Jamannya kakak SD, this subject was recognized as Pendidikan Moral Pancasila,
Jaman gua SD, this subject was recognized as Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan.
Jaman SMP-SMA disingkat jadi Pendidikan Kewarganegaraan. Singkatannya jadi PKn atau Kwn. Pendidikan Pancasila udah wrapped up selama enam tahun di SD. Selama SMP-SMA, belajar tentang seluk-beluk Kewarganegaraan, termasuk syarat administratif dan bla bla bla. Pokoknya gampang deh, gak sesusah Matematika (sumpah, gua yang baru lulus SMA kemarin udah lupa apa bahan gosip Matematika SMA).
Nah, waktu SD.. pelajaran ini jadi ajang ceramah guru. Ampe demek bolak-balik halaman buku, kadang suka bingung sendiri : ini belajar apaan sih? Abis dicekoki materi, latihan.. kaga ada disuruh aplikasiin substansi buku.. boro-boro deh. Pokoke sistematikanya begini : apalin buku-ulangan dapet bagus-nyawa gua aman-naik kelas. Huehehehe..
Entri blog ini berawal ketika lagi kesel banget, mau wrapping up materi program adik asuh di prodi Psikologi, tapi mesti ngorbanin waktu sedikit buat bersihin gudang. Untung ada orang-orang yang rela suruh ngangkut-ngangkut, jadi gua sama nyokap cukup bilang : itu.. buang, ini..buang.. itu..udah gak kepake.. Tyo.. jangan lupa buang dirimu.. (iya kali gua disuruh ngebuang diri..).
Program Adik Asuh Prodi Psikologi?? Yah.. semoga penggagas program gak ngambek karena dipublish tanpa seijin doi. At ease-nya, program ini dilakukan anak-anak psikologi buat adik-adik di panti asuhan. Mungkin tendencious ke pendidikan moral (makanya dipakailah buku PKn buat referensi penyusunan materi sekaligus menganalisa dinamika pembelajaran di tingkat sekolah). Sembari mengajar, senior juga memperhatikan perkembangan kejiwaan, kalau angkatan gua mungkin Cuma ngamatin at ease aja bagaimana mereka. Karena mata kuliah psikologi perkembangan belum didapet. Kite baru dasar-dasarnya ajee kali!!
Kebetulan saya iseng memposisikan diri di divisi materi. Karena kalau ngajarin anak bocah gak bakat, survey juga kurang sarana-prasarana. Semua divisi di program ini saling komplementer dan terintegrasi. Gak ada yang superior ataupun inferior. Perbedaannya Cuma job description. Kaget juga kalau e-mail tentang materi yang akan disampaikan paling telat besok pagi dikirim (ya udah deh subuh-subuh kerumah Bude.. buat kirim e-mail.) dan Senin-nya meeting lagi.
Gua inisiatif pinjem buku PPKn sama salah satu sepupu.Untung..untung.. Kendati ini buku bisa selesai dibaca dalam waktu tiga puluh menit dan kebayang apa yang bakal dibahas. Pas bikin rancangan materi-nya, buanyaak yang perlu diedit. Kualitas mikir anak bocah jaman sekarang emang canggih, sanggup membuat gua dungu sementara (walopun ujung-ujungnya tetetp aja gua yang tokcer karena jam terbang yang berbicara..), tapi terkadang perlu dibatesin juga. Berhubung eike berkecimpung di bidang psikologi, jadi fokus utama bukan masalah sejauh mana mereka nangkep terus aplikasi. Bagaimana respon kejiwaan mereka apabila mendapat materi-materi seperti yang udah wrapped up dan udah di-save as dengan format PDF.
Kalau lu liat gua nyusun materi, pasti pada bilang : sarap lo. Karena setiap gua buka halaman buku referensi, dikit-dikit ngakak, dikit-dikit mikir dan kagum. Ngakak karena.. alamaaakkk.. rapi jali booo, bukunya dibungkus, dinamain pake label Tom n Jerry, terus soalnya setipe kayak soal kuis psikologi umum, selain itu juga mengenang masa-masa pra-akil balig yang cupu dan kelam. Mikir.. karena salah satu materinya adalah keluarga rukun. Maknyus.. keluarga rukun?? Haiyaaa.. gua aja survival di keluarga broken home, ngajarin kerukunan ke anak-anak penerus bangsa dan negara. Mikir bagian kedua adalah saat materi tentang demokrasi.
AIH!
Pikiran gua mendadak negatif denger kata demokrasi. Karena keinget cerita dosen Sosiologi mengenai anak-anak bocah yang suruh demo menentang kedatangan Om Barry ke Indonesia. Nah lho! Just felt insecure, when teacers taught all the pupils how to arrange a demonstration. Memang sih setelah dibaca materinya, gak taunya soal musyawarah, tapi kok tetep aja buat ukuran bocah belum kenal dunia pronografi (alias pornografi) istilah yang digunakan untuk materi ini terlalu berat buat dicerna otak penggila Spongebob Squarepants, Naruto, One Piece dan sejenisnya.
Terakhir adalah kagum, bahwa anak-anak jaman sekarang kualitas pendidikannya bagus, walaupun mungkin ya tuntutannya tinggi. At least mereka dibiasakan buat mengaplikasikan moral dasar yang diajarin. Gak kayak gua.. Cuma ngerti doang, suruh aplikasi pasti mikir-mikir juga he he he.
Alhamdulillah materi yang tanggung jawab moralnya besar ini selesai. Di save dalam tiga format dan besok pagi harus udah sampai di tangan Kadiv Materi Program Adik Asuh.
Semoga setelah program ini berjalan, akan memberi kontribusi positif kepada gua untuk masa depan.
Sign off.
Bramantyo Adi.
Future Navy Military Psychology Officer and Peacekeeper.
Tampilkan postingan dengan label Psycholoonycal Experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psycholoonycal Experience. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 18 Desember 2010
A Beautiful Lie to Believe The Kings and Queens of Promise, A Call to Arms for A Battle Song of The Last Fight Which Will Live My Life
Aaaalllllllleeeeeeeejjjaaaaannnndddrrrroooooooooooooo! (kenapa harus menjerit ‘Alejandro’ ya? Hmm.. karena bosen aja teriak : ANJING!) Gua lupa kan mau nulis apalagi, Cuma gara-gara mata geser dikit ke window bertitle bar “Psycholoonycal Journey” ke “Relevansi Falsafah Terhadap Psikologi” terus balik lagi ke window bertitle bar “Psycholoonycal Journey” dan akhirnya mata jadi siweer.
Sebentar, gua bertapa dulu ke Lembah Tidar. Yaakk, macan Lembah Tidar, tolong ya dibikin perimeter minimal 10 km dari tempat gua bertapa (ggrroooooowwwlll!! Okeee komandan, apa sajennya?-Macan Lembah Tidar) (gua comblangin sama tiga macan betina, setubuh?-Tyo) (BOLEEEHHH! SIAP LAKSANAKAN!-Macan Lembah Tidar) (laksanakan-Tyo).
Dibantu ya dibantu ya.. bim salabim prok prok prok jadi apa prok prok prok..
Ya jadi ingetlah guoblook.. ya kalee jadi amnesia permanen karena lobus temporal tempat mengolah memori lu rusak..
AhA! I like it! Gua inget, I wanna share ya about my ringtone which influence me untill this entry posted! Iye.. sebagai manusia berperangai luar binasa dan pasien, eh, klien rawat jalan yang asik indehoy sama ilmu perilaku manusia. Pasti punya henpon (ingat, henpon, bukan tampon. Lagipula tampon apaan ya? Anyone knows??), lau taw kan kalau nada dering dan vibrasi henpon gitu-gitu aja.
Naaahh.. kemudian muncullah lampu di atas lobus otak (baca : dapet ide) dengan bunyi ‘crrrriiiiinggg!’ untuk memproduksi nada dering home made. Modalnya Cuma file lagu di laptop sama software pengolah video. Soal gimana-gimana selanjutnya, mohon hubungi saya secara pribadi lewat sekretaris yang cihuy di meja depan. Setelah gua buka henpon dan cek cek bebi cek di folder ringtone.. langsung inget lagi ringtone apa aja yang udah dikorbanin buat teriak-teriak dan bikin orang pengen menghadiahi gua minimal gamparan.
Here they are..
A beautiful lie / Thirty Seconds To Mars
Tau kan? Yang pideo klipnye di kutub ono.. liriknya begini
“It’s a beautiful.. lie!! It’s a perfect deniaal, such a beautiful.. lie.. to believe.. it’s so beautiful.. beautiful lie.. makes me..”
Lanjut.. bosen sama lagu itu, gua bertapa lagi sama pertapa genit (Pecinta Naruto pasti tau siapa Pertapa Genit ini..gua aja baru tau karena mesti mantengin kartun buat assignment tentang materi kekerasan di televisi dan efeknya terhadap anak-anak). Nyari lagu.. buat memotivasi, ciaahh... gaya loo nyet!! Eh, sapa bilang gak guna?? Bisa kali, buktinya adalah lagu-lagu berikut yang berhasil mengantar saya lulus dari SMA Pangudi Luhur sebagai siswa terbaik di IPS! Yeay!
Kings and Queens / Thirty Seconds To Mars
Inti lagu ini.. adalah.. pada liriknya hoahahaa.
“We are the kings and queens of promise, we were the victims of ourself, may be a children of lesser God, between heaven and hell.. We are the Kings..!! We are.. the.. queens..”
Hmm.. “we are” enaknya diganti “I am”..
The Last Fight / Bullet For My Valentine
Yang paham soal dunia musik metal bilang katanya band ini udah mulai manut sama pasar. Yah, apakate lu pada deh.. menurut gua asik dan tentu inspiratif. Liriknya begini
“Do I fight or let it die.. I WILL FIGHT! One more fight! Don’t break down in front of me! I WILL FIGHT! When you fight I’m not the enemy, I will try the last time, are you listening to me? (dan.. terusin sendiri..capek ngetiknya!)”
Bodo deh ibu-ibu Majelis Ta’lim komplen terus nguber-nguber gua sambil ngelempar garpu, pisau lipet, bayonet (beh?) sampai garpu tala karena terganggu dengan lagu ini.
Disusul kemudian.. lagu buat manggil tentara.. lagu ini sangatlah cocok bagi anda yang terpanggil untuk bela negara (tapi versi Bahasa Inggris)
Vox Populi / Thirty Seconds To Mars
“This is call to arms, gather soldiers, time to go to war (far.. far.. away). This is battle song, brothers and sisters, time to go.. to waar (loong.. looong agoo!)..”
Berasa jadi prajurit saya kalau dipanggil-panggil pake lagu ini.
Terakhir.. karena keseringan dipanggil tapi gak direspon, daripada nyesel. Mending gua cari lagu yang sifatnya close to real. Lagu Vox Populi tetep dipake jadi ringtone di hape. Tapi lagu yang satu ini mengingatkan untuk : say hell yeah, and let’s live your own life!
Closer To The Edge / Thirty Seconds To Mars
“No! No! No! I will never forget! I will never regret! I will live.. my life!”
Mengingatkan saya, keep your dream on yet never forget to live the real life while the dream and the real will collaborating then make it really-really real.
Lagu-lagu ini sampai hari ini insaoloh menjaga mood gua dengan baik dan benar. Bodo deh orang-orang bilang norak. How’s your tunes?
Bramantyo Adi.
I’ll serving as military psychologist and peackeeper.
As fast as possible. (nambah lagi.. :D)
Sebentar, gua bertapa dulu ke Lembah Tidar. Yaakk, macan Lembah Tidar, tolong ya dibikin perimeter minimal 10 km dari tempat gua bertapa (ggrroooooowwwlll!! Okeee komandan, apa sajennya?-Macan Lembah Tidar) (gua comblangin sama tiga macan betina, setubuh?-Tyo) (BOLEEEHHH! SIAP LAKSANAKAN!-Macan Lembah Tidar) (laksanakan-Tyo).
Dibantu ya dibantu ya.. bim salabim prok prok prok jadi apa prok prok prok..
Ya jadi ingetlah guoblook.. ya kalee jadi amnesia permanen karena lobus temporal tempat mengolah memori lu rusak..
AhA! I like it! Gua inget, I wanna share ya about my ringtone which influence me untill this entry posted! Iye.. sebagai manusia berperangai luar binasa dan pasien, eh, klien rawat jalan yang asik indehoy sama ilmu perilaku manusia. Pasti punya henpon (ingat, henpon, bukan tampon. Lagipula tampon apaan ya? Anyone knows??), lau taw kan kalau nada dering dan vibrasi henpon gitu-gitu aja.
Naaahh.. kemudian muncullah lampu di atas lobus otak (baca : dapet ide) dengan bunyi ‘crrrriiiiinggg!’ untuk memproduksi nada dering home made. Modalnya Cuma file lagu di laptop sama software pengolah video. Soal gimana-gimana selanjutnya, mohon hubungi saya secara pribadi lewat sekretaris yang cihuy di meja depan. Setelah gua buka henpon dan cek cek bebi cek di folder ringtone.. langsung inget lagi ringtone apa aja yang udah dikorbanin buat teriak-teriak dan bikin orang pengen menghadiahi gua minimal gamparan.
Here they are..
A beautiful lie / Thirty Seconds To Mars
Tau kan? Yang pideo klipnye di kutub ono.. liriknya begini
“It’s a beautiful.. lie!! It’s a perfect deniaal, such a beautiful.. lie.. to believe.. it’s so beautiful.. beautiful lie.. makes me..”
Lanjut.. bosen sama lagu itu, gua bertapa lagi sama pertapa genit (Pecinta Naruto pasti tau siapa Pertapa Genit ini..gua aja baru tau karena mesti mantengin kartun buat assignment tentang materi kekerasan di televisi dan efeknya terhadap anak-anak). Nyari lagu.. buat memotivasi, ciaahh... gaya loo nyet!! Eh, sapa bilang gak guna?? Bisa kali, buktinya adalah lagu-lagu berikut yang berhasil mengantar saya lulus dari SMA Pangudi Luhur sebagai siswa terbaik di IPS! Yeay!
Kings and Queens / Thirty Seconds To Mars
Inti lagu ini.. adalah.. pada liriknya hoahahaa.
“We are the kings and queens of promise, we were the victims of ourself, may be a children of lesser God, between heaven and hell.. We are the Kings..!! We are.. the.. queens..”
Hmm.. “we are” enaknya diganti “I am”..
The Last Fight / Bullet For My Valentine
Yang paham soal dunia musik metal bilang katanya band ini udah mulai manut sama pasar. Yah, apakate lu pada deh.. menurut gua asik dan tentu inspiratif. Liriknya begini
“Do I fight or let it die.. I WILL FIGHT! One more fight! Don’t break down in front of me! I WILL FIGHT! When you fight I’m not the enemy, I will try the last time, are you listening to me? (dan.. terusin sendiri..capek ngetiknya!)”
Bodo deh ibu-ibu Majelis Ta’lim komplen terus nguber-nguber gua sambil ngelempar garpu, pisau lipet, bayonet (beh?) sampai garpu tala karena terganggu dengan lagu ini.
Disusul kemudian.. lagu buat manggil tentara.. lagu ini sangatlah cocok bagi anda yang terpanggil untuk bela negara (tapi versi Bahasa Inggris)
Vox Populi / Thirty Seconds To Mars
“This is call to arms, gather soldiers, time to go to war (far.. far.. away). This is battle song, brothers and sisters, time to go.. to waar (loong.. looong agoo!)..”
Berasa jadi prajurit saya kalau dipanggil-panggil pake lagu ini.
Terakhir.. karena keseringan dipanggil tapi gak direspon, daripada nyesel. Mending gua cari lagu yang sifatnya close to real. Lagu Vox Populi tetep dipake jadi ringtone di hape. Tapi lagu yang satu ini mengingatkan untuk : say hell yeah, and let’s live your own life!
Closer To The Edge / Thirty Seconds To Mars
“No! No! No! I will never forget! I will never regret! I will live.. my life!”
Mengingatkan saya, keep your dream on yet never forget to live the real life while the dream and the real will collaborating then make it really-really real.
Lagu-lagu ini sampai hari ini insaoloh menjaga mood gua dengan baik dan benar. Bodo deh orang-orang bilang norak. How’s your tunes?
Bramantyo Adi.
I’ll serving as military psychologist and peackeeper.
As fast as possible. (nambah lagi.. :D)
Bahasa dan Psikologi
Mempelajari tingkah laku manusia, faktor-faktor yang memicu individu bertingkah-laku, dan peran fisik yang berkaitan dengan perilaku manusia. Ada satu hal unik yang gua amati selama belajar psikologi dari bulan September yaitu bahasa.
Diawali dengan mata kuliah Penulisan Ilmiah yang sukses membuat satu kelas bahkan anak-anak fellowship (penerima beasiswa penuh dari kampus) yang notabene otaknya encer bukan kepalang dibanding calon psikolog militer satu ini (yang kadang suka lupa ganti sekring dari sekring bego ke sekring pinter) mengalami stress bukan kepalang. Tugas pertama yang gak ada apa-apanya dibanding dengan tugas-tugas pasca UTS berhasil memaksa saya untuk kembali membaca buku EYD. Ya, Ejaan Yang Disempurnakan. Might you’ll asking : aih.. buat apa masbro?? Kalau soal bahasa-bahasa yang baku tinggal nyontek laporan, atau apalah.. gak perlu rempong-rempong mendalami tata bahasa.
Eits.. jangan salah.. ketatabahasaan penting lhoo juragan. Kadang gua sendiri berasa menderita disleksia karena saking memperhatikan klausa yang meluncur indah dari bagian lobus frontalis ke lidah terus ditangkep lawan bicara. Padahal kalau mengacu pada tes kemampuan intelijensia alias tes-ai-kyuwh, skor gua berada di tingkat sangat cerdas. That’s proofed, IQ test isn’t always precisely represent who you’re.
Kembaliii ke penulisan ilmiah. Tugas pertama di matkul ini hanya menceritakan kembali film terbaru yang lu tonton. Waktu itu gua pakai film Resident Evil : Afterlife. Walaupun koherensi antar kalimat dan paragraf gak ada masalah (karena dikit-dikit pakai pakem yang ada di skrip film), tapi.. penggunaan kata acakadutplerkadut, poin gua dikurangin cukup banyak disitu. Mau kumplen ke dosen, dosen berkata layaknya akun twitter @ketuajamaah : perhatikan buku EYD-nyaaa!
Kelelawar! (KAMPRET!)
Ya, bahasa. Wajar dosen PI killer urusan tata bahasa. Maksud beliau baik, sebagai ilmuwan/profesi/peneliti psikologi masa depan kami mahasiswa/i dibiasakan berbahasa (bahasa apapun, bahasa prokem sekalipun) dengan baik dan benar. Mengingat esok kami (kami?-dosen PI) (oke bu.. maaf, saya-gua) menggunakan bahasa sebagai medium penyampaian informasi mengenai psikologi. Bisa-bisa salah kata dalam proses terapi atau diagnosa, bakal beda artinya, bakal beda pula diserapnya oleh target komunikan atau lawan bicara (kalau di psikologi klien ya nyebutnya) lalu akan menimbulkan hasil yang beda pula.
For the sake’s of avoiding those failure.. sedari dini gua diajari (kalau males disebut digembleng) untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Ditambah lagi ada materi baru tentang hipnosis yang menggunakan bahasa untuk memberi sugesti. I have to make sure there’s no language failure when tomorrow I give some hypnotherapy. Dari bulan September sampai Desember, sekarang kalau mau ngemeng.. bisa milih, mau ngomong yang baku apa yang berantakan. Sekalipun berantakan, udah gak berantakan banget sih..
Tapi jadi kocak ketika mulai ngeblog lagi setelah sekian hari mager depan laptop buat mengidentifikasi diri dengan teori-teori cap Freud, Bandura, Jung, Anne Freud, W.B. Titchener, Pavlov.
Blank juragan.. blank se-blank-blanknya. Gua berasa jadi Jason Bourne di dunia tata bahasa. I can’t remember precisely what was happened to me untill I found myself here at this post. Ide udah blingsatan pengen diterjemahkan ke format tertulis dan bisa dibaca umat manusia.
..mengakhiri post ini..I realized one thing, psychology is related with persuasion. Which mean, language plays a big role on it. Watch each word, phrase, clause stream down from your mouth through your respondent.
Karena Engkong Lao Tze-pun ikut berpesan pentingnya bahasa :
Watch your thoughts; they become words.
Watch your words; they become actions.
Watch your actions; they become habits.
Watch your habits; they become character.
Watch your character; it becomes your destiny.",
Biarin deh gak nyambung, yang penting ada unsur ‘kata’-nya. Baiklah, saya akan kembali fokus kepada assignment essay “Relevansi Ilmu Filsafat terhadap Ilmu Psikologi” dan assignment argumentasi Homoseksual apakah genetis atau lingkungan?
Bramantyo Adi. He wants to serve as military psychologist.
Diawali dengan mata kuliah Penulisan Ilmiah yang sukses membuat satu kelas bahkan anak-anak fellowship (penerima beasiswa penuh dari kampus) yang notabene otaknya encer bukan kepalang dibanding calon psikolog militer satu ini (yang kadang suka lupa ganti sekring dari sekring bego ke sekring pinter) mengalami stress bukan kepalang. Tugas pertama yang gak ada apa-apanya dibanding dengan tugas-tugas pasca UTS berhasil memaksa saya untuk kembali membaca buku EYD. Ya, Ejaan Yang Disempurnakan. Might you’ll asking : aih.. buat apa masbro?? Kalau soal bahasa-bahasa yang baku tinggal nyontek laporan, atau apalah.. gak perlu rempong-rempong mendalami tata bahasa.
Eits.. jangan salah.. ketatabahasaan penting lhoo juragan. Kadang gua sendiri berasa menderita disleksia karena saking memperhatikan klausa yang meluncur indah dari bagian lobus frontalis ke lidah terus ditangkep lawan bicara. Padahal kalau mengacu pada tes kemampuan intelijensia alias tes-ai-kyuwh, skor gua berada di tingkat sangat cerdas. That’s proofed, IQ test isn’t always precisely represent who you’re.
Kembaliii ke penulisan ilmiah. Tugas pertama di matkul ini hanya menceritakan kembali film terbaru yang lu tonton. Waktu itu gua pakai film Resident Evil : Afterlife. Walaupun koherensi antar kalimat dan paragraf gak ada masalah (karena dikit-dikit pakai pakem yang ada di skrip film), tapi.. penggunaan kata acakadutplerkadut, poin gua dikurangin cukup banyak disitu. Mau kumplen ke dosen, dosen berkata layaknya akun twitter @ketuajamaah : perhatikan buku EYD-nyaaa!
Kelelawar! (KAMPRET!)
Ya, bahasa. Wajar dosen PI killer urusan tata bahasa. Maksud beliau baik, sebagai ilmuwan/profesi/peneliti psikologi masa depan kami mahasiswa/i dibiasakan berbahasa (bahasa apapun, bahasa prokem sekalipun) dengan baik dan benar. Mengingat esok kami (kami?-dosen PI) (oke bu.. maaf, saya-gua) menggunakan bahasa sebagai medium penyampaian informasi mengenai psikologi. Bisa-bisa salah kata dalam proses terapi atau diagnosa, bakal beda artinya, bakal beda pula diserapnya oleh target komunikan atau lawan bicara (kalau di psikologi klien ya nyebutnya) lalu akan menimbulkan hasil yang beda pula.
For the sake’s of avoiding those failure.. sedari dini gua diajari (kalau males disebut digembleng) untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Ditambah lagi ada materi baru tentang hipnosis yang menggunakan bahasa untuk memberi sugesti. I have to make sure there’s no language failure when tomorrow I give some hypnotherapy. Dari bulan September sampai Desember, sekarang kalau mau ngemeng.. bisa milih, mau ngomong yang baku apa yang berantakan. Sekalipun berantakan, udah gak berantakan banget sih..
Tapi jadi kocak ketika mulai ngeblog lagi setelah sekian hari mager depan laptop buat mengidentifikasi diri dengan teori-teori cap Freud, Bandura, Jung, Anne Freud, W.B. Titchener, Pavlov.
Blank juragan.. blank se-blank-blanknya. Gua berasa jadi Jason Bourne di dunia tata bahasa. I can’t remember precisely what was happened to me untill I found myself here at this post. Ide udah blingsatan pengen diterjemahkan ke format tertulis dan bisa dibaca umat manusia.
..mengakhiri post ini..I realized one thing, psychology is related with persuasion. Which mean, language plays a big role on it. Watch each word, phrase, clause stream down from your mouth through your respondent.
Karena Engkong Lao Tze-pun ikut berpesan pentingnya bahasa :
Watch your thoughts; they become words.
Watch your words; they become actions.
Watch your actions; they become habits.
Watch your habits; they become character.
Watch your character; it becomes your destiny.",
Biarin deh gak nyambung, yang penting ada unsur ‘kata’-nya. Baiklah, saya akan kembali fokus kepada assignment essay “Relevansi Ilmu Filsafat terhadap Ilmu Psikologi” dan assignment argumentasi Homoseksual apakah genetis atau lingkungan?
Bramantyo Adi. He wants to serve as military psychologist.
Jumat, 17 Desember 2010
Siapakah Psikolog Itu??
Kejadian ini masih bisa gua inget dengan baik, padahal buat ngapalin judul film porno Indonesia terakhir yang ditonton aja susahnya naujubilah bin jalik.
Waktu itu gua masih lucu-lucunya, masih polos.. kalau nanya sama guru Agama :
"bapak, bapak, kok saya pernah ya lihat film pendidikan seks judulnya 'Bandung Lautan Asmara'?"
Masih belum pegang hape, masih pakai celana pendek SMP. Masih bisa bayar Metromini 46 gopek dengan alasan "BANG! MASIH PELAJAR NIH!".
Kalau sekarang sih gua bayar seribu, mesti partai dulu sama kernetnya. Ha ha ha ha!
Ceritanya sore itu gua pulang les Bahasa Inggris. Duduk anteng di bis.. tiba-tiba gua diajak ngobrol sama ibu-ibu. Beliau minta biodata, no hape (sapa tau gua dijadiin bintang pelem porno anak dibawah umur :p) dan sebagainya. Terus nanya ini-itu.
Ternyata beliau tinggal dekat rumah gua. Beliau mengaku sebagai psikolog anak yang bekerja sebagai guru TK. Satu kalimat yang gak pernah bisa dilupakan, terdengar 'kinda of bullsh*t ma'am..' pada saat itu, tapi hari ini.. jadi kenyataan.
Dasar Ty-Bo alias Tyo bolot (maklum.. otaknya pernah gak sengaja direndem pake Rinso matic, jadi menurut salah satu psikoneurologis ternama, salah satu bagian lobus otak gua rusak efek kelamaan direndem terus lupa dibilas malah langsung dijemur..). Gua lupa bertanya siapa nama dan nomor tilpunnya.. Anggep aja angin lalu saat itu.
Inilah sepenggal kalimat yang berarti dan masih gua ingat sampai hari ini :
"Tyo, jangan nyerah ya. Besok semua orang butuh kamu, semua orang mencari kamu.."
Tuh kan? Keliatannya ngemeng parah..
Sampai gua tulis di blog ini pun, keliatannya ngemeng parah.
Tapi.. ada benernya, karena hari ini gua kuliah psikologi. Besok gua jadi psikolog (lebih spesifik psikolog di kemiliteran lah yau.. ogah ye jadi yang biasa-biasa.. Amukti Palapa gua adalah jadi psikolog di militer ye!).. mungkin, setelah gua jadi psikolog, semua orang butuh saya, mungkin semua orang mencari saya.
Seandainya hari ini gua bisa ketemu lagi sama beliau buat bilang : bu, apa yang ibu bilang tujuh tahun lalu terhadap saya. Benar adanya hari ini.
Bramantyo Adi --> military psychologist
Waktu itu gua masih lucu-lucunya, masih polos.. kalau nanya sama guru Agama :
"bapak, bapak, kok saya pernah ya lihat film pendidikan seks judulnya 'Bandung Lautan Asmara'?"
Masih belum pegang hape, masih pakai celana pendek SMP. Masih bisa bayar Metromini 46 gopek dengan alasan "BANG! MASIH PELAJAR NIH!".
Kalau sekarang sih gua bayar seribu, mesti partai dulu sama kernetnya. Ha ha ha ha!
Ceritanya sore itu gua pulang les Bahasa Inggris. Duduk anteng di bis.. tiba-tiba gua diajak ngobrol sama ibu-ibu. Beliau minta biodata, no hape (sapa tau gua dijadiin bintang pelem porno anak dibawah umur :p) dan sebagainya. Terus nanya ini-itu.
Ternyata beliau tinggal dekat rumah gua. Beliau mengaku sebagai psikolog anak yang bekerja sebagai guru TK. Satu kalimat yang gak pernah bisa dilupakan, terdengar 'kinda of bullsh*t ma'am..' pada saat itu, tapi hari ini.. jadi kenyataan.
Dasar Ty-Bo alias Tyo bolot (maklum.. otaknya pernah gak sengaja direndem pake Rinso matic, jadi menurut salah satu psikoneurologis ternama, salah satu bagian lobus otak gua rusak efek kelamaan direndem terus lupa dibilas malah langsung dijemur..). Gua lupa bertanya siapa nama dan nomor tilpunnya.. Anggep aja angin lalu saat itu.
Inilah sepenggal kalimat yang berarti dan masih gua ingat sampai hari ini :
"Tyo, jangan nyerah ya. Besok semua orang butuh kamu, semua orang mencari kamu.."
Tuh kan? Keliatannya ngemeng parah..
Sampai gua tulis di blog ini pun, keliatannya ngemeng parah.
Tapi.. ada benernya, karena hari ini gua kuliah psikologi. Besok gua jadi psikolog (lebih spesifik psikolog di kemiliteran lah yau.. ogah ye jadi yang biasa-biasa.. Amukti Palapa gua adalah jadi psikolog di militer ye!).. mungkin, setelah gua jadi psikolog, semua orang butuh saya, mungkin semua orang mencari saya.
Seandainya hari ini gua bisa ketemu lagi sama beliau buat bilang : bu, apa yang ibu bilang tujuh tahun lalu terhadap saya. Benar adanya hari ini.
Bramantyo Adi --> military psychologist
Langganan:
Postingan (Atom)
