Kamis, 25 November 2010

Tugas Ini Membunuhku (lebay..)

Psycholoonycal Journey, Jakarta (20/11) – BUJUG! Udah hari Minggu ketiga bulan November aja?? Bentar lagi acara psychofun yang berbentrokan dengan acara Pangudi Luhur Fair “Your Mind is Our Stage” di Bengkel Night Park (sampai hari ini gua gak tau siapa list performer-nya), gila bener ya kerjaan adik-adik kelas di hutan Brawijaya. Ya, semoga acara sukses, lancar, angkat topi buat jenderal-jenderal PL 2011 hasil didikan perwira tinggi PL 2009 ini. Sayang gua gak bisa hadir untuk merasakan hasil kerja keras kalian pasca pembebasan.

Anyway.. gua mau nyanyi dulu, jangan didengerin, dibaca aja.

Kaauu membuat.. ku tak karuaaaan...
Kau membuaat.. ku taak berdayaaa...
Tugas iniiii... membunuhhhkuuuuuu!!

..lanjutin sendiri deh lagu d’Masiv berjudul cinta ini membunuhku. Bedanya kata cinta lu ganti aja sama tugas. Karena blogspot (anjing!! kumat disleksia gua pas ngetik..ulaaang) blogpost Bramantyo kali ini berkisah tentang tugas-tugas di prodi psikologi sebagai penggemblengan dasar untuk para calon psikolog. Mau gak mau, suka gak suka harus rampung! Efek positif seperti menyusutnya berat badan saya, bahkan si pakde yang dua bulan ke Papua shock ketemu keponakannya yang kuliah psikologi karena makin kurus aja dan gemar membaca berbagai literatur termasuk literatur pornografi sebagai bacaan wajib (lho?).

If I ain’t wrong, gua janji cerita tentang tugas mata kuliah psikologi umum Bab IV mengenai otak sebagai sumber pikiran. Tugas berformat bikin rangkuman dan soal B-S ini menggunakan referensi artikel 16 halaman dari buku antah berantah (gua sebut begini karena gak tau apa judul asli bukunya) mengenai plastisitas otak.

..and then.. WHAT’S BRAIN’S PLASTICITY?? Dengan pemahaman ala kadarnya dan keterbatasan linguistik calon psikolog khusus kemiliteran, plastisitas otak adalah sisi fleksibilitas otak yang ekstrem. Bisa lu bayangin orang-orang yang diamputasi. Ketika mereka disentuh pipinya dengan handuk hangat, mereka merasakan rasa hangat tersebut tidak hanya di pipi, melainkan di bagian yang sudah diamputasi. Sungguh aneh kan?

Kasus ini juga terdapat pada wanita yang mastektomi uterus (apaan tuh? Rahimnya diangkat karena kista kah?), merasakan orgasme tidak hanya di bagian genital, melainkan sampai bagian telinga, hidung.. Nah lho? Disitulah plastisitas otak bermain.

Gimana ya cuy menjelaskannya dengan gak ribet tapi style-nya gua banget.. Hmm.. plastisitas otak ini adalah pergantian fungsi sistem sensorik tubuh. Ketika ada bagian tubuh yang diamputasi, maka bagian sistem sensorik tubuh yang diamputasi tersebut akan ber-sweet disposition, (nyanyi bentar yeee.. sweeeeeeeeeeeeet...diiiiiiiiiiiiiiiiisssssssssssppooooooooooooosssssssiiiiiiiiiiiiitttioooooooooooooonnnnnn.. duk tak duk duk tak!) alias terhubung dengan bagian sistem sensorik tubuh yang lain yang masih dalam kondisi utuh. Walhasil, contoh kasus yang udah gua kasih tau sebelumnya adalah salah satu yang dipelajari pada plastisitas otak.

Plasitisitas otak juga mengatur mana rasa sakit yang perlu dirasakan tubuh dan nggak perlu dirasakan tubuh. Bujug buneng.. rempoong ya ciin (gaya kapster transeksual), well I wish it goes simple.. do you guys remember about Old School Indonesian Proverb said : lebih baik sakit gigi daripada sakit hati.

NAH! YA AMPUN! SUSAH BENER DAH NYARI CONTOH FUNGSI PLASTISITAS OTAK YANG RELEVAN BERBASIS SOSIOKULTURAL INDONESIA!!

Ok, pepatah ini kalau ditelaah secara serius relevan sama plastisitas otak. Sistem plastisitas otak yang statusnya pre-installed sejak lu brojol dari rahim ibunda tercinta bermain disini. Sistem ini mengatur dan menyeleksi rasa sakit mana dulu yang perlu dirasakan manusia apabila mengalami luka, patah tulang, patah hati, putus cinta, lamaran ditolak mbah Maridjan bertindak (woy, sembarangan aja lu nyatut nama orang! Digentayangin aja baru tau).

Plastisitas otak menarik seorang ahli saraf bernama V.S. Ramachandran. Doski kepo berat.. berefleksi dari masa kecilnya di India, tau kan di budaya hindu ada debusnya. Kalo gak salah ada perayaan Deepavali ya yang suka ada aksi-aksi ngeri kayak nusukin jarum segede gaban dibawah dagu. Nah Pakde Ramachandran ini penasaran banget, kok bisa ya orang ditusuk dagunya terus dia joget-joget gak ngerasa sakit, Curiosity leads you to a new knowledge.. sab abis bahasa gua...

Kalau di Indonesia, fungsi plastisitas otak ini bisa kita temukan di kesenian sebangsa kuda lumping dan debus. Tapii.. kalau mau melihat fungsi plastisitas otak yang paling cemen. Liat aja ke gua.. baru-baru ini kan gua sadar kalau kurang waras sejak lahir. Jadi dari umur nol sampe sembilan belas tahun.. baru sadar hari ini gua kurang waras. Nah.. disitulah plastisitas otak gua mengatur : kapan si Tyo sadar kalau dia udah gak waras sejak lahir?? Kemudian.. ah.. ntar aja deh dilepas rasa sakitnya dikenal sebagai orang yang gak waras sejak lahir.. mending dilepasin dulu rasa sakit kalau tititnya disunat pake laser terus jahitannya dibikin kayak sulaman sweater.. abis itu lepasin juga rasa malu karena tititnya dihias-hias pake rempel-rempel sama payet terus dijembrengin.. Ok, itu menjijikan.. tapi itulah fungsi plastisitas otak.

Subhanallah, tugas ini akhirnya kelar juga. Udah ditranslate, dirangkum terus bikin soal. Tugas buat hari Senin besok yang presentasi IT juga udah kelar yaitu Operating System. Yang belum kelar adalah latar belakang proposal acara ultah UKM yang gua ikutin (heeeey.. gilaaa! Gua kepilih lagi jadi sekretaris acara yang scoop-nya makin gila : sekampus masbrooo, mbaksis..), sama penjelasan buat presentasi Sosiologi Jumat depan.

Sign off.
Later.

Bramantyo Adi
Mahasiswa Prodi Psikologi Paramadina
Future Military Psychologist Officer from Indonesian Naval Force by profession.
A peacekeeper by heart.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar