Tampilkan postingan dengan label psikologi hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi hidup. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2010

FRIENDS WITH BENEFITS


Di saat sekarang ini "Friends With Benefits" sedang membudaya di kalangan muda di kampus-kampus atau di perguruan tinggi. Orang-orang sudah banyak yang muak dan bosan dengan sebuah relationship yang "konvensional". Pacaran sudah dianggap kurang memfasilitasi lagi institusi hubungan sebuah pasangan. Banyak yang kecewa dengan pola pacaran yang selalu ‘mengikat’ atau ‘membelenggu’ orang yang menjalin kasih tapi begitu-begitu aja.

Masalahnya, pacaran membuat kebebasan individu menjadi terkekang sehingga sulit bagi mereka yang sedang menjalani hubungan tersebut untuk menjadi dirinya sendiri. Padahal secara mendasar kita jatuh cinta pada seorang lelaki atau pada seorang perempuan karena jati diri orang tersebut yang berbeda dengan kita. Tapi lantas mengapa kita tiba-tiba ingin membuat orang tersebut jadi seperti yang kita inginkan dan bukan menjadi dirinya sendiri?

Kini banyak orang yang beralih pada sebuah hubungan "Friends With Benefits" atau biasa disingkat "F.W.B". Bagi sebagian orang, FWB lebih ideal dibandingkan suatu hubungan selingkuh (affair) atau "one-night-stand". Kadar stress dalam hubungan FWB lebih rendah dan lebih membebaskan. Maka dari itu, biasanya hubungan seperti ini bisa berumur lebih panjang dibandingkan sebuah relationship yang konvensional.

Friends With Benefits adalah sebuah hubungan "teman" yang sangat dekat tanpa melibatkan harapan (expectation) satu sama lainnya. Dalam hubungan ini perjalinan yang dibangun meliputi berbagi suka duka, diskusi intelektual, atau sekedar main bersama. Pada akhirnya, sebagaian FWB ini membawa pada sebuah hubungan yang lebih intim diantara dan dapat berakhir pada suatu hubungan seksual. This is why the relationship then sometimes called as "Friend With Benefits". Ratu menyebutnya "Teman Tapi Mesra".

Fwb
Dalam hubungan FWB, sentilan "romantisme" lebih cenderung sedikit tapi mempunyai karakteristik utama yang sangat dominan; bahwa satu orang merasa mempunyai perasaan yang lebih dibandingkan yang lainnya. Prinsip dasar FWB adalah "keterbukaan" (openness); dimana pasangan teman tersebut berbagi  tentang segala macam tanpa rasa malu atau canggung. Dan dalam setiap perbincangan selalu ada "sesuatu". "In every conversation, there’s always innuendo".

Penelitian dari Michigan State University melaporkan bahwa hampir setiap dari mahasiswa yang ada di kampus tersebut pernah merasakan pengalaman ber-FWB. Professor Paul Mongeau menyebutkan bahwa FWB merupakan suatu jenis hubungan sosial intim yang jarang dibahas oleh kebanyakan orang. Kebanyakan orang menganggap bahwa FWB ini merupakan "affair" atau kadang2 disebut "HTI" atau Hubungan Tanpa Ikatan.

Melissa Bisson dan Professor Timothy Levine dari Michigan State University melakukan survey dan mengumpulkan 125 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dari semuanya, sekitar 60 persen pernah melakukan FWB. Satu banding sepuluh merubah hubungan tersebut menjadi sebuah hubungan yang lebih romantis, sepertiganya berhenti melakukan "seks" tapi meneruskan pertemanan. Satu dari empat orang mengentikan semuanya; seks dan pertemanan. Sisanya, terus meneruskan hubungan FWB.

Sex
Pada dasarnya, orang-orang yang melakukan FWB ini tidak menyukai "komitmen" dan menghindari jauh-jauh komitmen ini. Satu-satunya yang dikhawatirkan dalam FWB ini adalah jika salah satu pasangan tersebut kemudian menjadi jatuh hati karena hubungan yang intim ini.Untuk terus bertahan, fondasi dasarnya adalah "pertemanan" dan bukan "romance".

FWB bersifat "hidden" atau tersembunyi. Ia jarang dilaporkan dan jarang dibahas. Pasangan yang ditanya biasanya hanya menjawab…"Ia hanya seorang teman" atau "We’re just friends..no more". Makanya pertemanan FWB sebenernya adalah sebuah payung (umbrella) suatu aktivitas seksual. Dalam hal ini, maka status suatu hubungan tidaklah penting, yang penting adalah "benefit" dari hubungan tersebut.

Pasangan dari FWB bisa jadi dari suatu teman biasa, sahabat, atau mantan pacar (x-boy/girl friends) yang biasa ketemuan atau nongkrong bareng. Bahkan dalam situasi tertentu, ia bisa jadi seorang yang tidak dikenal dan intimacy tersebut akhirnya bisa terjalin dari kualitas perbicangan tersebut.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan FWB selain dari hubungan pacar yang konvensional atau membosankan, adalah karena sifat bawaan individu tersebut yang secara naluriah mempunyai instinct seksual dan persahabatan. Selain itu juga, komitmen, baik itu pernikahan atau sekedar pacar biasa, sering terbukti tidak mampu lagi menjawab kebutuhan-kebutuhan pribadi manusia yang hidup di jaman sekarang. Makanya, kita sekarang sangat wajib mempertanyakan dulu arti "komitmen" sebelum kita menawarkannya kepada orang yang kita inginkan. Sebelum akhirnya hubungan itu menjadi basi (expired) dan merusak diri kita sendiri.

Dua minggu yang lalu, saya bertemu sepasang suami isteri yang sudah menikah selaa 34 tahun dan tetap masih hidup bahagia. Mereka tinggal di rumah yang mewah, uang banyak, dua anaknya disekolahkan di Australia, dan mereka aktif dalam kegiatan sosial dan spiritual. Ketika saya tanya rahasia keawetan hubungan mereka bukanlah sekedar hubungan sosial mereka dengan orang lain dan bukan juga karena faktor agama atyau spiritualitas yang menyemangati jiwa mereka…tapi keyakinan mereka tentang suatu komitmen yang ekstrim.

Komitmen yang mereka yakini bukanlah kewajiban pasangan-pasangan yang terkait untuk menjadi "loyal" atau setia satu sama lain dan tidak melirik laki-laki atau perempuan lain. Dan bukan juga aturan-aturan main yang sering diterapkan oleh kebanyakan pasangan konvensional atau mereka yang sudah menikah secara konvensional dan tradisional.

Komitmen yang mereka yakini bersama adalah komitmen untuk "membebaskan dirinya masing-masing". Si pasangan tidak diperkenankan untuk dilarang melakukan ini atau itu, atau menghakimi pasangan dengan mengatakan "saya kurang suka kalau kamu melakukan anu atau melakukan anu…". Dengan membebaskan jiwa pasangan, berarti memberikan tanggung jawab pribadi dengan apa yang hendak ia bangun untuk dirinya sendiri dan untuk pasangannya ke depan. Dalam hal ini, konsep membebaskan pasangan berkaitan dengan prinsip konstruktivisme sosial; yaitu prinsip yang meyakini bahwa setiap individu mempunyai kesadaran sosial dan tanggung jawab sendiri untuk mebuat dirinya menjadi lebih baik bagi dirinya sendiri dan bagi orang yang dia cintai.

Kebanyakan kesalahan kita dalam mencintai ialah kita seringkali menginginkan orang yang kita cintai menjadi orang yang kita inginkan dan melupakan orang yang kita cintai tersebut untuk menjadi dirinya sendiri.

Saya terkagum mendengar kisah pasangan yang saya temui tersebut, karena dengan prinsip yang mereka pegang tersebut pada akhirnya mereka telah membebaskan satu sama lain untuk menjadi manusia apa adanya. Dengan kebebasan yang diberikan itulah akhirnya cinta dapat tumbuh dan terus bersatu tanpa harus adanya paksaan atau keharusan.

"Kita jatuh cinta pada orang yang kita cintai pertama kali kan karena jati diri orang tersebut yang memberikan impresi luar biasa pada diri kita….. Lantas kenapa kita harus merubahnya menjadi orang yang kita buat-buat sendiri?" Sang suami yang berprofesi sebagai desainer interior tersebut. Bagi dia, pernikahan bukanlah yang paling utama, tapi "hubungan" (relationship) lah yang paling utama. Untuk terus bertahan, kita harus menitik beratkan pada pola dan kualitas hubungan dengan pasangan kita. Memperkaya dikusi intelektual, saling menolong tanpa berharap kembali, melakukan suatu aktivitas bersama-sama, dan pada akhirnya menikmati hasil dari keintiman tersebut.



Baik FWB maupun hubungan dengan "komitmen bebas" (mungkin ini bahasa yang bisa saya pakai untuk menjelaskan jenis hubungan yang terakhir) adalah dua indikasi bahwa hubungan asmara konvensional sudah perlu didaur ulang atau diperbaiki kembali. Untuk yang pertama (FWB), saya masih ngerasa "gak masuk" tapi yang kedua….boleh dicoba! Nah, kalo kamu lebih memilih yang gaya hubungan yang seperti apa? Alasannya? terus Berhasil gak?

Membalas Kebencian dengan Kasih Sayang

Meskipun aku sudah sering membacanya berulang-ulang kali, nilai kebijaksanaan dari kisah yang ditulis oleh guruku ini selalu bermanfaat bagiku. Jika hati kita merasa tersakiti oleh seseorang atau sekelompok orang, artikel ini mungkin bisa memberikan alternatif berpikir untuk bereaksi terhadap orang yang membenci kita. Kisah dalam tulisan ini barangkali tidak bisa dibuktikan secara empiris dan bisa dikatakan ‘tidak masuk akal’ (nonsense) dalam tingkatan interpretasi tertentu. Tapi, dalam prakteknya, jika kita dapat mengambil inti dari kisahnya, cara yang diajarkan dalam kisah ini sudah sering dapat membantu mereka yang meyakininya untuk menciptakan perubahan yang baik dalam kehidupan sosial mereka. Kebencian dibalas dengan kebencian, sudah tidak mempunyai tempat dalam kehidupan sosial sekarang. Pola dendam hanya akan mengakibatkan kerusakan, baik bagi orang tersebut maupun bagi lingkungan sosialnya. Selamat Membaca!

MEMBALAS KEBENCIAN DENGAN KASIH SAYANG
KH.  Jalaluddin Rakhmat

Salah seorang di antara tokoh besar dalam dunia kesucian adalah orang Mesir yang bernama Dzunnun. Karena ia berasal dari Mesir, maka ia dikenal dengan sebutan Dzunnun Al-Mishri, Dzunnun Si Orang Mesir.

Ketika ia masih hidup, orang-orang tidak mengenalnya sebagai orang yang dekat dengan Allah. Ia malah lebih banyak dicela dan dicemooh orang karena dianggap kafir, ahli bid’ah, dan orang murtad. Ia tidak pernah membalas semua tuduhan itu dengan kemarah-an atau serangan balik. Ia bahkan menunjuk-kan dirinya seakan-akan ia mengakui seluruh celaan itu. Selama ia hidup, orang-orang tidak mengetahui bahwa Dzunnun adalah salah seorang di antara waliyullah, kekasih Allah. Orang mengetahui kedekatannya dengan Tuhan setelah Dzunnun meninggal dunia.

Menurut Al-Hujwiri, pada malam kematian Dzunnun, tujuh puluh orang bermimpi melihat Rasulullah saw. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda, “Aku datang menemui Dzunnun, sang wali Allah.” Sesudah kematian-nya, konon di atas keningnya tertulis: Inilah kekasih Tuhan, yang mati karena mencintai Tuhan, dan dibunuh oleh Tuhan.

Masih menurut Al-Hujwiri, pada saat penguburan Dzunnun, burung-burung di angkasa berkumpul di atas kerandanya sambil mengembangkan sayap mereka seakan-akan ingin melindungi jenazahnya. Pada saat itulah orang-orang Mesir menyadari kekeliruan mereka dalam memperlakukan Dzunnun selama ini.

Ada banyak kisah tentang Dzunnun dan hampir semua kisah hidupnya itu menjadi pelajaran yang amat berharga. Kisah-kisah itu menjadi petunjuk bagi kita dalam mendekati Allah swt. Di antara kisah-kisah yang dituturkan tentang Dzunnun adalah satu kisah ketika ia berlayar bersama para santrinya dengan sebuah perahu di atas sungai Nil.

Alkisah, pada suatu hari, berlayarlah mereka di sungai Nil. Yang sedang berekreasi di sungai itu bukan hanya orang-orang saleh seperti Dzunnun dan para santrinya, tetapi juga orang-orang yang menggunakan rekreasi sebagai alat untuk melakukan kemaksiatan. Di tengah jalan, bertemulah dua kelompok perahu yang mempunyai “ideologi” yang berbeda itu. Pada perahu yang satu, terdapat Dzunnun, sang kiai, bersama para santrinya. Mereka melantunkan zikir kepada Allah swt. Pada perahu yang lain, ada sekelompok anak muda yang memetik gitar, berhura-hura, berteriak-teriak, dan berperilaku yang menjengkelkan santri-santri Dzunnun.

Karena para santri percaya bahwa doa-doa Dzunnun pasti diijabah, mereka meminta Dzunnun untuk berdoa kepada Allah supaya perahu anak-anak muda itu ditenggelamkan Tuhan jauh ke dasar sungai Nil. Dzunnun lalu mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan orang-orang itu kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka satu kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti.

Santri-santrinya tercengang. Semula mereka berharap Dzunnun akan mendoakan anak-anak muda yang ugal-ugalan itu agar ditenggelamkan Tuhan karena anak-anak muda itu memandang kehidupan hanya semata-mata kesenangan saja. Tapi aneh bin ajaib, Dzunnun hanya berdoa seperti di atas. Para santri terkejut mendengar doa Dzunnun.

Ketika perahu anak-anak muda itu mendekat, mereka melihat Dzunnun ada di perahu itu. mereka menyesal dan meminta maaf. Entah bagaimana, memandang wajah Dzunnun membawa mereka kepada kesucian. Mereka meremukkan alat-alat musik mereka dan bertaubat kepada Tuhan.

Waktu itulah Dzunnun memberi pelajaran kepada para santrinya, “Kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti adalah bertaubat di dunia ini. Dengan cara begini, kalian dan mereka puas tanpa merugikan siapa pun.”

Kita tertarik dengan cerita Dzunnun ini. Kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada orang-orang di sekitar kita. Seringkali setelah kita menjalani kehidupan yang baik, kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa membalas kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi. Untuk itu kita sering menutup-nutupinya dengan berkata, “Supaya ini jadi pelajaran bagi mereka.”

Dzunnun melanjutkan tradisi para rasul Tuhan yang mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang dilakukan orang lain dengan kebaikan. Bayangkanlah ketika Anda berdoa supaya saingan Anda hancur, agar musuh Anda binasa, Anda akan memperoleh satu manfaat saja: Kepuasan hati karena hancurnya saingan Anda. Tapi ketika Anda berdoa: Ya Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang, Anda akan mendatangkan manfaat kepada semua orang. Sama seperti doa Dzunnun Al-Mishri.

Dahulu, Nabi Isa as beserta murid-muridnya lewat di depan rombongan pemuda yang ugal-ugalan juga. Mereka bukan saja melakukan tindakan-tindakan maksiat ketika kelompok Nabi Isa datang, mereka juga malah melemparkan batu ke arah Nabi Isa. Nabi Isa berhenti dan memandang mereka untuk kemudian mendoakan kebaikan bagi mereka.

Murid-muridnya bertanya, “Mereka melempari batu ke arahmu tapi mengapa engkau malah membalas dengan doa yang baik?” Nabi Isa menjawab, “Itulah bedanya kita dengan mereka. Mereka kirimkan kepada kita keburukan dan kita kirimkan kepada mereka kebaikan.”

Rasulullah saw dilempari orang di Thaif ketika beliau mengajak mereka kepada Islam sampai kakinya berlumuran darah. Ketika malaikat datang kepadanya menawarkan untuk menimpakan gunung di atas orang-orang yang menyerangnya, Nabi hanya berkata: Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.

Dzunnun Al-Mishri mengajari kita tradisi para nabi dan orang-orang saleh; membalas kejelekan dengan kebaikan. Jadilah kita seperti pohon Mangga di tepi jalan, yang dilempari orang dengan batu tetapi ia mengirimkan kepada si pelempar itu, buah yang telah ranum. Ahsin kamâ ahsanallâhu ilaik, berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.

Di antara perbuatan baik yang sangat tinggi nilainya adalah membalas keburukan orang kepada kita dengan kebaikan. Ini bukanlah suatu hal yang mustahil, melainkan ini adalah ajaran kesucian yang akan membawa kita lebih dekat kepada Allah swt.

Mencari Kebahagiaan


Semua orang mencari kebahagiaan. Ada yang mengartikan bahwa mencari kebahagaiaan itu mencari kesenangan. Berkumpul bersama keluarga, nongkrong dan berjalan-jalan bersama teman-teman, ngerumpi ngerokok dan ngopi bareng, bermain musik atau menonton konser band terkenal, minum alkohol atau menghabiskan waktu dengan orang yang kita cintai. Menurut Deepak Chopra, yang baru saya sebutkan tadi itu bukanlah kebahagiaan, tapi kesenangan yang semu. Dalam artian kesenangan yang datang dan pergi (ephemeral satisfaction). Menurutnya, mencari kebahagiaan itu tidak dengan mencari aktivitas-aktivitas yang adiktif dan bersifat sementara. Melainkan ,ialah kita mencari akar dari kebahagiaan tersebut. Pandangannya sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh para psikolog modern maupun para Sufi abad pertengahan. Mencari akar kebahagiaan dapat diraih dengan mengenal siapa diri kita.

The questions such "Who am I?" dan "Where do I come from?", merupakan dasar dari pertanyaan mencari kebahagiaan. Dengan demikian, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa kita dapatkan dari luar sana; apakah itu sesuatu atau seseorang. Melainkan, sesuatu yang sudah kita miliki sejak lahir. Kita  belum menyadari bahwa kita memiliki akar kebahagiaan itu, karena kita belum menyadari siapa diri kita sebenarnya. Niscaya, kita tidak akan pernah bisa raih bahagia jika  kita tidak pernah berusaha mengenal siapa diri kita sesungguhnya. Jalaludin Rumi selalu berkata, "Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya". Dalam kalimat itu, "Tuhan" tidak saja diartikan sebagai Zat Yang Maha Kuasa yang tidak bisa diraihi oleh akal manusia, tapi juga "Sumber" dari segala ide tentang kehidupan.

The quest for happiness will never end until we reach the state of being ourselves. Jalan menuju kesana harus dilalui dengan segala kepedihan dan penderitaan. Tidak berarti kita harus melupakan kesenangan dalam hidup. Rumi menganalogikan Kesenangan (Joy) dan Penderitaan (Sorrow) dengan "Dua Sayap Malaikat". Untuk mencapai hakikat manusia yang berbahagia, both Joy and Sorrow harus dialami olehmanusia. Malaikat tidak bisa terbang hanya dengan satu sayap. Ia juga tidak bisa terbang jika salah satu sayapnya tidak seimbang atau rusak. Manusia berbeda dengan Malaikat dalam hal bersih dari dosa dan dalam kemampuan untuk berpikir bebas, tapi manusia dan malaikat sama-sama mempunyai sayap. Hanya saja, sayap manusia tidak dapat dilihat secara fisik (intangible). Sayap-sayap itulah yang menentukan kualitas manusia dalam menjalani hidup. Untuk bisa ‘terbang’ menuju langit kebahagiaan, kita harus memakan asam dan manisnya kehidupan di dunia ini. Berpikiran picik dan negatif dalam hidup hanya membuat kita terus hidup dalam daratan. Dengan demikian, jiwa kita akan mati seiring dengan matinya bumi. Jika kita bisa terbang, jiwa kita akan terus abadi terbang dan melayang.

Aku sendiri belum yakin betul dengan interpretasiku itu. Hidupku sekarang sedang sangat sulit, terkadang malah buntu. Tapi, aku yakin bahwa apa yang pengalaman sulit yang sedang aku alami sekarang adalah modal untuk menemukan kebahagiaan abadi di masa yang akan datang. Dengan kata lain, jika kita sudah menemukan jati diri kita  sesungguhnya, maka kebahagiaan bisa didapatkan pada setiap pojok kehidupan. Semua kesenangan yang bersifat sementara akan menjadi abadi sepanjang hidupnya jiwa kita di alam semesta ini.

Dedicated to Rahma, my little angel. Soon you will find the happiness in any form of life from anything and from anyone, moreover it is lies within yourself

Mencari Tuhan, Mencari Pacar, Mencari Isteri

Salah satu temanku yang mengaku dirinya seorang Ateis bertanya, “Apa alasan kamu meyakini bahwa Tuhan itu ada?”. Aku tanya dia balik “kenapa bertanya begitu?”. “Aku harap kamu tidak keberatan untuk menjawab pertanyaan sederhanaku, aku hanya aneh saja melihat orang-orang seperti kamu yang meyakini sesuatu yang diada-adakan”, tekasnya.“Maksudmu?” aku bertanya lagi.“Bagiku Tuhan, sebagaimana Agama, hanya dianggap penting karena kalian menganggapnya seolah-olah penting. Dengan kata lain, kalianlah yang meciptakan Tuhan kalian sendiri!”, tegasnya.“Ohh..itu maksudmu. Bagaimana dengan Cinta, Benci, Kagum, dan perasaan-perasaan luar biasa manusia lainnya?” Apakah kamu meyakini semuanya ada?” Aku tanya balik padanya.“Have you ever been in Love?” Aku tanya lagi. “Yes!” Dia menjawab. “So where is the Love?” aku tanya dia lagi. “I can’t tell you where it is…I think it is in here (menunjukkan ke arah dadanya)”, dia menjawab.“Begitu juga dengan Tuhan…kamu tak akan mungkin bisa menemukan Tuhan di atas kertas, atau di atas batu, atau di depanmu berbicara seperti aku! It is beyond the physical being. You have to find God by yourself and not by asking me where He is!”, aku berusaha untuk menjelaskan.

“Ahh..stop the bullshit!” dia ketus menjawabnya. “Apa pertanda Tuhan itu ada? atau Dia sangat agung seperti yang biasa kalian sebut dengan The One?” Dia tanya lagi tak mau kalah.

“Ok, the sign is everywhere”…one simple thing is you can see it from the people around you: There’s always someone better and cooler than you!”, aku bilang.

“What?” dia masih bingung.

“Yes, contohnya kamu selama ini selalu mencari orang yang lebih baik dan yang lebih cool in every way untuk dijadikan kekasihmu. You’re seeking perfection, but you never found any of it in him/her. Then you will always meet another person who is better than him/her. That’s why you always fail to find the “right” person. Because to achieve the perfection is impossible… Aku sok gaya menjelaskan.

“Kamu akan menemukan seorang kekasih yang ganteng, cantik, pintar, seksi, menarik, kaya, populer,..tapi kamu akan selalu menemukan orang lain yang baru yang lebih baik darinya. Andaikan kamu meninggalkan kekasihmu yang lama demi yang “lebih baik” ini, niscaya ini bukan perjalanan akhir…dari “loving and dumping” game. It’s gonna be FOREVER! for there’s always someone cooler and better than your lover.”

“Make it simple please?”, dia memintaku utk mempersingkat pembicaraan.

“You will never be satisfied with what you have because you’re seeking the perfection, for yourself, for your love, and for your future…while we’re impossible to achieve it (perfectness). In a way we’re not perfect at all…we’re human! There’s always someone higher than us. Thats the SIGN! aku tegaskan.

“So where can I find God?” dia tanya. “In your self! Start to figure out why you’re asking God? while God might never ask about you?” Jawabku

Selama ini kita mengharapkan kebenaran dan segala keutamaan hidup dari orang lain yang berada di luar diri kita, sebagaimana kita mengharapkan kebahagiaan. Mencari pasangan hidup, kurang lebih mirip dengan mencari Tuhan. Kita mengharapkan keberadaannya tanpa menyadari bahwa jawabannya ada dalam diri kita sendiri.

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya” Jalaludin Rumi bilang.

“So have you found your God?” dia tanya. “Sama seperti kamu, akujuga sedang mencarinya dalam diriku, seperti aku sedang mencari pacar” Jawabku. “Maksudnya?” tanya dia lagi. “Maksudku, maukah kamu menjadi pacarku? Kita cari Tuhan bersama-sama”.

Perpisahan dan Kematian [Separation and Death]

Sudah berminggu-minggu ini saya merenungi apa yang ditulis oleh Dewi Lestari mengenai Perpisahan (Separation) dan Kematian (Death). Catatannya yang ditulis tanpa judul itu merefleksikan sebuah logika dan perasaan pribadinya yang sangat berbeda dengan pandangan umum orang. Saya tidak habisnya terkagum-kagum dengan tulisannya itu. Pertama, mengenai persepsinya bahwa suatu relationship itu memiliki nilai kadaluwarsanya (expiry) sendiri; sama seperti tubuh manusia yang lambat laun akan mengalami masa tua atau masa meninggalkan nyawa. Kedua, mengenai analogi ikhlas untuk berpisah atau menghadapi kematian yang ia gambarkan dengan kepasrahan seekor binatang yang diterkam binatang liar karena tak mampu berbuat apa-apa lagi dengan takdir yang sudah menjemputnya.

Jika sebuah relationship memang memiliki nilai kadaluwarsa (expiry), maka ia seperti sebuah organisme hidup yang dimana sel-sel yang ada di dalamnya selalu berusaha keras dan tanpa henti mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Jika sudah berusaha tapi masih juga tidak berhasil barangkali memang relationship itu sudah waktunya untuk mati. Sama seperti tubuh kita, jika kita menua dan sakit berarti kita sudah mendekati masa kadaluwarsa kita. Sebagian lagi pada kasus yang lain ada diantara mereka yang mati muda dan tanpa sebab yang jelas dan ini adalah rahasia Illahi yang tidak pernah kita ketahui.

Semua orang pernah mengalami perpisahan dengan orang-orang yang mereka cintai, baik itu putus cinta, perceraian, maupun ditinggal oleh orangtua sejak kecil. Dan dari semua jenis perpisahan ini memberikan dampak tersendiri bagi setiap orang yang mengalaminya. Melalui pengalaman ini kita cenderung selalu berusaha untuk mengisi ‘kekosongan’ di hati kita yang disebabkan oleh perpisahan tersebut. Kita berpikir, bertindak, dan merasa sesuai dengan pengalaman yang pernah kita lalui. Semua dilakukan berdasarkan kesadaran kita bahwa hidup haruslah terus berjalan dan yakin akan kehidupan yang baik akan segera datang menjemput kita.

Tapi apalah arti hidup jika kita selalu takut dengan perpisahan dan kematian? “No one gets out alive!” Suka atau tidak, kita akan menemui masa-masa perpisahan dengan anggota keluarga kita, kekasih kita, teman-teman dan sahabat kita, atau mungkin sekedar dengan barang yang sangat kita cintai. Ini hanya masalah waktu, dan terkadang kita cenderung tidak mau memikirkan perpisahan dan kematian ini. Dewi bilang ini adalah sifat naluriah manusia yang takut dengan dua hal tersebut. Semakin kuat kita melawan takdir alam ini, semakin menderita perpisahan atau kematian yang kita hadapi. Sama seperti seekor rusa yang diterkam oleh singa-singa yang kelaparan. Setelah rusa itu berusaha untuk menyelamatkan diri, tetapi kita ia tertangkap dan tak bisa lari, hal yang terbaik yang ia lakukan hanya pasrah bahwa nyawa dan tubuhnya akan segera sirna.

Jika ada rasa takut dalam menghadapi perpisahan dan kematian, maka aku berpikir bahwa bertahan hidup dan kemampuan beradaptasi dengan keduanya juga merupakan kemampuan manusia yang secara naluriah bisa dimiliki oleh kita semua. Kemampuan ini tidak datang begitu saja dari langit tapi mesti kita dapatkan melalui pengalaman dan perenungan yang mendalam dari setiap moment suka dan duka kita.

Imam Ali k.w berkata dalam salah satu ceramahnya di kitab “Bulughal Maram”; “…manusia yang takut dengan kematian (bermakna perpisahan juga) adalah manusia yang teralienasikan dengan dirinya sendiri.” Jadi, untuk bisa mengatasi naluri takut dengan perpisahan dan kematian ialah dengan jalan mengenali dirinya sendiri melalui proses hidup yang serba kompleks dan unik. Yang paling berkaitan erat dengan proses ini adalah prses dalam meraih cinta yang diinginkan.

Cinta yang tulus bukan cinta seseorang yang selalu ingin dicintai, tapi mereka yang selalu ingin mencintai orang lain. Erich Fromm menawarkan metode “mencintai” (to love) sebagai lawan dari “dicintai” (to be loved). Menurutnya, hanya melalui mencintai ini lah manusia-manusia akan terbebaskan dari penderitaan karena misi untuk mendapatkan cintanya. Perpisahan dan Kematian akan memberikan derita selama kita ingin selalu dicintai oleh pasangan dan orang lain. Karena kebahagiaan kita masih tergantung pada keberadaan mereka sebagai objek yang hidup (living-object). Maka besar kemungkinan hasil yang sebaliknya bisa terjadi selama proses mencintai dilakukan dengan ketulusan hati dan ketiadaan ekspektasi.

Sedih dan berduka karena perpisahan dan kematian bukan indikator penderitaan dari sebuah kejadian alam, tapi sebuah respons naluriah makhluk Illahi yang memiliki batin dan hati nurani. Sama seperti ketika kita merasakan perasaan senang dan ceria, kedua-duanya adalah sayap manusia untuk bisa terbang lebih tinggi dari daratan dimana sekarang kita berdiri. Jika kita hanya terbang dengan salah satu sayap ini, niscaya kita tidak akan pernah bisa beranjak dari tempat dimana kita berada sekarang (mengalami stagnasi hidup).

Mari kita lupakan sakit hati dan dendam kita pada orang-orang yang telah menyakiti kita baik itu disengaja ataupun tidak disengaja. Kita bisa mencintai orang lain dengan mencintai diri kita sendiri terlebih dahulu. Selalu ada kesempatan untuk memberikan senyum dan pelukan pada orang yang kita sayangi dan masih hidup. Dan selalu ada kesempatan untuk menuangkan seluruh perasaan kita ke dalam sebuah surat dan diakhiri dengan kata memaafkan (forgiving) untuk dikirim kepadanya atau diletakkan di atas batu nisan jika orang yang kita maksudkan telah meninggalkan kita. Dengan ini, kita telah “berpasrah” pada takdir perpisahan dan kematian.

PSikologi daN psikologi hidup

Filosofi hidup hampir berkaitan dengan prinsip hidup. Semua
orang yang masih eksis mempunyai pegangan hidup, tujuan hidup,
prinsip hidup maupun filosofi hidup. Tentunya hal ini cukup berbeda
di antara satu dengan lainnya dalam menyikapinya. Karena, setiap
orang itu tidak sama, setiap orang itu unik, setiap orang merupakan
mahluk individualisme yang membedakan satu dengan lainnya.

Ada yang mempunyai tujuan hidup yang begitu kuat, namun
prinsip hidupnya lemah, atau sebaliknya ada orang yang mempunyai
tujuan hidup yang lemah, namun memiliki prinsip hidup yang kuat. Ini
tidaklah menjadi suatu permasalahan, yang penting seberapa baiknya
seseorang menyambung hidupnya dengan berbagai persoalan dunia yang
ada, atau dengan kata laiinya bagaimana kondisi psikologis/jiwa
seseorang dalam menjalani hidupnya.

Prinsip hidup masih jauh kaitannya dengan psikologi, namun
psikologi mau tau mau berhubungan langsung dengan prinsip hidup.
Karena, dengan menijau prinsip hidup seseorang dapat diketahui
kondisi jiwa seseorang. Prinsip hidup dan filosofi hidup sangat luas
cakupannya, tidak hanya ditinjau dari segi psikologi, tapi seluruh
cabang ilmu pengetahuan yang ada. Prinsip hidup seseorang dapat
diambil dari perspektif psikologi, agama, seni, literatural,
metafisika, filsafat dsb.

Bagi sebagian orang, filosofi hidup dapat dijadikan sebagai
panutan hidup, agar seseorang dapat hidup dengan baik dan benar.
Adapula sebagaian orang yang tidak menghiraukan apa itu tujuan hidup
dan filosofi hidup, ia hanya hidup mengikuti arus yang mengalir dan
sebagian orang lagi, terlalu kuat memegang tujuan hidup dan filosofi
hidupnya sehingga membuat ia menjadi keras dan keras, Jadi,
kesimpulannya ada 3 sifat manusia yang bisa ditinjau dari filosofi
hidupnya, yaitu orang yang lemah, orang yang netral dan orang yang
keras.

Orang yang lemah adalah orang yang tidak mempunyai tujuan hidup atau
prinsip hidup. Ia tidak tahu untuk apa ia hidup, ia tidak berusaha
mengetahui kebenaran di balik fenomena alam ini, sehingga terkadang
baik dan buruk dapat dijalaninya. Orang yang netral adalah orang
yang mempunyai tujuan dan prinsip hidup, tetapi tidak mengukuhinya
dengan terlalu kuat. Ia berusaha mencari kebenaran hidup dan hidup
dalam kebijakan dan kebenaran, ia bebas dan netral, tidak kurang dan
tidak melampaui, ia berada di tengah-tengah. Orang yang kuat adalah
orang yang memegang kuat tujuan dan prinsip hidupnya. Sehingga ia
mampu melakukan apa saja demi tercapai tujuannya. Ia terikat oleh
filosofinya, ia kuat dan kaku berada di atas pandangannya, ia merasa
lebih unggul dari orang lain dan melebihi semua orang.
Jika ditinjau dari sisi psikologi. Orang-orang yang di atas juga
dapat dikategorikan, seperti orang yang mempunyai jiwa yang lemah,
jiwa yang sedang dan jiwa yang kuat. Namun, untuk yang berjiwa
sehat, seseorang tidak hanya dilihat dari jiwa lemah, sedang ataupun
kuatnya. Penerapan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari
itulah yang penting.

Pada dasarnya, tujuan dan prinsip hidup seseorang itu baik dan
bersih. Pada saat seseorang dalam keadaan tenang, ia membuat
berbagai tujuan dan prinsip dalam hidupnya, namun ketika diterapkan
timbul beberapa hambatan dari luar dirinya atau adanya pengaruh dari
lingkungan eksternalnya. Salah satu pengaruh terbesar dari luar
dirinya adalah panca indera. Panca indera yang tidak terjaga dengan
baik akan membuat seseorang terpeleset dari tujuan dan prinsip
hidupnya. Telinga bisa mendengar, mata bisa melihat, mulut bisa
berbicara. Semua itu harus dikendalikan dengan baik.
Sebagai contoh konkret, saya mempunyai tujuan hidup menjadi
seseorang yang berguna untuk menolong semua mahluk hidup sampai ajal
menemui dan filosofi hidupnya adalah bila ada orang baik kepada
saya, maka saya akan baik kepadanya, dan bila ada orang jahat kepada
saya, maka saya akan baik juga kepadanya. Dari filosofi hidup ini,
jika dilihat dari sisi psikologinya, orang tersebut mempunyai jiwa
yang sehat, tidak mendendam dan bahagia menerima hidup. Namun, itu
hanyalah sebuah filosofi hidup, yang terpenting adalah bagaimana ia
menerapkan dalam perilakunya, apakah bisa sesempurna dengan filosofi
hidupnya atau hanya sekedar membuat filosofi hidup tetapi tidak
dijalankannya ataupun ia membuat suatu filosofi hidup, namun ia
susah menjalannya karena tidak bisa menahan godaan atau hambatan
dari luar dirinya.

Sebuah filosofi hidup bisa didapatkan dari seorang pemikir-pemikir
jenius yang bijaksana, bebas dan terpelajar. Biasanya orang tersebut
dianggap sebagai seorang filsuf, pelopor kebijakan. Masing-masing
negara memiliki tokoh filosofinya. Orang pertama yang memperkenalkan
filsafat hidup ke dalam ilmu pengetahuan adalah orang Yunani yang
kebetulan pada saat itu negaranya merupakan negara yang bebas dalam
berkarya. Terbukti begitu banyak para filsuf terkenal kebanyakan
dari bangsa Yunani, seperti Aristoteles, Plato dan Socrates.
Socrateslah yang paling banyak memberi pengaruh kepada dunia ilmu
pengetahuan, maka dia disebut Bapak Filsafat. Sedangkan, dari ilmu
psikologi, Bapak Sigmud Frued disebut-sebut sebagai Bapak Psikologi
yang paling banyak memberikan sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan.
Kedua tokoh dunia ini sama-sama memiliki pemikiran yang luar biasa
untuk menciptakan pengetahuan-pengetahuan mengenai asal usul dari
segala sesuatu, meskipun cakupannya berbeda, namun, psikologi dan
filsafat tidak bisa dipisahkan dan sebaliknya. Banyak tokoh
psikologi yang semula mempelajari filsafat kemudian melanjutkan
pengetahuannya ke bidang psikologi.
Beberapa kata kutipan yang diambil da
ri kedua tokoh ini, yakni :

" Makanan enak, baju indah, dan segala kemewahan, itulah yang kau
sebut kebahagiaan, namun aku percaya bahwa suatu keadaan di mana
orang tidak mengharapkan apa pun adalah kebahagiaan yang tertinggi
(Socrates)".
Dan,

" Mereka yang percaya, tidak berpikir. Mereka yang berfikir, tidak
percaya (Sigmud Frued)".

Disini dapat dilihat, bahwa terjadi suatu studi banding antara kedua
ilmu tersebut, Masing-masing membicarakan asal asul segala sesuatu
menurut perspektif ilmunya. Namun, dari kedua ilmu tersebut
mempunyai suatu kesamaan, bahkan banyak kesamaan yang membahas
mengenai asal mulanya sesuatu yang pasti ada hubungannya dengan
manusia dan alam sekitarnya.

Seorang Socrates membicarakan kebahagiaan dan seorang Sigmund Frued
membicarakan pikiran, tentunya kedua hal ini mempunyai kaitan yang
cukup besar. Filosofi hidup yang diberikan oleh Socrates mengenai
kebahagiaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan Ilmu
psikologi yang diberikan oleh Sigmund Frued mengenai pikiran (alam
sadar atau alam bawah sadar) dapat dijadikan landasan seseorang
untuk mencapai kebahagiaan.

Oleh sebab itu, seseorang yang mempelajari psikologi maupun
tidak, harus memiliki satu tujuan hidup atau filosofi hidup agar
bisa berkembang, dan seseorang yang mempelajari filsafat maupun
tidak, harus memperhatikan apakah dan bagaimanakah agar filosofinya
dapat diterapkan dengan baik dan benar sehingga mempunyai
psikologis/jiwa yang sehat untuk maju dan berhasil.

"Jika seseorang tahu kebenaran yang mendasar tentang segala sesuatu,
maka itulah inti pengetahuan'.