada, atau dengan kata laiinya bagaimana kondisi psikologis/jiwa
seseorang dalam menjalani hidupnya.

Prinsip hidup masih jauh kaitannya dengan psikologi, namun
psikologi mau tau mau berhubungan langsung dengan prinsip hidup.
Karena, dengan menijau prinsip hidup seseorang dapat diketahui
kondisi jiwa seseorang. Prinsip hidup dan filosofi hidup sangat luas
cakupannya, tidak hanya ditinjau dari segi psikologi, tapi seluruh
cabang ilmu pengetahuan yang ada. Prinsip hidup seseorang dapat
diambil dari perspektif psikologi, agama, seni, literatural,
metafisika, filsafat dsb.

Bagi sebagian orang, filosofi hidup dapat dijadikan sebagai
panutan hidup, agar seseorang dapat hidup dengan baik dan benar.
Adapula sebagaian orang yang tidak menghiraukan apa itu tujuan hidup
dan filosofi hidup, ia hanya hidup mengikuti arus yang mengalir dan
sebagian orang lagi, terlalu kuat memegang tujuan hidup dan filosofi
hidupnya sehingga membuat ia menjadi keras dan keras, Jadi,
kesimpulannya ada 3 sifat manusia yang bisa ditinjau dari filosofi
hidupnya, yaitu orang yang lemah, orang yang netral dan orang yang
keras.

Orang yang lemah adalah orang yang tidak mempunyai tujuan hidup atau
prinsip hidup. Ia tidak tahu untuk apa ia hidup, ia tidak berusaha
mengetahui kebenaran di balik fenomena alam ini, sehingga terkadang
baik dan buruk dapat dijalaninya. Orang yang netral adalah orang
yang mempunyai tujuan dan prinsip hidup, tetapi tidak mengukuhinya
dengan terlalu kuat. Ia berusaha mencari kebenaran hidup dan hidup
dalam kebijakan dan kebenaran, ia bebas dan netral, tidak kurang dan
tidak melampaui, ia berada di tengah-tengah. Orang yang kuat adalah
orang yang memegang kuat tujuan dan prinsip hidupnya. Sehingga ia
mampu melakukan apa saja demi tercapai tujuannya. Ia terikat oleh
filosofinya, ia kuat dan kaku berada di atas pandangannya, ia merasa
lebih unggul dari orang lain dan melebihi semua orang.
Jika ditinjau dari sisi psikologi. Orang-orang yang di atas juga
dapat dikategorikan, seperti orang yang mempunyai jiwa yang lemah,
jiwa yang sedang dan jiwa yang kuat. Namun, untuk yang berjiwa
sehat, seseorang tidak hanya dilihat dari jiwa lemah, sedang ataupun
kuatnya. Penerapan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari
itulah yang penting.

Pada dasarnya, tujuan dan prinsip hidup seseorang itu baik dan
bersih. Pada saat seseorang dalam keadaan tenang, ia membuat
berbagai tujuan dan prinsip dalam hidupnya, namun ketika diterapkan
timbul beberapa hambatan dari luar dirinya atau adanya pengaruh dari
lingkungan eksternalnya. Salah satu pengaruh terbesar dari luar
dirinya adalah panca indera. Panca indera yang tidak terjaga dengan
baik akan membuat seseorang terpeleset dari tujuan dan prinsip
hidupnya. Telinga bisa mendengar, mata bisa melihat, mulut bisa
berbicara. Semua itu harus dikendalikan dengan baik.
Sebagai contoh konkret, saya mempunyai tujuan hidup menjadi
seseorang yang berguna untuk menolong semua mahluk hidup sampai ajal
menemui dan filosofi hidupnya adalah bila ada orang baik kepada
saya, maka saya akan baik kepadanya, dan bila ada orang jahat kepada
saya, maka saya akan baik juga kepadanya. Dari filosofi hidup ini,
jika dilihat dari sisi psikologinya, orang tersebut mempunyai jiwa
yang sehat, tidak mendendam dan bahagia menerima hidup. Namun, itu
hanyalah sebuah filosofi hidup, yang terpenting adalah bagaimana ia
menerapkan dalam perilakunya, apakah bisa sesempurna dengan filosofi
hidupnya atau hanya sekedar membuat filosofi hidup tetapi tidak
dijalankannya ataupun ia membuat suatu filosofi hidup, namun ia
susah menjalannya karena tidak bisa menahan godaan atau hambatan
dari luar dirinya.

Sebuah filosofi hidup bisa didapatkan dari seorang pemikir-pemikir
jenius yang bijaksana, bebas dan terpelajar. Biasanya orang tersebut
dianggap sebagai seorang filsuf, pelopor kebijakan. Masing-masing
negara memiliki tokoh filosofinya. Orang pertama yang memperkenalkan
filsafat hidup ke dalam ilmu pengetahuan adalah orang Yunani yang
kebetulan pada saat itu negaranya merupakan negara yang bebas dalam
berkarya. Terbukti begitu banyak para filsuf terkenal kebanyakan
dari bangsa Yunani, seperti Aristoteles, Plato dan Socrates.
Socrateslah yang paling banyak memberi pengaruh kepada dunia ilmu
pengetahuan, maka dia disebut Bapak Filsafat. Sedangkan, dari ilmu
psikologi, Bapak Sigmud Frued disebut-sebut sebagai Bapak Psikologi
yang paling banyak memberikan sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan.
Kedua tokoh dunia ini sama-sama memiliki pemikiran yang luar biasa
untuk menciptakan pengetahuan-pengetahuan mengenai asal usul dari
segala sesuatu, meskipun cakupannya berbeda, namun, psikologi dan
filsafat tidak bisa dipisahkan dan sebaliknya. Banyak tokoh
psikologi yang semula mempelajari filsafat kemudian melanjutkan
pengetahuannya ke bidang psikologi.
Beberapa kata kutipan yang diambil da
ri kedua tokoh ini, yakni :

" Makanan enak, baju indah, dan segala kemewahan, itulah yang kau
sebut kebahagiaan, namun aku percaya bahwa suatu keadaan di mana
orang tidak mengharapkan apa pun adalah kebahagiaan yang tertinggi
(Socrates)".
Dan,

" Mereka yang percaya, tidak berpikir. Mereka yang berfikir, tidak
percaya (Sigmud Frued)".

Disini dapat dilihat, bahwa terjadi suatu studi banding antara kedua
ilmu tersebut, Masing-masing membicarakan asal asul segala sesuatu
menurut perspektif ilmunya. Namun, dari kedua ilmu tersebut
mempunyai suatu kesamaan, bahkan banyak kesamaan yang membahas
mengenai asal mulanya sesuatu yang pasti ada hubungannya dengan
manusia dan alam sekitarnya.

Seorang Socrates membicarakan kebahagiaan dan seorang Sigmund Frued
membicarakan pikiran, tentunya kedua hal ini mempunyai kaitan yang
cukup besar. Filosofi hidup yang diberikan oleh Socrates mengenai
kebahagiaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan Ilmu
psikologi yang diberikan oleh Sigmund Frued mengenai pikiran (alam
sadar atau alam bawah sadar) dapat dijadikan landasan seseorang
untuk mencapai kebahagiaan.

Oleh sebab itu, seseorang yang mempelajari psikologi maupun
tidak, harus memiliki satu tujuan hidup atau filosofi hidup agar
bisa berkembang, dan seseorang yang mempelajari filsafat maupun
tidak, harus memperhatikan apakah dan bagaimanakah agar filosofinya
dapat diterapkan dengan baik dan benar sehingga mempunyai
psikologis/jiwa yang sehat untuk maju dan berhasil.

"Jika seseorang tahu kebenaran yang mendasar tentang segala sesuatu,
maka itulah inti pengetahuan'.

DEpresi

Pengertian Depresi

Depresi merupakan salah satu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, merasa tidak berharga, merasa kosong, dan tidak ada harapan, berpusat pada kegagalan dan menuduh diri, dan sering disertai iri dan pikiran bunuh diri, klien tidak berminat pada pemeliharaan

Diri dan aktivitas sehari-hari. (Kelliat, B.A, 1996)

Etiologi Depresi

Etiologi depresi yang pasti belum diketahui. Beberapa faktor yang diketahui berkaitan dengan terjadinya depresi:
–>Berbagai penyakit fisik
–>Faktor psikis
–>Faktor sosial dan lingkungan
–>Faktor obat
–>Faktor usia
–>Faktor genetik

Depresi Sebagai Bagian dari Gangguan Alam Perasaan

Kelainan fundamental dan kelompok gangguan alam perasaan yang membedakan dengan kelompok gangguan kejiwaan lainnya adalah adanya perubahan suasana perasaan (mood), biasanya ke arah depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya), atau ke arah elasi. Perubahan efek ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktifitas, dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan itu, atau mudah dipahami hubungannya dengan perubahan tersebut. (Muslim, 2001)